Belut: Pembeli Luar Negeri Bertambah, Pasokan Kurang

Sebagai makhluk lumpur, belut mengandung potensi ekonomi luar biasa. 
Permintaannya naik saban tahun, baik dari pembeli luar negeri maupun pasar 
lokal. Ini peluang sebab belum banyak yang menekuni bisnis budidaya belut.

Rasanya yang gurih dan penuh gizi membuat belut tak hanya diminati penikmat 
kuliner dalam negeri, tapi juga luar negeri, seperti dari Jepang, Korea, 
Hongkong, Belgia, Spanyol, Perancis, Belanda, Jerman, dan Denmark.

++++++++++++++++++++++++++++++++
TEMU PELAKU BISNIS IKAN AIR TAWAR KONSUMSI!
Minggu, 31 Januari 2010 (Pkl.09.30 s/d Selesai)
Jangan sampai ketinggalan, daftar sekarang juga di:
http://tiny.cc/acaramania
++++++++++++++++++++++++++++++++

Belakangan, permintaan belut dari luar negeri kembali melonjak. Tak percaya? 
Silakan buka beberapa situs di internet, macam www. indonetwork. com. Di situs 
ini permintaan belut sedang menggunung. Ini jadi rezeki nikmat para pebisnis 
belut.

Salah satunya Prio Daryoko. Meski sedang krisis global, Pemilik PT Agrindo Jaya 
ini meraih berkah dari lonjakan permintaan belut dari sejumlah negara, seperti 
Jepang, Korea, dan Hongkong. Secara kasar, Prio memperkirakan lonjakan 
permintaan belut dart ketiga negara itu rata-rata sekitar 7 persen hingga 18 
persen per tahun.

Setiap bulan Prio memasok sekitar 80 ton belut hidup dan belut asap ke Jepang. 
Sementara, ke Korea Selatan, ia mengirim sekitar 40 ton sampai 45 ton belut 
hidup dan belut beku. Ke Hongkong, ia nmengirim sekitar 15 ton-20 ton belut 
hidup. "Permintaan selalu naik. Sayangnya, pasokan terkadang kurang," ujarnya.

Budy Kuncoro, Ketua Gabungan Orang Belut Semarang dan sekitarnya (Gobes's), 
membenarkan, permintaan belut dari mancanegara terus naik. Selama ini, ia 
memasok ke Singapura dan Malaysia.

Permintaan dari pasar lokal pun tak kalah banyak. Pekalongan, misalnya, butuh 
sekitar 100 kilogram  belut sehari. Sementara Pati butuh 50 kg belut sehari. 
"Rata-rata untuk usaha pecel belut dan abon," kata Budy. Untuk pasar ekspor, 
harga satu kilo belut berisi tujuh ekor dihargai Rp 40.000 per kg. Di pasar 
lokal harganya Rp 25.000.

Budy mengaku telah menemukan cara budidaya belut yang lebih hemat, yakni 
menghemat pakan dengan memanfaatkan keong mas, bekicot, atau yuyu. Dengan cara 
Budi ini, biaya produksi sekilo belut isi tujuh ekor hanya Rp 16.000. Dus, 
pebudidaya pun bisa balik modal dalam lima bulan.

Jika ingin budidaya belut, Anda harus membuat kolam. Taruh lapisan lumpur 
dengan jerami yang dibusukkan selama dua minggu sampai keluar cacing. Setelah 
busuk, air lantas diganti, kemudian masukkan bibit belut. "Sebaiknya, cari 
bibit belut basil tangkapan atau budidaya," ajar Budy. Harga bibit belut Rp 
40.000 per kilogram.

Selanjutnya, belut diberi pakan hama sawah setiap dua hari sekali. Pakan hama 
sawah itu seperti keong mas, bekicot, atau yuyu. Setelah 3,5 bulan, petani  
bisa memanen belut ukuran sekilo isi 15 ekor. Dalam lima bulan, panennya sekilo 
isi tujuh ekor. (Aprillia Ika/Kontan)

SUMBER: KOMPAS.com
Selasa, 10/3/2009 | 07:40 WIB

-----------------------------------------
|a|g|r|o|m|a|n|i|a
Online & Terpercaya Sejak 1 Agustus 2000
MILIS: http://tiny.cc/milis
FORMULIR: http://tiny.cc/formulir
BURSA JUAL-BELI: http://tiny.cc/bursa
KIOS PRODUK: http://tiny.cc/kios
DIREKTORI: http://tiny.cc/direktori
-----------------------------------------


Kirim email ke