Tumbuhkan Wirausaha Budidaya

Nilai produksi perikanan budidaya masih tertinggal dibandingkan dengan 
perikanan tangkap. Untuk itu, pemerintah berencana mendorong tumbuhnya 
wirausaha perikanan budidaya melalui peluncuran paket budidaya skala kecil dan 
menengah.

Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhamad memaparkan hal itu dalam acara 
"Refleksi 2009 dan Proyeksi 2010 Pembangunan Kelautan dan Perikanan", Kamis 
(7/1) di Jakarta.

++++++++++++++++++++++++++++++++
TEMU PELAKU BISNIS IKAN AIR TAWAR KONSUMSI!
Minggu, 31 Januari 2010 (Pkl.09.30 s/d Selesai)
Jangan sampai ketinggalan, daftar sekarang juga di:
http://tiny.cc/acaramania
++++++++++++++++++++++++++++++++

Data Kementerian Kelautan dan Perikanan 2009 menyebutkan, produksi perikanan 
10,06 juta ton dan 47,49 persen di antaranya dari budidaya. "Ada kecenderungan 
volume produksi perikanan budidaya melampaui perikanan tangkap," ujar dia.

Laju pertumbuhan produksi perikanan nasional 2005-2009 mencapai 10,2 persen per 
tahun. Adapun pertumbuhan budidaya 21,93 persen per tahun, sementara 
pertumbuhan perikanan tangkap hanya 2,95 persen. Sementara nilai produksi 
perikanan meningkat 15,61 persen dari Rp 57,62 triliun tahun 2005 menjadi Rp 
102,78 triliun tahun 2009.

Meski demikian, nilai produksi perikanan budidaya tertinggal dibandingkan 
perikanan tangkap. Itu disebabkan yang dibudidayakan kebanyakan ikan yang nilai 
ekonominya relatif rendah daripada ikan hasil tangkapan.

Untuk menggenjot produksi perikanan budidaya, pemerintah mengembangkan 
kewirausahaan dan meningkatkan kapasitas skala usaha. Ini dilakukan melalui 
peluncuran paket budidaya skala kecil dan menengah, yakni Rp 5 juta-Rp 10 juta 
per paket, yang difokuskan pada wirausaha berpendidikan sarjana.

Pemerintah juga menargetkan tahun ini penghapusan retribusi bagi nelayan kecil 
tuntas. Namun, sejumlah pemda menolaknya. Kementerian Kelautan dan Perikanan 
mengusulkan ke Kementerian Keuangan untuk menambah dana alokasi khusus akibat 
penghapusan retribusi.

Direktur Lembaga Kajian Bisnis dan Kebijakan Perikanan Ady Surya menyatakan, 
penghapusan retribusi seharusnya diikuti pemberantasan pungutan liar di sektor 
kelautan dan perikanan.

Nilai retribusi, seperti angkutan, lelang ikan, dan pungli, mencapai 20-30 
persen dari total biaya produksi. Beban itu dikenakan ke konsumen sehingga 
harga produk perikanan Indonesia relatif lebih mahal dibandingkan produk negara 
lain, seperti China dan Thailand. (PPG/EVY)

SUMBER: KOMPAS.com
Jumat, 8 Januari 2010 | 05:33 WIB

-----------------------------------------
|a|g|r|o|m|a|n|i|a
Online & Terpercaya Sejak 1 Agustus 2000
MILIS: http://tiny.cc/milis
FORMULIR: http://tiny.cc/formulir
BURSA JUAL-BELI: http://tiny.cc/bursa
KIOS PRODUK: http://tiny.cc/kios
DIREKTORI: http://tiny.cc/direktori
-----------------------------------------


Kirim email ke