Saya sangat prihatin membaca postingan rekan2 yang sudah pernah kenalan dengan 
penipu !!!.

Kebencian saya terhadap para penipu ini kadang muncul lagi ketika mendengar 
teman2 yang lainpun sependeritaan dengan saya. Terus terang, waktu itu saya 
belum pandai dalam hal usaha, apapun bentuknya. Kecuali hanyalah mengandalkan 
profesionalisme orang lain.

Pertama kali saya belajar usaha atas ajakan seseorang dalam hal pupuk non 
subsidi. Waktu itu saya bersedia mendanai atas dasar kepercayaan, karena 
anaknya adalah teman anak saya.
Sesuai perjanjian, bulan pertama Alhamdulillah lancar. Selanjutnya dia mengajak 
untuk kedua kalinya dalam memenuhi permintaan pupuk yang sama dengan pupuk 
sebelumnya. Saya penuhi lagi, kali ini dengan surat perjanjian kerjasama. 
Selang 2-3 hari, dia datang mengajak saya lagi berusaha dibidang lainnya yaitu 
jual beli spare part. Karena sudah menjalin usaha sebelumnya dan tidak 
bermasalah, saya percaya saja, karena dia terbukti memperlihatkan beberapa PO 
yang dia dapat. Karena ada beberapa pilihan, saya sepakat untuk mengambil yang 
nilainya kecil dulu.
Dari sinilah mulai muncul masalah. Waktu itu dia datang sebulan kemudin (pada 
saat jatuh tempo penagihan), tapi bukan untuk menyerahkan hasil tagihan pupuk 
dan spare part yang memang jatuh tempo tagihannya sama, tapi mengabarkan bahwa  
dana yang ditanamkan di kedua usaha tadi dipake lagi untuk memenuhi permintaan 
pupuk yang ketiga tanpa bersepakat dulu dengan saya, dengan catatan modal yang 
ditanamkan menjadi modal pupuk plus hasil usahanya ditambah modal dari spare 
part plus hasil usahanya.
Dengan rasa dongkol, akhirnya saya menyetujuinya karena dengan dia datang lagi 
ke rumah berarti dia punya itikad baik.
Begitulah rekan yang baik, ternyata jatuh tempo yang dia janjikan mulai 
mundur-mundur. Dihubungipun mulai sulit, dikejar ke rumhanya selalu tidak di 
rumah. Dan ini sudah setahun lalu.
Ah..kalau diingat marah, kesal, dongkol bercampur aduk. Bayangkan !! istri saya 
terus2an marah sampai ketika itu saya hampir tidak kuat untuk diam di rumah 
berlama-lama. Tapi mau apalagi ? Daripada terus2an kesal yang hanya akan 
merugikan diri sendiri, akhirnya saya memutuskan untuk berusaha bersabar sampai 
detik ini.
Tapi ingat !!, Allah maha adil. Tanpa dido’akanpun, dia sekarang dikejar-kejar 
orang. Dan tentu saja tidak ada lagi orang yang akan mempercayainya. 
Keluarganyapun terkorbankan karena ulahnya, dan saat ini istrinya entah kemana.
Memang benar ucapan rekan2 yang lain, bahwa kita harus tetap hati2 dalam setiap 
transaksi, baik dengan orang yang kita kenal apalagi dengan yang belum kita 
kenal.
Mohon ma’af sudah ikutan curhat dan ma'af juga ceritanya panjang..

Salam…

========> ************* <========
Ingin Mengecek Reputasi Mitra Bisnis Anda?
KLIK: http://tiny.cc/direktori
SMS INFO: 0813-9832-9632
========> ************* <========
GABUNG DI MILIS: http://tiny.cc/milis



Kirim email ke