Dalam sekejap Warung Jejamuran sudah dipenuhi pengunjung. Senin (9/11) siang itu Dusun Niron, Pendowoharjo, Sleman, Yogyakarta, sedang bergegas memasuki musim hujan.
Ratidjo Hardjo Soewarno (65), pemilik warung, muncul dengan keripik jamur tiram di tangannya. "Silakan coba," katanya ramah. Ketika waktu menunjukkan pukul 14.00, kursi warung yang berjumlah 250 buah hampir penuh terisi. "Setiap hari seperti ini," tambah Ratidjo sembari mengemil keripik jamur. Pengunjung warung yang mulai dirintis tahun 2005 itu boleh diandaikan bagai jamur di musim hujan, terus-menerus bertumbuhan. Bahkan siang itu ada beberapa pengunjung yang mengaku berasal dari Kalimantan dan Jawa Timur. "Kami tertarik makan di sini karena menunya unik," ujar pengunjung lelaki asal Kalimantan yang datang bersama keluarganya. U N D A N G A N ========> ********** <======== Temu Pelaku Bisnis Jamur Konsumsi 2010 Cara Pasti dan Sukses Berbisnis Jamur Minggu, 25 April 2010 (Pkl.09.30 s/d Selesai) Tempat Terbatas, Daftar Sekarang Juga di: http://tiny.cc/acaramania SMS INFO: 0 8 1 1 1 8 5 9 2 9 ========> ********** <======== |a|g|r|o|m|a|n|i|a Online & Terpercaya Sejak 1 Agustus 2000 GABUNG DI MILIS: http://tiny.cc/milis Menu di Warung Jejamuran tidak saja unik, tetapi juga memendam cita-cita mematahkan mitos tentang jamur yang dapat menyebabkan keracunan dan keinginan mengangkat hidup petani dari lingkaran kemiskinan. Ratidjo bersama istrinya, Indaryati (52), tak pernah menyerah bereksperimen sejak tahun 2005 untuk menemukan formula yang tepat mengolah jamur. "Istri saya keinginannya cuma satu, bagaimana menjadikan jamur sebagai makanan sehari-hari," tutur Ratidjo. Cita-cita itu kemudian diwujudkan dalam bentuk mengolah jamur dengan cita rasa menu lokal. Indaryati menjadikan jamur sebagai sate, tongseng, gudeg, pepes, rendang, sup, dan jamur bakar. Menu kini juga berkembang menjadi sup tom yam, jamur renyah, dan telur dadar jamur shiitake. Semua menu lokal yang dicoba Indaryati mulanya hanya disajikan dari rumah ke rumah di sekitar Pendowoharjo. "Kami berjualan dari rumah-rumah sampai puskesmas, sebelum akhirnya membuka warung tenda di Dusun Niron ini," ujar Ratidjo. Tahun 1997 warung tenda milik pasangan ini hancur diterjang angin. Justru itulah yang mengeraskan tekad Ratidjo-Indaryati untuk membangun rumah makan di lokasi yang sekarang. Tak mudah Mengolah jamur dengan cita rasa menu lokal bukan perkara mudah. Tidak semua jenis jamur cocok untuk sate atau tongseng, misalnya. "Kami tidak saja mempertimbangkan seratnya, tetapi juga rasanya supaya pas dengan jenis masakannya," tutur Ratidjo. Indaryati kemudian menemukan bahwa jamur yang cocok untuk dijadikan sate adalah jenis jamur tiram putih, tongseng dari jamur merang, rendang dari jamur kancing, pepes dari jamur shiitake, asam-manis dari jamur tiram abu-abu, gudeg dan lumpia dari jamur tiram merah, bakar pedas dari jamur tiram coklat, sup dari jamur kuping putih, serta tom yam dari jamur kancing dan merang. Temuan bahan jamur ini, kata Ratidjo, harus diolah dengan bumbu yang tepat pula supaya rasanya tidak aneh di lidah konsumen. Keanehan rasa itu harus dihindari benar karena sebagian besar konsumen Indonesia masih teracuni mitos bahwa mengonsumsi jamur bisa menyebabkan keracunan. "Banyak yang belum tahu jamur itu hasil budidaya, bukan ambil di sembarang tempat," tutur Ratidjo. Menu makan siang saya hari itu sate dan tongseng jamur plus minuman Carica Squash. Yang menarik, selain rasanya gurih, sate berbahan jamur tiram putih ini seratnya juga lembut, tidak kenyal seperti sate daging, karena itu sangat mudah dikunyah serta tidak lengket di celah gigi. Lebih enak lagi kalau dikonsumsi dalam keadaan hangat karena aroma jamur lebih terasa. Tongseng jamur racikan Indaryati pun begitu segar dan tentu sehat karena tidak mengandung lemak hewani sebagaimana tongseng kambing. "Makanya banyak yang datang ke sini karena ingin makan sehat, tetapi tidak kehilangan gizi," kata Ratidjo. Sementara Carica Squash diracik dari pepaya yang buahnya kecil yang banyak tumbuh di daerah Wonosobo, Jawa Tengah, ditambah es dan soda. Rasanya unik dan cocok sebagai pembasuh pedas. Sampai sekarang Warung Jejamuran telah menyajikan sekitar 13 jenis jamur olahan dari 20 jamur yang dibudidayakan di sekitar Sleman. Setiap hari Ratidjo paling sedikit membutuhkan 300 kilogram jamur dari berbagai jenis yang dipasok langsung petani lokal. "Kalau produksi petani berlebih, tetap saya serap untuk kemudian diolah jadi keripik jamur, misalnya," kata Ratidjo. Bisa juga, ia berinisiatif menyalurkan produksi petani kepada pasar swalayan di sekitar Yogyakarta. Rumah makan yang buka pukul 08.30-21.00 ini tidak saja menyajikan makanan sehat, tetapi juga berharga murah. Harga makanan berkisar Rp 4.000-Rp 15.000 per porsi. "Yang termahal memang telur dadar shiitake, sampai Rp 15.000 seporsi, karena memang jamurnya berharga Rp 45.000 per kilogram," tambah Ratidjo. Pepes jamur tiram hanya seharga Rp 4.000 per porsi, sedangkan sate jamur, tongseng, dan rendang dihargai Rp 8.000 per porsi. Jika Anda bersantap bersama keluarga, uang Rp 75.000 di saku sudah cukup. Ketika pamit setelah sedikit berkeringat menikmati tongseng jamur yang harum dan sate yang lembut, hujan benar-benar turun. Mungkin itu pertanda petani jamur di Pendowoharjo mulai bertumbuhan setelah Ratidjo-Indaryati mendirikan Warung Jejamuran yang setiap hari menyerap produksi jamur mereka. (Putu Fajar Arcana) SUMBER: Kompas.com Senin, 30 November 2009 | 13:11 WIB

