Moderator dan rekan agromania Yth,
   
  Pada akhir-akhir ini bangsa kita telah disibukan dengan adanya bencana 
dimana-mana dan masalah pangan yang seakan menjadi topik yang tiada henti. 
Sawah ladang dihantam bencana, tidak panen, ada yang panen harganya jatuh. 
Harga gabah bahkan ada yang mencapai hanya Rp 1.600,00/kg kering panen. Kedelai 
hingga kini harganya terus merambat naik. Ironissnya harga beras dipasar 
internasional mencapai $708.00 (kompas hal. depan berita hari ini). Harga beras 
dipasar-pasar kota kabupaten diJawa juga telah turun. Petani disebagian tempat 
tidak berani menjual gabahnya, akan tetapi bagi mereka dihimpit oleh kebutuhan 
mendesak tiada pilihan lain kecuali menjual hasil panennya walaupun harganya 
rendah. Yang menyedihkan beberapa depo logistik (bulog) belum bertindak alias 
masih menunggu bola( kalau tidak mau dikatakan masih main mata dengan 
tengkulak).
   
  Keadaan yang demikian selalu terjadi dan akan terjadi terus. Tidakkah kita 
sebagai bangsa akan selalu egois, tidak berani bersatu atau tidak bisa bersatu 
dan membiarkan bangsa ini menjadi obyek pasar bangsa-bangsa lain dengan pujian 
: "Wah pasar Indonesia menjajikan atau potensial" Tidakkah kita perlu mulai 
menggalang kelompok-kelompok kecil dan dilink-kan untuk menjadi besar dan 
syukur bisa ddijadikan jaringan. Tidakkah kita ingat bahwa nenekmoyang kita 
mewariskan budaya musyawarah yang sekarang mulai didtinggalkan dengan rasa 
egoitis dan memilih banyak voting yang serasa menjadi sangat liberal dan 
menjadikan sebagaian dari kita menjadi anarkis. 
  Rekan Agromania yang tercinta, kata-kata tersebut diatas memang merupakan 
sebuah emosional saya sebagai bangsa, sebagai rakyat yang terkadang bingung 
dengan keadaan kita, keadaan Negara ini. Saya yang tidak kurang 10 tahun 
terakhir ikut blusukan(keluar-masuk) didesa-desa dikalangan petani atau 
masyarakat yang termaginalkan terkadang merasa heran ternyata banyak sebagian 
dari bangsa ini yang masih hanya memikirkan dirinya sendiri, termasuk para 
pemimpin dan kader partay yang katanya ingin memperjuangkan negara. Isu-isu 
semacam jatuhnya harga beras(gabah), melonjaknya harga kedelai masih ditangani 
secara seporadis dan masih menjadi komoditas politik belaka. Makin banyak isu 
dimasyarakat seakan menjadikan partay mempunyai ajang empuk untuk membuat aksi. 
Sangat reaktif dan tidak kreatif.
   
  Rekan Agromania, bila kita membuat kelompok-kelompok dengan sadar dan dengan 
yakin kita juga membangun sebuah budaya beragrobisniss yang membumi, kita akan 
menjadi bangsa yang Kertoraharjo hidup dinegeri yang Gemah Ripah Loh Jinawi. 
Sekarang kita lagi hidup kekurangan dinegeri yang subur loh jinawi, kurang 
bermartabat, sering dipermainkan oleh negeri-negeri kecil yang tidak punya 
sumber daya apapun. Kita ibarat gajah yang dimainkan oleh semut. Gajah yang 
bingun karena semut yang telah merubung kepalanya.
  Harga beras internasional yang tinggi seharusnya membuat para pengambil 
keputusan kita langsung mengambil sikap yang strategis untuk mencari keuntungan 
ekonomis bagi bangsanya, bagi negaranya, bagi rakyatnya. Tapi apa yang terjadi 
dilapangan merka masih lirik-lirikan dengan para tengkulak untuk menjatuhkan 
rakyatnya(petani) supaya tetap mau menjual gabahnya, jagungnya dengan harga 
yang murah. 
   
  Dimasa minyak/energi semakin mahal harganya, terjadi diversifikasi energi. 
Baik dengan bioethanol ataupun biosolar. Peluang besar didepan mata kita. 
Didepan bangsa kita. Tapi kenapa prktek-praktek penjajahan justru masih 
diterapkan. Petani suruh nanam komoditass tertentu yang hasilnya harus dijual 
kepada mereka. DIberitahu(ditakuti) hasil komoditas itu hnya bisa dibuat .... 
tidak bisa dimakan. Contohnya Singkong. Bibitnya diberi, tapi tidak gratis. 
Pupuk diberi tapi juga tidak gratis. Sama dengan IMF atau BANK DUNIA yang 
katanya membantu tapi tetap mengembalikan dengan bunga.  Sekarang petani mau 
nanam jagung, padi, kedelai dan sekarang singkong harus tergantung dengan 
pabrik(perusahaan). Dalam satu periode tertentu tanaman itu disertai dengan 
jenis petisida tertentu, bila sudah ganti maka akan disertai jenis petisida 
yang baru pula. Apakah kita tidak merasa pertanian kita telah dijajah. Pasar 
kita sudah hancur, jenis komoditi(varietas) kita sudah didekte, tanah kita
 sudah mati, lingkungan sudah rusak(terkontaminasi), sebentar lagi umur 
(harapan hidup)kita menjadi makin pendek, dan generasi kita akan menjadi 
semakin bodoh.
   
  Budaya kita katanya Adiluhung. Kita selalu mendapat pujian itu. Kita merasa 
bangga sekali.   Tapi sadarkah kita bagaimana mempertahankan budaya yang 
adiluhung itu. Sadarkah kita bagaimana membangun budaya yang adiluhung itu. 
Mudah-mudahan dengan kita bisa membangun kelompok-kelompok kecil yang dengan 
sadar dilandasi  kepentingan bangsa yang mendasar sesuai citra, karsa bangsa 
yang membumi kita bisa mulai di-perhitungkan. Saya dari kota kecil dibagian 
barat dari Jawa Timur sebelah utara sangat berharap melalui agromania kita bisa 
membangun jaringan bangsa yang ikut memecahkan permasalahan pangansehingga 
tidak banyak rakyat kelaparan atau tidak kuat lagi membeli sembako dinegeri 
yang subur ini. Mari kita bangun Pangan kita dengan ongkos produksi yang murah, 
kwalitas baik, kwantitas melimpah dan menjadi pemasok pangan dunia. Amin. Amin. 
Amin.
   
  mugi.
   
   

Kirim email ke