2 petikan EFS dibawah sejalan dengan isi kepala selama ini, ttg kasus Bank 
Century yg melibatkan 2 orang yg secara track record terkenal bersih.

"Seandainya saya dihadapkan pada
pilihan untuk memilih Boediono atau Aburizal Bakrie, pilihan saya
adalah Boediono. Jika pilihan yang tersedia adalah antara Aburizal
Bakrie dan Sri Mulyani, jawaban saya adalah Sri Mulyani."

"Dan seandainya Boediono dan Sri Mulyani
ternyata kemudian terbukti bersalah, dengan menimbang rekam jejak
keduanya, saya menduga kedua orang lurus ini tak kuat menahan arus
politik yang lebih kuat di sekitar mereka."

Sri-Boediono-Yudhoyono
                
                
                 
        
         
      
                
        
        
                
        
        Selasa, 15 Desember 2009 | 09:46 WIB
            
            Izinkan
saya membuat kolom agak personal. Seandainya saya dihadapkan pada
pilihan untuk memilih Boediono atau Aburizal Bakrie, pilihan saya
adalah Boediono. Jika pilihan yang tersedia adalah antara Aburizal
Bakrie dan Sri Mulyani, jawaban saya adalah Sri Mulyani.Berdasarkan
pengetahuan serba terbatas saya mengenai rekam jejak ketiganya,
kredibilitas dan integritas Boediono dan Sri Mulyani lebih meyakinkan.Saya 
mengenal Boediono melalui buku Bunga
Rampai Ekonomi Mikro (Gadjah Mada University Press, 1976) yang saya
baca ketika menjalani tahun-tahun awal perkuliahan di Departemen Ilmu
Politik Universitas Indonesia. Lalu, kami berkenalan secara pribadi
saat sama-sama dilantik sebagai anggota MPR Utusan Golongan, 1 Juli
1998. Selebihnya, kami tak punya interaksi personal.Namun, saya
mengikuti rekam jejaknya sebagai seorang teknokrat yang berperan dalam
pemerintahan Baharuddin Jusuf Habibie, Megawati Soekarnoputri, dan
Susilo Bambang Yudhoyono. Sebelum dikaitkan dengan skandal Bank
Century, saya tak pernah mendengar namanya dihubungkan dengan
kasus-kasus penyelewengan kekuasaan. Saya mengenalnya sebagai pejabat
yang lurus, bersahaja, dan bersih.Ia memang kerap dikritik
sebagai penganut neoliberalisme dan lamban lantaran terlampau
berhati-hati. Namun, menimbang rekam jejaknya, Boediono layak menduduki
jabatan sepenting wakil presiden.MeyakinkanDibandingkan
dengan Boediono, Sri Mulyani jauh lebih saya kenal. Reformasi kerap
mempertemukan kami dalam forum-forum resmi ataupun yang lebih kasual.Sebagai
teman tandem dalam forum-forum seminar, ia adalah pembicara andal,
penuh ilustrasi, cerdas, dan meyakinkan. Diam-diam, saya banyak belajar
hal ihwal ekonomi darinya. Sebagai kolega dalam pertemuan-pertemuan
kasual dengan pejabat publik, ia penuh percaya diri, artikulatif,
senang bicara langsung ke sasaran, dan berpendirian kukuh.Sri
Mulyani kemudian ditunjuk Yudhoyono menjadi Menteri Keuangan dalam
Kabinet Indonesia Bersatu. Saya tak secuil pun meragukan kompetensinya.Terlepas
bahwa sejumlah kalangan tak sepaham dengan pendekatan dan orientasi
kebijakannya, sejarah mencatat bahwa Sri Mulyani mengemban tugasnya
dengan baik. Di bawah kepemimpinannya, Departemen Keuangan melakukan
sejumlah langkah reformasi birokrasi yang konkret. Sebagai menteri, ia
juga dikenal lurus, tegas, dan kukuh dengan sikap-sikap
dasarnya—terlepas bahwa sejumlah koleganya, bahkan Wakil Presiden,
berbeda secara diametral dengannya.Saya pun mengingat Sri
Mulyani sebagai pejabat publik yang kompeten, lurus, tegas, dan
memiliki orientasi jelas. Bagaimanapun, saya akan tetap mengingatnya
dalam konotasi itu kecuali nanti ujung dari proses politik dan hukum
kasus Bank Century mengharuskan saya merevisi ingatan itu.Sementara
itu, dibandingkan dengan Boediono dan Sri Mulyani, saya lebih mengenal
Yudhoyono secara personal. Pertemanan kami dimulai pada akhir 1994
ketika Yudhoyono berpangkat kolonel dan menjabat Asisten Operasi Kepala
Staf Kodam Jaya.Saya segera mengenalnya sebagai pemilik banyak
gagasan besar, tentara pemikir yang senang diskusi, dan seorang yang
punya cita-cita besar untuk Indonesia. Bersama-sama dengan (alm) Agus
Wirahadikusumah dan Agus Wijoyo, Yudhoyono kemudian berperan mengubah
pandangan generik saya tentang tentara. Awalnya, saya berpikir bahwa
tak mungkin ada ruang diskusi dengan para perwira tentara. Ternyata,
mereka bertiga adalah teman diskusi yang menantang dalam spektrum tema
perdebatan yang sangat luas.Jarak politik kemudian terbentang di
antara kami ketika Yudhoyono menjadi presiden dan saya berusaha
bertahan dalam posisi nonpartisan dan melanjutkan ikhtiar memberikan
kritik dan masukan kepada para presiden Indonesia.Kasus CenturyMengemukanya
skandal Bank Century tak serta-merta mengubah pandangan saya tentang
Boediono dan Sri Mulyani. Saya pun tak serta-merta menempatkan
Yudhoyono sebagai terdakwa.Saya tak terbiasa memvonis seseorang atau sekelompok 
orang secara tergopoh-gopoh. Keadilan mesti ditegakkan atas siapa pun.Meski
demikian, sebagai warga negara, saya merasa berhak untuk menuntut agar
skandal ini diusut tuntas dan semua pihak yang bersalah diberikan
sanksi sepadan.Dan seandainya Boediono dan Sri Mulyani ternyata
kemudian terbukti bersalah, dengan menimbang rekam jejak keduanya, saya
menduga kedua orang lurus ini tak kuat menahan arus politik yang lebih
kuat di sekitar mereka.Adapun mengenai Yudhoyono, terus terang
saja saya dibuat makin tak mengerti. Mengapa, dengan modal politik dan
legitimasi yang sebegitu besar, ia semakin terlihat tidak presidensial.
Saya dibuat makin tak paham, mengapa ia selalu terlambat menjejeri
perkembangan politik yang berjalan begitu cepat hari-hari ini.Seandainya
Yudhoyono pun terlibat, tentu saja ia pun mesti menerima sanksi hukum
dan politik setimpal. Saya percaya, penegakan hukum dalam rangka
pemberantasan korupsi harus berlaku adil kepada siapa pun.EEP SAEFULLOH FATAH 
CEO Pol Mark Indonesia
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/12/15/09460023/sri-boediono-yudhoyono



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke