Pembibitan Gurami di Lahan Tandus

Lahan di Bukit Menoreh itu gersang dan berkapur. Air sulit didapat. Jangankan 
berbudidaya ikan, pohon kelapa pun dulu tidak berbuah. Akan tetapi, dari bukit 
tandus di Dukuh Dengok, Desa Tanjungharjo, 20 kilometer ke arah barat dari 
Yogyakarta, itu setiap bulannya mengalir 60.000 ekor benih ikan gurami ke 
segala penjuru.

Benih-benih ikan gurami dari bukit tandus itu menyebar ke wilayah Purworejo, 
Yogyakarta, Sleman, Bantul, hingga ke wilayah di luar Yogyakarta, seperti ke 
Cilacap dan Tasikmalaya (Jawa Barat).

++++++++++++++++++++++++++++++++
TEMU PELAKU BISNIS IKAN AIR TAWAR KONSUMSI!
Minggu, 31 Januari 2010 (Pkl.09.30 s/d Selesai)
Jangan sampai ketinggalan, daftar sekarang juga di:
http://tiny.cc/acaramania
++++++++++++++++++++++++++++++++

Berkat benih gurami itu pula, warga Dukuh Dengok yang selama puluhan tahun 
kesulitan mendapatkan penghasilan, kini memiliki pendapatan tetap. Ekonomi 
pedesaan pun berputar karena mereka kini memiliki cukup uang untuk berbelanja 
kebutuhan hidup.

Perekonomian Dukuh Dengok pun semakin bergairah. Kepala Bidang Perikanan dan 
Budidaya Kabupaten Kulonprogo Prabowo Sugondo mengungkapkan, dengan memiliki 
kolam pembenihan seluas 4 meter x 8 meter saja warga akan memiliki tambahan 
penghasilan Rp 600.000 per musim panen.

Yang menarik dari sistem pembenihan yang dibangun warga Dukuh Dengok ini, benih 
ikan yang mereka budidayakan laku terjual pada setiap tingkatan atau ukuran. 
Mulai dari ukuran kuku, jempol, silet, hingga ukuran empat jari sehingga 
perputaran uang berlangsung cepat, karena petani tidak harus menunggu panen 
lama hingga ikan berukuran konsumsi.

Prabowo menjelaskan bahwa selalu ada peluang dalam setiap kesempatan dalam 
menumbuhkan ekonomi pedesaan, asalkan dilakukan dengan serius dan ada kerja 
sama yang dilakukan sungguh-sungguh antara pemerintah dan masyarakat.

Seperti yang ada di Dukuh Dengok ini. Pada awalnya warga di sana berniat 
budidaya lele. Mengingat permintaan lele sekarang ini terus bertumbuh, sehingga 
ada jaminan pasar. Sebagai ilustrasi, setiap hari di Provinsi Yogyakarta saja 
memerlukan lele sebanyak 15 ton.

Lahan terbatas

Meski ada peluang untuk budidaya lele, keterbatasan kepemilikan lahan di Dukuh 
Dengok ternyata menjadi kendala utama. Ketua Lembaga Pemerintahan Masyarakat 
Desa Tanjungharjo Pujo mengungkapkan, rata-rata warga Dukuh Dengok memiliki 
lahan terbatas.

Hanya ada lahan pekarangan dan sedikit lahan kebun. Minimnya lahan tidak cocok 
bila dimanfaatkan untuk budidaya lele karena budidaya lele memerlukan lahan 
yang lebih luas dan pasokan air yang tentunya lebih banyak. Apalagi lahan di 
sana tandus dan tidak ada mata air. Air memang bisa diambil dari Selokan Kali 
Bawang yang disodet dari Kali Progo. Akan tetapi, jarak ketinggian saluran air 
dengan rumah warga sekitar 300 meter.

Melihat minimnya potensi sumber daya tersebut, mereka pun memilih untuk 
mengembangkan budidaya gurami. Memang sama saja dengan budidaya lele yang makan 
tempat, tetapi keuntungan yang didapat bisa lebih besar.

Maka, 3,5 tahun lalu, mulailah warga membudidayakan gurami. Meski kesulitan 
air, mereka tak putus asa. Bahu-membahu dengan Pemerintah Daerah Kulonprogo, 
warga di sana pun membangun bak-bak penampungan air, juga membangun sumur 
resapan sebagai sumber air.

"Kami harus menggunakan tiga pompa air untuk menaikkan air dari selokan ke 
kolam- kolam ikan," tutur Prabowo.

Agar menghemat penggunaan air, kolam dibangun menggunakan terpal. Kolam terpal 
lebih hemat air karena tidak menimbulkan resapan, berbeda dengan kolam lumpur.

Berhasil membudidayakan gurami, mereka pun memperluas kolam. Makin banyak warga 
yang tertarik ikut membudidayakan ikan. Saat ini terdapat 8.000 meter persegi 
kolam ikan.

Tidak puas dengan hasil pembesaran gurami ukuran benih ke konsumsi, warga pun 
mulai merintis usaha perbenihan. Benih didatangkan dari Purwokerto dalam bentuk 
telur. Harga per butir telur gurami Rp 24. Selanjutnya, telur-telur itu 
ditetaskan.

Hasil tetesan dipelihara hingga sebesar ukuran kuku, jempol, silet, hingga 
ukuran empat jari. Semua laku dijual. Masing-masing ukuran benih tersebut 
dipelihara oleh warga. Agar posisi tawar mereka tinggi, mulailah mereka 
membentuk kelembagaan dengan mendirikan Kelompok Pembudidaya Ikan "Argo Mino".

Atur jaringan produksi

Menurut penasihat Kelompok Pembudaya Ikan Argo Mino, Suhardi, melalui kelompok 
ini warga mengatur jaringan produksi mulai dari input dalam bentuk pencarian 
dan mendatangkan benih, membesarkan, mencari sumber pakan dan mendapatkan 
kualitas pakan terbaik, hingga memasarkan produk. Total anggota kelompok 
tersebut saat ini berjumlah 32 orang.

Menurut Prabowo, keberhasilan membangun sentra perbenihan gurami tak lepas dari 
kerja sama warga dan pemerintah daerah. Berbagai bantuan pun diberikan Pemda 
Kulonprogo. Pada mulanya, mulai dari bantuan terpal, material bangunan, hingga 
teknis pembenihan.

Selain itu, pemda juga membantu warga mengakses sumber pendanaan, baik dari 
perbankan maupun koperasi. Maklum, pada awalnya tidak ada satu bank pun yang 
tertarik memberikan kredit kepada warga di sana.

Selain tidak adanya pendapatan tetap, agunan juga tidak laku karena nilai jual 
obyek pajak (NJOP) lahan di sana dulu tidak lebih dari Rp 3.600 per meter 
persegi. Namun, saat ini tidak ada kesulitan lagi bagi petani untuk mengakses 
sumber pendanaan.

Direktur Riset dan Kajian Strategis Institut Pertanian Bogor Arif Satria 
mengungkapkan, keberhasilan warga berbudidaya ikan tidak terlepas dari 
kemampuan mereka beradaptasi dengan lingkungan. Kondisi lingkungan yang sulit, 
mendorong warga berpikir dan bertindak kreatif.

Penguatan kelembagaan

Ekonomi pedesaan yang ditopang dari usaha budidaya ikan di Dukuh Dengok ini 
akan semakin berkembang apabila ada penguatan kelembagaan, kepemimpinan, 
dukungan infrastruktur yang memadai, dan manajemen usaha.

"Soal teknologi budidaya sebenarnya masyarakat sudah menguasai. Terbukti mereka 
bisa menghemat air dengan memanfaatkan sisa air kolam untuk budidaya lagi 
sehingga tidak boros air," katanya.

Tinggal bagaimana menguatkan kembali jaringan sosial di antara kelompok tani. 
Selain itu, dalam jangka menengah dan panjang, bagaimana pemerintah bisa 
mengurangi ketergantungan petani terhadap pakan produk perusahaan multinasional.

Selain itu, menurut Arif, kebijakan pemerintah soal stimulus fiskal mestinya 
diarahkan untuk menggerakkan ekonomi rakyat di pedesaan, seperti budidaya ikan, 
bukan seperti sekarang yang lebih berorientasi ke wilayah perkotaan.

Alokasi stimulus fiskal untuk desa saat ini hanya Rp 1,05 triliun, sementara 
untuk kota | Rp 9,15 triliun. Adapun tax saving mencapai Rp 43 triliun. 
Padahal, yang paling merasakan dampak krisis ekonomi global adalah warga 
pedesaan. (Hermas E Prabowo)

SUMBER: Kompas
Selasa, 17 Februari 2009 | 00:54 WIB

-----------------------------------------
|a|g|r|o|m|a|n|i|a
Online & Terpercaya Sejak 1 Agustus 2000
MILIS: http://tiny.cc/milis
FORMULIR: http://tiny.cc/formulir
BURSA JUAL-BELI: http://tiny.cc/bursa
KIOS PRODUK: http://tiny.cc/kios
DIREKTORI: http://tiny.cc/direktori
-----------------------------------------


Kirim email ke