Tahun 2006 merupakan tahun perkenalan pasangan Tri Sugiatno dan Wiwik 
Widiastuti dengan jamur tiram (Pleurotus ostreatus). Namun, hanya dalam waktu 
tiga tahun, mereka berhasil membudidayakan jamur dan mengolahnya menjadi 
keripik sehingga menghasilkan pendapatan jutaan rupiah.

Perkenalan itu dimulai saat Wiwik datang ke acara lomba desa di Kecamatan 
Wungu, Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Di sana, hasil budidaya jamur tiram petani 
menjadi salah satu peserta lomba. Setelah melihat dan mengetahui budidaya jamur 
itu mudah dan murah, Wiwik pun terdorong membudidayakannya.

"Hanya coba-coba awalnya," ujar Wiwik. Latar belakang Tri adalah lulusan 
jurusan mesin Universitas Merdeka, Madiun. Wiwik lulusan jurusan ekonomi 
Universitas Merdeka, Malang. Namun, ketidaktahuan mereka mengenai budidaya 
jamur tidaklah menjadi penghalang. 

U  N  D  A  N  G  A  N
========> ********** <========
Temu Pelaku Bisnis Jamur Konsumsi 2010
Cara Pasti dan Sukses Berbisnis Jamur
Minggu, 25 April 2010 (Pkl.09.30 s/d Selesai)
Tempat Terbatas, Daftar Sekarang Juga di:
http://tiny.cc/acaramania
SMS INFO: 0 8 1 1 1 8 5 9 2 9 
========> ********** <========
|a|g|r|o|m|a|n|i|a 
Online & Terpercaya Sejak 1 Agustus 2000
GABUNG DI MILIS: http://tiny.cc/milis


Dibelilah 200 bag log (campuran bibit jamur, serbuk kayu, bekatul kapur kawur, 
dan pupuk dalam plastik) seharga Rp 300.000. Bag log itu lalu disusun di 
kumbung (rumah jamur) berdindingkan anyaman bambu seluas 42 meter persegi, di 
samping rumahnya di RT 29 RW 3 Jatirogo, Kresek, Kecamatan Wungu, Kabupaten 
Madiun.

Hanya dengan disiram air bersih setiap hari, jamur berwarna putih bertumbuhan 
di setiap bag log. Dalam waktu satu bulan, jamur sudah bisa dipanen. Jamur itu 
terus muncul sampai empat hingga lima bulan berikutnya, sebelum kemudian bag 
log harus diganti baru.

Jamur putih yang dipanen sekitar lima kilogram setiap hari itu lalu dijual ke 
tetangganya Rp 8.000 per kilogram. Tanpa dinyana, mereka tertarik membeli guna 
dipakai membuat sayuran.

Banyaknya peminat itulah yang mendorong Wiwik dan Tri menambah jumlah bag log 
sampai akhirnya tahun 2007 sebanyak 1.000 bag log dibudidayakan di kumbung. 
Hasilnya, setiap hari mereka panen sampai 30 kilogram jamur putih.

Namun, banyaknya jamur putih yang dipanen itu justru membingungkan Wiwik dan 
Tri. Pasalnya, dari 30 kilogram hasil setiap hari, hanya sekitar 5 sampai 10 
kilogram yang bisa terjual. Sisanya, menumpuk di gudang, tak ada pembelinya.

Dari situlah Tri lalu berpikir mengolah jamur tiram menjadi keripik, tetapi 
tidak mudah diwujudkan. Percobaan membuat keripik jamur tiram tidak kunjung 
berhasil. "Ada yang keripiknya melempem, ada yang rasanya enggak enak," kata 
Tri.

Sampai pada percobaan memasak ke-10, Tri dan Wiwik menemukan takaran yang pas. 
Jamur tiram yang digoreng dengan dicampur tepung terasa gurih dan enak rasanya.

Dengan pegangan "resep rahasia" itu, keduanya memasak sekitar lima kilogram 
jamur untuk dijadikan keripik. Ada dua jenis keripik yang dijual, keripik 
berkualitas baik dijual Rp 70.000 per kilogram. Keripik yang nomor dua dijual 
Rp 1.250 per kemasan kecil. 
Keripik jamur tiram awalnya dicoba dijual ke tetangga, warung, dan restoran 
sekitarnya. Awalnya ada penolakan karena sejauh yang mereka tahu jamur bisa 
membuat keracunan. Namun, setelah keripik dicoba dan aman, mereka pun 
membelinya dan menjadi pelanggan tetap.

Permintaan mengalir

Penyebaran dari mulut ke mulut membuat keripik kian dikenal. Awal 2009, 
permintaan bertambah, tetapi produksi jamur tiram terbatas.

"Permintaan datang dari luar Madiun, seperti Banjarmasin, Samarinda, Riau, dan 
Madura. Ada eksportir dari Lumajang yang menawarkan ekspor produk saya. Banyak 
juga tenaga kerja Indonesia yang membawa keripik saya untuk dijual di luar 
negeri," ujar Tri.

Tri pun mencoba bekerja sama dengan 11 petani jamur di wilayah Dungus dan 
Kresek, Madiun. Jamur petani dibeli Rp 8.500 per kilogram ditambah jamur 
budidaya sendiri, Tri dan Wiwik mendapatkan jamur setengah kuintal per hari. 
Jamur dimasak dengan enam penggorengan untuk menghasilkan setengah kuintal 
keripik per hari.

Omzet penjualan keripik sekitar Rp 3 juta per hari. Penghasilan bersih sekitar 
10-20 persen dari omzet, antara Rp 300.000 sampai Rp 600.000. Padahal, tiga 
tahun yang lalu, omzet dari menjual jamur tiram putih hanya Rp 40.000 per hari.

Ternyata jumlah produksi itu belum cukup memenuhi permintaan, terutama seperti 
mendekati Lebaran. "Permintaan naik 100 persen. Butuh satu kuintal jamur tiram 
putih per hari untuk memenuhi permintaan. Hanya separuh permintaan yang 
dipenuhi," kata Tri.

"Budidayanya mudah, murah, dan potensi pasarnya besar, tetapi sayang tidak 
banyak warga yang mengetahui hal ini sehingga ragu membudidayakannya," 
tambahnya.

Karena itu, setiap kali warga atau mahasiswa datang belajar budidaya jamur 
tiram, dia memberikan pelajaran gratis. Biar semakin banyak orang mau menanam 
jamur tiram. Jika pasokan jamur tiram itu terbatas, obsesinya membuat waralaba 
keripik produksinya pun terganjal.

Dia harus berkutat sendiri dengan usahanya karena perhatian Pemerintah 
Kabupaten Madiun, terutama Dinas Pertanian pada pengembangan budidaya jamur 
sangat minim. Padahal, budidaya itu bisa menambah kesejahteraan petani.

"Perhatian pemerintah baru muncul kalau mengadakan acara. Kami diperebutkan 
oleh dinas-dinas yang mengklaim kami sebagai industri binaan mereka," kata Tri 
sambil tersenyum. (A Ponco Anggoro)

SUMBER: Kompas.com
Selasa, 27 Oktober 2009 | 09:12 WIB


Kirim email ke