Direktorat Perikanan Budidaya Departemen Kelautan dan Perikanan, untuk pertama 
kalinya mengekspor 30 ton ikan sidat atau anguilla sp, menuju negara-negara di 
Asia Timur, yakni Taiwan, Korea Selatan, dan Jepang.

Ekspor perdana tersebut dilepas dari Tambak Pandu di Desa Pusakajaya Utara, 
Kabupaten Karawang, Jawa Barat, oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy 
Numberi dan Wakil Gubernur Jawa Barat Wagub Jabar Nu'man A.Hakim, Senin (27/8).

"Kami membutuhkan waktu dua tahun, untuk menemukan formula tepat bagi 
pembesaran ikan sidat. Ternyata, ikan ini tumbuh baik pada suhu 29-31 derajat 
Celsius, dengan tingkat salinitas lima per mil," kata Direktur Jenderal 
Perikanan Budidaya DKP, Made L Nurjana.

Made mengatakan karena teknologi pembesaran ikan sidat telah dikuasai, maka 
secepatnya DKP akan mengembangkan ikan sidat di beberapa daerah. "Telah ada dia 
kawasan yang dibidik investor Jepang, untuk membudidayakan ikan sidat, yakni di 
Kabupaten Karawang, Jawa Barat, dan Likupang, Sulawesi Selatan," ujar Made.

STOP PRESS!!
===============================================
*PELATIHAN LENGKAP BUDIDAYA DAN BISNIS SIDAT!*
*******BAWA 3 ORANG, GRATIS 1 ORANG*******
===============================================
Agromania bekerja sama dengan Direktorat Jendral
Perikanan Budidaya, tanggal 28-29 Maret 2010 akan
mengadakan pelatihan lengkap Budidaya dan Bisnis
Ikan Sidat. Pelatihan juga akan diisi dengan praktek
di pusat budidaya ikan sidat. Pelatihan diisi para
ahli serta pelaku langsung budidaya dan bisnis sidat
paling bonafide. Untuk informasi, hubungi:
0217199660  (telp) atau 0 8 1 1 1 8 5 9 2 9 (SMS)
Dapatkan CD dan 2 DVD Budidaya Ikan Sidat.
===============================================

Ditemui di Karawang, Presiden Presiden Asama Industry, Yoshinori Ito, 
optimistis membudidayakan ikan sidat di Indonesia, untuk memenuhi kebutuhan 
Jepang atas ikan sidat sebagai bahan baku makanan seharga per kilogram antara 
4.000-6.000 yen, setara Rp 350.000 – Rp 450.000.

Dalam setahun, Jepang membutuhkan ikan sidat sebanyak 100.000 ton, dengan hanya 
sekitar 20.000 ton yang diproduksi dari dalam negeri Jepang. "Tiap tahunnya, 
kami mengimpor 80.000 ton ikan sidat, dengan 60.000 ton diantaranya diimpor 
dari China," kata Ito.
Ito berhadap Indonesia dapat menyubtitusi China sebagai eksportir ikan sidat, 
karena ikan sidat produksi China seringkali ada bercak-bercak akibat jamur. 
Padahal, konsumen Jepang menginginkan produk yang sempurna.

Di Indonesia, penyebaran ikan sidat banyak terdapat di perairan barat Sumatera, 
selatan Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, 
pantai timur Kalimantan, Maluku, dan Papua.

Ikan sidat, vertebrata dengan genus Anguilla ini, makan dan tumbuh di perairan 
tawar, namun untuk memijah atau bertelur, mereka kembali ke laut. Bahkan proses 
pemijahan berlangsung di laut berkedalaman 400-500 meter.  (Laporan Wartawan 
Kompas Haryo Damardono)

SUMBER: Kompas.com

===============================================
*PELATIHAN LENGKAP BUDIDAYA DAN BISNIS SIDAT!*
SEGERA DAFTAR SEKARANG DI http://tiny.cc/sidat
===============================================


Kirim email ke