Sansevieria di Puncak Takhta

Dua puluh kotak styrofoam 40 cm x 30 cm x 6 cm berjajar dalam greenhouse  
seukuran 2 kali meja pingpong. Di atas kotak terdapat potongan daun  
patens, downsii, kirkii, dan pinguicula yang dialasi sekam. Begitulah cara  
Andy Solviano Fajar memperbanyak sansevieria untuk memenuhi tingginya  
permintaan. Dalam 3 bulan terakhir, ia memasarkan 200 pot terdiri atas 4—5  
daun. Dari perniagaan itulah, pekebun di Gondangrejo, Karanganyar, Jawa  
Tengah, itu meraup omzet Rp25-juta per bulan.

Dua ratus pot yang terjual terdiri atas 50 pot patens, 75 pot downsii, 25  
pot pinguicula, dan 50 pot kirkii. Bibit yang dijual berumur 5—6 bulan,  
seukuran kunci sepeda motor. ‘Memang masih kecil, sebab baru dipisah sudah  
langsung dipesan,’ katanya. Konsumennya pedagang di seputaran Solo,  
Yogyakarta, dan Blitar. Omzet Andy lebih besar jika memperhitungkan  
penjualan 20 pot ehrenbergii, pinguicula, dan patens dewasa seharga  
Rp750-ribu—Rp2,5-juta per pot. Pundi-pundi ayah 1 anak itu menebal pada  
awal tahun karena permintaan bibit melonjak 100% ketimbang penghujung 2007.

Andi memperbanyak sansevieria sejak 1,5 tahun silam. Itu dimulai dari  
keberaniannya mencacah daun kirkii berukuran 10 cm x 20 cm menjadi 5 cm x  
5 cm. Perbanyakan itu sukses. Oleh karena itu ia menerapkannya pada  
spesies lain seperti patens, downsii, dan rorida yang berdaun tebal. Total  
jenderal diperoleh 3.500 anakan. Saat wartawan Trubus Nesia Artdiyasa,  
mampir ke kebunnya pada Februari 2008, bibit yang tersisa hanya pinguicula  
75 pot, rorida 35, dan kirkii 40.

Untuk memenuhi tingginya permintaan, Andy menambah indukan baru. Ia  
membeli malawi 5 daun seharga Rp2-juta dan mencincangnya menjadi 15  
potong. Dua desertii masing-masing 2 daun seharga Rp750-ribu dipecah  
menjadi 15 potong. Jebolan Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada itu  
juga memborong 6 pot patens terdiri atas 7 daun. Tanaman seharga  
Rp250-ribu—Rp750-ribu itu lalu dicacah menjadi 100. ‘Itu untuk persiapan  
penjualan 5 bulan ke depan,’ kata pemilik nurseri Sekar Jagad itu.
Rezeki nomplok

Berkah sansevieria pun dirasakan Franky Tjokrosaputro, presiden direktur  
PT Bumi Teknokultura Unggul, di Jakarta. Selama 11 hari pameran di Trubus  
Agro Expo 2008 di Parkir Timur Gelora Bung Karno Senayan, Jakarta Pusat,  
Franky sukses menjual 200 pot Sansevieria cylindrica ‘patula’ dan S.  
cylindrica ‘bintang.’ Dengan harga tanaman berukuran 10 cm Rp50.000, ia  
memperoleh pendapatan minimal Rp10-juta. Itu belum termasuk penjualan  
masoniana congo dan silver.

Menurut Franky nominal itu tak terduga sebelumnya. Pasalnya, cylindrica  
yang dikebunkan sejak 2005 untuk pasar ekspor. ‘Saya menyiapkan untuk  
ekspor pada pertengahan 2008. Ternyata sejak awal tahun pasar lokal bisa  
menyerap. Itu benar-benar rezeki nomplok,’ kata kelahiran Solo 31 tahun  
silam itu.

Di Medan, Sumatera Utara, Poppy Anggraeni, pun ketiban rezeki sansevieria.  
Pemilik nurseri Ivanna itu meraup omzet Rp75-juta selama berpameran di  
Jakarta pada awal Maret 2008. Itu penjualan 300 pot Sansevieria fischerii,  
ehrenbergii, gold flame, dan pinguicula. Bedanya, 50% penjualan Poppy  
berasal dari hasil perbanyakan di halaman rumah. Sisanya didatangkan  
langsung dari negeri Siam. ‘Yang ukuran 20 cm ke bawah hasil anakan  
sendiri. Yang besar diimpor,’ kata pengusaha rumah makan itu.
Kian berkibar

Bukan tanpa sebab 3 pekebun itu mendulang rupiah dari si tanaman ular.  
‘Tren sansevieria kian menggila,’ kata Purbo Djojokusumo, pemain tanaman  
hias yang malang melintang selama 15 tahun itu. Mantan dokter di rumah  
sakit di Jakarta itu merujuk pada peningkatan permintaan lidah mertua yang  
melonjak 4 kali lipat sejak sebulan terakhir. Sebelumnya Purbo hanya  
sanggup menjual 10—20 pot per bulan. Pada Februari 2008 ia kelimpungan  
melayani permintaan 200 pot kirkii brown.

Harga sansevieria pun terus meroket. Sebut saja kirkii brown yang 2—3  
bulan lalu hanya Rp100-ribu per daun, kini menjadi Rp250-ribu. Kirkii  
silver blue berukuran 20 cm yang semula Rp1-juta per daun naik 10 kali  
lipat Rp10-juta. Pada Januari 2008, bibit patens 4—5 daun ukuran 5 cm  
dibanderol Rp100-ribu per tanaman di tingkat pekebun. Spesies itu kini  
beredar dengan kisaran harga Rp175-ribu—Rp220-ribu di tingkat pekebun dan  
importir. ‘Itu karena permintaan meningkat, tapi stok lambat bertambah,’  
kata Edi Sebayang, kolektor di Tangerang.

Menurut Drs Seta Gunawan, ketua paguyuban sansevieria di Yogyakarta, 3  
pemicu tren sansevieria sejak 2 bulan terakhir adalah publikasi media,  
permintaan tinggi, dan pertambahan pemain. Willy Purnawanto SE dari  
Masyarakat Sansevieria Indonesia (MSI) di Yogyakarta menambahkan alasan  
lain. ‘Momentum tren yang sangat tepat. Saat tren di Indonesia, komunitas  
serupa di mancanegara sedang tumbuh,’ katanya. Menurut Willy, tren  
bersamaan itu membuat komunikasi antarpemain tak terbatas di wilayah  
domestik. Namun, mendunia mulai Thailand dan Filipina hingga ke Eropa dan  
Amerika Serikat.
Tren mancanegara

Pendapat Willy itu disepakati Ruangwit di Thailand. Menurutnya tren  
sansevieria di negeri Gajah Putih itu baru berlangsung setahun. ‘Tren  
dipicu terbitnya buku sansevieria karya Pramote Rojruangsang tahun lalu,’  
kata Ruangwit kepada 2 wartawan Trubus Andretha Helmina dan Nesia  
Artdiyasa. Ia berburu lidah mertua ke Eropa, Amerika, dan Filipina melalui  
dunia maya. Hasilnya vernwood, ehrenbergii, koko, kirkii, dan erythraeae.

Menurut Bunlue Lodwan, presiden Thailand Sansevieria Club (TSC), ‘Sejak 6  
bulan terakhir permintaan menggila,’ katanya. Bunlue yang sebelumnya  
meneruskan usaha sang ayah yang mengebunkan adenium banting setir ke  
sansevieria. Menurutnya lidah mertua itu diburu distributor dan kolektor  
dari Thailand, Jepang, dan Indonesia. Selama 6 bulan terakhir pria berusia  
25 tahun itu meraup omzet hingga 300.000 bath setara Rp75-juta—Rp90-juta.

Permintaan bertubi-tubi itu menyebabkan harga di Thailand pada Maret 2008  
naik 50—100% ketimbang Januari 2008. Pemasok Bunlue dari Filipina dan  
Amerika pun menaikkan harga. Di negeri Arroyo dan Bush itu harga naik  
hingga 20—30% dibanding 2—3 bulan sebelumnya.

Di Thailand saat ini tercatat 120 nurseri sansevieria. ‘Sebelumnya mereka  
bermain adenium, aglaonema, puring, atau keladi. Kini mereka serius  
memperbanyak sansevieria,’ kata Pramote Rojruangsang.

Sebuah komunitas di dunia maya pun menggambarkan tren sansevieria.  
Sebanyak 600 anggota dari berbagai negara bergabung. Sebut saja Perancis,  
Jerman, Jepang, Vietnam, India, dan Indonesia. Pada pertengahan 2007  
sempat beredar kabar komunitas itu mati suri. Namun, pada penghujung 2007  
dan awal 2008, interaksi antarhobiis mancanegara itu bergairah kembali.  
Dari kontak personal itu laju ekspor-impor antarbenua kerap berlangsung  
dengan volume beragam.
Pemain baru

Di tanahair juga bermunculan pemain baru. Di Yogyakarta, ada M Burhan,  
pemilik nurseri Bullion 99. Sejak 4 bulan silam pemilik perusahaan valas  
itu berburu lidah mertua di seputaran Kota Gudeg. Namun, sejak awal tahun  
ia mendatangkan 200 pot horwood, robusta, hallii, dan patens dari  
Filipina. Pada Februari setengah stok yang dimiliknya ludes diburu hobiis.  
Di Solo ada Boy Olifu Gea; di Wonosobo, Belly Rudianto; dan di Blora, Dedy  
Dwi P.

Di luar Jawa Tengah dan Yogyakarta pun banyak pemain tanaman hias yang  
melirik sansevieria. Contohnya Handry Chuhairy di Tangerang. Pemilik  
nurseri Hans Garden itu semula terkenal dengan adenium, pachypodium, dan  
aglaonemanya. Belakangan Trubus kerap memergoki manajer pasar swalayan itu  
berburu sansevieria dan berkompetisi di arena kontes. Di Palu, Sulawesi  
Tengah ada Yusmangun—kolektor aglaonema dan adenium—yang kepincut  
kecantikan lidah naga. Menurut Poppy, di Gorontalo, kini terdapat 3—4  
nurseri yang mulai menjajakan sansevieria.

Gairah para pemain baru itu semakin terwadahi karena ajang kontes kian  
sering digelar. ‘Dulu kontes sering digelar, tapi peserta minim. Kini  
sebulan bisa 2 kali, dengan peserta membeludak,’ kata Sudjianto, juri  
kontes sansevieria asal Wonosobo, Jawa Tengah. Kontes yang digelar Trubus  
pada awal Maret 2008 tercatat 86 peserta; di Wonosobo, 110 peserta.  
Bandingkan dengan peserta kontes pada 2007 yang rata-rata hanya diikuti 30— 
50 peserta.
Risiko tinggi


################ AGROMANIA ##################

Mau Daftar ABC (Agromania Business Club) ?
Segera kirim email ke [EMAIL PROTECTED]

AGROMANIA (online sejak 1 Agustus 2000)
SMS AGROMANIA: 0 8 1 1 1 8 5 9 2 9
EMAIL: [EMAIL PROTECTED]
MILIS: http://groups.yahoo.com/group/agromania
AKTIVITAS: http://ph.groups.yahoo.com/group/agromania/photos
REFERENSI: http://groups.yahoo.com/group/agromania/files/
ALAMAT: Jl.Jambu No.53, Pejaten Barat 2, Jaksel 12510
BERGABUNG: http://groups.yahoo.com/subscribe/agromania

################ AGROMANIA ##################


Peluang di pasar sansevieria bukannya tanpa risiko. Mamay Komarsana, di  
Cipanas, Cianjur, hanya bisa mengelus dada saat kebun laurentii untuk  
ekspor ke Korea musnah diserang penyakit Erwinia sp pada 2003. ‘Modal  
Rp20-juta raib tak kembali. Saya kapok kebunkan lidah mertua berdaun  
tipis,’ kata mantan pegawai pabrik kabel itu.

Hamid Mahmud Baraja, eksportir di Malang, Jawa Timur, pun mengeluhkan  
omzet yang diraup dari pasar ekspor menurun drastis. Ia mencontohkan harga  
laurentii yang semula Rp20.000 merosot menjadi Rp10.000 per tanaman.  
Menurut Hamid, gempuran penyakit sulit diatasi, sehingga biaya produksi  
melambung. ‘Lebih besar pasak daripada tiang,’ ujarnya.

Di Puncak, Bogor, ada Samsudin, yang kebingungan melepas 1.000 superba.  
‘Saya pikir jenis ini bakal diburu pascalaurentii, ternyata tak ada yang  
mau,’ kata pria berkacamata itu. Lantaran tak laku, superba itu dibiarkan  
tak terawat. Belakangan Samsudin memusnahkan 3.000 superba, hahnii, dan  
laurentii yang terserang bakteri.

Sejatinya, tak hanya lidah mertua berdaun tipis yang berisiko tinggi.  
Menurut Andy banyak pekebun di Solo yang mencacah daun kirkii, giant, dan  
rorida, gagal. Ketiganya termasuk lidah jin berdaun tebal. ‘Bagi yang  
belum berpengalaman, tingkat kematian tinggi. Bisa di atas 60%,’ katanya.  
Itulah sebabnya banyak pekebun yang Trubus sambangi takut mencacah daun si  
lidah naga.
Peluang ekspor

Namun, jika berbagai hambatan teratasi, pasar menanti pasokan sansevieria.  
Tak melulu pasar domestik yang terbuka, tapi juga ekspor. Franky  
Tjokrosaputro, mendapat permintaan 3—5 kontainer Sansevieria cylindrica  
‘patula’ per bulan dari Belanda pada awal tahun ini. Satu kontainer 40  
feet menampung 20.000—30.000 pot patula berukuran 40—50 cm. Permintaan  
dengan volume setara muncul dari 3—4 pembeli di Korea dan Jepang. ‘Dua  
negara yang disebut terakhir baru penjajakan,’ katanya.

Franky akan memenuhi permintaan itu pada Juni—Juli 2008. ‘Stok patula di  
kebun kita baru 100.000 tanaman. Kami masih menunggu panen plasma di  
Tangerang dan Kebumen,’ katanya. Franky bermitra dengan pekebun di Kebumen  
dan Tangerang. Kepada mereka, ia memberikan masing-masing 20.000 bibit dan  
10.000 bibit. Targetnya 1-juta tanaman per tahun pada 2009—2010 dari lahan  
5 ha dan para plasma.

Benarkah peluang ekspor itu realistis? Menurut Hamid peluang ekspor segala  
macam tanaman hias—termasuk sansevieria—terbentang luas. ‘Asal sanggup  
memasok rutin 3 kontainer per bulan, negara-negara di Eropa siap  
menampung,’ kata mantan pengusaha pasta gigi itu. Setelah mengirim sampel,  
Korea Selatan minta pasokan 3 kontainer Australia black sword . Kini ia  
baru mengebunkan jenis itu itu di lahan 1 ha.

Menurut Hamid, pekebun yang membidik pasar ekspor mesti siap menjual  
dengan harga partai. ‘Biasanya harga lebih rendah, tapi volume tinggi.  
Sistem kerjanya sudah skala komersial seperti di pabrik-pabrik,’ ujarnya.
Prediksi

Sampai kapan pasar sanggup menyerap sansevieria? Iwan Hendrayanta, ketua  
Perhimpunan Florikultura Indonesia, menyebutkan tren sansevieria bakal  
langgeng di tanahair. ‘Sansevieria sudah diterima masyarakat Indonesia,’  
katanya. Menurut Iwan grafik tren sansevieria seperti gelombang  
transversal (naik dan turun, tapi sebetulnya ajek, red). Oleh karena itu  
sansevieria berpeluang sebagai tanaman sela. Saat tanaman hias lain  
booming, sansevieria seolah turun. Namun, begitu komoditas itu mulai  
turun, maka sansevieria berperan sebagai tanaman alternatif yang diburu.

Purbo menuturkan pada triwulan ketiga 2008, sansevieria bakal menjadi  
tanaman yang paling diburu di seluruh dunia. ‘Masa itu sansevieria seperti  
di puncak takhta. Harga bisa meroket 20 kali lipat karena pemintaan dan  
ketersediaan tak seimbang,’ katanya. Namun, ia memberi peringatan tren  
harga bisa terjun bebas pada triwulan ketiga 2009. Musababnya, pekebun di  
Thailand mulai getol memperbanyak sansevieria.

Pekebun Thailand sudah berhasil memperbanyak sansevieria dengan teknik  
cacah yang lebih unggul. ‘Tingkat keberhasilan mereka mencapai 100%.  
Pekebun di Indonesia paling 50%,’ ujar Purbo. Dipastikan, dalam 2 tahun  
hasil perbanyakan itu siap membanjiri pasar Indonesia.

Edi Sebayang memprediksi tren sansevieria bakal lebih panjang ketimbang  
adenium yang telah berlangsung 8 tahun. Itu karena perbanyakan dan  
pertumbuhan lidah jin lebih lambat, tapi berlimpah spesies dan varian.  
Lantaran itu, Edi mendatangkan 400 patens berumur 1 tahun dari Filipina.  
Hamparan patens itu kini bisa dilihat di halaman rumahnya.

Soeroso Soemopawiro juga sangat yakin, umur sansevieria bakal panjang  
karena merujuk ke Negeri Matahari. Menurutnya gembar-gembor sansevieria  
sebagai antipolutan membuat pemerintah Jepang menganjurkan warganya  
memelihara lidah naga di setiap rumah. Minat serupa bukan tak mungkin  
berlaku di tanahair.

Optimisme itulah yang kini dirasakan Andy, Franky, dan Poppy. Bagi mereka  
perbanyakan satu-satunya jalan meraup untung. ‘Thailand sanggup menjual  
tanaman dengan harga realistis, kenapa kita tak bisa,’ kata Andy. Bagi  
Franky harga ekspor yang tak sebaik lokal disiasati dengan peningkatan  
volume dan pemilihan jenis bandel. (Destika Cahyana/Peliput: Andretha,  
Argohartono, Dian AS, Imam, Kiki, Lastioro, Nesia, Rosy, dan Vina)

http://www.trubus-online.co.id/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=1&artid=1231

Using Opera's revolutionary e-mail client
http://adijundi.blogspot.com/

Kirim email ke