Rekan Agro,
Kalau melihat beberapa rekan milis banyak yang antusias dengan proyek 
biofuel skala rumahan, terlepas bahaya atau tidaknya dalam proses pembuatan 
biofuel.
Bagaimanakah dengan pemasarannya ?

Bila menggunakan jalur masyarakat konsumsi, haruslah dihadapi harga BBM 
bersubsidi.
Bila digunakan masyarakat produksi, pengguna BBM non-subsidi, tentu saja 
mensyaratkan standar dan kualitas tertentu.
Kalau mau ngurus standar, kayaknya ngak bosa dipakai skala rumahan.

Berdasarkan beberapa sumber, untuk mengejar bio-solar, hanya campurkan 
minyak jelantah saring dengan solar, ngak perlu repot pengolahan lagi.

Salam,
Handaya

________________________________

DIREKTORI AGROBISNIS ABC:
http://www.direktoriabc.co.cc
MAU GABUNG? ISI FORMULIR DI:
http://www.formulirabc.co.cc
_______________________________



----- Original Message ----- 
From: "Josef Kiky Soebekti" <[EMAIL PROTECTED]>


Yth Pak Abdurahman,

Saya Kiky soebekti mau menanggapi komentar anda mengenai " pekerjaan
membuat Bio ethanol Rumahan ", memang kalau "menurut aturan" yamg
berlaku , banyak pekerjaan di negara kita yang Tidak
Boleh dilakukan , tapi sesuai kebutuhan masyarakat ( ini
masyarakat banyak yg tdak faham keamanan dan
kenyamanan kerja ) hal2 Tsb tetap dilakukan karena untuk memenuhi
kebutuhan dan menghemat beaya , walaupun hal Tsb
kadang mengandung bahaya . Pak Abdu sudah biasa kerja dengan disiplin
tinggi di perusahaan yang menerapkan "SAFETY FIRST ", saya rasa tidak
mudah menerapkan nya di negara kita yang tercinta ini , karena dengan
di terapkanya diseluruh masyarakat maka akan terjadi "Pergolakan" ,
Bapak dapat bayangkan , kalau masayarakat kecil menengah di Indonesia
menerapkan "Pengaman" itu , maka akan banyak sekali usaha kecil
menengah yang berjatuhan dan bangkrut , kalau di Luar Negeri mereka
sudah mempunyai Aturan yang Baku dan Tidak Ber - Tele2 dengan segala
beaya nya ,tapi di Negara Kita yang Tercinta ini , Bapak bisa lihat dan
buktikan , betapa Rumit nya MENGURUS BEAYA usaha kecil menengah , belum
lagi dibebani "Peralatan Safety First" yang rata2 alat2 Tsb Import dr
Luar Negeri , lalu yang terpenting Untuk "mereka2" adalah HASIL kerja ,
tanpa mereka merasa TAKUT seperti yang Bapak Alami , karena bagi mereka
hal Tsb sudah menjadi Kebiasaan Se hari2 dan Itulah Indonesia, jadi
maaf sekali kalau Pak Abdu sampai bingung , Kog bisa ya mereka bekerja
ditempat dan dalam situasi yang menakutkan ???,

Selama ini ( baik itu Bandeng,Bebek,Ayam,Pepes PRESTO : Produk Bio
Ethanol,Bio Diesel ,Bio Gas Dll Sebagainya ) sudah berjalan terus dan
mereka tidak ada masalah dengan "KESELAMATAN KERJA" yang ada , nah
tinggal Pemerintah saja yang harus rajin mengingatkan dan memberi
arahan yang Jelas tanpa BEAYA lebih , supaya rakyat tidak " SELALU
TERBEBANI" dengan beaya2 SILUMAN yang ada.

Jadi pada prinsipnya , kalau ada usaha yang akan di jalankan lalu
belum2 sudah dibebani dengan Beaya kKeselamatan Kerja yang besar , maka
pasti mereka tidak jadi Ber Usaha .

Wassalam

j.kiky soebekti


--- Pada Sel, 28/10/08, abdu rahman <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
Dari: abdu rahman <[EMAIL PROTECTED]>

YTH Pakar2 bioetanol
Berangkat dari kebodohan dan kehawatiran saya, mengingat budaya nekat yang
menonjol pada kebanyakan orang kita, saya memberanikan diri usul buat para
pakar2 bioethanol di milis ini semoga kehawatiran saya ini salah.
Jika bapak2 bergelut dengan proses destilasi berarti telah melibatkan diri
dengan pressure vesel
otomatis bahaya telah mengancam.
Jadi ada baiknya jika menulis suatu proses yang mengandung bahaya di sertai
pula dengan cara2 menghandling suatu process hingga benar2 aman dan 
bersahabat
baik terhadap pekerja ataupun lingkungan saya yakin banyak daripada pembaca
ataupun pelaku bioethanol di milis ini yang kurang memahami MSDS ataupun 
Flash
point dari pada ethanol termasuk saya.
Apalah arti tujuan baik bapak2 di sini menulis process bioethanol jika nanti
ada yang nekat mengaplikasikan dengan modal tulisan di milis ini tanpa di
dukung ilmu dan pengalaman yang memadai dan pada ahirnya akan memakan 
korban.
Saya sudah bergelut dengan petrokimia dan oil refinery lebih dari 17 thn 
tapi
jika harus berhadapan dengan industri yang gak certified apalgi skala rumah
tangga mungkin saya akan keluar keringat dingin atau melarikan diri bahkan 
untuk
alat masak presto pun saya gak recomended buat keluarga saya.
Jika para milis di sini membaca hanya untuk menambah pengetahuan its ok

Terima kasih
abdu


________________________________
From: tony sapi <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, October 23, 2008 8:19:03 AM
Subject: Re: Bls: [agromania] Semudah inikah ?


Halo Para Boss bioethanol,
Saya sangat sepakat, bahwa membuat Bioethanol, memanglah SEMUDAH ITU.
Sama halnya waktu saya nonton balapan mobil formula satu, sang pembalap 
hanya
duduk alalu belok kiri dan belok kanan, mobilnya di percepat atau di
perlambat, semudah itu nggak ada yang aneh.
Sama persis dengan kemahiran saya naek sepeda, duduk di sadel, kaki 
mengayuh,
tangan memegang stang pengemudi, semudah itu nggak ada yang aneh
Hanya saja dulu waktu belajar naek sepeda, sempat di rawat di rumah sakit
beberapa minggu, dua oarang kawan belajar terpaksa berangkat ke alam baka, 
hanya
karena kelindes mobil (lebih tepatnya Oplet Dago)


TONY_SAPI
http://sapiology. com
http://tonysapi. multiply. com

____________ _________ _________ __
From: agus mastrianto <[EMAIL PROTECTED] com>

salam kenal pak Soebekti.
saya coba jelaskan sedikit nanti yg lainnya bisa nambahi
memang mudah pak untuk membuat bio etanol spt dlm tulisan bpk tapi butuh
ketekunan dan pembelajaran
dr umbi umbian proses mengubah pati menjadi gula / glucosa dan difermentasi
menjadi alkohol memang tdk lah terlalu sulit,
tetapi pada proses tsb cuma di hasilkan alkohol antara 10 s/d 15 % saja,
disebut larutan beer,
karena pada prosentase itu alkohol akan meracuni raginya shg proses 
fermentasi
akan berhenti dgn sendirinya.
yang agak sulit adalah saat menaikkan kadar alkohol nya dgn cara destilasi,
butuh pengalaman dan trial / hrs berani mencoba dan menganalisa proses nya 
agar
di peroleh kadar mencapai 70%, 90% ke atas bahkan bisa sampai 99,5 % yg di 
sebut
FGE
alat destilator biasa / single stage bibutuhkan 2 atau 3 kali distilasi 
untuk
mencapai kadar 90 %
untuk memperoleh langsung kadar diatas 90 % diperlukan distilasi bertingkat
disertai reflux
prosedur distilasi untuk jelasnya bpk bisa di baca di Situs yg sdh di buat 
boss
Tony Sapi http://bioethanolma nia.multiply. com
monggo di lihat dan di baca dgn pelan dan seksama minimal akan memberi 
gambaran
tentang proses distilasi bio etanol sekaligus cara membuat alat 
destilatornya.
semoga bermanfaat
agusmst-Xwungu Kendal Jateng.
Koperasi Agrobisnis Sukajaya


----- Pesan Asli ----
Dari: Soebekti Soebekti <[EMAIL PROTECTED] com>

Saya dapat tulisan tentang bio ethanol. Mohon komentar mbak mMenik dan para
pakar, semudah itukah?

Ternyata Tidak Sulit Membuat Etanol Sendiri
Artikel Terkait:
* Pabrik Biofuel Dibangun di Parepare
* Biofuel Sawit Tidak Ramah Lingkungan
Jumat, 29 Februari 2008 | 13:13 WIB
Laporan wartawan Kompas Hermas Effendi Prabowo
JAKARTA, JUMAT - Membuat biofuel dalam hal ini etanol untuk mensubstitusi 
bahan
bakar minyak khususnya premium ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. 
Industri
kecil skala rumahan pun bisa memproduksinya sendiri, syaratnya hanya 
ketekunan.
Lebih menguntungkan lagi, biofuel ini bisa digunakan untuk campuran premium 
5 -
10 persen.
Erliana Ginting dan Titik Sundari dari Pascapanen dan Pemuliaan Balai
Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi) Malang 
Departemen
Pertanian mengungkapkan proses pembuatannya. Caranya, ubi kayu atau singkong
yang segar dikupas kulitnya, dicuci lalu diparut. Selanjutnya dilikuifikasi 
atau
ditambahkan enzim amilase dan dipanaskan hingga suhu 90 derajat celsiun 
selama
30 menit sambil terus diaduk.Selanjutnya bubur ubi itu didinginkan, dan
tambahkan enzim glukoamilase (atau istilah lain disakarifikasi) dan 
dipanaskan
lagi hingga suhu 60 derajat Celsius selama 2 jam. Selanjutnya pada suhu 32
derajat Celsius, ditambahkan ragi. Kemudian difermentasi pada suhu kamar 
selama
72 jam. Langkah selanjutnya penyulingan, dengan pemanasan minimum 80 derajat
celsius. Jadilah etanol dengan kadar 96 persen.Agar kadar etanol bisa naik
sampai 99,5 persen dan bisa digunakan untuk substitusi premium, perlu
didehidrasi dengan teknologi molecular sieve.
Hermas Effendi Prabowo











Kirim email ke