seperti yg pernah disinggung sedikit di milist ini, beberapa waktu lalu.
http://www.tempointeraktif.com/hg/perbankan_keuangan/2010/05/04/brk,20100504-245534,id.html

BI Kaji Redenominasi RupiahSelasa, 04 Mei 2010 | 21:18 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta
- Bank Indonesia tengah mempelajari wacana redenominasi rupiah.
Alasannya, nilai mata uang Indonesia termasuk paling tinggi di dunia.

Kepala
Biro Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Iskandar
Simorangkir mengatakan pecahan mata uang Rp 100 ribu Indonesia hanya
kalah dengan mata uang dong Vietnam yang memiliki pecahan senilai 200
ribu. "Pecahan sebesar ini dinilai tidak efektif dan merepotkan," kata
Iskandar di kantornya, kemarin.

Redenominasi adalah praktek
pemotongan nilai mata uang suatu menjadi lebih kecil tanpa mengubah
nilai tukarnya. Iskandar menilai bahwa mata uang Indonesia idealnya
diredenominasi dengan menghilangkan tiga angka nol. Dia mencontohkan,
uang Rp 1.000 dipotong menjadi Rp 1 sementara uang Rp 10.000 menjadi Rp
10. Nilai uang ini harus dipastikan dapat digunakan untuk membeli
barang yang sama.

Praktek ini berbeda dengan sanering, yakni
pemotongan nilai tukar. Dalam sanering, nilai tukar dikurangi sehingga
nilai uang masyarakat berkurang. "Sanering membuat orang bertambah
miskin, redenominasi tidak," ujar dia.

BI sudah lama mempelajari
dan melakukan riset mendalam mengenai hal ini. BI juga mempelajari
pengalaman negara yang pernah melakukan praktek ini seperti Rumania dan
Turki. Kedua negara tersebut berhasil melakukan redenominasi mata
uangnya meski dalam waktu yang lama.

"Indonesia bisa saja
melakukan redenominasi asal berhati-hati," kata dia. Kondisi
perekonomian dinilai siap, karena berada dalam kondisi yang terbaik dan
inflasi masih rendah.

Ketidaksiapan justru datang dari konsensus
politik dan kesiapan masyarakat. Pengetahuan masyarakat harus disiapkan
agar tidak menimbulkan kepanikan yang dapat berakibat fatal.

Jika
gagal, Indonesia bisa bernasib sama seperti Zimbabwe. Pemotongan nilai
mata uang justru menyebabkan inflasi melonjak hingga ribuan persen.
"Perlu persiapan dalam waktu lama dan harus sangat berhati-hati jika
memang ingin menerapkan ini," kata dia.

FAMEGA SYAVIRA



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke