Harga naik ke kisaran US$1,9 per kg
Petani mulai kurangi produksi karet 30%  
    
Petani karet nasional merealisasikan pengurangan produksi hingga 30%, 
sehingga memberikan efek positif pada harga jual komoditas itu yang 
kini naik di kisaran US$1,9 per kilogram (kg) pekan ini. 
Pengusaha karet di dalam negeri optimistis produksi dapat ditahan 
sesuai sasaran. Apalagi, musim hujan yang mulai turun ikut mengurangi 
frekuensi penyadapan karet oleh petani. 

Namun, hingga kini Departemen Pertanian tidak menyiapkan skema khusus 
untuk mengakselerasi kredit revitalisasi sehingga mendukung program 
penanaman kembali (replanting) yang ditargetkan di areal seluas 
55.000 hektare (ha). 

Direktur Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) 
Suharto Honggokusumo mengakui program darurat yang diambil untuk 
mengantisipasi harga karet yang anjlok sudah memperlihatkan pengaruh 
pada pasar. 

"Saya kira sekarang semua petani karet sudah bisa tahan [produksi] 
sampai 30%. Musim hujan juga sudah mulai turun. Trennya, produksi 
turun dan ini sangat membantu sehingga harga sudah mulai naik," 
katanya kepada Bisnis kemarin. 

Harga karet kualitas RSS (ribbed smoked sheets) di bursa komoditas 
Singapura (Singapore Commodity Exchange/Sicom) untuk pengiriman 
Desember 2008 tercatat US$1,92 per kg. Adapun kualitas TSR 
(technically specified rubber) untuk periode yang sama diperdagangkan 
di level US$1,82 per kg. 

Harga di mulut pabrik di dalam negeri, kata Suharto, untuk 100% karet 
kering sudah berkisar Rp17.000-Rp17.500 per kg atau naik 30% dari dua 
pekan lalu yang hanya sekitar Rp13.000-Rp14.000 per kg. 

Luas perkebunan karet Indonesia (ribu hectare) 
 Karet rakyat BUMN Swasta 
2004 2.748 239 275 
2005 2.767 238 275 
2006 2.833 238 275 
2007 2.899 239 276 
Sumber: Gapkindo 

Direktur Tanaman Semusim pada Ditjen Perkebunan Deptan Mukti Sarjono 
mengakui upaya pengurangan produksi tidak akan menyulitkan petani 
karena harga komoditas yang sudah rendah pada saat itu. 

"Petani sudah tahu, kalau harga rendah, mereka tidak akan sadap. Jadi 
ketika diimbau untuk mengurangi frekuensi penyadapan, itu tidak 
menjadi masalah bagi mereka," tuturnya. 

Suharto meminta pemerintah semestinya segera merespons upaya 
revitalisasi itu sehingga program penanaman kembali untuk mengganti 
tanaman tua dapat segera dilakukan. 

"Harusnya ada upaya akselerasi. Petani karet itu kebanyakan petani 
rakyat. Susah bagi mereka untuk mendapatkan pembiayaan kredit karena 
tidak punya sertifikat sebagai agunan untuk kredit ke bank." 

Kebijakan karet 

Sementara itu, Mentan Anton Apriyantono dan Menteri Perladangan dan 
Komoditas Malaysia Datuk Peter China Fah Kui, kemarin menyepakati 
penurunan frekuensi penyadapan getah karet di negara masing-masing, 
guna memberikan kesepakatan kepada petani menghasilkan komoditas 
lain, kecuali karet. 

Selain itu, kedua negara bersepakat mengawasi perkembangan lahan yang 
diperuntukkan penanaman pohon karet. Indonesia dan Malaysia juga 
sepakat bersama-sama mengawasi perkembangan lahan kebun karet. (Erwin 
Tambunan) ([EMAIL PROTECTED]) 

Oleh Aprika R. Hernanda
Bisnis Indonesia

SUMBER: http://www.bisnis.com
TANGGAL Jumat, 7 November 2008 

===============================
AGROMANIA BUSINESS CLUB (ABC)
INFORMASI:http://www.agromania.co.cc
FORMULIR:http://www.formulirabc.co.cc
DIREKTORI:http://www.direktoriabc.co.cc
===============================


Kirim email ke