Ada sedikit bacaan tentang papain, semoga berkenan

 

Rejeki dari Papain

Untuk mendapatkan bahan baku papain, Tofan mengebunkan pepaya di Ploso,
Kediri, Jawa Timur. Lahan seluas 2 ha berpopulasi 4.000 tanaman berjarak
tanam 2 m x 2,5 m. Alumnus Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh
Nopember itu menggunakan bibit berumur 3 bulan. Enam bulan kemudian, buah
pepaya siap toreh hingga berumur 3 tahun. Sebatang tanaman berumur 9 -10
bulan terdapat 30 buah pepaya siap toreh. Dalam sebulan, hanya 250 tanaman
yang siap sadap. Sebab, penanaman bertahap sehingga umur tanaman
berbeda-beda


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Cara Bergabung di Agromania Business Club (ABC)
(1) Buka: http://www.formulirabc.co.cc
(2) Isi data Anda dengan lengkap dan benar
(3) Tekan tombol Submit Form. Tunggu sebentar
(4) Klik Continue. Anda akan langsung terdaftar
(5) Tunggu berita dari pengelola.
INFO: 0 8 1 1 1 8 5 9 2 9 (SMS ONLY)
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


Interval penorehan 5 hari sekali atau 5 kali selama 25 hari. Hasilnya 2 kg
getah pepaya per tanaman selama 25 hari atau total jenderal 500 kg untuk 250
tanaman. Setelah diproses, getah itu menghasilkan papain kasar. Lantas,
porsinya dibagi untuk ekspor ke Taiwan, pengiriman sampel ke berbagai
tempat, dan pembuatan pelunak daging untuk memasok pasar local.

 

Kirim sampel

Dari 500 kg getah itu diolah menjadi crude papain (CP)alias papain mentah
dengan pengeringan pada suhu 57,5 -60o C. Hasilnya, 100 kg CP. Menurut Tofan
biaya produksi untuk menghasilkan 1 kg CP hanya Rp250.000. Itu sudah
memperhitungkan sewa lahan, tenaga kerja, perawatan, panen, dan investasi.
Papain mentah itulah yang diekspor ke Taiwan dengan volume rutin 20 kg per
bulan.

 

Selebihnya?Pria 35 tahun itu mengirimkan 20 kg sampel ke berbagai importir
dan perusahaan di dalam negeri. Sisa 60 kg ia kembangkan untuk pasar dalam
negeri. Memang pasar ekspor (ke Taiwan)masih terbuka lantaran meminta 60 kg.
Namun, Tofan memilih mencari pasar lain karena perdagangan dengan Taiwan
kadang banyak kendala.

 

Pengiriman sampel dilakukan Tofan rutin setiap bulan sejak 2 tahun lalu
seperti ketika ia memulai usaha papain. Begitulah cara Tofan membuka pasar
ekspor. Hasilnya memang belum kelihatan, tapi ia yakin suatu ketika pasar
ekspor dapat ditembusnya. Pasar Taiwan diperoleh setelah ia mengiklankan
produknya di sebuah situs. Dalam waktu 30 hari penawaran datang.

 

Ia juga memasarkan rata-rata 60 kg CP sebagai pengempuk daging di pasar
domestik. Selain berbahan CP, Tofan menambahkan tepung jagung, garam, dan
dektrosa untuk membuat pengempuk daging. Dalam 1 kg pengempuk daging, ia
hanya memerlukan 1 ons CP, 9 ons lain berupa bahan-bahan tadi.

 

Artinya dalam sebulan ia sanggup memasarkan 600 kg pengempuk daging ke
berbagai pasar swalayan. Ia memperoleh harga Rp10. 000 per 7, 5 gram
pengempuk daging -setelah dicampur dengan bahan lain. Laba yang ditangguk
dari perniagaan pengempuk daging itu sekitar Rp1.300.000 per bulan.

 

Ia juga pernah mengekspor papain ke India dan Jepang selama 6 bulan. Volume
ekspor masing-masing 20 kg per bulan dengan harga US$60. Harga itu lebih
tinggi dibanding yang diterima produsen papain di Cina dan India. Mereka
hanya menerima harga US$35 - US$$45. Sebab, nilai proteolitik papain
produksi Tofan lebih tinggi, 1.500 -3.000 U/gram. Sedangkan nilai
proteolitik papain India dan Jepang hanya 1.250 U/gram.

 

Semakin tinggi nilai proteolitik, kian cepat papain memecah protein sehingga
harganya pun lebih mahal (baca:Getah Sejuta Manfaat , halaman 136 -137).
Sayang, Jepang dan India menghentikan permintaan. Ia tak tahu penyebabnya
karena transaksi dilakukan seorang perantara di Surabaya. Setahun lalu
importir Cina minta pasokan rutin 2 ton/bulan. Tofan menolaknya karena getah
pepaya, bahan baku papain, sulit didapatkan. Belum banyak pekebun yang
menoreh buah.

 

Di Kediri, yang jadi sentra pepaya, paling hanya 4 orang, kata ayah satu
putri itu. Harap mafhum, informasi getah papain jarang didengar petani.
Ketika Trubus menyusuri sentra pepaya di Leles, Kabupaten Garut, banyak
pekebun yang belum mengenal papain. Di sana pepaya dipetik mengkal untuk
diolah menjadi manisan. Dengarlah pertanyaan seorang pekebun kepada Trubus,
Batangnya yang disadap?

 

Ditinggal inti

Tak semua pekebun seberuntung Tofan. Rekannya Eko Sumaryanto malah kesulitan
memasarkan papain. Awal 2005 Eko membeli 250 kg getah pepaya dari beberapa
pekebun senilai Rp10-juta. Saat itu Eko meneken kontrak dengan sebuah
perusahaan. Isinya: perusahaan itu akan membeli CP produksi Eko. Namun, apa
lacur, setelah getah diolah - menjadi 50 kg crude papain -, perusahaan itu
memutuskan kontrak. Eko akhirnya mengolah CP menjadi beragam produk seperti
pengempuk daging, sabun, dan krim pencuci wajah. Pengempuk daging dikemas
dalam botol 75 gram, dipasarkan dengan harga Rp6.000.

 

Hingga medio Februari 2006 -setahun setelah ia memulai usaha papain -, ia
memasarkan 15. 000 botol. Saat ini penjualan rata-rata 2. 000 botol
pengempuk daging per bulan. Produk itu memberikan omzet Rp12-juta atau laba
bersih Rp6-juta per bulan. Konsumen pengempuk daging adalah pasar swalayan
di Jakarta, Surabaya, dan Bali.

Sedangkan untuk produk kosmetik, hingga Februari 2006, Eko memasarkan 500
botol, sebagian besar krim wajah, yang harganya Rp15.000 - Rp20.000.

 

Omzet yang diraih Eko dari penjualan kosmetik berbahan papain itu sekitar
Rp7, 5-juta. Keuntungannya lebih besar daripada pengempuk daging, ujar Eko.
Itulah sebabnya pria 37 tahun itu berniat melanjutkan bisnis papain itu
lantaran pasar dalam negeri mulai terkuak. Sementara pasar ekspor terbentang
luas. Setidaknya itulah pengakuan Edy Nugraha, produsen papain di Bandung,
Jawa Barat.\par

 

Bermitra

Sejak 2 tahun lalu, Edy Nugraha rutin memasok 1 ton CP ke Belgia. Padahal
permintaan mereka mencapai 5 ton per bulan, kata sarjana agribisnis alumnus
Institut Pertanian Bogor. Trubus sempat mengirimkan surat elektronik kepada
Petrik Deprez, importir Belgia yang rutin membeli papain produksi Edy.
Sayang, hingga tulisan ini diturunkan jawaban itu belum datang.

 

Edy bermitra dengan beberapa pekebun pepaya di Sukabumi, Jawa Barat. Dari
merekalah -total luas lahan 60 ha - kelangsungan bisnis Edy berlanjut hingga
sekarang. Pekebun menyetor getah - harga jual saat ini Rp7. 000 per kg -
kemudian diolah oleh Edy dengan natrium bisulfit. Biaya produksinya termasuk
pembelian getah hanya Rp8. 000/kg, kata Edy. Setelah diblender, produk itu
diserahkan kepada importir.

 

Nilai proteolitik papain Edy jauh di bawah Tofan, 300 -700 IU, karenanya
harganya jauh lebih rendah. Ia menjualnya US$6 per kg untuk grade 300 -500
U/gram, sedangkan di atas 500 U/gram seharga US$12. Menurut Edy, papain
produksinya dimurnikan kembali oleh Enzybel, perusahaan papain di Belgia.
Dengan volume rata-rata 1 ton, laba yang diraihnya Rp49-juta per bulan. Edy
mengatakan, selain dari Belgia, permintaan juga datang dari importir asal
Amerika Serikat yang mencapai 40 ton per minggu. Sayang, produksinya belum
memadai.

 

Edy mengendus peluang bisnis papain pada 4 tahun lalu. Saat itu ia bermitra
dengan pekebun pepaya buah. Ia lantas mengubah orientasi bisnisnya begitu
mengetahui margin papain lebih tinggi ketimbang pepaya buah. Empat tahun
silam, harga sekilo pepaya di tingkat pekebun Rp150. Bobot sebuah pepaya
rata-rata 3 kg sehingga total harganya Rp450. Tanpa pengalaman sebelumnya,
ia megolah getah pepaya dengan microwave yang biasa digunakan ibunya untuk
membuat kue.

 

Wajar jika mutu papain yang dihasilkan saat itu amat rendah. Warnanya
kecokelatan sehingga kerap ditolak oleh importir. Saya orangnya tak gampang
menyerah. Sudah saya jalani harus saya tuntaskan, katanya. Setelah beberapa
kali mutu sampel ditingkatkan, pasar ekspor dapat diraih.

 

Lebih untung\par

PT Prime Agrotama Niaga (PAN) juga tengah merintis pasar ke Singapura. Twin
Food, eksportir daging di negeri jiran, rencananya membutuhkan 10 ton papain
per bulan. Untuk sementara PAN bermain di pasar domestik dengan memasok
pengempuk daging di beberapa pasar swalayan. Wedy Aksana, direktur PAN
mengatakan, penjualan rata-rata 2.000 dus per bulan. Sebuah dus terdiri atas
40 botol dengan volume 72 gram.\par

\par

Sebagian produsen, memang menikmati laba berlimpah dari perniagaan papain.
Pasar terbentang dan harga jual tinggi ketimbang jika memasarkan pepaya
sebagai buah konsumsi. Lihatlah H Ota Rohata, pekebun pepaya buah di
Sukabumi. Dari 1. 600 tanaman per ha, ia menuai 96 ton selama 1 tahun
penanaman. Ia menjual ke Pasar Induk Kramatjati, Jakarta Timur, Rp500 per
kg. Artinya, total pendapatannya Rp48-juta. Setelah dikurangi biaya produksi
Rp16.250.000, ia mengantongi laba bersih Rp31.750.000.\par

\par

Dengan demikian mengebunkan pepaya untuk disadap jauh lebih menguntungkan.
Apalagi prospeknya memang aduhai. Kini keputusan di tangan Anda:memetik atau
menyadap buah\par

\par

Disadur dari : TRUBUS-Perkebunan-Laba di Balik Luka\par

}

 

 

 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke