Tanggal:  Fri, 4 May 2007 17:20:39 +0700 (ICT)
Dari:   "ramada agus" <[EMAIL PROTECTED]>

ATMOSFIR POSITIF PENGEMBANGAN SUB SEKTOR USAHA PETERNAKAN DOMBA KAMBING DI 
INDONESIA
  Oleh. Agus Ramada Setiadi
   
   
              Atmosfir positif tampaknya sudah mulai dapat dirasakan dalam 
pengembangan sub sektor usaha peternakan domba dan kambing di Indonesia. Tidak 
perlu jauh-jauh untuk merasakannya, melalui millis Agromania saja sudah 
terdapat 2 informasi mengenai penyelenggaraan pelatihan usaha peternakan yang 
akan dilaksanakan di Indonesia. Pelatihan Usaha Ternak Domba Garut sebagai 
Kekayaan Plasma Nutfah Indonesia dan Pelatihan Kambing Broer yang mana akan 
diselenggarakan pada bulan yang sama yaitu di bulan Mei tahun 2007 namun dengan 
tanggal yang berbeda. Ini menandakan pilihan masyarakat untuk berinvestasi 
dalam sektor usaha peternakan semakin beragam tentunya, di mana kondisi 
wilayah, kemampuan modal dan rencana program pengembangan usaha dapat 
disesuaikan dengan ragam pilihan yang ada untuk mencapai kemajuan budidaya. 
Sebagai contoh adalah di negara Australia, program pengembangan usaha 
peternakan Domba Merino dapat seiring sejalan dengan pengembangan usaha Kambing 
Boer di
 negara Kanguru tersebut dan sama-sama mencapai keberhasilan usaha, di mana 
keduanya juga memiliki pangsa pasar dan nilai ekonomis yang berbeda berikut 
kemanfaatannya. Atau mari kita intip bersama negara tetangga kita Malaysia, 
usaha peternakan biri-biri memiliki ritme harmonis dengan pengembangan 
peternakan kambing di sana. Atmosfir inilah yang diharapkan suatu saat nanti 
dapat terwujud juga di Indonesia sehingga akan menjadi Raja Negara Peternakan 
Dunia. Kemandirian usaha ternak dan produksi protein hewani semoga juga dapat 
terjadi dengan adanya atmosfir positif ini di mana Indonesia tidak sampai harus 
terpaksa mengimpor kambing atau domba dari Australia. Apa kata dunia!  
  Beberapa hal yang hendaknya jangan sampai kita lupa di tengah atmosfir 
positif dalam pengembangan sub sektor peternakan Kambing dan Domba di Indonesia 
saat ini adalah, pengembangan sub sektor peternakan Kambing dan Domba hendaknya 
tidak hanya saja berorientasi pada upaya pemenuhan kebutuhan produksi protein 
hewani semata, ataupun mungkin termotivasi untuk membidik peluang ekspor yang 
ada, akan tetapi sangatlah baik bila dapat diikuti pula dengan pemanfaatan dan 
pengembangan nilai-nilai potensi hewan ternak itu sendiri secara keseluruhan 
yang dapat menunjang sektor usaha lainnya. Dalam arti lain adalah kebangkitan 
sub sektor usaha peternakan domba dan kambing di Indonesia tentunya kita 
harapkan juga dapat membawa perubahan positif dibidang pertanian seiring dengan 
Konsep Pertanian Terintegrasi yang saat sekarang ini sudah mulai banyak 
dilakukan di berbagai negara produsen peternakan dunia. Terlebih bilamana di 
sini kita kembali membahas mengenai potensi kebutuhan dan
 peluang pasar hasil pertanian organik yang berorientasi ekspor sebagai 
konsumsi masyarakat di negara-negara maju dunia baik itu kawasan Eropa dan 
Asia. Upaya sosialisasi potensi hewan ternak dan nilai ekonomis untuk peternak 
hendaknya tidak hanya sebatas disiplin ilmu peternakannya saja, akan sangatlah 
baik bila dalam sosialisasinya dikaitkan pula dengan disiplin ilmu pertanian. 
Sebagai contoh pemanfaatan kotoran dan urin domba atau kambing untuk 
meningkatkan hasil produktivitas tanaman. Atau misalkan analisis usaha ternak 
yang dikombinasikan dengan sektor pertanian. Informasi inilah yang juga 
hendaknya dapat diajarkan pula kepada para petani dan pelaku usaha ternak di 
Indonesia sehingga kemajuan sub sektor usaha peternakan domba dan kambing tidak 
akan diikuti ketertinggalan pada sektor usaha pertanian. Terlebih sub sektor 
usaha peternakan domba dan kambing di Indonesia umumnya masih dalam skala kecil 
dan tradisional serta lebih banyak dikembangkan di masyarakat pedesaan. 
  Bangsa yang besar adalah bangsa yang mencintai, menghargai dan melestarikan 
warisan para leluhurnya. Pengembangan sub sektor peternakan Kambing dan Domba 
di Indonesia yang saat ini tengah membaik juga hendaknya jangan sampai 
melupakan potensi kekayaan ternak nasional yang kita miliki di negeri kaya raya 
ini. Ketika Indonesia terpaksa harus mengimpor daging sapi dari Australia dan 
Selandia Baru, kenapa kita tidak terpikir untuk melakukan upaya sosialisasi 
hewan ternak Sapi Bali? Ketika Indonesia masih memiliki keanekaragaman jenis 
domba lokal maka janganlah sampai daging domba impor masuk dengan leluasa ke 
negeri ini! Jangan sampai anak cucu kita bertanya kepada kita seperti apa Sapi 
Bali itu! Atau bagaimana wujud domba dan kambing yang asli Indonesia 
sebenarnya? Dengan kata lain pengembangan sektor usaha peternakan juga harus 
dapat menjadi upaya pelestarian budaya dan warisan leluhur di negeri ini 
terlebih dengan atmosfir yang semakin membaik di mana masyarakat kita sudah
 menyadari kultur dan keahlian nenek moyangnya dibidang pertanian dan 
peternakan. Banyak dapat diketemukan bukti kejayaan nenek moyang kita dalam 
pengembangan usaha pertanian dan peternakan yang dapat dilihat pada berbagai 
situs di Candi Borobudur dan Prambanan.  
  Pentingnya jaringan kemitraan dan akses pemasaran! Atmosfir pengembangan sub 
sektor peternakan kambing dan domba di Indonesia yang saat ini tengah membaik 
juga perlu diikuti nantinya dengan perluasan jaringan dalam bentuk kemitraan 
sehingga keilmuan, pengetahuan dan teknologi yang didapat akan dapat sampai 
pula ke tingkat petani dan peternak bahkan hingga sampai ke pelosok daerah. 
Jaringan kemitraan akan sangat membantu dalam upaya pembentukan standar harga 
dan standar kualitas sebagai suatu kelemahan dari petani dan peternak di negeri 
ini yang masih belum dapat terpecahkan. Di sinilah eksistensi pemerintah dan 
sektor swasta memiliki porsi yang cukup besar untuk menjalankan peranannya. Di 
mulai upaya pengadaan bibit berkualitas dengan harga terjangkau, supply 
obat-obatan, pemanfaatan potensi sumber daya alam dan manusia lokal hingga 
sampai kepada masalah bimbingan dan teknis budidaya. Berawal dari sektor swasta 
terlebih dahulu pada suatu wilayah yang akan melakukan
 pengembangan sub sektor usaha peternakan, bilamana akses pasar telah tebentuk 
dan kapasitas produksi dipandang perlu untuk dioptimalkan maka dapat dilakukan 
perluasan dan pengembangan baru dengan melibatkan peran masyarakat sekitar 
sebagai prioritas utama untuk kemajuan usaha. Salam Bertani Sehat!   



       
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke