Pro Moderator ABC, berikut ini saya kirim beberapa berita singkat dari Sumut. Maaf lama sudah saya absen, karena kesibukan. Terima kasih ata perhatiannya. soedianto-medan
SWASEMBADA DAGING TERCAPAI 2014 Medan – Agromania: Program pemerintah untuk swasembada daging secara nasional di tahun 2010, terancam tidak dapat tercapai apalagi di Propinsi Sumatera Utara (Sumut). Ini disebabkan rendahnya pengembangbiakan sapi dikarenakan terhambatnya modal, sarana dan prasarana, teknologi serta akses pasar sehingga peternak enggan beternak. “Untuk swasembada di 2010 ini, kita tidak bisa mencapainya. Jadi sekarang program pemerintah untuk swasembada daging itu diperpanjang hingga 2014,” ujar Kepala Dinas Peternakan Sumut, Tetty Erlina Lubis, Kamis (12/11) Menurutnya, sampai saat ini persediaan ternak sapi lokal masih mencapai 6.000 ekor dan angka ini belum mencukupi kebutuhan masyarakat Sumut sebanyak 10.000 ekor pertahunnya. Karena itu, kata Tetty, Sumut masih menerima sapi impor dari Australia yang diimpor oleh empat perusahaan yakni Agro Inda Giri, Lembu Jantan Perkasa, Global Livestock Catle dan PT Eldira sebanyak 2.500 ekor. Ini menjadi solusi untuk mencukupi kebutuhan, sebab jika tidak ada impor, persediaan ternak lokal di lima tahun ke depan akan berkurang. “Memang harus impor, kalau tidak persedian kita akan habis. Cara ternak sapi itu sangat lama sekitar tiga tahun baru bisa dijual anakannya,” sebutnya. Diakuinya, rendahnya pengembangbiakan sapi dikarenakan terhambatnya modal, sarana dan prasarana, teknologi serta akses pasar sehingga peternak enggan berternak. Kemudian iklim usaha kurang produktif untuk mendorong usaha peternakan serta semakin banyaknya ancaman penyakit hewan menular. “Sejak dulu sulit untuk meminimalisir kendala itu,” ucapnya. Namun lanjut Tetty, untuk mencapai swasembada itu, Dinas Peternakan Sumut melakukan program perkawinan sapi antara suntik dan alam, mengembangkan ternak-ternak jantan yang akan disebarkan kepada masyarakat dan penjaringan pemotongan ternak betina produktif serta inseminasi kambing Burka dengan ternak lokal yang juga dibagikan kepada masyarakat.(pemkomedan -masdian) INDUSTRI PARIWISATA SUMUT DIHARAPKAN BISA BERKEMBANG SEPERTI NEGARA TETANGGA Medan – Agromania: Industri pariwisata Sumatera Utara (Sumut) diharapkan bisa bergerak maju mengikuti industri pariwisata negara tetangga mengingat aneka ragam budaya dan etnis Sumut sudah dikenal di manca negara. “Bila sektor pariwisata ini digarap secara maksimal akan menjadi nilai tambah bagi propinsi ini. Jadi saya sedang berpikir bagaimana mendatangkan pendapatan asli daerah bukan dari asap (pajak kendaraan bermotor-red) melainkan dari sektor lain. Tentu dengan kemajuan pariwisata ini bisa menjadi nilai tambah bagi Sumut dan seluruh stakeholder lainnya,” kata Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Syamsul Arifin pada pembukaan pameran dan atraksi budaya, Sumut Gempar (Gema Pariwasata) di Lapangan Merdeka, Medan, Kamis (12/11) Menurut Syamsul, dengan kemajuan pariwisata berbagai lapisan masyarakat dari berbagai sektor juga mendapatkan dampak positifnya. “Semua sektor akan bergerak karena pariwisata ini membuat masyarakatnya hidup. Contoh saja, Penang yang menyumbangkan pendapatannya ke kas negara sekitar 70 persen dari sektor pariwisata dan kesehatan. Jadi Sumut yakin bisa melakukannya,” katanya. .(pemkomedan -masdian) PRODUKSI TEMBAKAU DELI BERKURANG Medan – Agromania: Lahan pertanaman tembakau milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) 2 di Sumut berkurang sekitar 50% atau menjadi sekitar 400 hektar dari luas lahan sebelumnya mencapai 840 hektar yang berada di enam kebun. Pengurangan lahan ini diikuti dengan penurunan permintaan pasar tembakau di Bremen, Jerman terhadap tembakau Deli Sumut sekitar 80 ton dengan harga 30 euro per kg dari keseluruhan lelang 1.500 ball atau sekitar 110 ton. “Permintaan itu menurun karena Eropa masih krisis global dan adanya larangan merokok, sehingga konsumsi terhadap tembakau dikurangi. Hal ini lah membuat lahan pertanaman tembakau kita kurangi menjadi empat kebun saja,” ujar Manajer Distrik Tembakau PTPN2 Bambang Sutrisno, beberapa hari lalu. Keempat perkebunan tanaman tembakau saat ini, lanjutnya ada di ladang Helvetia, Bulu Cina, Kelumpang dan ladang Kelambir V dengan luas lahan sekitar 400 hektar atau 500 ladang dengan catatan per ladang seluas 0,8 hektar. Hasil panen pertanaman tembakau ini pun, kata Bambang, hanya sekitar 70% karena cuaca yang tidak mendukung sehingga menyebabkan kerusakan pada tanaman. “Produksi tembakau kita untuk tahun 2009 ini hanya mencapai 750 hingga 800 ball dari empat ladang itu. Sebenarnya kalau tidak karena perubahan cuaca, biasanya hasil pertanaman mencapai 100%,” ujarnya. Dikatakannya, mengurus tanaman tembakau ini sangat sensitif, seperti merawat seorang bayi. Jadi dengan cuaca yang tidak mendukung seperti hujan yang terlalu lebat atau sangat kering membuat tanaman cepat rusak..(pemkomedan -masdian) KREASI BATU ALAM HASILKAN RUPIAH Medan – Agromania: Potensi batu alam yang memiliki nilai jual tinggi berhasil dimanfaatkan Aradi, pengrajin yang memiliki workshop Kun Art di JAlan Danau Singkarak Medan dengan berbagai kreasi seperti, partisi, meja konsul, frame foto, vas bunga dan aksesoris cermin. ”Produk-produk yang dijual di sini diolah dengan menggunakan bahan baku batu, serta pecahan kaca yang semunya dari alam,” kata Aradi akhir pekan lalu di pegelaran UKM yang diadakan Carrefour Jalan Jamin Ginting Medan. Didampingi staf pemasaran, Evi juga menambahkan, untuk menghasilkan kreasi unik serta bernilai tinggi, bahan baku dari sisa pecahan kaca serta botol bekas dibutuhkan untuk menambah daya jual dari batu alam ini. ”Pecahan kaca, botol bekas, serta plastik bekas dikombinasikan dengan batu alam,” ujarnya. Evi juga menegaskan, hasil produk dari batu alam ini cukup diminati masyarakat khususnya warga Kota Medan, apalagi dengan ciptaan alami serta kreasi dari batu alam dapat dipadukan dengan konsep bangunan modern masa kini. ”Harga yang kami jual cukup terjangkau dengan kualitas terjamin,” tambahnya. Batu alam ini, menurutnya, dijual dengan harga yang bervariasi di antaranya partisi dengan ukuran dua meter dijual dengan harga Rp 1 juta, dan harga frame foto dijual dengan harga Rp 20.000 per satuan. ”Saya hanya bisa berharap batu alam ini bisa menjadi potensi daerah yang dapat dijual untuk menambah devisa daerah,” tambahnya. Dikatakannya, orang-orang dari luar Kota Medan, seperti dari Jakarta dan Bali selalu mengunjungi bengkel usaha batu alam mereka yang berada di Jalan Danau Singkarak No 22, Medan. ”Kami juga berharap pemerintah tetap mensponsori usaha batu alam ini, sehingga menjadi kekayaan alam yang tak ternilai,” harapnya. .(pemkomedan -masdian) SUMUT IMPOR 2.500 SAPI DARI AUSTRALIA Medan – Agromania: Menyambut Hari Raya Idul Adha tahun ini, Dinas Peternakan Sumatera Utara (Sumut) telah mempersiapkan 2.500 ekor sapi impor yang didatangkan dari Australia. Pasokan hewan ini bertujuan sebagai antisipasi menghadapi permintaan masyarakat di hari Qurban. “Ini stok untuk cadangan di lebaran haji. Mana tahu nanti kurang, jadi sudah disiapkan,” kata Kadis Peternakan Sumut, Tety Erlina Lubis kepada wartawan kemarin. Ia menyatakan, stok lembu lokal yang masih tersedia saat ini sekitar 6.000 ekor dan tersebar di Sumut. “Persediaan kita banyak, dan ini akan cukup untuk memenuhi kebutuhan di hari raya,” katanya singkat sambil berlalu. Namun, saat dengar pendapat dengan anggota dewan komisi B, Tetty mengungkapkan, dalam setiap tahunnya Sumut mengimpor hewan sapi sebanyak 10.000 ekor dari Australia dengan nilai sekitar Rp100 miliar. Hal ini untuk mendukung pemenuhan kebutuhan konsumsi daging yang mencapai 9,93 kg perkapita dalam setahun. Sementara populasi ternak di Sumut di 2008 untuk sapi perah mencapai 2.290 ekor dan naik menjadi 2.487 ekor di tahun 2009. Untuk sapi potong, populasi ternaknya mencapai 388.240 ekor di tahun 2008 dan 391.903 ekor di tahun 2009. Sedangkan produksi daging di 2008 mencapai 116.750,82 ton dan naik menjadi 131.470,91 ton di tahun 2009. “Konsumsi daging di Sumut masih rendah dibandingkan target nasional yakni 10,3 kg perkapita dalam setahunnya,” ucapnya..(pemkomedan -masdian) PEMKO MEDAN USULKAN NELAYAN DAPAT MINAH BERSUBSIDI Medan – Agromania: Pemerintah Kota (Pemko) Medan mengusulkan 12.000 nelayan yang tersebar di Kawasan Medan Utara tetap diberikan kuota minyak tanah (minah) subsidi meskipun program konversi dilaksanakan. Alasannya, nelayan tersebut merasa kesulitan jika harus menggunakan elpiji untuk kebutuhan memasak di atas kapal. Namun demikian, usulan ini hanya untuk konsumsi rumah tangga dan alat penerangan. “Pemko sudah pernah membicarakan usulan ini dengan Pertamina. Dikarenakan Pertamina hanya sebagai pelaksana, kami disarankan mengusulkan hal ini kepada BPH Migas,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Kelautan Kota Medan Wahid, pekan lalu. Dikatakannya, saat ini surat usulan tersebut masih dalam proses dan dalam waktu dekat akan dikirimkan kepada Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) sebagai institusi pemerintah yang melaksanakan program konversi minah ke elpiji. Salah satu poin pentingnya, lanjut Wahid, adalah menyuplai minah bersubsidi ke pangkalan yang selama ini menyuplai nelayan. Dipaparkannya, di Kota Medan ada 12 pangkalan minah khusus yang melayani 12.000 nelayan. Sebelum dilaksanakan program konversi, suplai yang diterima setiap pangkalan tersebut bervariasi antara 15-20 ton per bulan, dengan total kuota 120 ton per bulan. Setelah dilaksanakan konversi, suplai yang diterima pangkalan berkurang menjadi lima ton per bulan. “Memang banyak nelayan yang sudah tidak melaut karena kelangkaan minah. Tetapi, perlu saya tekankan minah subsidi ini bukan untuk bahan bakar kapal atau angkutan yang digunakan nelayan,” lanjutnya..(pemkomedan -masdian) PELUANG BISNIS PENGEMBANGAN TANAMAN ANGGREK Medan – Agromania: Pengembangan tanaman anggrek merupakan peluang bisnis yang besar, karena harga di pasaran tidak pernah anjlok seperti tanaman hias lainnya. Seperti yang dikatakan petani tanaman anggrek di Jalan Haji Adam Malik Medan Yusra. “Seharusnya, dengan kondisi seperti ini pemerintah mendukung pengembangan anggrek dengan menyiapkan bibit-bibit anggrek asli Indonesia untuk dikembangkan,”tambahnya seraya menjelaskan Anggrek dari impor itu aslinya bibit dari Indonesia, namun telah dikembangkan atau disilangkan untuk menghasilkan anggrek yang lebih menarik lagi, sehinga anggrek kita terkalahkan pamornya.. Meskipun saat ini di Pulau Jawa sudah ada yang membudidayakan tanaman anggrek, tapi produksinya sedikit dan dijual dengan harga yang lumayan mahal. Berbeda dengan di Thailand, bibit tanaman anggrek yang dipasarkan bisa sesuai warna dan bentuk yang diinginkan konsumen. “Kalau kita minta bibit anggrek berwarna merah, maka akan dikirim warna merah. Semua tipe warna yang diinginkan pasar pasti ada. Berbeda dengan yang punya lokal, terkadang warnanya berbeda dengan yang kita pesan. Ini kan mengecewakan pelanggan,” jelasnya yang juga menjabat sebagai Bendahara Persatuan Anggrek Indonesia (PAI) Medan Yayasan ini. Kepala Dinas Perikanan dan Pertanian Medan Wahid mengatakan, laboratorium kultur jaringan yang dimiliki Pemerintah Kota (Pemko) Medan masih untuk tanaman anggrek. Tapi pengembangan bibit tanaman hias ini belum dapat disebarkan kepada masyarakat karena masih dalam proses pengembangan. Laboratorium kultur jaringan sudah ada sejak tahun 2007 dengan biaya operasional dari APBD. “Namun, karena kurang lengkapnya alat dan tenaga ahli khusus yang tersedia, laboratorium tersebut masih sebatas pengembangan tanaman anggrek saja,” katanya..(pemkomedan -masdian) ----------------------------------------- Agromania Business Club (ABC) -- Jalur Pasti Menuju Sukses -- ----------------------------------------- CARA BERGABUNG MENJADI ANGGOTA: (1) Buka: http://tiny.cc/formulir (2) Isi data Anda dengan lengkap dan benar (3) Tekan tombol Submit Form. Tunggu sebentar (4) Klik Continue. Data Anda akan langsung masuk (5) Kirim SMS �Daftar� ke: 0 8 1 1 1 8 5 9 2 9 (6) Tunggu balasan SMS (max. 2 X 24 jam) (7) Segera lakukan pembayaran iuran anggota ----------------------------------------- |a|g|r|o|m|a|n|i|a Online & Terpercaya Sejak 1 Agustus 2000 MAILING LIST: http://tiny.cc/milis KIOS PRODUK: http://tiny.cc/kios BURSA JUAL-BELI: http://tiny.cc/bursa DIREKTORI: http://tiny.cc/direktori

