Kelezatan buah ara-nama lain tin-pun rupanya dinikmati penduduk dunia zaman dahulu. Filsuf zaman Yunani Kuno, Plato, merekomendasikan para atlet negeri para dewa itu untuk mengkonsumsi buah tin. Tidak ada data resmi, jenis apa yang dinikmati. Yang pasti itu berupa buah kering. Tin kering mengandung gula tinggi, sekitar 60%, sehingga bagus untuk sumber energi. Mutasi
Hasil riset Universitas Harvard, Amerika Serikat, figue-nama dalam bahasa Perancis-sudah dibudidayakan sejak 11.400 tahun silam. Itu lebih awal ketimbang gandum dan kacang yang banyak menjadi bahan pangan. Tim peneliti yang dipimpin oleh Profesor Bar-Yosef-ahli antropologi-menemukan fosil buah tin di Desa Gilgal I di lembah Yordania-8 mil dari kota tua Jericho, Israel. Menurut para ahli, buah tin yang sekarang berbeda dengan tin zaman purba. Ara yang sekarang merupakan seleksi dari hasil mutasi alami. Maklum, kerabat beringin itu berkembang tanpa polinasi sehingga tidak menghasilkan biji. Lalu tin hasil mutasi diperbanyak secara vegetatif sehingga berkembang masal. Jumlahnya kini mencapai 700 jenis. Buah tin yang berasal dari Asia Barat lalu menyebar ke kawasan Mediteranian dan Eropa Barat. Buah tin ditanam di Inggris pada pertengahan abad ke-16. Dari tangan mereka, anggota famili Moraceae itu hijrah ke Amerika, Jepang, India, Afrika Selatan, dan Australia. Di Indonesia, tin komersial Ficus carica sp sudah ada cukup lama. Buah yang namanya disebut di kitab suci 3 agama itu banyak ditanam di pondok-pondok pesantren di Indonesia. Pondok pesantren Lirboyo di Kediri mendatangkan pohon tin 10 tahun lalu dari Yordania. Pohon induk lalu diperbanyak dengan cara setek sampai 500 pohon. Bibit-bibit itu lalu diberikan kepada penduduk sekitar untuk ditanam. Namun, pohon tin baru sekadar tanaman peneduh, bukan tanaman komersial. Buahnya dikonsumsi sendiri. Belakangan beberapa hobiis mendatangkan ara dari mancanegara. Budiarto di Teluk Naga, Tangerang, mengoleksi 3 pohon asal Yordania. Di Blitar, Tryman mendatangkan tin berbuah hijau, ungu, dan putih dari Kuching, Malaysia. Eddy Soesanto dari nurseri Tebuwulung memboyong tin dari daerah Puncak, Jawa Barat. Dari jenis-jenis itu, berikut buah ara yang terlacak oleh Trubus. Black ischia Berasal dari Italia. Buahnya berbentuk seperti pir dengan tangkai buah pendek. Ukurannya cukup besar, panjang 6,35 cm dan lebar 3,8 cm-kira-kira sebesar jambu air. Warna ungu tua sampai hitam dengan dasar buah kehijauan dan noda keemasan. Daging buah merah keunguan dengan rasa enak seperti sawo. Daun menjari 3 dan mengkilap. Black ischia cocok dijadikan tabulampot. Panache tiger Ukurannya kecil sampai sedang dengan warna buah hijau bergaris-garis kuning. Daging buah berwarna merah terang. Buah muda berciri mulus tanpa bintik. Padahal bintik pada buah itu ciri khas buah tin. Daun tebal seperti daun jati dan pendek. Flanders Jenis ini paling produktif. Kulit buah bercorak garis-garis ungu dengan noda putih. Daging buahnya legit tapi rentan pecah. Di lidah Trubus, rasanya seperti campuran buah naga dan pepaya. Conadria Kulit buah berwarna hijau kekuningan. Daging buah merah muda. Rasanya tidak terlalu manis, tapi tahan lama. Bisa dikonsumsi segar atau dikeringkan. Pohonnya kokoh dan berumur panjang. Jenis yang sudah dikebunkan secara massal ini tumbuh baik di pesisir atau daratan. Keunggulan lain, ia sangat produktif serta tahan panas dan kekeringan. Long yellow Sesuai dengan namanya, warna buah kuning dan tangkai buah panjang. Rasanya cukup manis. Dibandingkan jenis lain, pematangan buah agak lambat. Negronne Ini dia jenis yang rasanya paling enak. Nama negronne disematkan karena jenis ini berasal dari distrik Negronne di Bordeaux, Perancis. Sebutan lainnya violette de bordeaux karena kulitnya memang ungu nyaris hitam dan berdaging merah tua. Si ungu dari Bordeaux ini cocok sebagai tabulampot. Sosok tanaman tegak, kokoh, dan cenderung kerdil. Sebagian orang percaya kalau buah tiin (Ficus carica) adalah buah suci dari taman surgawi. Konon buah inilah yang menyebabkan Adam dan Hawa di usir dari surga ke dunia. Sedangkan literatur sejarah mencatat kalau buah tiin berasal dari Arab dan sudah ada semenjak 4000 tahun sebelum masehi. Sekarang pohon tiin telah banyak tumbuh dan dibudidayakan secara moderen di negara-negara Timur Tengah maupun daerah Mediterania. Mentah-Matang Sama Lezatnya Buah tiin muda berwarna kehijauan, seiring dengan matangnya buah, warna kulit akan berubah menjadi ungu kehitaman. Buah muda biasanya dikonsumsi sebagai olahan sayur, dimasak dengan aneka daging atau campuran selada. Jika sudah tua dan matang sangat lezat dikonsumsi sebagai buah meja. Di Timur Tengah maupun Eropa, tiin termasuk buah mewah dan sangat mahal. Dulunya hanya dikonsumsi kalangan bangsawan atau di saat acara-acara istimewa. Seiring dengan majunya teknologi pertanian, kini buah tiin makin mudah didapat dengan harga yang relatif lebih terjangkau. Di negara-negara Eropa, buah tiin lebih popular dengan sebutan buah fig. Sepintas buah ini memiliki rasa dan aroma yang mirip dengan jambu biji. Aromanya harum semerbak, teksturnya empuk, rasanya keset, manisnya sedang, sedikit mengandung air dan berbiji banyak. Jika kita mengunyahnya, di dalam rongga mulut akan timbul sensasi menyenangkan karena biji-biji kecilnya yang tergigit. Selain sebagai buah meja, tiin juga sangat lezat dijadikan juice, campuran pudding, isi cake, manisan kering atau dikalengkan dalam sirup gula. Tingginya kandungan pectin, menjadikan buah ini sangat cocok dijadikan sebagai bahan baku selai, jelly, jam, maupun marmalade dengan rasa lezat dan keharuman semerbak. Gizi terkandung dan Manfaatnya Berdasarkan penelitian California Fig Nutritional Information, buah tiin mengandung serat (dietary fiber)yang sangat tinggi. Setiap 100 gr buah tiin kering terkandung 12.2 g serat sedangkan appel hanya mengandung 2.0g dan jeruk 1.9g. Para Pakar kesehatan sangat menganjurkan untuk mengkonsumsi tiin secara teratur. Selain dapat membantu membersihkan racun di dalam tubuh, serat terkandung juga mampu mencegah kanker kolon dan penyakit degeneratif lainnya. Hasil Riset Universitas Rutgers di New Jersey lain lagi. Penelitian Rutgers membuktikan kalau buah tiin mengandung antioksidan yang dapat mengikat senyawa karsinogen penyebab kanker. Tiin juga mengandung asam lemak tak jenuh yang dibutuhkan bagi kesehatan, diantaranya omega-3 dan omega-6. lemak ini terbukti berperan dalam pencegahan penyakit jantung koroner. Kelebihan yang lain, buah tiin rendah lemak, rendah sodium, rendah kalori dan bebas kolesterol sehingga sangat cocok dikonsumsi para penderita diabetes mellitus. Keistimewaan buah ini tidak berhenti sampai di sini. Beragam vitamin dan mineral bermanfaat terkandung di dalamnya. Setiap 100g buah tiin mengandung vitamin A sebanyak 9.76 IU, vitamin C, 0.68 mg, kalsium, 133.0 mg dan zat besi, 3.07mg. Vitamin dan mineral ini sangat diperlukan tubuh untuk menjaga dan memelihara kesehatan organ tubuh kita. Bagi yang berminat, saya menjual bibit buah ini. Contoh bibit silakan klik: http://i223.photobucket.com/albums/dd91/handarius/Bibit1.jpg Salam sukses... --------------------------------- Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. [Non-text portions of this message have been removed]

