Lele dumbo (Clarias gariepinus) semula dipandang sebelah mata. Namun, komoditas 
perikanan air tawar ini sekarang menjelma menjadi industri rakyat. Nilai 
perdagangannya setiap tahun mencapai lebih dari Rp 1 triliun, penyerapan tenaga 
kerja, nilai tambah, dan multyplier effect yang dihasilkan juga besar.

Berbagai jenis usaha terkait lele pun meluas, mulai dari industri pakan 
(pelet), perbenihan, budidaya, perdagangan, hingga pengolahan pangan berbahan 
baku lele yang umumnya skala rumahan.

Konsumen lele juga menyebar luas. Dari desa hingga ke kota. Tidak saja rakyat 
jelata yang makan di warung-warung tenda dengan sambal terasi dan lalapan, 
tetapi merambah ke konsumen menengah atas.

++++++++++++++++++++++++++++++++
TEMU PELAKU BISNIS IKAN AIR TAWAR KONSUMSI!
Minggu, 31 Januari 2010 (Pkl.09.30 s/d Selesai)
Jangan sampai ketinggalan, daftar sekarang juga di:
http://tiny.cc/acaramania
++++++++++++++++++++++++++++++++

Perubahan status sosial komoditas lele ini telah merangsang tumbuhnya berbagai 
inovasi usaha dalam teknologi pengolahan pangan. Ada lele goreng kremes, bakso 
lele, mi basah lele, lele asap, abon lele, rolade lele, hingga pizza lele.

Karena potensinya yang besar, tak kurang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ikut 
mendukung pengembangan usaha berbasis lele dumbo dengan kampanye makan lele.

Konsumsi meningkat

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Departemen Kelautan dan Perikanan Made L 
Nurdjana, Rabu (29/7) di Sukabumi, Jawa Barat, mengungkapkan, terus 
meningkatnya konsumsi lele dan produk olahannya secara otomatis mendorong 
peningkatan produksi lele dalam negeri. Tahun 2008 saja produksi lele hidup 
untuk konsumsi mencapai 108.200 ton.

Dengan menghitung per kilogram lele ukuran konsumsi ada delapan ekor, 
setidaknya dalam setahun produksi lele nasional mencapai 868,6 miliar ekor atau 
2,37 miliar ekor per hari. Apabila dirupiahkan, produksi lele 108.200 ton per 
tahun itu senilai Rp 1,41 triliun, dengan asumsi harga lele konsumsi Rp 13.000 
per kilogram.

Belum menghitung nilai ekonomi yang timbulkan dari usaha lele, baik dari aspek 
off farm maupun sarana produksi, seperti produksi pakan, obat-obatan, material 
kolam, pemupukan, hingga pembenihannya.

Semakin besar lagi perputaran ekonomi kalau menghitung berapa juta pedagang di 
seantero negeri ini berkat lele, baik dalam bentuk warung tenda maupun produk 
olahan. Juga berapa banyak tenaga kerja yang terserap baik tingkat hulu maupun 
hilir, dan perdagangannya.

Dewasa ini permintaan lele juga tidak saja berasal dari dalam negeri. Konsumen 
di Amerika Serikat dan Eropa juga sudah melirik lele. Begitu pula dengan 
Singapura dan Malaysia.

Arus bawah

Berkembangnya "industrialisasi" lele dumbo berbasis kerakyatan secara tanpa 
disengaja tumbuh dari bawah. Ketika lele dumbo masuk Indonesia beberapa dekade 
lalu, minat masyarakat terhadap jenis ikan catfish yang satu ini cenderung 
negatif.

Kala itu masyarakat tidak begitu suka dengan lele karena kesan menjijikkan. 
Kulitnya yang berlendir mengingatkan konsumen tertentu pada jenis hewan melata 
seperti belut.

Kemampuan adaptasi binatang air yang satu ini karena mampu hidup dalam 
lingkungan air yang kotor sekalipun telah menggeser persepsi masyarakat 
terhadap komoditas lele yang terkesan jorok.

Namun, seiring melemahnya daya beli masyarakat akibat berbagai tekanan ekonomi, 
lele semakin diminati. Selain murah kandungan proteinnya tinggi.

Munculnya fenomena pecel lele kian mendongkrak citra lele di mata masyarakat. 
Mengonsumsi lele bukan lagi memalukan. Di Yogyakarta, pecel lele menjadi 
santapan yang digemari mahasiswa karena terjangkau. Kebutuhan lele dumbo di 
Yogyakarta 10-15 ton per hari.

Pelan dan pasti, permintaan lele terus naik. Bila tahun 2004, produksi lele 
budidaya hanya 51.271 ton per tahun, tahun 2005 naik menjadi 69.386 ton, 2006 
(77.272 ton), 2007 (91.735 ton), dan 2008 (108.200 ton).

Direktur Riset dan Kajian Strategis Institut Pertanian Bogor (IPB) Arif Satria 
mengungkapkan, lele merupakan industri rakyat. Tak ubahnya raksasa yang tidur 
(sleeping giant), bisa diusahakan siapa saja.

Yang diperlukan saat ini adalah inovasi teknologi pangan. Karena sekarang ini 
konsumsi terbesar lele dumbo lebih pada bentuk segar, belum banyak ke produk 
olahan. Kalau tidak segera mengembangkan industri pangan olahan berbasis lele, 
akan terjadi kelebihan pasokan dan ini akan membahayakan bagi kelangsungan 
usaha.

"Kalau menunggu inovasi teknologi pengolahan pangan dari masyarakat, perlu 
waktu lama. Kebijakan pemerintah, perguruan tinggi, dan lembaga penelitian di 
bidang pangan perlu di arahkan ke sana," katanya.

Industri lele dumbo berbasis usaha kecil rakyat ini jelas lebih tahan banting.

SUMBER: Kompas
Jumat, 31 Juli 2009 | 09:26 WIB

-----------------------------------------
|a|g|r|o|m|a|n|i|a
Online & Terpercaya Sejak 1 Agustus 2000
MILIS: http://tiny.cc/milis
FORMULIR: http://tiny.cc/formulir
BURSA JUAL-BELI: http://tiny.cc/bursa
KIOS PRODUK: http://tiny.cc/kios
DIREKTORI: http://tiny.cc/direktori
-----------------------------------------


Kirim email ke