Terbuka Lebar Peluang Ekspor dari Budidaya Belut

Penggunaan pestisida pada lahan pertanian yang berlebihan akan mempengaruhi 
ekosistem ikan yang ada disekitarnya, salah satunya adalah belut. Sehingga 
keberadaan belut di alam semakin terancam dikarenakan ketidak seimbangan kita 
dalam merawat alam.

Tetapi, kini tidak perlu khawatir, anda bisa memanfaatkan dengan membudidayakan 
belut sebagai peluang usaha sekaligus menjaga keseimbangan alam. Selain itu, 
keuntungan dalam berbisnis belut adalah besarnya permintaan pasar belut baik 
dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Permintaan ekspor belut dari 
beberapa negara tujuan dapat dilihat ditabel.

Sentra perikanan belut Internasional terpusat di Taiwan, Jepang, Hongkong,  
Perancis dan Malaysia. Sedangkan sentra perikanan belut di Indonesia berada di 
daerah Yogyakarta dan di daerah Jawa Barat. Di daerah lainnya baru merupakan 
tempat penampungan belut-belut tangkapan dari alam atau sebagai pos penampungan.

++++++++++++++++++++++++++++++++
TEMU PELAKU BISNIS IKAN AIR TAWAR KONSUMSI!
Minggu, 31 Januari 2010 (Pkl.09.30 s/d Selesai)
Jangan sampai ketinggalan, daftar sekarang juga di:
http://tiny.cc/acaramania
++++++++++++++++++++++++++++++++

Budidaya Belut sebenarnya tidak sulit dan juga tidak mahal. Masyarakat yang 
memiliki lahan sempitpun dapat memelihara belut. Secara Teknis Budidaya dan 
pemeliharaan belut (monopterus albus) hanya memerlukan perhatian dalam memilih 
tempat/lokasi budidaya, pembuatan kolam, media pemeliharaan, memilih benih, 
perkembangbiakan belut, penetasan, makanan dan kebiasaan makan serta hama.

a. Tempat/Lokasi Budidaya
Pemilihan lokasi bakal pembuatan kolam ditempat yang tidak secara langsung 
terkena sinar matahari, meskipun dapat disiasati dengan pemberian peneduh. 
Disamping itu luas lahan dengan memperhatikan kemiringan dan batas calon kolam. 
Kolam ini dapat diatas tanah atau galian tanah, hal ini tergantung pada luas 
lahan yang akan memudahkan pengamatan, pembangunan konstruksi kolam, seperti 
pintu air, saringan dan lain sebagainya.

b. Pembuatan kolam
Lokasi yang telah ditentukan dengan memperhatikan persyaratan teknis dan jenis 
kolam, baik kolam penampungan induk, kolam pemijahan dan pendederan serta kolam 
pembesaran. Kolam-kolam ini memiliki ukuran tersndiri, pertama, Kolam 
Penampungan Induk berukuran 200 cm x 400 cm x 80 cm, kedua Kolam Pemijahan 200 
cm x 200 cm x 100 cm, ketiga, Kolam Pembesaran 500 cm x 500 cm x 120 cm.

c. Media Pemeliharaan
Kolam budidaya belut menggunakan media pemelihaan sebagai tempat hidup berupa 
tanah/lumpur sawah yang dikeringkan, pupuk kandang, pupuk kompos (sekam/gabah 
padi yang dibusukkan), jerami padi, cincangan batang pisang, pupuk urea dan NPK 
dengan perbandingan kurang lebih sebagai berikut :
Lapisan paling bawah tanah/lumpur setinggi 20 cm.

Lapisan pupuk kandang setinggi 5 cm. 
Lapisan tanah/lumpur setinggi 10 cm. 
Lapisan Pupuk kompos setinggi 5 cm. 
Lapisan tanah/lumpur setinggi 10 cm. 
Lapisan jerami padi setinggi 15 cm, yang diatasnya ditaburi secara merata pupuk 
urea 2,5 kg dan NPK 2,5 kg untuk ukuran kolam 500 cm x 500 cm. Perbandingan 
jumlah pupuk dan luas kolam ini juga dipergunakan dalam ukuran kolam, baik 
lebih besar maupun kecil. 
Lapisan tanah/lumpur setinggi 20 cm. 
Lapisan air dengan kedalaman setinggi 15 cm, yang ditaburi secara merata batang 
pisang sampai menutupi permukaan kolam. 
Seluruh media pemeliharaan ini didiamkan agar terjadi proses permentasi dan 
siap untuk pemeliharaan belut selama kurang lebih dua minggu.

d. Pemilihan Benih
Media pemeliharaan yang sudah lengkap dan siap untuk pemeliharaan, menuntut 
pemilihan bibit belut yang berkualitas agar menghasilkan keturunan normal.

Syarat Benih Belut : pertama, anggota tubuh utuh dan mulus atau tidak cacat 
atau bekas gigitan. kedua, mampu bergerak lincah dan agresif. ketiga, 
penampilan sehat yang ditunjukan dengan tubuh yang keras, tidak lemas tatkala 
dipegang. keempat, tubuh berukuran kecil dan berwarna kuning kecoklatan. 
kelima, usia berkisar 2-4 bulan.
Disamping itu diperhatikan pula pemilihan induk belut jantan dan betina sebagai 
berikut :

Ciri Induk Belut Jantan 
Berukuran panjang lebih dari 40 cm. 
Warna permukaan kulit gelap atau abu-abu. 
Bentuk kepala tumpul. 
Usia diatas sepuluh bulan. 

Ciri Induk Belut Betina 
Berukuran panjang 20-30 cm 
Warna permukaan kulit cerah atau lebih muda 
Warna hijau muda pada punggung dan warna putih kekuningan pada perut 
Bentuk kepala runcing 
Usia dibawah sembilan bulan. 

e. Perkembangan Belut
Belut berkembangbiak secara alami dialam terbuka dan dapat dibudidaya dengan 
perkembangbiakan normal dikolam dengan media pemeliharaan yang memenuhi 
persyaratan. Belut secara lami memiliki masa kawin selama musim hujan (4-5 
bulan), dimalam hari dengan suhu sekitar 28° C atau lebih. Musim kawin ini 
ditandai dengan berkeliarannya belut jantan kepenjuru kolam, terutama ketepian 
dan dangkal yang akan menjadi lubang perkawinan. Lubang berbentuk "U"dimana 
belut jantan akan membuat gelembung busa dipermukaan air untuk menarik 
perhatian betina, namun belut jantan menunggu pasangannya dikolam yang tidak 
berbusa. Telur-telur dikeluarkan disekitar lubang, dibawah busa dan setelah 
dibuahi akan dicakup pejantan untuk disemburkan dilubang persembunyian yang 
dijaga belut jantan.

f. Penetasan
Telur-telur ini akan menetas setelah 9-10 hari, tetapi dalam pendederan menetas 
pada hari ke 12-14. Anak-anak belut ini memiliki kulit kuning yang semakin hari 
akan berangsur-angsur menjadi coklat. Belut jantan akan tetap menjaga sampai 
belut muda berusia dua minggu atau mereka meninggalkan sarang penetasan untuk 
mencari makanan sendiri.

g. Makanan dan kebiasaan makan
Belut secara alamiah memakan segala jenis binatang kecil yang hidup atau 
terjatuh di air. Belut ini akan menyergap makanannya dengan membuat lubang 
perangkap, lubang ini menyerupai terowongan berdiameter 5 cm.

h. Hama belut
Belut jarang terserang penyakit yang disebabkan oleh kuman atau bakteri, namun 
mereka sering kekurangan pangan, kekeringan atau dimakan sesama belut dan 
predator lainnya, sehingga memerlukan air mengalir agar tetap sehat.
Setelah belut berkembang sesuai yang diharapkan, kita harus memperhatikan tata 
cara panen agar belut tidak luka dan tetap segar, baik untuk pasar lokal maupun 
antar daerah dan ekspor. Belut untuk pasar lokal hanya memerlukan ukuran sedang 
dengan umur 3-4 bulan, sedangkan ekspor perlu ukuran lebih besar dengan usia 
6-7 bulan.

Perlakukan pasca panenpun juga harus diperhatikan, baik dalam membersihkan dan 
memperbaiki kolam pemeliharaan serta dilakukan penggantian media yang baru, 
sehingga makanan belut tidak habis bahkan semakin banyak.

Diolah dari berbagai sumber
http://bisnisukm.com/terbuka-lebar-peluang-ekspor-dari-budidaya-belut.html

-----------------------------------------
|a|g|r|o|m|a|n|i|a
Online & Terpercaya Sejak 1 Agustus 2000
MILIS: http://tiny.cc/milis
FORMULIR: http://tiny.cc/formulir
BURSA JUAL-BELI: http://tiny.cc/bursa
KIOS PRODUK: http://tiny.cc/kios
DIREKTORI: http://tiny.cc/direktori
-----------------------------------------


Kirim email ke