Kecebong, anak kodok, muncul di kolam, membuat Nasrudin gembira karena dia 
mengira kecebong itu anak ikan lele. Kegembiraannya itu sirna dan dia tersipu 
malu ketika diberi tahu bahwa yang dikira anak ikan lele itu adalah kecebong. 
Kodok betina yang masuk ke kolam tanpa diketahui, bertelur dan menetas bersama 
dua indukan ikan lele betina dan seekor jantan. 

++++++++++++++++++++++++++++++++
TEMU PELAKU BISNIS IKAN AIR TAWAR KONSUMSI!
Minggu, 31 Januari 2010 (Pkl.09.30 s/d Selesai)
Jangan sampai ketinggalan, daftar sekarang juga di:
http://tiny.cc/acaramania
++++++++++++++++++++++++++++++++

Itu pengalaman pertama Nasrudin (61) sejak delapan tahun lalu saat belajar 
beternak ikan lele. 

"Kecebong disangka anak lele. Ngerakeun pisan (sangat memalukan)," kata 
Nasrudin, menuturkan awal usahanya menjadi peternak ikan lele delapan tahun 
lalu, di Saung Pertemuan Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) 
Jaya Sentosa, awal November lalu. Saung itu berdiri di tepi puluhan kolam ikan 
lele yang terbuat dari terpal dan tembok di lahan seluas 12.000 meter persegi 
di Kampung Sukabirus, Desa Gadog, Kecamatan Mega Mendung, Kabupaten Bogor, Jawa 
Barat. 

Kini, dia tak lagi dipermalukan atas ketidaktahuannya. Nasrudin sudah tersohor 
berkat lele sangkuriang yang mulai dikembangbiakkan pada 2001. Dia mengawali 
usaha beternak lele dengan benih sekitar 100.000 lele sangkuriang yang 
diperoleh dari Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar Sukabumi. Nama 
sangkuriang yang diberikan itu memang diambil dari legenda Tanah Pasundan untuk 
menandakan lokasi asal pembiakan lele jenis tersebut. 

Lele sangkuriang ini merupakan perbaikan genetik melalui silang balik antara 
induk betina lele dumbo generasi kedua (F2) dan jantan lele dumbo generasi 
keenam (F6). Induk betina (F2) berasal dari keturunan kedua lele dumbo yang 
diintroduksi ke Indonesia pada 1985. 

Petugas penyuluh pertanian dan perikanan setempat memberikan bimbingan beternak 
ikan secara benar. Berkat ketekunannya, Nasrudin berhasil mengembangkan ikan 
lele sangkuriang. 

Dia kini sudah menjadi "pendekar lele", bukan saja mahir dalam membesarkan lele 
dengan jurus-jurus yang jitu, tetapi juga mampu mengobati lele yang diserang 
penyakit, seperti radang kulit, dengan obat herbal ramuannya sendiri. Obat ini 
diberikan cuma-cuma kepada yang memerlukan. 

"Letkol" 

Sejak 2005, dia menjadi pelatih bagi kelompok dari sejumlah daerah, termasuk 
sejumlah karyawan perusahaan swasta dan pemerintah menjelang pensiun yang ingin 
beternak lele. Namanya pun sohor menjadi "Nasrudin Lele" dari Desa Gadog. 
Bahkan, kalangan pembudidaya lele dan warga setempat menjuluki Nasrudin dengan 
sebutan Bapak Letkol—akronim dari Lele Kolam yang dipelesetkan menjadi 
Letkol—sehingga dia kemudian disebut "Letkol" Nasrudin. 

Petani lele sangkuriang dari Desa Gadog ini kini lebih jauh berangan-angan 
membantu pemerintah mengurangi angka pengangguran dengan memelihara lele. 
"Budidaya lele tidak terlalu sulit, teknologinya juga mudah dan tiga bulan 
sudah bisa dipanen. Masyarakat kecil bisa membudidayakan lele di halaman 
rumahnya. Cukup dengan lahan minim, hanya dengan luas 1 meter x 1 meter, serta 
modal Rp 75.000 untuk bibit dan pakan, sudah bisa beternak lele skala kecil," 
kata Nasrudin. 

Dia tak segan-segan membagi pengetahuan memelihara lele secara benar kepada 
mereka yang ingin membudidayakan lele. Dia juga siap membantu mereka yang 
datang menimba ilmu di P4S Gadog tanpa dipungut biaya. 

Sejumlah petugas penyuluh pertanian dan perikanan serta pakar perikanan pun 
mendukung kegiatan Nasrudin membudidayakan lele sangkuriang dan melakukan 
pelatihan. Dukungan ini membuat Nasrudin bersemangat dan bertambah yakin akan 
angan-angannya untuk menjadikan Desa Gadog sebagai sentra budidaya lele 
sangkuriang. 

Bahkan, 7 September lalu, Nasrudin diangkat menjadi Ketua Gabungan Kelompok 
(Gapok) Budidaya Ikan Lele Sangkuriang "Cahaya Kita" untuk wilayah tengah 
Provinsi Jabar dengan pusat aktivitas di wilayah Kabupaten/Kota Bogor.

1,5 juta benih 

Nasrudin yang puluhan tahun sebagai petani padi dan kemudian beralih menjadi 
pembudidaya lele ini, bersama kelompok pembenih lele sangkuriang yang tergabung 
dalam Gapok Cahaya Kita, ingin memproduksi sekitar 1,5 juta benih lele 
sangkuriang setiap bulan untuk memasok anggota kelompok budidaya lele 
sangkuriang yang saat ini berjumlah sekitar 50 orang. 

Dengan produksi benih sebanyak itu, kelompok budidaya/pembesar ikan lele 
sangkuriang diharapkan mampu memenuhi sebagian kebutuhan lele di wilayah 
Jakarta. Adapun kebutuhan lele di wilayah Jabotabek diperkirakan sekitar 75 ton 
sehari. Pemasoknya bukan saja berasal dari petani lele Jabar, tetapi juga dari 
Jawa Tengah. 

"Saat ini boro-boro memasok ke Jakarta, untuk memenuhi kebutuhan konsumen di 
wilayah Kota/Kabupaten Bogor saja kekurangan. Kami peternak lele sangkuriang di 
daerah Gadog dan sekitarnya, meliputi Kecamatan Ciawi, Megamendung, dan 
Cisarua, baru mampu memproduksi sekitar 3 ton per hari dari kebutuhan sekitar 
10 ton," kata "Letkol" Nasarudin. Dari kolamnya sendiri, Nasrudin baru mampu 
memasok sekitar 2 ton per minggu kepada pelanggannya. Lele sangkuriang dijual 
Rp 10.500-Rp 11.000 per kilogram. 

Masa depan budidaya lele cukup cerah. Apalagi, menurut Muhamad Abduh Nur 
Hidayat, anggota staf Ditjen Perikanan Budidaya Departemen Kelautan dan 
Perikanan, ikan lele akan dijadikan komoditas ketahanan pangan. Konsepnya kini 
sedang disiapkan. Ikan lele saat ini sudah digemari oleh kalangan bawah sampai 
atas. Bahkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga sempat mempromosikannya 
dengan menikmati ikan lele di kampung lele Boyolali, Jateng, tahun 2007. 

Andil pedagang tenda pecel lele di Jabotabek dan daerah lainnya cukup besar 
dalam meningkatkan produksi ikan lele. "Sekarang lele juga dijual di restoran, 
bahkan sampai ke daerah Kalimantan Barat yang dulu tak suka ikan lele," kata 
Muhamad Abduh Nur Hidayat, penasihat Gapok Cahaya Kita. 

Lele sangkuriang yang dirilis sebagai varietas unggul oleh Menteri Kelautan dan 
Perikanan Rokhmin Dahuri pada 2004 ini lebih cepat dipanen dibandingkan jenis 
ikan lainnya dan tahan penyakit. Ukurannya lebih besar dibandingkan lele jenis 
lain. Dua bulan sudah bisa dipanen. Rasa dagingnya juga lebih gurih 
dibandingkan lele jenis lain. "Karena itu, tak heran kalau lele sangkuriang 
disukai konsumen," kata "Letkol" Nasrudin.

SUMBER: KOMPAS.com
Senin, 21 Desember 2009 | 10:19 WIB

-----------------------------------------
|a|g|r|o|m|a|n|i|a
Online & Terpercaya Sejak 1 Agustus 2000
MILIS: http://tiny.cc/milis
FORMULIR: http://tiny.cc/formulir
BURSA JUAL-BELI: http://tiny.cc/bursa
KIOS PRODUK: http://tiny.cc/kios
DIREKTORI: http://tiny.cc/direktori
-----------------------------------------


Kirim email ke