Wah, jadi malu juga nih.. Sebenernya tidak tepat kalo itu disebut
penjelasan. Tapi lebih ke arah uneg2 mengenai distribusi yang menyebabkan
kerugian ditangan petani/produsen. Saya percaya bahwa kenaikan harga di mata
rantai produksi memang perlu ada karena ada biaya tambahan yang diakibatkan
oleh nilai tambah yang diberikan ke produk awal (misal tenaga u/sortir,
angkut, olah. Tambahan barang u/kemasan, pengawet, dst.). Menurut saya itu
hal yang SANGAT-SANGAT WAJAR.

Tetapi yang saya permasalahkan, kalo dalam kasus pak Benny, adalah pengepul2
yang menambahkan margin segitu tinggi, tanpa memberikan nilai tambah apapun
(kecuali biaya pengangkutan mungkin). Bahkan di tempat saya, ada yang
pengepul cuman memberi DO saja, uang di bayar 3 hari berikutnya. Yang
dipunyai pengepul ini hanyalah jaringan/akses ke pembeli besar. Mata rantai
ekstra ini lah yang saya maksud perlu dipangkas. Saya percaya apabila pasar
telah effisien, maka mata rantai semacam ini akan habis juga pada akhirnya.
Apalagi teknologi seperti internet (contoh milis ini), akan memberikan akses
informasi langsung ke pada petani/produsen.

Yang saya sesalkan disini adalah campur tangan pemerintah tidak nyata disini
untuk men-sejahterakan petani (atau saya aja yang gak melihat yah?). Contoh,
menurut saya badan semacam Bulog ini mempunyai peran penting, BILA
PETUGAS-2NYA JUJUR. Tapi banyak kasus dilapangan dimana petani dibebani
biaya-2 siluman yang tidak perlu. Pemerintah perlu memikirkan lebih keras u/
mengangkat para petani kita yang sudah bersusah payah bekerja untuk
menyediakan pangan buat semua.

Dulu, saya cuman pegawai kantoran di kota, tidak memikirkan ini. Begitu saya
mencoba berusaha (wiraswasta) di bidang pertanian, baru saya tahu, betapa
beratnya perjuangan para petani/peternak di desa. Bahkan boleh dikata bahwa
mereka ini bertaruh terlalu banyak untuk hasil yang tidak sepadan.

Semoga milis ini bisa membantu para petani/produsen dalam meningkatkan
kesejahteraannya (langsung/tidak langsung).

salam,
Gunawan S.

On Fri, Mar 21, 2008 at 8:26 PM, benny walla <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

> Menarik juga penjelasan yg diutarakan pak Guanawan, memang kenyataan
> dilapangan ya seperti itu. Soal harga kenapa bisa beda banyak antara harga
> ditangan petani dan disupermarket ya ini tidak berarti pedagang mengambil
> margin banyak, kan produk itu sdh melewati proses beberapa tangan sebelum
> sampai di konsumen.  Kalau saya bisnis kedele dan saat ini didatangkan dari
> Luwuk dan sekitar Gorontalo, tapi masa panen sdh  hampir berakhir. Sekarang
> krn sdh ada mesin perontok jadinya kedele setelah dipanen cuma dikering
> angin sebentar kemudian langsung dirontok. Oleh petani mungkin krn ingin
> bisa lekas jadi uang atau terlalu ditekan harga jualnya oleh pengepul
> jadinya kedele tidak dijemur lagi tapi langsung dijual. Oleh pengepul yg dgn
> segala alasan brg tersebut lansung diangkut dgn tanpa dijemur apalagi
> disortir terus  dijual kepedagang seperti saya dgn harga yang jauh lebih
> tinggi dibanding harga jual petani. Perlu diketahui harga ditangan petani
> bisa terendah
>  rp.4.750,-/kg sedang harga beli yg mesti saya bayar rp.6.900 ~ rp. 6550.-
> Itupun karena kedele basah kadar air masih jauh diatas 18% terpaksa mesti
> saya jemur lagi.
>
> Benny - Manado
>
> gunsts wrote:
> >             Jadi tergelitik untuk memberi komentar. Kebetulan saya
> adalah orang
> > kota yang coba-coba menanam cabe merah besar di desa. Sangat menarik
> > begitu saya melihat di supermarket surabaya, harga cabe merah bisa
> > mencapai 28.000/kg, sedangkan di desa harga jualnya cuman rp. 9000/kg.
> > Bahkan pernah saya lihat di supermarket harga rp. 18.000, tapi didesa
> > cuman 4000/kg. Apa yang menyebabkan semua ini? Sama seperti dalam
> > kasus gabah petani tadi yang dijual murah sekali.
> > Saya mencoba menganalisa mengapa terjadi disparitas sbb:
> > 1. Susut/rusak di kalangan pengepul. Biaya ini tentu saja menambah
> > harga di tengah2 jalur distribusi.
> > 2. Biaya angkut.
> > 3. Sortasi. Mutu yang tidak seragam, sehingga perlu di sortir.
> > Akibatnya pengepul juga perlu menambah biaya disitu.
> > 4. Ongkos kemasan ditingkat pengepul, pedagang.
> > 5. Pengepul/pedagang perantara, mengambil keuntungan lumayan besar.
> > 6. kesulitan cashflow ditingkat petani, sehingga pengijon mengambil
> > keuntungan disitu.
> > 7. dlsb... faktor x.
> > saya pikir pemerintah harusnya ikut membenahi terutama agar faktor 5-7
> > bisa dikendalikan. Sangat disayangkan bahwa petani yang notabene
> > sebagai produsen, justru tidak menikmati jerih payahnya sama sekali.
> > ok.. ini sekedar mengolah pikiran saja...
> > Gunawan S.
> > --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com , fahrizal thaher akip <[EMAIL PROTECTED]>
> wrote:
> >>
> >> salam agro.....
> >> makin lama penduduk indonesia makin bertambah apalagi KB/BKKBN nya
> > setelah reformasi atau lesu darah.....konsumsi beras kita makin
> > bertambah,,, ,dulu sewaktu kita SR / SD  kita belajar bahwa orang
> > madura makannya jagung , orang ambon dan irian makannya sagu.......
> >> lha sekarang se indonesia itu sudah makan nasi semuanya sedang ada
> > daerah yang sama sekali tidak memproduksi padi ....tapi nasib
> > petaninya walaupun harga berasnya di ps induk jakarta lebih dari 5000
> > perak sekilo tapi gabah petani tetap saja rendah harganya.kabarnya
> > djual jauh dari harga bulog ,katanya hanya 1700 rupiah saja.maklum
> > petani gurem atawa penggarap saja
> >> bagaimana kalau kita ubah pola makan pagi kita dengan makan umbi2an
> > seperti singkong,kentang, ubi jalar/batas atau pisang dan jagung. dll
> .....
> >> selain gizinya juga baik,ini akan membantu konsumsi produksi lokal
> > petani2 kita ,tapi jangan makan mie karena gandumnya impor ...kan
> > belum ada gandum made in gunung kidul....... .
> >> tolong dihitung berapa kebutuhan pengganti beras ini........berarti
> > petani akan membuat pola produksi secara terus menerus sepanjang tahun
> > ........
> >> selamat mencoba
> >> salam
> >> fahrizal /duren sawit jaktim
> >>
> >>
> >> ************ ********* ********* ********* ****
> >> AGROMANIA, SIAP MEMBANTU ANDA!
> >> Agromania kembali siap membantu Anda secara langsung menjualkan atau
> > mencarikan beragam komoditi agrobisnis (pertanian, perikanan,
> > perkebunan, peternakan, pertamanan, kehutanan, agroindustri) . Kirim
> > spesifikasi, stok, jumlah dan harga atau kisaran harga komoditi yang
> > Anda jual atau Anda cari ke email atau SMS kami. Jangan lupa,
> > cantumkan juga data Anda (telepon/hp, nama dan alamat Anda) dan
> > besarnya komisi yang akan Anda berikan. Jika berkenan, petugas kami
> > akan langsung menghubungi Anda.
> >>
> >> AGROMANIA  (online sejak 1 Agustus 2000)
> >> MILIS: http://groups. yahoo.com/ group/agromania
> >> SMS: 0 8 1 1 1 8 5 9 2 9
> >> EMAIL: [EMAIL PROTECTED] .
> >> ALAMAT: Jl.Jambu No.53, Pejaten Barat 2, Jaksel 12510
> >> ************ ********* ********* ********* ****
> >>
> >     
>
>
>
>       ________________________________________________________
> Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda!
> Kunjungi Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke