Ingat permen pop rock? Kembang gula mirip bulir-bulir beras yang kondang di
kalangan anak sekolah dasar sekitar 2-3 tahun lalu itu menciptakan sensasi
hebat: ketika dikunyah, lidah terasa bergetar. Sensasi serupa, meski
sebetulnya daya getarnya tergolong ringan, muncul saat *Trubus* mencocol
sambal yang diberi buah andaliman *Zanthoxylum acanthopodium* di Desa
Lumbanrau, Kecamatan Habinsaran, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara.

Bergetar? Ya, penduduk setempat menyebut demikian. Sesungguhnya sensasi yang
muncul adalah rasa getir dan pedas. Kombinasi rasa itu mendorong kelenjar
saliva memproduksi liur melimpah meskipun tak sampai menetes. 'Kalau sambal
diberi lebih banyak andaliman, efek getarnya lebih kuat sampai lidah terasa
kelu,' ujar Pasaribu, pemilik 100 pohon andaliman. Efek getar itu
sesungguhnya upaya menahan rasa pedas dari tanaman berbau mint itu.

Nah, sensasi rasa itu yang membuat masyarakat Batak sejak lama menyukai
andaliman. 'Hampir semua masakan batak seperti arsik (ikan mas bumbu kuning,
red) dan sangsang pasti memakai andaliman sebagai bumbu sambal,' tambah
Rusmaida Tambunan, warga Lumbanrau. Menurut William Wongso, ahli kuliner di
Jakarta, andaliman memang memberi citarasa pedas. 'Pedasnya membuat lidah
baal atau kelu,' ujar Wongso.

Sejatinya buah andaliman yang sosoknya mirip lada atau merica: bulat kecil
hijau dan saat tua kehitaman, merupakan rempah. 'Aromanya seperti jamu,'
tambah pemandu acara masak di salah satu stasiun televisi swasta itu. Untuk
menghilangkan bau jamu itu masyarakat Batak biasa menambahkan asam sundai
(sejenis jeruk lemon yang rasanya sangat masam, red). Saat itu aroma lemon
lebih mendominasi.

Buku Prosea *Plant Resource of South East Asia: Spices* menyebutkan daun dan
buah zanthoxylum dipakai sebagai pemberi rasa masakan. Namun tentang spesies
acanthopodium tidak ada keterangan. Demikian pula dalam buku K. Heyne *Tanaman
Berguna Indonesia*. Di sana tidak ada secuil informasi soal andaliman. Yang
paling mendekati anggota keluarga Rutaceae itu kerabatnya Polycias anisum.
Ia disebutkan sebagai pohon kecil sebesar pohon delima. Buahnya memiliki bau
khas seperti adas, tetapi rasa itu cepat hilang.

'Saya tidak tahu seperti apa andaliman itu,' ujar Dr Ir Y Purwanto, ahli
etnobotani LIPI di Cibinong, Bogor. Hal serupa diamini Dr Nurliani Bermawie,
periset di Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (Balittro) di Bogor.
'Tanaman itu belum diteliti di Balittro,' kata alumnus *Reading
University*di Inggris itu. Menurut Gregorius Garnadi Hambali, pakar
tumbuhan di Bogor,
kurangnya informasi tentang andaliman membuat pemanfaatannya tak jauh dari
bumbu dapur masakan batak. 'Tumbuhan itu liar dan terbatas penyebarannya di
Danau Toba dan sekitarnya,' ucap Greg yang belum melihat langsung sosok
andaliman itu.

Titik terang muncul saat pelacakan lewat jurnal-jurnal farmasi. Tumbuhan
yang hidup subur di atas 1.200 m dpl itu mempunyai sifat antibakteri
*Salmonella
typhy*, *Shigella dysentriae*, dan *Escherichia coli*. Sumbernya senyawa
polifenolat, monoterpen dan seskuiterpen, serta kuinon. Selain itu dalam
andaliman terdapat kandungan minyak asiri seperti geraniol, linalool,
cineol, dan citronellal. Yang terakhir disebut Rinawati Simangunsong dari
Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran di Bandung menimbulkan kombinasi
bau mint dan lemon.

Sesungguhnya andaliman lebih terkenal di Asia seperti di China, Jepang,
Korea, dan India. Sebutan kerennya *szechuan pepper*. Prosea menyebutkan
andaliman sebagai tumbuhan asli China. Di negeri Tirai Bambu itu andaliman
dicampur untuk makanan mapo-berkuah. 'Masyarakat Sin Jiang muslim menggerus
andaliman dengan lada, ketumbar, dan garam-semuanya disangrai-lalu dijadikan
cocolan daging panggang,' kata Wongso.

Di Jepang dan Korea andaliman dijadikan hiasan atau dipakai menambah rasa
pedas pada sup dan mi. Masyarakat Gujarat, Goa, dan Maharashtra di India
selalu menyelipkan andaliman sebagai bumbu ikan. Nah, karena banyak yang
menyukainya, andaliman tak hanya dijajakan di pasar tradisional seperti
Pasar Senen di Jakarta Pusat-seharga Rp50.000/kg-tapi ia sudah menembus
negeri Abang Sam. Di sana khususnya di *Asian Food Store*, andaliman dijual
seharga US$14,99 per ons setara Rp140.990/ons.

Andaliman hanya satu dari beberapa bumbu istimewa di tanahair. Masyarakat
Dayak Kenyah Oma Longh Desa Setulang di Kalimantan Timur, misalnya,
memanfaatkan daun tanaman *Pycnarrhena* sp yang berbentuk oval untuk
penyedap rasa. Lantaran rasanya gurih tanaman merambat itu disebut bekey.
'Daunnya ditumbuk lalu dimasukkan dalam sup ikan,' kata Iman, warga
setempat.

Menurut Greg Hambali pemanfaatan serupa dilakukan masyarakat Desa Saripoi,
Kabupaten Murungraya, Kalimantan Tengah. 'Hampir seluruh masyarakat
Kalimantan memanfaatkan genus Pycnarrhena,' kata Greg. Oleh sebab itu
pycnarrhena itu menjadi tanaman wajib ditanam di halaman samping rumah.
Jumlahnya tak banyak, biasanya hanya 2-3 tanaman.

Selain bekey, penyedap rasa lain yang dipakai masyarakat Dayak Benuaq, Kutai
Barat, Kalimantan Timur, adalah kayu bawang *Scorodocarpus borneensis*.
Beralasan lapisan dalam kulit kayu mengeluarkan aroma seperti bawang merah.
Sayang, nasib kayu bawang tak sebagus bekey. Di Kecamatan Kenohan pohon itu
banyak ditebangi untuk diambil kayu dan kulitnya. Andaliman, bekey, dan kayu
bawang memang menjadi bumbu penyedap masakan. Mereka perlu dieksplorasi lagi
agar manfaat lain bisa terungkap. (*Lastioro Anmi Tambunan/Peliput: Imam
Wiguna dan Tri Susanti*)
Harganya cukup mahal dipasaran Riau berkisar Rp. 120.000/kg


****************************************
** BERTAMBAH DAN TERUS BERTAMBAH **
****************************************
Jumlah anggota Agromania Business Club (ABC)
terus bertambah dan berkembang terus dengan 
sangat cepat. Jangan sampai Anda ketinggalan!
Isi formulir di: http://tiny.cc/formulir
Lihat bukti di: http://tiny.cc/direktori
SMS INFO: 0813-9832-9632 
****************************************
GABUNG DI MILIS: http://tiny.cc/milis

Kirim email ke