Dear all,

Kata "jancuk" adalah umpatan khas surabaya. Apa hubungannya dengan nasi
goreng?Kalau kebetulan ke surabaya, mampirlah di Suarabaya Plaza Hotel
(dulu namanya Radisson Hotel, letaknya di samping Surabaya Plaza, Jl
Pemuda) untuk makan nasi goreng "jancuk". Mungkin anda akan mengumpat
juga setelah merasakannya.

salam, yusak

NOTE:
Ada cerita dibalik pembuatannya, sebagai berikut:

Kompas online, Selasa, 14 April 2009 | 09:53 WIB
Kata "jancuk" bukan sekadar kata makian bagi arek Suroboyo, tetapi juga
mengungkap keakraban. Namun, orang pasti mengernyitkan dahi jika ada
makanan diembel-embeli kata-kata umpatan itu.

Nasi Goreng Jancuk, suguhan unik dari Surabaya Plaza Hotel (SPH).
Dinamakan seperti itu bukan hanya karena rasa, porsi dan bumbu, tetapi
karena latar belakang pembuatannya.

Menurut penciptanya, Executive Chef SPH, Eko Sugeng Purwanto, pihaknya
menciptakan nasi goreng ini bermula ketika beberapa hari lalu dia dan
para department head SPH ngumpul bareng di cafe. Karena sedang lapar
berat, maka mereka meminta pada Eko Sugeng untuk membuatkan nasi goreng
yang berbeda dari biasanya.

“Saya benar-benar capek, sehingga sempat mengatakan ‘jancuk, aku sek
kesel’. Tapi, saya tetap membuatkan menu spesial itu,” tandasnya kepada
wartawan di Café Taman SPH. Dan, lalu lahirlah menu berbeda yang
diminta. Meski tampilan seperti nasi goreng biasa, bumbu, porsi, dan
penyajiannya bisa membuat orang misuh khas Surabaya.

Untuk bumbu dia menambahkan sambel terasi dan 20 cabai rawit. Lalu
disajikan di atas selembar daun jati untuk menciptakan aroma berbeda.
“Porsinya benar-benar big size dan bisa untuk 4-5 orang,” tutur Eko
Sugeng.

Tentu saja rekan-rekannya langsung bereaksi melihat menu yang tidak
disangka itu. Terlontarlah kata khas Surabaya itu ketika mereka melihat
porsinya. Mereka mengumpat lagi setelah merasakan pedasnya. “Jancuk,
kok pedes yo,” seru mereka kata itu.

“Dari situ kami memutuskan untuk menamai nasi goreng ini. Kami melihat,
di Surabaya baru kami yang menggunakan nama ini,” tukasnya.

General Manager SPH, Yusak Anshori mengutarakan, pihaknya tidak
khawatir akan dicerca orang lain dianggap menggunakan kata tidak sopan.
Menurutnya kata itu sudah menjadi tanda keakrabaan bagi arek-arek
Suroboyo dan Jatim. “Kalau diucapkan secara pas dan nadanya tepat,
sebenarnya bukan kata makian,” katanya.


_______________________________________________
Ait-indo mailing list
[email protected]
https://listserv.ait.ac.th/mailman/listinfo/ait-indo

Kirim email ke