Jamur merang atau Volvariella volvacea kini kian populer. Para petani pun kian 
bersemangat menanamnya. Karenanya, kebutuhan akan bibit jamur ini cukup besar. 
Adalah PT Agrocendawan Persada di Semarang yang sejak lima tahun silam 
mengembangkan bibit jamur merang.

Menurut Slamet Trismiyanto dari bagian pemasaran Agrocendawan, umumnya petani 
jamur belum mampu memproduksi bibit jamur merang sendiri. Karena itu, kebutuhan 
akan bibit jamur merang hasil pengembangan industri cukup besar.

Agrocendawan mengembangkan bibit jamur lewat teknik kultur jaringan. Prosesnya 
bermula dengan pengambilan spora dari jamur yang kemudian diletakkan dalam 
cawan petri berisi media agar-agar dari kentang yang diberi hormon penumbuh dan 
anti bakteri. Setelah muncul iselium atau serabut kecil, ia dipindahkan atau 
diturunkan ke dalam cawan baru hingga tiga kali penurunan.


U  N  D  A  N  G  A  N
========> ********** <========
Temu Pelaku Bisnis Jamur Konsumsi 2010
Cara Pasti dan Sukses Berbisnis Jamur
Minggu, 25 April 2010 (Pkl.09.30 s/d Selesai)
Tempat Terbatas, Daftar Sekarang Juga di:
http://tiny.cc/acaramania
SMS INFO: 0 8 1 1 1 8 5 9 2 9 
========> ********** <========
|a|g|r|o|m|a|n|i|a 
Online & Terpercaya Sejak 1 Agustus 2000
GABUNG DI MILIS: http://tiny.cc/milis


"Tujuannya agar tumbuh sampai maksimal dengan memakan media baru dalam setiap 
cawan," tutur Slamet. Dari satu spora tadi bisa dihasilkan sekitar 200-600 
bibit dalam cawan petri.

Kemudian, setiap isi cawan petri dipindahkan ke botol bekas saus yang diberi 
media tanam berupa biji-bijian seperti jagung untuk memperbanyak jumlah bibit. 
Dari satu cawan petri bisa dipindahkan menjadi 3.000 botol bibit jamur.

Selanjutnya, bibit dalam botol diturunkan ke dalam media tebar atau log yang 
terbuat dari campuran kotoran kuda yang sudah kering, kapur, dan merang yang 
dimasukkan ke dalam plastik dan dipadatkan.

Bagian ujung log disumbat dengan kapas, dan diikat dengan aluminium foil. 
Setelah baglog disterilkan selama tiga jam dalam suhu 121 derajat, dan 
didinginkan, lalu bagian ujungnya diberi satu sendok bibit bermediakan jagung 
tadi. "Dari satu botol bibit tadi, bisa diturunkan menjadi 20-30 baglog. Bibit 
akan memakan media tebar," sebut Slamet.

Harga jual bibit berkisar Rp 5.000 - Rp 7.000 per baglog. Setiap bulan 
Agrocendawan memproduksi 1.000 - 2.000 baglog. Dari setiap log menurut Slamet 
bisa mengambil keuntungan berkisar Rp 1.200 - Rp 1.700, atau sekitar 25 persen. 
Setidaknya petani membutuhkan 100-120 baglog untuk membudidayakan dalam satu 
kumbung atau satu rumah jamur berukuran 6×4 meter. (Dupla Kartini PS/Kontan)

SUMBER: Kompas.com
Jumat, 9 Oktober 2009 | 07:47 WIB


Kirim email ke