Pendapat kucluk tentang relasi peternakan di Indonesia terhadap issue pemanasan 
global, bisa diabaikan saja. Tak jelas maksudnya apa, haha… atau malah sangat 
jelas supaya kita menjadi bangsa yang tak mandiri. Supaya tetap bisa jadi pasar.

“Apa yang hendak pemerintah Indonesia lakukan sekarang ini? Data-data sudah 
terhampar. Pemerintah, jika masih saja tidak percaya tentang bahaya daging, 
tolong buka internet dan mencari tahu," ujar pemerhati lingkungan yang juga 
dosen arsitektur Universitas Atma Jaya Yogyakarta Agustinus Madyana Putra.”



Data-data pembanding juga sudah terhampar.

Impor susu kurang lebih 70 %

Impor daging sapi ada pada kisaran 30 – 35 %

Tercatat, di atas 70% susu yang dikonsumsi oleh masyarakat di Indonesia adalah 
susu yang berasal dari Australia, Selandia Baru, dan negara importir susu 
lainnya. [sumber 
http://bangkittani.com/2009/10/manfaatkan-kredit-bunga-subsidi-untuk-mewujudkan-swasembada-susu-dan-daging/
  ]



Dari angka impor Indonesia terhadap produk susu kurang lebih 70 persen saja, 
menunjukkan dimana sebenarnya peternakan yang katanya penyumbang gas apa 
namanya itu, ha ha…



“….PANGAN merupakan soal hidup matinya suatu bangsa. Apabila kebutuhan pangan 
rakyat tidak dipenuhi maka ‘malapetaka’. Oleh karena itu, perlu usaha 
besar-besaran, radikal dan revolusioner.” Demikian konon Presiden RI pertama, 
Soekarno, pernah berucap.



Jadi, singkat kata singkat cerita… MAJULAH PETERNAK INDONESIA. ABAIKAN IDE-IDE 
TERSELUBUNG AGENDA ASING… DAN MENGHINA AKAL SEHAT.



Salam,

Syam

=============================
Mitra Bisnis Menanti Anda di:
DIREKTORI: http://tiny.cc/direktori
BURSA JUAL-BELI: http://tiny.cc/bursa
KIOS PRODUK: http://tiny.cc/kios
KOPERASI: http://tiny.cc/agrokoperasi
INFO: 0 8 1 1 1 8 5 9 2 9 (SMS Only)
=============================







From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of 
erwin darmasetiawan
Sent: Tuesday, November 24, 2009 9:03 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [agromania] Kompas: Peternakan Hasilkan 51 Persen Gas Rumah kaca





setuju pak Hery...bukankah sisa pembakaran gas methan/biogas yg berupa CO2 jg 
dibutuhkan oleh tanaman untuk berfotosintesa di siang hari...diamana umumnya 
peternakan berada di pedesaan yg masih banyak tumbuhannya...

regard
erw

=============================
Mitra Bisnis Menanti Anda di:
DIREKTORI:  <http://tiny.cc/direktori> http://tiny.cc/direktori
BURSA JUAL-BELI:  <http://tiny.cc/bursa> http://tiny.cc/bursa
KIOS PRODUK:  <http://tiny.cc/kios> http://tiny.cc/kios
KOPERASI:  <http://tiny.cc/agrokoperasi> http://tiny.cc/agrokoperasi
INFO: 0 8 1 1 1 8 5 9 2 9 (SMS Only)
=============================

--- Pada Kam, 19/11/09, hery winarno < <mailto:herywinarno%40yahoo.com> 
[email protected]> menulis:

Dari: hery winarno < <mailto:herywinarno%40yahoo.com> [email protected]>
Judul: Re: [agromania] Kompas: Peternakan Hasilkan 51 Persen Gas Rumah kaca
Kepada:  <mailto:agromania%40yahoogroups.com> [email protected]
Tanggal: Kamis, 19 November, 2009, 10:20 AM



 Aku Vegan dan Hijau <love.vegetarian@ yahoo.com>,

Kalau limbah Gas methana dimanfaatkan sebagai Biogas apa bukan malah mengurangi 
emisi pencemaran gas rumah kaca?, mengurangi pemakaian BBM dsb segala macam 
advatagesnya? .

Jadi janganlah terlalu percaya ilmuwan barat, kalau itu menyengsarakan Rakyat 
Indonesia, justru seharusnya kita bantu bagaimana solusinya.

Seharusnya juga Media kita yang memuat Issue tersebut juga harus bisa kasih 
komentar solusinya dong, disitu kan banyak Ilmuwan dan redaktur yang 
berpengalaman? ???

Janganlah aspersonal atau LSM jadi tangan orang2 barat yang notabene pingin 
menang sendiri, apalagi terhadap negara yang komunitas Muslim besar seperti 
Indonesia, so kita mau beternak mensupport program pemerintah, bukankan dari 
limbah Tlethong, urin sudah diproses menjadi pupuk organik dan di treat dengan 
berbagai dekomposer?.

Sudah banyak kasus yang dibuat oleh Orang2 Barat yang sangat mencengangkan kita 
seperti yang sudah dimuat di surat kabar dan website, mengenai UDANG DIBALIK 
BATU BANTUAN GEMPA DI PADANG OLEH ORANG/LEMBAGA BARAT?????

Apakah Ilmuwan barat juga sudah memperhitungkan masalah itu?

Apakah Ilmuwan barat juga sudah ada hasil pasti, reset bagaimana akibat 
pemakaian pupuk kimia yang merusak struktur tanah kalau tidak dikombinasi 
dengan Pupuk Organik yang mainly dihasilkan dari Peternakan?

So, sebaiknya kalau kita jadi orang Indonesia jangan hanya melepas isu, 
permasalahan lalu lari, bantulah masyarakat kecil, orang desa yang masih belum 
banyak tahu Technology.

Maaf saya tidak bermaksud meng expose SARA disini, hanya kita harus hati2 dalam 
menghadapi isu Barat yang mostly mencari keuntungan pribadi.

Indonesia sudah sering jadi Korban isu Barat, mulai dari bidang kesehatan, 
peternakan, perdagangan bebas dan segala macam.

Jadi, mari kawan2 agromania yang punya niat baik, kita majukan Agrobisnis di 
Indonesia yang negara subur ini yang masih jadi sapi perah para kapitalisme 
barat.

Maaf kalau ada salah dan tidak berkenan oleh salah satu atau beberapa anggauta 
maillist Agromania.

Wasalaam,

Hw

~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~

Mau Gabung di AGROMANIA BUSINESS CLUB (ABC)?

Kenal dulu dan ikuti langkah sukses mereka di:

DIREKTORI:  <http://tiny.> http://tiny. cc/direktori

BERGABUNG:  <http://tiny.> http://tiny. cc/formulir

INFO: 0 8 1 1 1 8 5 9 2 9 (SMS Only)

~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~

|a|g|r|o|m|a| n|i|a

Online & Terpercaya Sejak 1 Agustus 2000

MAILING LIST:  <http://tiny.> http://tiny. cc/milis

KIOS PRODUK:  <http://tiny.> http://tiny. cc/kios

BURSA JUAL-BELI:  <http://tiny.> http://tiny. cc/bursa

--- On Fri, 11/13/09, Aku Vegan dan Hijau <love.vegetarian@ yahoo.com> wrote:

From: Aku Vegan dan Hijau <love.vegetarian@ yahoo.com>

Subject: [agromania] Kompas: Peternakan Hasilkan 51 Persen Gas Rumah kaca

To: s...@pemanasangloba l.com

Date: Friday, November 13, 2009, 8:31 PM



Peternakan Hasilkan 51 Persen Gas Rumah kaca



KOMPAS/SAMUEL OKTORA

Oktavianus

Tipnone melepas ternak dari kandang di areal peternakan yang dikelola

biara Karmel di Kampung Maronggela, Desa Wolomeze, Kabupaten Ngada,

Nusa Tenggara Timur, Sabtu (19/9).







Kamis, 5 November 2009 | 08:12 WIB



Laporan wartawan KOMPAS Lukas Adi Prasetya

YOGYAKARTA, KOMPAS.com

- World Watch Institute, dalam laporan yang dirintis Watch Magazine

Edisi November/Desember 2009 menyebut bahwa peternakan bertanggung

jawab atas sedikitnya 51 persen penyebab gas rumah kaca global. Ini

bukan lagi lampu kuning melainkan sudah lampu merah.World Watch

Institute adalah organisasi riset independen di Washington Amerika

Serikat yang berdiri sejak 1974. Organisasi ini dikenal kritis terhadap

isu global dan lingkungan. Penulis artikel itu Dr Robert Goodland,

mantan penasihat utama bidang lingkungan untuk Bank Dunia, dan staf

riset Bank Dunia Jeff Anhang. Keduanya membuat laporan ini berdasar

Bayangan Panjang Peternakan , laporan yang diterbitkan tahun 2006 oleh

Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO).Majalah itu terbit

dalam 36 bahasa dan data penelitiannya digunakan oleh banyak NGO

(lembaga swadaya masyarakat) di seluruh dunia, dan juga badan-badan di

bawah PBB. NGO yang memakai data-datanya antara lain Greenpeace

Southeast Asia, dan Yayasan Obor Indonesia.Dua peneliti itu juga

menghitung siklus hidup emisi produksi ikan yang diternakkan, CO2 dari

pernapasan hewan, dan koreksi perhitungan yang sebenarnya dari jumlah

hewan ternak yang dilaporkan di muka bumi. Gas metana yang dikeluarkan

oleh hewan ternak mengikat panas 72 kali lebih kuat daripada CO2. Hal

ini mewakili kenaikan yang lebih akurat dari perhitungan asli FAO

dengan potensi pemanasan sebesar 23 kali. Meskipun demikian, peneliti

itu memberitahu bahwa perkiraan mereka tentang 51 persen itu masih

angka minimal."Masyarakat Indonesia, bahkan pihak-pihak yang

mestinya memerhatikan isu-isu lingkungan, harus tahu

informasi-informasi mengenai dampak industri peternakan dan bahaya

daging. Apa yang hendak pemerintah Indonesia lakukan sekarang ini?

Data-data sudah terhampar. Pemerintah, jika masih saja tidak percaya

tentang bahaya daging, tolong buka internet dan mencari tahu," ujar

pemerhati lingkungan yang juga dosen arsitektur Universitas Atma Jaya

Yogyakarta Agustinus Madyana Putra.

Sumber: <http://sains.> http://sains. kompas.com/ read/xml/ 2009/11/05/ 
08121712/ Peternakan. Hasilkan. 51.Persen. Gas.Rumah. kaca



============ ========= ========

Mitra Bisnis Menanti Anda di:

DIREKTORI:  <http://tiny.> http://tiny. cc/direktori

BURSA JUAL-BELI:  <http://tiny.> http://tiny. cc/bursa

KIOS PRODUK:  <http://tiny.> http://tiny. cc/kios

KOPERASI:  <http://tiny.> http://tiny. cc/agrokoperasi

INFO: 0 8 1 1 1 8 5 9 2 9 (SMS Only)

============ ========= ========

[Non-text portions of this message have been removed]

__________________________________________________________
Dapatkan nama yang Anda sukai!
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com.
 <http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/> 
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

[Non-text portions of this message have been removed]





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke