Singkong manis VS singkong pahit

Jenis singkong yang ditanam oleh petani terdiri atas 2 jenis singkong, yaitu 
singkong manis dan singkong pahit. Didalam singkong pahit terdapat kandungan 
racun yang sangat kuat yang disebut linamarin dan lotaustralin (methyl 
linamarine).
 Kedua racun ini termasuk kelompok glukosida sianogenik, yang oleh enzim
 linamarase diubah menjadi asam sianida (HCN). HCN bersifat mudah menguap di 
udara, terutama
pada suhu di atas 25°C. HCN juga mudah larut dalam air.
Umbi singkong yang rasanya manis minimal mengandung HCN 20mg/kg umbi segar, 
sedangkan yang pahit bisa mengandung lebih dari 50 kalinya, karena kandungan 
HCN dalam umbi singkong apabila melebihi 50 mg/kg (0,05%) akan menyebabkan 
timbulnya rasa pahit pada singkong. Selain menyebabkan rasa pahit, kandungan 
HCN yang tinggi juga dapat menyebabkan umbi singkong menjadi cepat rusak 
(lunak), ditandai mula-mula timbul bercak-bercak hijau, biru, kemudian coklat 
yang akan semakin meluas pada bagian umbi singkong.
Kandungan HCN dalam konsentrasi
 tinggi dapat menyebabkan keracunan bagi yang mengkonsumsinya (dari mengalami 
mabuk hingga meninggal). Gejala keracunan HCN adalah : mual,muntah, diare, 
sesak napas, apatis kemudian koma, shock.
Kadar HCN paling tinggi adalah pada bagian kulit singkong. Pengupasan kulit 
perlu dilakukan karena justru
dalam kulit ini terdapat HCN dengan konsentrasi mencapai 15 kali lebih
besar dari konsentrasi HCN di dalam daging umbinya; pada daun juga mengandung 
HCN dalam kadar yang rendah.

Jenis singkong berdasar kandungan HCN

 - Singkong tidak berbahaya dg kadar HCN < 50 mg/kg umbi segar yang diparut, 
cenderung rasanya manis (contoh : singkong jenis Adira I, Gading/mentega, 
W-1705, W-1548, Mangi, Valenca, Betawi)
- Singkong agak beracun dg kandungan HCN 50-80mg/kg, rasa agak pahit, aman 
dikonsumsi apabila sudah diolah (contoh : Adira IV, Singapura, Basiorao)
- Singkong beracun dg kandungan HCN 80-100mg/kg, rasa pahit, aman dikonsumsi 
apabila diolah lebih dahulu (contoh : Muara, Bogor)
- Singkong sangat beracun dg kandungan HCN > 100 mg/kg,rasa sangat pahit 
(contoh : Adira II, Tapikuru, SPP, Pengkang, Pucuk biru); perlu metoda 
pengolahan yang tepat agar kandungan HCN turun.

Metoda pengolahan untuk menurunkan kadar HCN

Ada
 beberapa cara pengolahan yang dapat dilakukan untuk mengurangi kadar HCN dalam 
umbi singkong : perendaman dalam air mengalir, perebusan, pengukusan, 
penggorengan, pengsangraian, pengeringan, fermentasi.

Selama proses fermentasi pada pembuatan tepung mocal/mocaf (Metoda RD3-USM), 
kadar HCN dalam tepung dapat turun hingga 60%, karena dalam prosesnya melalui 
perendaman, fermentasi, pengeringan. Dalam proses fermentasi umbi singkong akan 
terjadi pemecahan dinding sel sehingga HCN akan efektif  larut keluar, 
disamping itu pati yang ada dalam sel akan tuntas keluar, serat-serat (sumbu 
umbi) akan melunak, proses liberasi granula pati akan menjadi sangat intensif, 
dimana pati akan mengalami gelatinisasi selama pemanasan pada aplikasi tepung 
(seperti pada pembuatan mie mocal, bakso, roti, dll), sehingga tepung mocal 
sangat baik untuk bahan pangan pada produk-produk pangan semi basah maupun 
kering.

Salam Sukses,

Adi
 S.
BKPA-USM

-----------------------------------------
Cara Mudah dan Cepat  Bergabung di:
AGROMANIA BUSINESS CLUB (ABC)
Isi Form di http://tiny.cc/formulir
-----------------------------------------
MILIS: http://tiny.cc/milis

Kirim email ke