Pada suatu kesempatan berdiskusi dengan rekan-rekan petani di Ciwidey Kabupaten Bandung dan juga berbagai tempat lainnya menunjukkan pemahaman petani pada umumnya terhadap nutrisi bagi tanaman masih sangat minim, dan sepertinya atau diduga tidak pernah diinformasikan oleh para petugas pemerintah yang berwenang maupun oleh para instruktur/pemberi materi pada pelatihan-pelatihan yang biasanya diselenggarakan oleh pihak pemerintah setempat. Dugaan lainnya mungkin pemahaman mengenai hal tersebut disampaikan pada saat pelatihan tetapi dengan cara yang tidak menarik karena tujuannya hanya menyelenggarakan suatu 'event' sesuai dengan yang dianggarkan atau bertendensi hanya untuk memperkenalkan suatu produk sehingga membosankan bagi yang mendengarnya. Hal yang wajar bila dugaan ini muncul sesuai dengan kondisi nyata di lapangan dengan para petaninya yang minim wawasan mengenai bidang pertanian yang mereka geluti. Jangankan wawasan para petani di bidang pertanian ini, salah seorang pejabat bidang pertanian di salah satu Kecamatan di Jawa Barat Utara pun kebingungan saat dia menanyakan gabah yang dibawa staf kami dan dijawab dengan nama varietas padi itu yang berasal dari Kalimantan yang kami tanam di kampung tersebut dan cukup menarik perhatian karena pertumbuhannya yang dinilai baik oleh penduduk. Dengan masih agak bingung namun jujur pejabat tersebut hanya bisa berkomentar 'oh ada yah jenis padi itu...........', padahal jelas-jelas varietas padi itu sudah tercantum di daftar varietas padi yang direlease oleh Departemen Pertanian dan sudah ada sejak dari tahun 2000-an. Apalagi kalau sudah ada serangan penyakit yang meluas seperti tungro atau hawar daun bakteri yang tidak bisa dikendalikan, setelah semua merk obat yang dibawanya dan dianjurkan ke petani tidak memberikan hasil, ada petugas yang hanya menghibur petani dengan berkata 'ya kita sudah berusaha, sekarang kita pasrah dan tawakal saja menunggu kondisinya membaik mudah-mudahan masih bisa panen.............' padahal usahanya baru sebatas mencoba obat-obatan yang diperkenalkan sales perusahaan pestisida/insektisida. Di daerah Ciwidey, saat ini banyak aliran air untuk pengairan sawah tercemar limbah kotoran sapi dari daerah di atasnya karena penduduk pemilik sapi perah ini lebih memilih membuang kotoran sapinya ke sungai daripada mengkomposkannya sehingga terjadi pendangkalan sungai selain tercemarnya air sungai dengan bakteri-bakteri yang tidak baik untuk kesehatan manusia. Tingkat pencemaran sungai dan lingkungan sebenarnya sudah jauh berkurang dibandingkan waktu sebelumnya dengan sudah tumbuhnya kesadaran beberapa kelompok masyarakat terhadap potensi bisnis produksi kompos berbahan baku kotoran sapi ini sehingga lambat laun kotoran sapi yang dibuang ke sungai menjadi berkurang walaupun masih tetap terjadi dalam jumlah yang relatif lebih sedikit. Salah satu kelompok masyarakat ini yang dimotori seorang pemuda yang 'hanya' lulusan SMP - bukan jebolan Fak. Pertanian ataupun Peternakan, sebenarnya merupakan pejuang lingkungan di daerah tersebut dengan mengimplementasikan salah satu konsep pelestarian lingkungan hidup. Bagaimanapun hebatnya suatu konsep, ide, gagasan, rumus dan sejenisnya tidak akan mempunyai nilai dan manfaat bila hanya sekedar wacana dan tidak ada yang mengimplementasikannya secara nyata. Akibat pembuangan kotoran sapi, aliran air menuju sawah-sawah dataran tinggi ini pada waktu tertentu yaitu tidak lama setelah para penduduk pemilik sapi membuang kotoran sapi ke sungai akan menjadi berwarna kehijau-hijauan yang membawa kandungan unsur N (nitrogen) yang tinggi ke sawah penduduk. Karena keterbatasan pengetahuan, para petani ini tetap melaksanakan pemupukan dengan urea atau artinya tetap menambahkan unsur N lagi ke sawahnya. Berlebihnya kandungan unsur N ini menyebabkan tanaman padi menjadi sangat subur pertumbuhan daun dan anakannya. Menyaksikan persawahan ini disaat fase vegetatif atau saat usianya sampai dengan sekitar 60 hari-an setelah tanam memang akan menjadi sangat menarik dengan warna daunnya yang hijau dan besarnya rumpun padi sehingga petakan sawah menjadi sangat padat. Namun di saat fase generatif atau tidak lama lagi menuju panen, akan menjadi tidak menarik lagi bahkan menjadi suatu kekhawatiran dengan banyak ditemukannya bulir padi yang kosong melompong tidak berisi padahal untuk pertanian padi bulir padi inilah yang akan dipanen bukan daun atau jeraminya. Kebiasaan petani di masa lalu dengan menggunakan pupuk tunggal semacam urea saja yang seharusnya di kombinasikan misalnya dengan SP36 dan KCL terus melekat sampai saat ini. Karena pupuk tunggal SP36 atau KCL atau ZA sulit diperoleh atau harganya tinggi maka akhirnya petani terbiasa hanya menggunakan pupuk urea saja tanpa pernah memahami kenapa ketiga jenis pupuk ini diadakan. Pemerintah kemudian lebih giat dalam mengkampanyekan sistem pemupukan berimbang ini yaitu dengan menganjurkan kembali agar para petani menggunakan ketiga jenis pupuk tadi tidak hanya urea. Karena petani sudah terbiasa menggunakan satu jenis pupuk karena ingin praktis, pemerintah kemudian memperkenalkan jenis pupuk majemuk seperti pupuk NPK, namun karena masih kalah populer dengan urea maka aplikasinya pun masih sedikit dilakukan oleh para petani dan pemakaian urea saja masih tetap lebih populer. Kejadian yang lebih lucu sekaligus lebih memprihatinkan lagi adalah saat diperkenalkan urea tablet dengan tujuan agar tercapai efisiensi dengan mengurangi efek pencucian terbawa arus air namun yang terjadi karena aplikasinya sulit harus satu-satu dibenamkan, para petani akhirnya menghancurkan lagi urea tablet ini menjadi butiran kecil atau bubuk untuk kembali ditebar karena lebih praktis, so what gitu loh....... Disadari atau tidak, upaya-upaya memberikan kemudahan bagi para petani dalam kaitan pemupukan tanaman ini, juga dalam kaitan 'pemberantasan' hama/penyakit tanaman tanpa diimbangi dengan pemahaman yang tepat mengenai kebutuhan nutrisi oleh tanaman dan pemahaman mengenai penyakit/hama turut memberikan andil yang sangat besar dalam menciptakan petani-petani Indonesia yang malas, tidak kreatif/inovatif, konsumtif dan 'bodoh'. Seperti dapat disaksikan hingga saat ini, program-program terkait pupuk/obat-obatan ini lebih banyak menguntungkan sektor-sektor industri pendukung pertanian bukan menguntungkan para petani. Secara mudah bisa dilihat dengan membandingkan kehidupan para karyawan di bidang industri ini dengan kehidupan para petani yang menjadi objek bantuan/subsidi dan pengembangan yang sebenarnya tidak lebih dari sekedar objek eksploitasi saja. Tidak ada kata lain untuk mengangkat kembali harkat dan martabat petani yang selama ini terpuruk selain memberikan pemahaman yang utuh dan lengkap mengenai pertanian organik dengan pola tata kelolanya yang lebih arif, cerdas dan mandiri sampai mereka yakin dan mampu mengaplikasikannya. Melalui pemahaman pola pertanian organik para petani akan bisa lebih tepat dalam mengelola lahannya, misalnya lahan yang tercemar air limbah kotoran sapi tersebut untuk sementara dipergunakan/diselingi budidaya sayuran daun seperti bawang daun, kangkung, bayam atau lainnya. Bisa juga lahan tersebut saat ditanami padi diberikan pemberian kompos dari jerami dan pupuk organik yang kandungan hara P dan K nya tinggi untuk meningkatkan daya pengisian bulir padinya. Salam, Utju Suiatna Ganesha Organic SRI
=============================== KIOS AGROMANIA: http://tiny.cc/kios Daftar Permintaan & Penawaran Agrobisnis Direktori Pebisnis Agro Indonesia Agar Produk/Komoditi Agro Anda Laku Direktori Pebisnis Sawit Indonesia Kumpulan Ebook Agrobisnis Pilihan INFO: 0 8 1 1 1 8 5 9 2 9 (SMS Only) ************** |a|g|r|o|m|a|n|i|a Online & Terpercaya Sejak 1 Agustus 2000 GABUNG DI ABC: http://tiny.cc/formulir BURSA JUAL-BELI: http://tiny.cc/bursa KOPERASI: http://tiny.cc/agrokoperasi ===============================

