George Soros memandang dirinya sebagai pejuang "open society", suatu konsep dimana keharmonisan hidup antar warga dan antar Negara merupakan cita-citanya. Dilatarbelakangi masa kecilnya yang tertekan pada masa opresi Nazi di Hungaria, Soros di usia tuanya (sekitar 77-78) berupaya membuat legasi dengan mendukung upaya-upaya meningkatkan keterbukaan dan menjatuhkan komunisme dan fasisme di Negara-negara seperti Afrika (Congo misalnya), Cina, dan juga Soviet Union. Salah satu kritisismenya juga ternyata ditujukan kepada Amerika. Sejak Bush melakukan invasi atas iraq, Soros berupaya terus untuk menghalangi terpilihnya Bush ke dua kalinya (walaupun gagal).
Dengan terpecahnya Soviet Union menjadi beberapa Negara kecil (misalnya Georgia yang barusan rame), Soros berupaya untuk membangun Rusia menjadi Negara yang lebih demokratik dengan mengusulkan bantuan semacam Marshall Plan ke rusia. Usulnya ini ditampik mentah-mentah bahkan ditertawai oleh senator dan juga saat itu presiden Clinton. Dalam hal bantuan, tampaknya Marsahll Plan (bantuan pembangunan ekonomi bagi jerman dan Negara-negara lain setelah Perang dunia 2) adalah tinggal SEJARAH. Sedikitpun tidak ada upaya dari Amerika untuk membangun demokrasi melalui ekonomi. Dalam Film "Wilson's War" yang diperankan oleh Tom Hanks, terlihat bahwa Amerika juga bersedia memberi banyak bantuan militer dan senjata pada lascar Afghanistan untuk melawan Soviet Union, tapi disaat perang sudah dimenangkan dan Soviet mundur, Senator Wilson yang meminta dana untuk pengembangan sekolah dan infrastruktur buat masyarakat Afghan malah juga ditertawai. Menurut Soros, perubahan "Kebesaran Hati" dimana Amerika sebagai super power tidak merasa harus membantu Negara-negara kecil dimulai dengan jaman Presiden Reagan dengan kebangkitan "NeoKlasik" teorinya (Pada saat sama Margaret Thatcher di UK). Teori neo-klassik ini memandang kesempurnaan pasar dan harga ekuilibrium dapat tercapai. Semua masyarakat tau berapa nilai perusahaan sebenarnya, alat apa yang paling efektif untuk mencapai return terbaik dan resiko terkecil. Paha mini berpendapat bahwa "KEPENTINGAN BERSAMA/common interest" akan tercapai maksimum jika individu-individu mengejar kepentingannya pribadi. Menurut pendapat ini, tak ada perlunya bagi yang kuat untuk menjaga yang lemah. Teori ini didasari pada asumsi yang salah bahwa pasar akan selalu mengarah pada arah ekuilibrium. Tapi seperti kita lihat sekarang bagaimana situasi subprime kredit US dan kenaikan harga minyak yang gila-gilaan, teori ini tidak sepenuhnya benar. Terlebih lagi teori pasar "invisible hands" ini tidak memiliki desain yang mendukung "KEADILAN SOSIAL/social justice" yang merupakan cita-cita UUD 45. Mekanisme pasar yang efisien dapat mengalokasikan capital dengan baik, tapi tidak mampu mengakomodasi alokasi untuk "KEPENTINGAN UMUM/collective needs" seperti upaya menjaga kedamaian, keadilan hukum, menjaga kelestarian alam, atau bahkan menjaga kelestarian mekanisme pasar itu sendiri. Secara literalnya tanpa diterjemahkan: " . When the Soviet collapsed, the idea of a Marshal Plan for the former soviet could not even be discussed. I raised the subject gain with Robert Soellick, who was a key advisor to George Bush Sr. and he told me that Gorbachev must first break with Fidel Castro. At a Thomas Jefferson anniversary dinner in 1993, I tried to convince President Clinton that Russia was going through a process similar to the one the US faced in Jefferson's time, and that Russia needed and deserved our support, but to no avail. President Clinton stressed competitiveness, NOT GENEROSITY. The emergence of a different attitude from the one that gave birth to Marshall Plan can be identified with the election of Ronald Reagan. I have called it "market fundamentalism" abelief that the common interest is best served by people pursuing their SELF INTEREST. According to this view, the unique responsibility I am talking about does not make any sense: There is no need for the strong to look after the weak. This belief is based on a misinterpretation of the market mechanism. Markets are supposed to tend towards an equilibrium that assures the optimum allocation of resources. But that is not how markets, particularly financial markets, work. They do not tend towards equilibrium and they are not designed to ensure social justice." Soros dikenal sebagai spekulator yang mampu mengalahkan Bank of England dan memaksa UK mengubah kurs GBP terhadap US dollar. Dalam dunia finansial dia terkenal tak pandang bulu tentang uang, namun keakuratan pandangannya terhadap kemungkinan krisis Amerika yang diawali dengan krisis subprime sangatlah mencengangkan. Langkah-langkah dalam upaya filantrophy nya barangkali banyak yang tidak setuju, tapi kelihatannya dia memiliki pandangan yang tepat tentang kondisi pasar finansial dunia. Jadi kalau dia mengatakan pasar itu tidak selalu efisien, maka ada kemungkinan dia memang benar.
