Barusan dapat artikel dari Trubus.

Selasa, 2008 Juni 24
Bioetanol Anti Tumpah
Pukul 11.00 WIB menjelang makan siang. Tibalah saatnya bagi Gina untuk memasak. 
Alih-alih mengambil korek api untuk menyalakan kompor, ia malah meraih sendok 
dan sebuah wadah plastik. Diambilnya 2 sendok makan jeli berwarna krem dari 
wadah plastik. Jeli itu diletakkan di tabung seng dan disulut api. Seketika api 
menyala biru. Begitulah cara perempuan 26 tahun itu memasak. Dengan jeli ia tak 
perlu antre untuk memperoleh minyak tanah.

Jeli itu adalah bioetanol yang dipadatkan. Bagi ibu rumahtangga, bioetanol jeli 
amat praktis. Mereka tak perlu khawatir bahan bakar itu tumpah lantaran 
bentuknya padat. Selain itu, 'Bioetanol jeli tak membuat wajan atau panci 
menghitam. Nyala apinya juga biru,' katanya. Jeli bahan bakar itu mengandung 
bioetanol berkadar 70%. Ide jeli itu dibuat oleh Ir Himawan, produsen bioetanol 
di Cilegon, Provinsi Banten.

Menurut alumnus Teknik Kimia Universitas Diponegoro penggunaan jeli bioetanol 
lebih hemat. Hasil risetnya membuktikan daya bakar 200 gram bioetanol jeli 
setara 1 liter minyak tanah. Pantas bila Gina mengambil 2 sendok bioetanol jeli 
cukup untuk memasak selama 5 menit. Sudah hemat, nyala api biru, bioetanol jeli 
juga tidak menimbulkan asap dan jelaga.


Mudah dibawa
Menurut Dr Arief Yudiarto, peneliti Balai Besar Teknologi Pati, di Lampung, 
sah-sah saja bioetanol dibuat menjadi jeli. 'Bentuk jeli mudah dibawa saat 
bepergian seperti camping atau untuk tentara yang bertugas di hutan. Itu karena 
tidak mudah tumpah,' ujar Arief. Menurut alumnus Tokyo University of 
Agriculture and Technology itu, bioetanol jeli tak mudah terbakar dan awet.
 
Di luar negeri bioetanol jeli dimanfaatkan sebagai pengganti bahan bakar 
terutama kayu sejak 2007. Berdasarkan data World Health Organization (WHO), di 
negara berkembang, asap dari kayu bakar mengakibatkan penyakit paru-paru akut. 
Dampaknya sebayak 1,5 juta wanita dan anak-anak per tahun meninggal dunia. 
Karena itu di Johannesburg, Afrika Selatan, bioetanol jeli marak dikembangkan.
 
Himawan mengembangkan bioetanol jeli dari bioetanol apkir, yakni yang berbau, 
warna kekuningan, dan kadar di bawah 96%. Yang terpenting titik bakarnya tidak 
kurang dari 40%. Untuk membuat bioetanol jeli perlu gelling 
agent-pengental-berupa tepung seperti kalsium asetat agar bercampur homogen. 
Pengental lain yang dapat digunakan antara lain xanthan gum, carbopol EZ-3 
polymer, dan berbagai material turunan selulosa.
 
Dosis kalsium asetat untuk bahan campuran cukup 1-5%. Kalsium asetat berbentuk 
tepung itu lalu diencerkan dengan air sebanyak 20% dari jumlah bioetanol. 
Selanjutnya dicampur etanol berkadar 70-85%. Rasio antara pengental dan 
bioetanol perbandingannya 1:7. Setelah itu ditambahkan 5% natrium hidroksida 
sebagai penyeimbang pH agar tingkat keasaman 5-6. Saat menambahkan natrium 
hidroksida kecepatan aduk ditingkatkan 2 kali lipat. 'Untuk membuat 200 g gel 
kecepatan aduk berkisar 2.500 rpm. Semakin besar jumlahnya, kecepatan ditambah 
agar hasil homogen,' kata Himawan. Dalam beberapa menit bioetanol sudah menjadi 
gel.
 
Kompor baru
Menurut Sugeng Harjono, direktur pemasaran PT Bio Green Inotech, biaya produksi 
bioetanol jeli itu Rp3.250-Rp3.500 per liter. Itu lantaran harga bioetanol 
hanya Rp3.000/l. Bila ditambah biaya kemasan, bioetanol gel dapat dijual 
Rp4.000/l. Biaya pembuatan bioetanol jeli itu lebih murah ketimbang harga bahan 
bakar minyak. Apalagi sejak Mei 2008 harga minyak melonjak Rp7.000/l lantaran 
subsidi dicabut.
 
Namun, pemakai bioetanol jeli harus membeli kompor baru. 'Prinsipnya, kompor 
bioetanol jeli itu mirip kompor konvensional. Bedanya ruang untuk sumbu diganti 
dengan tempat menaruh gel. Sayang, saat ini kompor ujicoba masih untuk wajan 
berdiameter 30 cm. Saat api padam, wajan harus diangkat untuk ditambahkan jeli. 
'Saat menambahkan api harus benar-benar mati,' kata Himawan. Oleh karena itu 
agar jangkauannya luas, tak hanya untuk kebutuhan rumahtangga, kompor dirancang 
untuk industri kecil seperti pembuatan keripik. 'Paling-paling harga jual 
berkisar Rp15.000/kompor, tergantung ukuran,' kata Himawan. (Lastioro Anmi 
Tambunan)

Sumber: di copy sesuai aslinya dari majalah trubus

==============================
AGROMANIA BUSINESS CLUB (ABC)
http://www.agromania.co.cc
SMS: 0 8 1 1 1 8 5 9 2 9
==============================

Kirim email ke