Salam,

Ini salah satu topik yang sangat heboh , sampai - sampai banyak orang yang 
memanfaatkannya dengan mengaku memiliki biji sengon solomon / bisa mengimport 
dalam waktu singkat. Saya akan coba jelaskan ulang apa yang saya tahu / 
dapatkan. Nara sumber saya adalah tangan pertama yang membawa masuk sengon 
solomon ke Indonesia hampir sepuluh tahun yang lalu , dan dari pegawai 
Perhutani / Departemen Kehutanan.

1. Terakhir dicoba , 9 bulan yang lalu , dikeluarkan PO dari nara sumber saya 
ke instansi Balai Benih Kehutanan di Ministry of Forestry di Solomon. Pro Forma 
Invoice sudah di e...@il, untungnya sebelum transfer dilakukan , pihak 
Indonesia minta surat re-konfirmasi stok & sertifikasi badan surveyor ( seperti 
kalau di sini SUCOFINDO ) di Solomon. TIDAK ADA dokumen survey & verifikasi 
stok yang bisa dikirim sampai hari ini. Asumsinya , tidak ada stok/tidak lolos 
sertifikasi untuk ekspor.

Proses ini sudah memakan waktu 9 bulan,dan belum ada hasil.

2. Sumber di Departemen Kehutanan menyatakan , tidak akan ada import permit 
yang akan diterbitkan untuk benih sengon solomon. Untuk membawanya masuk secara 
legal , harus memiliki surat ijin import benih ini. Kalau misalnya memang ada 
yang masuk ,berarti tanpa dokumen yang sah. Dan tanpa dokumen yang sah , 
bagaimana kita tahu itu sengon Solomon atau bukan ?

Dan misalkan dengan satu dan lain hal , bisa "meyakinkan" Dep Hut untuk 
menerbitkan import permit , sama seperti waktu yang dibutuhkan untuk 
menerbitkan sertifikasi benih , minimal akan dibutuhkan waktu 3 - 5 bulan 
sampai permit tersebut terbit.Dan masih ada masalah , apakah biji dari sana 
lolos sertifikasi untuk diekspor.

3. Sengon solomon memiliki tingkat pertumbuhan vegetatif di atas rata - rata 
sengon lokal. Perbedaan pertumbuhannya , dari data lapangan tegakan pohon di 
perhutani , usia 5 tahun , rata - rata perbedaan diameternya bisa 5 - 10 cm 
lebih besar, tapi dari pertumbuhan generatif / kembang biaknya , jumlah biji 
yang dihasilkan setelah berumur matang 7 - 8 tahun , jauh kebih rendah dari 
sengon lokal. Jadi ,kemampuan menghasilkan biji solomon dari indukan yang sudah 
ada di Indonesia sangat lambat.

4. Alternatif lain adalah sengon unggul lokal bersertifikat , yang meskipun 
masih kalah dari sengon solomon , tapi masih jauh lebih menguntungkan daripada 
sengon lokal non - sertifikat. Balai Benih Kehutanan HANYA menerbitkan 
sertifikasi atas kebun / petak khusus benih , dengan tegakan pohon yang 
teridentifikasi , dan tingkat keseragaman tumbuh yang baik.

Petak husus benih ini hanya membiarkan tanaman dengan tingkat pertumbuhan , 
bentuk fisik dan tingkat perkecambahan yang baik untuk tetap tumbuh di situ , 
jauh terisolasi dari pohon sengon / albasia yang lain , agar tidak terjadi 
penyerbukan dari sengon non-unggulan.

Meskipun petak ini memiliki tegakan induk yang baik , masih tetap diseleksi , 
pohon mana yang memiliki perkecambahan tinggi. Yang di bawah 80 % akan ditebang 
untuk digunakan kayunya.

Perbandingan sengon lokal biasa ( SL ) dengan unggul bersertifikat ( UB ) , 
dalam sudut pandang bisnisnya :
 Contoh kasus ( angka keluaran di lapangan masih bisa bervariasi sedikit ) : 
Penanaman luas 1 hektar, misalkan sama - sama dengan jarak ideal kurang lebih 3 
meter x 3   meter , populasi per hektar idealnya kira - kira 1150 batang. Biaya 
pemeliharaan dengan pemupukan & tenaga kerja dll selama 2 tahun pertama Rp. 
10.000/pohon.

Sengon Lokal ( SL )asumsi rata - rata diameter 24 pada tahun ke 5.
Biaya Bibit             Rp. 900 x 1150 = Rp.  1.035.000
Biaya Pemeliharaan @ Rp. 10.000 x 1150 = Rp. 11.500.000
Jumlah Pengeluaran                     = Rp. 12.535.000

Pemasukan
Penjarangan Tahun ke 1= 25% x 1150 x @ Rp. 15.000  = Rp.  4.312.500
Penjarangan Tahun ke 2= 15% x 1150 x @ Rp. 40.000  = Rp.  6.900.000
Hasil tebang Tahun ke 5= 60% x 1150 x @ Rp. 260.000= Rp.179.400.000
Jumlah Pemasukan                                   = Rp.190.612.500

( menarik , karena Pak MenHut MS Kaban di TRUBUS menyebutkan , hasil sengon 
kira - kira Rp. 170 juta/Ha , mari kita lihat )

Pemasukan SL - Pengeluaran SL = Rp.190.612.500 - Rp.12.535.000
Hasil per Ha Sengon Lokal     = Rp.178.077.500

Sengon Unggul Bersertifikat ( UB ) asumsi rata - rata diameter 29 di tahun ke 5.
Biaya Bibit             Rp. 1600 x 1150 = Rp.  1.840.000
Biaya Pemeliharaan @ Rp. 10.000 x 1150  = Rp. 11.500.000
Jumlah Pengeluaran                      = Rp. 13.340.000

Pemasukan
Penjarangan Tahun ke 1= 10% x 1150 x @ Rp. 15.000  = Rp.  1.725.000
Penjarangan Tahun ke 2=  5% x 1150 x @ Rp. 40.000  = Rp.    862.500
Hasil tebang Tahun ke 5= 85% x 1150 x @ Rp.325.000 = Rp.317.687.500
Jumlah Pemasukan                                   = Rp.320.275.000


Pemasukan UB - Pengeluaran UB = Rp.320.275.000 - Rp.13.340.000
Hasil per Ha Sengon UB        = Rp.306.935.000

Untik sengon solomon , angka ini mungkin masih bisa + 15-20 %.

Nah , silakan Anda pilih , tanam sengon asalan , atau Unggul Bersertifikat. 
Tapi , hasil masih bisa beragam , tergantung pemeliharaan , penyakit , gangguan 
karena daunnya banyak dipangkas / dicuri orang untuk pakan ternak , pengolahan 
lahan , dsb. Tapi , dengan asumsi semua faktor negatif bisa diatasi , 
perbandingannya seperti di atas.

Hormat saya ,

Rudy

-----------------------------------------------------
AGROMANIA BUSINESS CLUB (ABC)
INFORMASI: http://www.agromania.co.cc
DAFTAR: http://www.formulirabc.co.cc
DIREKTORI: http://www.direktoriabc.co.cc
MAILING LIST: http://www.milisabc.co.cc
INFO BISNIS: http://www.infoabc.co.cc
PUSAT DATA: http://www.agrodata.co.cc
-----------------------------------------------------


Kirim email ke