Potret Keprihatinan Hidup Petani

Kabar tentang 1.500 petani di India yang terbelit hutang dan
melakukan bunuh diri secara masal menimbulkan keprihatinan yang besar. Panen
merupakan harapan para petani untuk dapat melanjutkan kehidupannya namun gagal
panen dapat menimbulkan keputusasaan yang luar biasa. Apalagi biaya untuk 
pertanian
itu diperoleh dengan meminjam dari rentenir. 

-----------------------------------------------------
CARA PASTI Mendaftar di Agromania Business Club (ABC)
(1) Buka: http://www.formulirabc.co.cc
(2) Isi data Anda dengan lengkap dan benar
(3) Tekan tombol Submit Form. Tunggu sebentar
(4) Klik Continue. Data Anda akan langsung masuk
(5) Segera lakukan Pembayaran Iuran dan Infokan
melalui SMS ke: 0 8 1 1 1 8 5 9 2 9 (SMS Only)
(6) Data keanggotaan Anda akan langsung diproses.
-----------------------------------------------------

Diceritakan salah seorang petani bernama Shatrughan SAHU
yang ikut melakukan bunuh diri. SAHU berasal dari Negara Bagian Chattisgarh, 
India yang
mengalami gagal  panen lalu bunuh diri.
Mungkin saja pak SAHU sudah tidak sanggup lagi menjalani kehidupan yang sangat
sangat berat dan meletihkan. Melanjutkan kehidupan setelah gagal panen dan
terbelit hutang, mungkin sepertinya, hanyalah menapakkan hari-hari yang penuh 
kehampaan.


Siapakah SAHU? Berapakah usianya pada saat bunuh diri?  SAHU memiliki anak 
laki-laki yang pergi
meninggalkan desanya untuk bekerja di kota.
Anak laki pak SAHU mungkin saja menyadari bahwa kehidupan di desa sebagai
petani tidak akan dapat menopang kehidupannya?

Kehidupan sebagai petani lebih berat daripada sebagai
karyawan atau buruh pabrik, begitu kata guru saya yang mengajarkan ‘the History
of Modern Life’. Jam kerja petani lebih panjang daripada jam kerja karyawan. 
Seorang
buruh pabrik yang yang bekerja ‘overtime’ akan dibayarkan lemburnya. Tetapi,
tidak untuk petani. Petani harus punya modal barang (sawah, kebun atau ladang)
dan juga modal uang untuk biaya pengolahan (bibit, pupuk, pestisida dan upah
panen). Mungkin inilah penyebabnya mengapa orang-orang muda lebih memilih
bermigrasi ke luar daerahnya untuk berdagang atau menjadi buruh. Dengan modal
tenaga saja orang-orang muda ini memperoleh penghasilan yang lebih besar
daripada menjadi petani.

Marilah kita melihat kehidupan petani kita? Petani yang
memiliki lahan 1 hektar yang ditanami padi akan mendapatkan hasil bersih 3 juta
rupiah per satu kali panen. Kalau 1 tahun mengalami 3 kali panen, berarti
pendapatan per tahunnya 9 juta rupiah atau per bulannya 750 ribu rupiah, atau
per harinya 25 ribu rupiah. Dengan uang sebesar ini dapatkah seorang petani
membiayai hidup keluarganya? Biaya-biaya tersebut mencakup biaya rumah tangga, 
pendidikan anak
dan biaya social.

Saya mengenal seorang petani di Karawang. Potret seorang
petani yang terus dilanda kekurangan. Sejak saya masih sekolah di SMP sampai
usia saya setengah abad, petani tersebut tidak pernah mengalami peningkatan
kesejateraan. Anak-anaknya tidak pernah diajarkan untuk hidup sebagai petani.
Harapannya ialah anak-anaknya bisa sekolah dan bekerja sebagai pegawai
[negeri]. Setiap kali akan menggarap sawah, petani itu selalu pinjam modal.
Artinya, biaya untuk mengolah sawah itu merupakan uang pinjaman meskipun bukan
dari rentenir. Bagaimana kalau gagal panen? Harapannya ialah kemurahan hati si
pemberi pinjaman. Rumah yang ditempatinya masih rumah yang sama, 40 tahun lebih
dan hampir tidak pernah mengalami renovasi. Bahkan kayu-kayu kusennya tidak
pernah tersentuh oleh cat dan sudah tampak keropos termakan rayap. Tapi, petani
itu tetap saja gembira karena baginya hidup adalah ujian dari Yang Maha Kuasa.

 

--- On Mon, 4/27/09, Darodjah Pucung Maju <[email protected]> wrote:

From: Darodjah Pucung Maju <[email protected]>
Subject: [agromania] Fw: [jakerpo] Lebih dari Seribu Petani India Bunuh Diri
To: [email protected]
Date: Monday, April 27, 2009, 12:32 AM

















      Lebih dari Seribu Petani India Bunuh Diri

“Mereka terjerat rentenir”

NEW DELHI — Sebuah kabar mengejutkan datang dari Asosiasi Petani Organik India. 
Sekitar 1.500 petani di India melakukan bunuh diri secara massal. Salah seorang 
pengurus Asosiasi, Bharatendu Prakash, kepada Press Association mengatakan para 
petani itu bunuh diri lantaran tak kuasa membayar utang akibat gagalnya panen 
sejak setahun lalu.



“Mereka terjerat rentenir,” kata Prakash. “Rentenir-rentenir itu merayu petani 
agar meminjam uang. Tapi kalau panen gagal, mereka tak mau tahu.” Shatrughan 
Sahu, salah seorang petani di Negara Bagian Chattisgarh, mengatakan panen gagal 
lantaran debit air menyusut drastis. “Tahun lalu debit airnya masih 12 meter, 
sekarang tinggal 7 meter,” kata Sahu.



Jangankan sekarang, tahun lalu saja di kampung tempat Sahu tinggal tercatat 
lebih dari 200 petani nekat bunuh diri. “Hampir semua petani di sini terlilit 
utang,” ujar Sahu. “Cuma Tuhan yang bisa menyelamatkan mereka.” Sahu adalah 
salah satu petani yang ikut-ikutan tren bunuh diri.



Pemilik lahan seluas 8.000 meter persegi itu memilih menghabisi nyawanya 
sendiri gara-gara padi yang ditanamnya tak kunjung bisa dipanen. Selain itu, 
anak lelaki satu-satunya yang diharapkan membantunya berladang justru memilih 
kabur ke kota dan bekerja sebagai buruh serabutan. Belum lagi ia mesti 
memikirkan utang sebesar Rp 7 juta.



“Tahun ini benar-benar buruk,” kata Santosh, tetangga Beturam. “Tak satu pun 
benih yang selamat.” Maklumlah, tak setitik pun air hujan menetes dari langit. 
Karena itu, kata Prakash, bunuh diri menjadi satu-satunya jalan keluar. “Mereka 
tak punya pilihan lain,” ujar Prakash. Konon, dalam 10 tahun terakhir sudah 10 
ribu petani bunuh diri.



Karena itu, Prakash mendesak pemerintah India segera bertindak. Sejatinya 
pemerintah India tak tinggal diam. New Delhi telah menyiapkan dana pinjaman 
sebesar US$ 15 miliar untuk para petani. Tapi itu tak banyak membantu lantaran 
petani sudah lebih dulu berutang kepada lintah darat.



Isu kemiskinan inilah yang membuat kelompok Moist India kian rajin menggelar 
aksi-aksi bersenjata selama pemilu. Sepak terjang kelompok itu sulit dibendung 
lantaran senantiasa mengatakan aksi mereka demi menuntut hak-hak petani dan 
kaum miskin desa. Sejak mengangkat senjata pada 1967, sudah 15 dari 29 negara 
bagian “dikuasai”.



Sampai-sampai Perdana Menteri India Manmohan Singh pernah menyamakan kelompok 
yang di India dikenal dengan nama Naxalites ini dengan virus. Manmohan juga 
menyamakan Maoist dengan milisi Islam. “Mereka ancaman bagi keamanan nasional 
India,” kata Perdana Menteri Manmohan.



Tapi berbeda dengan pemberontak Islam di Kashmir, Maoist memainkan peranan 
penting lantaran menarik perhatian lebih dari 10 juta kaum miskin India. 
Maklumlah, di tengah booming perekonomian India dewasa ini, tak ada tanda-tanda 
kesejahteraan mengalir ke kaum miskin. STRAITSTIMES | HINDUSTANTIMES | PRESSTV 
| ANDREE



http://www.korantem po.com/korantemp o/koran/2009/ 04/27/Internasio 
nal/krn.20090427 .163656.id. html

------------ --------- --------- --------- --------- -----

CARA PASTI Mendaftar di Agromania Business Club (ABC)

(1) Buka: http://www.formulir abc.co.cc

(2) Isi data Anda dengan lengkap dan benar

(3) Tekan tombol Submit Form. Tunggu sebentar

(4) Klik Continue. Data Anda akan langsung masuk

(5) Segera lakukan Pembayaran Iuran dan Infokan

melalui SMS ke: 0 8 1 1 1 8 5 9 2 9 (SMS Only)

(6) Data keanggotaan Anda akan langsung diproses.

------------ --------- --------- --------- --------- -----





























[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke