Salam sukses Mantap sekali P. Hendriyanto.. Ada benarnya puisi Bapak soal BB Hanya saja, menurut saya teknologi itu seperti pisau. Bisa buat memotong daging, sayur dan bumbu untuk membuat masakan yang menyehatkan, tapi juga bisa untuk membunuh. Semua tergantung kepada kearifan kita menggunakan teknologi yang ada. BB banyak fitur hiburannya...secara manusiawi..manusia butuh hiburan..tapi kalo hidup hanya untuk hiburan saja..itu sudah tidak manusiawi alias hilang jatidirinya sebagai manusia yang utuh... BB menurut saya banyak juga manfaatnya jika berada pada orang yang arif..mampu memanfaatkan fitur / teknologi yang ada, misalnya kepentingan bisnis yang dituntut OL 24 jam. Bisnis di dunia ini kan gak ada istirahatnya..he he.., makanya BB menyediakan fitur hiburan untuk melepaskan kepenatan setelah beraktifitas kerja.
Jadi, untuk kasus Rokok itu beda sama sekali, karena dari segi apapun sebenarnya tidak ada manfaatnya sama sekali. Kalo orang berdalih..rokok bisa membuat rileks dan buat perasaan perokok menjadi santai..lalu apa bedanya dengan NARKOBA yang juga punya efek saja, tapi kenyataannya di balik itu semua menggerogoti kesehatan pengguna. Narkoba itu berbayaha bagi pengguna, kalo Rokok berdasarkan penelitian dari siapapun menyimpulkan bahwa sangat merugikan orang lain di sekitar perokok..jadi efek kerusakannya double. NOTE: Oya..untuk membedakan Tuhan yang benar dengan tuhan tuhan yang lain, sebaiknya kita mengikuti kaidah penulisan yang benar. Penggunaan T (hurup besar) hanya untuk Tuhan yang kita sembah, kalo untuk tuhan tuhan duniawi, mari kita gunakan hurup t (hurup kecil) agar tidak menimbulkan salah persepsi. Salam prihatin ajah... --- On Sat, 5/1/10, Hendriyanto - <[email protected]> wrote: From: Hendriyanto - <[email protected]> Subject: [apbi] Re: Bls: [OOT] Tuhan Sembilan Senti To: [email protected], [email protected] Date: Saturday, May 1, 2010, 11:22 AM Pak Pras & Pak Handa Sebenarnya kalau kita mau berhati jujur, puisi ini tidak sebatas pada hal merokok.Banyak fenomena baru yg kita tidak sadari, telah menjadikan 'sesuatu' disekitar kita untuk menjadi Tuhan2 kita. Salah satu contoh fenomena baru adalah, ada Tuhan baru lebih modern mungkin lebih dari 9 cm,…..Dimensinya 114 x 66 x 14 mm, berat 133g Di sawah petani main blackberry, di pabrik pekerja main blackberry, di kantor pegawai main blackberry, di kabinet menteri main blackberry, di reses parlemen anggota DPR main blackberry, di Mahkamah Agung yang bergaun toga main blackberry, hansip-bintara- perwira nongkrong main blackberry, di perkebunan pemetik buah kopi main blackberry, di perahu nelayan penjaring ikan main blackberry, di pabrik petasan pemilik modalnya main blackberry, di pekuburan sebelum masuk kubur orang main blackberry. Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi main blackberry, di ruang kepala sekolah…ada guru main blackberry, di kampus mahasiswa main blackberry, di ruang kuliah dosen main blackberry, di rapat POMG orang tua murid main blackberry, di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara main blackberry. Di angkot Kijang penumpang main blackberry, di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding main blackberry, di loket penjualan karcis orang main blackberry, di kereta api penuh sesak orang festival main blackberry, di kapal penyeberangan antar pulau penumpang main blackberry, di andong Yogya kusirnya main blackberry, sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula main blackberry. Di pasar orang main blackberry, di warung Tegal pengunjung main blackberry, di restoran, di toko buku orang main blackberry, di kafe di diskotik para pengunjung main blackberry. Di puskesmas pedesaan orang kampung main blackberry, di apotik yang antri obat main blackberry, di panti pijat tamu-tamu disilahkan main blackberry, di ruang tunggu dokter pasien main blackberry, dan ada juga dokter-dokter main blackberry. Istirahat main tenis orang main blackberry, di pinggir lapangan voli orang main blackberry, menyandang raket badminton orang main blackberry, pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi main blackberry, Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil ‘ek-’ek orang goblok main blackberry, di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok main blackberry, di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok main blackberry. Blackberry telah menjadi dewa, berhala, Tuhan baru, diam-diam menguasai kita. SalamHendriyanto From: prasetya b utama <prasety...@ymail. com> To: a...@yahoogroups. com; kopbi...@googlegrou ps.com; Forum_Tani_Indonesi a...@yahoogroups. com; forum_peternakan@ yahoogroups. com; Indonesia-Young- Entrepreneurship @yahoogroups. com Sent: Sat, May 1, 2010 10:02:10 AM Subject: Bls: [OOT] Tuhan Sembilan Senti Dear Pak Hendriyanto, Terima kasih sharingnya. Saya sangat menyukai karya2 Taufik Ismail yang religius dan indah dalam "mendendangkan" dunia hijau. Kalo ada karya2 yang lain, semisal "Sajak Ladang Jagung" bisa di share juga di sini, Pak. Salam. Pras, --- Pada Sab, 1/5/10, Hendriyanto - <hendriyanto_ 6...@yahoo. com> menulis: Dari: Hendriyanto - <hendriyanto_ 6...@yahoo. com> Judul: [OOT] Tuhan Sembilan Senti Kepada: a...@yahoogroups. com, kopbi...@googlegrou ps.com, agroma...@yahoogrou ps.com, agronursery@ yahoogroups. com, Forum_Tani_Indonesi a...@yahoogroups. com, forum_peternakan@ yahoogroups. com, Indonesia-Young- Entrepreneurship @yahoogroups. com Tanggal: Sabtu, 1 Mei, 2010, 2:22 AM Tuhan Sembilan Senti (Taufik Ismail) Tuhan Sembilan Senti Oleh: Taufiq Ismail Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok. Di sawah petani merokok, di pabrik pekerja merokok, di kantor pegawai merokok, di kabinet menteri merokok, di reses parlemen anggota DPR merokok, di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hansip-bintara- perwira nongkrong merokok, di perkebunan pemetik buah kopi merokok, di perahu nelayan penjaring ikan merokok, di pabrik petasan pemilik modalnya merokok, di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok. Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na’im sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok. Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok, di ruang kepala sekolah…ada guru merokok, di kampus mahasiswa merokok, di ruang kuliah dosen merokok, di rapat POMG orang tua murid merokok, di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok. Di angkot Kijang penumpang merokok, di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok, di loket penjualan karcis orang merokok, di kereta api penuh sesak orang festival merokok, di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok, di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok. Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok. Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita. Di pasar orang merokok, di warung Tegal pengunjung merokok, di restoran, di toko buku orang merokok, di kafe di diskotik para pengunjung merokok. Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan asap rokok, bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok. Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stop-an bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS. Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena. Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok, di apotik yang antri obat merokok, di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok, di ruang tunggu dokter pasien merokok, dan ada juga dokter-dokter merokok. Istirahat main tenis orang merokok, di pinggir lapangan voli orang merokok, menyandang raket badminton orang merokok, pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok, panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola mengemisngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok. Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok, di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok, di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok. Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na’im sangat ramah bagi orang perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok. Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita. Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa. Mereka ulama ahli hisap. Haasaba, yuhaasibu, hisaaban. Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok. Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, kemana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya. Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri. Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal? Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu. Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz. Kyai, ini ruangan ber-AC penuh. Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i. Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok. Laa taqtuluu anfusakum. Min fadhlik, ya ustadz. 25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan. 15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan. 4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan? Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith. Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok. Jadi ini PR untuk para ulama. Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan. Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini. Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka. Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir. Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk. Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas. Lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban narkoba. Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya. Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini. Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini. “IMPORTANT NOTICE This e-mail transmission (including attachment hereto, if any) is intended for the use of the named addressee or authorized recipient(s) . It may contains confidential and/ or legally privileged information otherwise protected by law from disclosure belong to PT. Berlian Sistem Informasi ("BSI"), therefore the authorized recipients shall protect this confidential information with subject to provisions of BSI's policy. Information in this e-mail message that do not relate to the official business of BSI shall be understood as neither given nor endorsed by BSI. If you are not the intended recipient(s) , you are hereby notified that any dissemination, distribution or copying of this e-mail message is strictly prohibited, so please immediately notify the sender and/or delete this e-mail message (including attachment hereto, if any) from your computer appropriately. Thank you. “ -- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "kopbindo" dari Grup Google. Untuk mengeposkan pesan ke grup ini, kirim email ke kopbi...@googlegrou ps.com. Untuk berhenti berlangganan dari grup ini, kirim email ke kopbindo+unsubscrib e...@googlegroups. com. Untuk opsi selengkapnya, kunjungi grup ini di http://groups. google.com/ group/kopbindo? hl=id. -- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "kopbindo" dari Grup Google. Untuk mengeposkan pesan ke grup ini, kirim email ke kopbi...@googlegrou ps.com. Untuk berhenti berlangganan dari grup ini, kirim email ke kopbindo+unsubscrib e...@googlegroups. com. Untuk opsi selengkapnya, kunjungi grup ini di http://groups. google.com/ group/kopbindo? hl=id. [Non-text portions of this message have been removed]

