semoga dapat menyadarkan para penghisap darah.. eh.. penghisap rokok

-----------------------------------------
BURSA JUAL-BELI AGROMANIA
Isi Formulir di: http://tiny.cc/bursa
SMS INFO: 0813-9832-9632 
-----------------------------------------
GABUNG DI MILIS: http://tiny.cc/milis


2010/5/1 Hendriyanto - <[email protected]>

>
>
>
> Tuhan Sembilan Senti (Taufik Ismail)
> Tuhan Sembilan Senti
>
> Oleh: Taufiq Ismail
>
> Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak
> tertahankan bagi orang yang tak merokok.
>
> Di sawah petani merokok,
> di pabrik pekerja merokok,
> di kantor pegawai merokok,
> di kabinet menteri merokok,
> di reses parlemen anggota DPR merokok,
> di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
> hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,
> di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
> di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
> di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
> di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok.
>
> Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi perokok,
> tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.
>
> Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
> di ruang kepala sekolah…ada guru merokok,
> di kampus mahasiswa merokok,
> di ruang kuliah dosen merokok,
> di rapat POMG orang tua murid merokok,
> di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara
> merokok.
>
> Di angkot Kijang penumpang merokok,
> di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok,
> di loket penjualan karcis orang merokok,
> di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
> di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
> di andong Yogya kusirnya merokok,
> sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok.
>
> Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi
> tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok.
>
> Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita.
>
> Di pasar orang merokok,
> di warung Tegal pengunjung merokok,
> di restoran, di toko buku orang merokok,
> di kafe di diskotik para pengunjung merokok.
>
> Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan asap rokok,
> bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur
> ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok.
>
> Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan
> HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita
> disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di
> stop-an bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya
> ketimbang HIV-AIDS.
>
> Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di
> dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
> bisa ketularan kena.
>
> Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
> di apotik yang antri obat merokok,
> di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
> di ruang tunggu dokter pasien merokok,
> dan ada juga dokter-dokter merokok.
>
> Istirahat main tenis orang merokok,
> di pinggir lapangan voli orang merokok,
> menyandang raket badminton orang merokok,
> pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
> panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen
> sepakbola mengemisngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok.
>
> Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
> di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok,
> di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang
> goblok merokok.
>
> Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi orang
> perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.
>
> Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita.
>
> Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
> kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
> Mereka ulama ahli hisap.
> Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
> Bukan ahli hisab ilmu falak,
> tapi ahli hisap rokok.
>
> Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala
> kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, kemana-mana dibawa dengan
> setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya.
>
> Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka
> memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan
> kiri.
> Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang
> sedikit golongan ashabus syimaal?
>
> Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
> Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
> Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
> Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
> Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok.
>
> Laa taqtuluu anfusakum. Min fadhlik, ya ustadz.
> 25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan.
> 15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan.
> 4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?
>
> Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
> Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu,
> sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.
>
> Jadi ini PR untuk para ulama.
> Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya jadi
> dimakruh-makruhkan, jangan.
>
> Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
> Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,
> yaitu ujung rokok mereka.
> Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir.
> Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai
> terbatuk-batuk.
>
> Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120
> orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih
> dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas.
>
> Lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma
> setingkat di bawah korban narkoba.
>
> Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di
> negara kita,
> jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus
> dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya.
>
> Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku’ dan
> sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan
> fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan
> ini.
>
> Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.
>


------------------------------------

GABUNG DI MILIS: http://tiny.cc/milisYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/agromania/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/agromania/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke