Tanggal: Sun, 6 May 2007 12:23:41 +0700 (ICT)
Dari: "ramada agus" <[EMAIL PROTECTED]>

  PETANI ORGANIK = PETANI KREATIF
  Oleh. Agus Ramada Setiadi – Eka Agro Rama

              Salam organik! Petani organik adalah petani yang kreatif. Kiranya 
pendapat ini benar adanya. Petani organik adalah petani yang senang bersahabat 
dengan alam, petani organik adalah petani yang bisa menyatu dan menjiwa dengan 
alam beserta ekosistem lingkungan, berupaya mensiasati tantangan alam serta 
membuang jauh-jauh pola pikir praktis berupa penggunaan pupuk dan obat-obatan 
kimia  Coba kita bandingkan petani organik dengan profesi lainnya yang 
mengharuskan kreativitas, sebagai contoh adalah seorang pelukis, kreativitas 
seorang pelukis sangat menentukan hasil karyanya yang memiliki jiwa berkat 
kreativitas dan penyatuannya pada objek alam. Atau kita bandingkan petani 
organik dengan seorang pencipta lagu, kreativitas seorang pencipta lagu adalah 
berkat penjiwaannya yang bersahabat dengan alam dan berupaya memahami segala 
hal dan peristiwa yang terjadi di alam. Jadi bila petani organik lebih 
berorientasi pada upaya eksploitasi objek alam maka patah arang di
 tengah jalan bisa saja terjadi akibat hasil produksi yang dianggapnya tidak 
optimal. Tapi bila petani organik mencoba bersahabat dengan alam maka kesabaran 
petani akan memberikan hasil produksi yang meningkat seiring dengan hukum alam.
              Sebuah artikel menarik dari surat kabar harian umum Kompas, edisi 
tanggal 08 Desember tahun 2005, yaitu tentang kisah seorang petani bernama 
Subandi yang sukses bersahabat dengan alam. Subandi adalah ketua kelompok 
petani organik di desa Nanggeleng, kecamatan Cipeundeuy, kabupaten Bandung. 
Sekolah lapangan adalah kegiatan belajar petani demikian ucap Subandi. Dia 
banyak bertanya dengan para ahli dan peneliti pertanian tentang bagaimana cara 
memanfaatkan potensi sumber daya alam untuk mengoptimalkan hasil produksi 
pertanian organiknya. Tidak hanya itu, kegiatan diskusi rutin dengan petani 
juga aktif ia lakukan untuk dapat berbagi informasi dan pengalaman. 
Persahabatannya dengan alam membuahkan hasil di mana ia bisa membuat ramuan 
pupuk dan pestisida alami dengan biaya murah. Ketika padi yang ditanam diserang 
hama wereng dan ulat, Subandi mencampurkan daun tembakau yang sudah tua, 
umbi-umbian berupa picung dan gadung, ramuan ini kemudian ditumbuk dan dicampur
 dengan air untuk disemprotkan kepada tanaman padi. Kemudian untuk membasmi 
serangga, Subandi menggunakan debu arang yang menempel pada dinding dapur 
rumahnya di mana dicampur dengan jelaga, bubuk cabai dan air. Bahkan ketika 
isterinya sedang mencuci beras, Subandi akan mengumpulkan air cucian beras itu 
untuk bahan pengembangbiakan bakteri pembusuk yang ia sebut mikroorganisme 
lokal. Air cucian beras itu untuk kemudian dicampur dengan sayur-sayuran dan 
buah-buahan busuk, sisa makanan, kotoran ternak dan jenis sampah organik lain. 
Campuran kesemuanya kemudian dimasukkan dalam drum selama 15 hari di mana 
sangat membantu untuk menggemburkan tanah serta pembuatan kompos. Artikel 
menarik lainnya adalah dari surat kabar Suara Merdeka, edisi tanggal 10 
November tahun 2006, Hadi Winoto, peraih penghargaan Kalpataru kategori 
Perintis Lingkungan tingkat kabupaten Semarang tahun 2006, lelaki yang akrab 
dipanggil mbah Hadi ini memulai kesabarannya sejak tahun 1990. Terinspirasi oleh
 buku Revolusi Hijau, mbah Hadi melakukan kontrarevolusi dengan meracik ramuan 
buah dan tumbuh-tumbuhan antara lain gadung, cabe rawit, temu ireng, bengkle, 
jahe dan laos. Perbandingan 1:1 yang dicampur dengan air menjadikan racikan 
mbah Hadi berfungsi sebagai pestisida alami yang super ampuh untuk membasmi 
hama dan penyakit dengan cara organik. Informasi menarik lainnya seputar 
pestisida alami dapat dicari pada situs www.petanidesa.com.
              Namun terkadang budaya sim sala bim dan cespleng masih amat 
menjiwa pada sebagian besar petani konvensional di negeri kita. Hal ini 
tentunya sangat disayangkan di mana karena berharap periode yang singkat akan 
tetapi bisa merusak generasi anak cucu sepanjang masa. Kisah kesabaran Subandi 
dan mbah Hadi tentunya harus dapat menjadi contoh bagi petani lainnya di 
Indonesia. Salam Bertani Sehat!



---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke