Semoga bermanfaat


Terimakasih Pak Soebekti

Informasi yang sangat berguna,   Kalau bisa dimanakah bisa dpt beli kompor ini 
atau adakah yg tahu cara pembuatannya?
Mudah-mudahan APBI juga bisa mewadahi penemuan menarik ini sebab ini dampaknya 
sangat  besar bagi 250juta rakyat kita yang mayoritas petani.
Kalau perlu APBI buat lagi satu assosiasi di bawah/di atas  APBI untuk menaungi 
energi alternatif ini.

Salam Energi Alternatif

David Darlan
LSM TTI

_______________________________________

Jumlah anggota Agromania Business Club (ABC)
terus bertambah dan berkembang terus dengan
sangat cepat. Jangan sampai Anda ketinggalan!
Isi formulir di: http://www.formulirabc.co.cc
Lihat bukti di: http://www.direktoriabc.co.cc
_______________________________________



________________________________
From: Soebekti Soebekti <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Friday, April 17, 2009 1:58:19 PM
Subject: [apbi] Kompas





FYI

Tungku Supriyanto Berkonsep Energi Petani

FX PUNIMAN
/
Kamis, 16 April 2009 | 12:03 WIB
Oleh FX Puniman
Beberapa bulan setelah menjadi Direktur Hutan Pendidikan Gunung Walat, Fakultas 
Kehutanan, Institut Pertanian Bogor, di daerah Cibadak Kabupaten Sukabumi, Jawa 
Barat, tahun 2003, Supriyanto melihat warga setempat sering menebangi pohon 
untuk kayu bakar. Hasil survei menyebutkan, dalam sehari sekitar 10 meter kubik 
kayu bakar keluar dari hutan pendidikan Gunung Walat.
Dalam benak Supriyanto muncul pertanyaan, mengapa penduduk tidak memilih 
menggunakan ranting pohon untuk kayu bakar? Mengapa mereka memilih menebang 
pohon? Dari para penebang pohon itu pula dia memperoleh jawabannya. Rupanya, 
warga sekitar Gunung Walat lebih suka menebang pohon karena energi api yang 
dihasilkan ranting tidak cukup besar.
Di sisi lain, alumnus Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini 
merasa khawatir penebangan pohon akan berdampak terhadap krisis energi, 
terutama bahan bakar fosil yang terus menipis.
Supriyanto lalu terpikir memanfaatkan energi yang berasal dari biomassa, 
seperti rumput, limbah kayu, semak belukar, ranting kayu, dan potongan bambu, 
yang sesungguhnya amat mudah diperoleh di pekarangan.
Berdasarkan temuan dan kekhawatiran itulah, Supriyanto kemudian mulai 
memfokuskan diri untuk membuat teknologi pedesaan yang sederhana dengan bahan 
bakar yang mudah diperoleh dari limbah lingkungan setempat.
”Konsep yang saya pergunakan adalah farmer energy atau energi petani. 
Teknologinya harus sederhana, mudah, murah, tidak berisiko, tetapi efisiensinya 
tinggi,” katanya.
Ia lalu menjadikan tungku sebagai pilihan untuk diteliti. Beberapa artikel 
tentang tungku di berbagai negara, termasuk dari Indonesia, dia pelajari.
Bertemu ahli arang
Di tengah upaya mempelajari tungku tersebut, Supriyanto yang juga peneliti di 
Seameo Biotrop (Pusat Studi Regional Penelitian Biologi Tropis) bertemu dengan 
Robert Flanagan, ahli bio-charcoal (arang) dari Finlandia yang menjadi tamu 
Biotrop.
Flanagan dikenal sebagai salah seorang peneliti yang mengembangkan tungku 
pyrolysis di China. Ia bekerja sama dengan Pusat Penelitian Bambu Cina (Inbar). 
Bersama Flanagan, Supriyanto sering terlibat dalam berbagai diskusi tentang 
penelitian tungku untuk model kebutuhan energi yang sedang dikerjakan. 
Penelitian mulai dilakukan sejak sekitar tahun 2005. Dia mencoba mulai dari 
membuat tungku tradisional berbahan dasar tanah liat, semen, besi, dan kaleng 
bekas drum oli.
”Barulah pada percobaan yang kesembilan bisa berhasil. Sebuah tungku yang ideal 
untuk warga setempat terwujud. Tungku ini saya beri nama tungku ’Jimat’, 
kependekan dari enerji hemat agar mudah diingat dan diucapkan,” kata Supriyanto.

”Tungku Jimat relatif sederhana dan berbahan limbah. Bahan bakarnya juga 
merupakan limbah dan dibuat dengan konsep energi petani,” katanya seraya 
menyebutkan, pembuatan tungku dilakukan di bengkel perajin musik tradisional di 
daerah Sukabumi.
Hemat energi
Mantan Pembantu Dekan III Fakultas Kehutanan IPB ini mengemukakan, teknologi 
tungku dengan konsep energi petani yang dikembangkan itu relatif efisien. 
Secara teknis di sini juga menggambarkan proses pyrolysis, yakni konsep teknik 
pembakaran yang meminimalkan penggunaan oksigen. Ruang yang minim oksigen itu 
lalu dimampatkan untuk meningkatkan suhu sehingga timbul asap. Asap itu 
kemudian diubah menjadi gas melalui satu ruangan bersuhu antara 300 derajat dan 
600 derajat celsius.
Pada saat terjadi proses pyrolysis, ada tiga sumber panas, yakni kayu atau 
bahan organik lain untuk menghasilkan api dan asap. Asap kemudian diubah 
menjadi gas. Melalui ruangan bersuhu tinggi, gas terbakar menjadi energi. Sisa 
dari proses itu menghasilkan arang. Arang inilah yang lalu menjadi bahan bakar 
ketiga.
Di dalam konsep itu, secara teknis harus ada alat lain, yakni generator yang 
terbuat dari tabung besi. Fungsinya untuk menyimpan dan menimbulkan panas yang 
berasal dari bahan bakar yang terbakar, juga bisa menjaga ruangan agar tetap 
bersuhu 300-600 derajat celsius. Pencapaian suhu ini penting untuk mendapatkan 
pembakaran yang sempurna. Sementara itu, akselerator berfungsi mempercepat 
penyemprotan udara panas.
Tungku Jimat, menurut Supriyanto, sangat tepat untuk masyarakat pedesaan, 
daerah transmigrasi, warga pinggiran kota, dan pedagang makanan kaki lima.
”Tungku Jimat ini hemat energi, bahan bakarnya juga gratis karena berasal dari 
limbah yang diperoleh dari pekarangan rumah, tak merusak lingkungan, dan 
berbasis pertanian,” tambahnya.
Di samping itu, bahan baku tungku juga berasal dari limbah yang relatif murah, 
seperti drum oli, dan tak berisiko meledak. Energi yang dihasilkan pun cukup 
besar.
”Oleh karena tak menggunakan bahan bakar minyak, penggunaan tungku Jimat bisa 
menghemat pengeluaran uang belanja keluarga,” katanya.
Kini, tungku Jimat dalam proses pengujian untuk memenuhi kriteria Standar 
Industri Indonesia (SII) guna memperoleh hak kekayaan intelektual.
Sangat efisien
”Uji kinerja dan teknis untuk memperoleh efisiensi termal yang memenuhi SII 
sedang dilakukan,” tutur Supriyanto yang juga berkonsultasi dengan Profesor 
Teiss, ahli energi petani dari Belanda.
Tentang efisiensi tungku ciptaannya itu, menurut Supriyanto, bisa dibuktikan 
karena dari 1 kilogram bahan bakar berupa ranting, limbah kayu, dan bambu, 
dapat digunakan untuk memasak selama sekitar dua jam. Limbahnya hanya berupa 10 
gram abu.
”Jadi, dari 1.000 gram bahan bakar yang digunakan itu, tinggal 10 gram yang 
menjadi abu. Sebanyak 990 gram telah dikonversi menjadi energi atau bisa 
dikatakan tingkat efisiensinya sebesar 99 persen,” ujar Supriyanto tentang 
penelitiannya selama sekitar tiga tahun itu.
FX Puniman, Wartawan Tinggal di Bogor

________________________________
 Berselancar lebih cepat.
Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk Yahoo! otomatis membuka 2 halaman 
favorit Anda setiap kali Anda membuka browser.Dapatkan IE8 di sini! (Gratis)










[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke