Tak ada yang percaya dia akan berhasil mengembangkan budidaya jamur. Kuliahnya 
di Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Jenderal Soedirman 
Purwokerto, Bayumas, Jawa Tengah, pun sempat terbengkalai dan baru lulus 
setelah menempuh studi selama enam tahun. 

Bahkan, saat pertama kali memasarkan jamur tiram hasil budidayanya sekitar 15 
tahun silam, tak ada warga Purwokerto yang tertarik. Selain mereka baru 
mengenal sebatas jamur merang, warga mengira jamur tiram adalah jamur yang 
mengandung racun. Tak seorang pun yang berani mengonsumsi jamur itu.

Laki-laki kelahiran Tegal ini tak kehabisan akal. Dia menawarkan dirinya 
sebagai sampel dengan memakan jamur tiram mentah. Calon pelanggannya harus 
membeli jamur tiram yang ditawarkan.

Itulah Taufikurokhman yang dengan gigih merintis usaha budidaya jamur sejak 
duduk di bangku kuliah semester tiga, tahun 1991. Dia yakin betul, budidaya 
jamur bisa mengantarkannya sebagai wirausaha sukses.


U  N  D  A  N  G  A  N
========> ********** <========
Temu Pelaku Bisnis Jamur Konsumsi 2010
Cara Pasti dan Sukses Berbisnis Jamur
Minggu, 25 April 2010 (Pkl.09.30 s/d Selesai)
Tempat Terbatas, Daftar Sekarang Juga di:
http://tiny.cc/acaramania
SMS INFO: 0 8 1 1 1 8 5 9 2 9 
========> ********** <========
|a|g|r|o|m|a|n|i|a 
Online & Terpercaya Sejak 1 Agustus 2000
GABUNG DI MILIS: http://tiny.cc/milis


Didukung 21 kelompok mitra binaannya, kini Taufik setiap bulan dapat memasok 
3,5 ton jamur tiram serta lebih dari 0,5 ton jamur kuping dan jamur merang ke 
Sumatera dan Kalimantan. Harga jamur tiram Rp 10.000 per kilogram, jamur kuping 
Rp 50.000 sampai Rp 60.000, dan jamur merang Rp 18.000 per kilogram. Omzet 
usaha Taufik itu tak kurang dari Rp 55 juta per bulan.

Tak sedikit pula kelompok mitra binaannya yang ikut merasakan nikmatnya bertani 
jamur. Eri Krismiyanto (35) contohnya, yang tak lain tetangga Taufik di 
Kelurahan Pabuwaran, Kecamatan Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas, tak lagi 
beternak ayam. Kandang ayam di belakang rumahnya sudah hampir setengah tahun 
ini digunakan penuh sebagai rumah jamur tiram.

Menurut Eri, dalam sehari dia bisa panen paling sedikit 10 kilogram jamur. 
Dengan manajemen penanaman jamur yang dapat dipanen setiap hari, Eri tak pernah 
putus memanen jamur selama satu bulan penuh.

"Hasilnya jauh lebih baik dibandingkan ternak ayam. Kalau ternak ayam itu, 
selain baunya, kalau terkena penyakit bakal mudah menular ke ternak yang lain," 
kata Eri.

Pengayuh becak

Baru empat bulan ini Taufik juga menggandeng dua paguyuban pengayuh becak di 
Purwokerto untuk ikut mengembangkan pertanian jamur tiram. Untuk permodalan, 
kedua paguyuban ini dibantu melalui dana bergulir dari kelompok pengusaha 
restoran di Purwokerto. Taufik menjadi pembina sekaligus pemasok bibit dan 
media tanam jamur tiram.

Hasilnya pun lumayan. Jamur tiram yang masa tanamnya empat bulan sudah dapat 
dipanen oleh kedua paguyuban itu. "Belum lama ini saya membayar Rp 1 juta untuk 
hasil panen jamur tiram yang mereka pasok ke tempat saya," kata Taufik.

Selain membina kelompok-kelompok petani jamur, Taufik juga menjamin 
ketersediaan pasar untuk penjualan jamur. Dengan demikian, kelompok-kelompok 
binaannya pun tak kesulitan memasarkan produksi mereka. Bahkan sekarang dia tak 
hanya memasok jamur ke Sumatera dan Kalimantan, tetapi juga sedang menjajaki 
pasar di Papua.

"Papua sangat menjanjikan, sama halnya dengan Kalimantan dan Sumatera. Hanya 
kami tunda sementara ini karena permintaan dari Sumatera dan Kalimantan pun 
sudah cukup banyak," katanya.

Sebetulnya, hanya satu angan-angan Taufik saat pertama kali duduk di bangku 
kuliah tahun 1989 silam. Dia hanya ingin menjadi wirausaha di bidang apa pun, 
bukan menjadi pegawai pemerintahan seperti yang diinginkan kedua orangtuanya. 
"Ketika itu, saya melihat banyak kakak angkatan di kampus yang sudah sarjana, 
tapi menganggur. Dari situ, saya berpikir saya harus berwirausaha," katanya.

Bak pepatah pucuk dicinta ulam pun tiba, kakak iparnya yang juga sedang 
menjalani studi di Unsoed melakukan penelitian tentang jamur sebagai tugas 
akhir. Melihat budidaya jamur cukup mudah untuk dipahami dan bahan bakunya bisa 
didapat dari lingkungan sekitar, Taufik ikut mencoba bertani jamur.

Sebagai lahan percobaan, dia meminjam garasi di rumah kakak iparnya sebagai 
rumah jamur. Kali pertama itu, dia mulai dengan membudidayakan jamur merang 
yang sudah lama akrab di masyarakat. Ilmu budidaya jamur tak hanya dia peroleh 
dari hasil penelitian kakak iparnya, tetapi juga dari sejumlah buku.

Konsentrasi ke budidaya jamur, membuat kuliah Taufik sempat terbengkalai. Namun 
hasilnya setimpal, setidaknya dalam kurun waktu 1991 sampai 1994, dia mampu 
membudidayakan jamur merang dan hasil panennya laku dijual di pasar lokal 
Purwokerto.

Baru akhir tahun 1994 dia beralih ke budidaya jamur tiram karena di Banyumas 
ada pengusaha yang melakukan pemasaran jamur merang dengan cara persaingan 
tidak sehat. Tetapi itu kemudian disyukuri Taufik karena dia akhirnya menemukan 
peluang bisnis yang jauh lebih efisien dan menguntungkan.

Dalam pandangannya, segala rintangan tak selalu merugikan, melainkan bisa 
menjadi peluang. Begitu pula saat awal memasarkan jamur tiram kepada warga 
Purwokerto sekitar tahun 1995.

"Saat itu tak ada seorang pun di Purwokerto yang mengenal jamur tiram. Saya 
pikir, ini peluang sangat besar karena tentu belum ada pengusaha yang 
membudidayakan jamur tiram. Dengan begitu, saya pasti bisa menguasai pasarnya," 
tutur Taufik.

Sepak terjang Taufik terkait budidaya dan pemasaran jamur ini terdengar oleh 
Pemerintah Provinsi Lampung. Taufik yang saat itu belum lulus kuliah diminta 
menjadi pembina pertanian jamur dalam program desa percontohan di Provinsi 
Lampung selama lima bulan. 

Karena lebih memikirkan budidaya jamur yang telah dijalaninya dengan para 
petani di Purwokerto, Taufik memutuskan tak lagi memperpanjang kontrak sebagai 
tenaga pembina pertanian di Lampung. "Apalagi saat itu saya bersama beberapa 
petani sedang mengembangkan jamur tiram di Purwokerto. Saya jadi kepikiran 
terus," tuturnya.

Kini Taufik menyediakan diri membagi pengalamannya membudidayakan jamur kepada 
para mahasiswa. Dua tahun belakangan ini dia bahkan sudah dipercaya mengampu 
mata kuliah Kapita Selekta di Fakultas Pertanian Unsoed.

"Sebagai wirausaha, saya tidak mau terkungkung dan pelit membagi pengalaman," 
katanya. (Oleh Madina Nusrat).

SUMBER: Kompas.com
Senin, 22 Februari 2010 | 03:24 WIB


Kirim email ke