Mas Gatot,
Keberanian menteri kesehatan lebih baik dari saya, mengingat beliau 
berkedudukan sebagai menteri dan rawan serangan politik serta membawa nama 
negara. Bisa dibayangkan jika pernyataan ibu menteri tersebut tidak akurat, 
membikin sewot USA dan Australia ??? Seorang advokat Iming paling tutup kantor 
advokatnya dan bekerja pada lawfirm besar lagi, jika pernyataan atau 
tindakannya adalah salah atau tidak akurat, atau bikin sewot pihak tertentu 
yang powerful.

Keberanian mestinya sudah dilandasi oleh pengertian dan keyakinan yang kokoh, 
supaya tidak dianggap pahlawan kesiangan atau sok tahu atau asal bunyi.

Kita dijajah disepelekan karena masih memakai budaya mikuldhuwur mendekhel ning 
jero, SUKA MENGHALUS-HALUSKAN DAN MENUTUP-NUTUPI dan harus mengusir penjajah 
dengan cara mengusir budaya lama, feodal, dan kontra produktif, DARI PIKIRAN 
KITA SEMUA bagi kepentingan bangsa di era persaingan global ini.

Salam,

Iming Tesalonika

----- Original Message ----
From: Gatot Sugiono <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Friday, March 14, 2008 8:23:13 AM
Subject: RE: [IAAIMI] Patroli Polisi lebih baik dari supir taksi ?


Mas Iming…
Mungkin Polisi itu belum nyampek ilmunya bahwa apa yg mereka lakukan 
berbahaya…., bisa mati krn CO.
Tapi saya salut kpd Mas Iming yg dgn tulus, iklas dan berani membangunkan 
Polisi itu…, jarang lhooo… yg demikian…, ini kalau dalam ESQ namanya panggilan 
hati….go head…, thank..
 
Wass
Gatot Sugiono
Siti Fadilah Supari: Kita Dijajah Karena Suka Menghalus-haluskan
 
 
Ucapannya selalu blak-blakan. Soal flu burung, misalnya, tanpa sungkan-sungkan 
ia menuding, sejumlah negara telah memanfaatkan virus yang disimpan di 
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk dijadikan vaksin. Bahkan tak tertutup 
kemungkinan dikembangkan menjadi senjata biologis.

Dia yang biasa bicara terus terang itu adalah Siti Fadilah Supari, Menteri 
Kesehatan (Menkes) RI. Wanita kelahiran Solo, Jawa Tengah, 59 tahun lalu, ini 
merasa yakin dengan apa yang dia sampaikan, meski hal itu mengundang 
kontroversi. Entah itu soal Askeskin, flu burung, maupun susu formula.

"Saya hanya ingin bersikap jujur, tidak bohong," katanya kepada wartawan Gatra 
Syamsul Hidayat dan Aries Kelana, serta pewarta foto Tresna Nurani S. Widada 
dan Yongki Handianto, ketika dua kali bertandang ke rumah dinas Siti Fadilah di 
Kuningan, Jakarta Selatan. Petikannya:

Susu formula yang terkontaminasi bakteri Enterobacter sakazakii menjadi ramai 
dibicarakan setelah ada pernyataan Anda.
Isu itu pertama ada pada Badan POM. Saya mendapat laporan, ada penelitian bahwa 
ada bakteri di dalam susu. Itu membuat keresahan. Memang sengaja dibuat resah 
oleh seseorang. Saya tahu persis siapa orangnya, karena sebelumnya dia 
mengancam lewat SMS: "Saya akan mem-blow up soal ini." Saya tahu isu itu 
sengaja dibuat karena menggunakan data penelitian tahun 2006.

Siapa orang itu? 
Tidak mungkin saya sebutkan. Yang jelas dari dalam negeri, tapi yang tidak suka 
pada pemerintah.

Apa alasan Anda sampai berkesimpulan bahwa itu rekayasa?
Saya ini kan peneliti. Dokter jantung yang peneliti. Jadi, kalau mencermati 
penelitian, itu bisa sangat cepat. Dari kesan saja, menurut saya sebagai 
peneliti --bukan sebagai Menkes-- itu tidak pas. Sebab 22 sampel itu tidak 
cukup representatif untuk menggambarkan persentase tercemarnya susu di 
masyarakat.

Kata Badan POM, penelitian itu sebenarnya untuk membuat suatu kit yang dapat 
mendeteksi bakteri tersebut. Namun pihak yang mem-blow up sengaja membuat kesan 
bahwa itu untuk menunjukkan persentase pencemaran susu yang beredar. Masyarakat 
jadi panik. Mereka mengira, 20% susu yang beredar mengandung bakteri tidak 
menguntungkan.

Dari kasus itu, kelihatan Anda sering mengeluarkan pernyataan yang terlampau 
berani.
Semua orang bilang, saya terlalu berani.

Ada yang menuding Anda sok pahlawan?
Kalau nasionalis, iya. Saya adalah musuh di mata orang kapitalis. Saya adalah 
coro (kecoak) di mata kolonialis. Tapi mungkin di mata nasionalis, saya adalah 
teman, bukan pahlawan.

Jarang ada menteri seberani Anda. Adakah yang membekingi Anda?
Nggak, tuh. Aku cuma takut sama Allah. Aku anaknya kiai. Sedari kecil, kalau 
aku ketahuan bohong, dihukum. Kalau aku bohong, suatu saat pasti orang akan 
tahu. Aku tidak mau seperti itu.

Keberanian Anda berkomentar menimbulkan kesan, seperti yang disebut-sebut media 
asing, bahwa Anda seperti preman.
Saya ingin mengajari bangsa ini. Yang terjadi sekarang, orang yang berbohong 
malah yang bisa diterima. Banyak orang terpaksa berbohong hanya karena ingin 
disukai. Ketika omong apa adanya, justru dibenci. Tapi saya tidak begitu. 
Biarlah mereka tidak senang terhadap saya, yang penting saya jujur ngomong apa 
adanya.

Tapi, dalam soal kehati-hatian?
Perkara itu dianggap tidak hati-hati atau tidak, tergantung hati saya. Tapi 
saya sudah hati-hati. Saya bilang bahwa penelitian itu memang tidak untuk itu.

Dalam buku Anda, Amerika Serikat dan Australia disebut-sebut sebagai negara 
yang mencuri virus flu burung asal Indonesia. Apakah ini bukan cermin 
ketidakhati-hatian?
Nggak. Itu memang yang terjadi. Pada waktu saya di-blow up Australia, (ditanya) 
apakah Anda mengatakan bahwa Australia mencuri virus Anda. Itu pada awal tahun 
2007. Saya jawab, "Something like that." CSL, perusahaan swasta Australia yang 
membuat virus strain Indonesia, pasti mencuri dari saya. Tapi saya tidak tahu 
dia mencuri dari mana. Paling itu dari WHO, sehingga saya mengatakan something 
like that. Kalau saya dikatakan menuduh, ya!

Sebagai menteri, Anda perlu menjaga kebijakan hubungan luar negeri dengan 
negara lain.
Nggak apa-apa to. Nyatanya menang. Sebenarnya posisi saya di situ bukan cuma 
sebagai Menkes, tapi sebagai leader dari negara berkembang yang selama ini 
dijajah terus. Kita sebenarnya dijajah karena suka menghalus-haluskan. 
Misalnya, utang dibilang bantuan. Orang miskin dibilang prasejahtera. Defisit 
anggaran dibilang anggaran berimbang.

Dalam buku itu, Anda menuduh Amerika. Apakah ada bukti bahwa Amerika membuat 
vaksin dan virusnya akan dipakai untuk senjata biologis?
Bukti langsung sih tidak. Secara eksplisit, itu tidak ada. Sebenarnya sudah 
menjadi rahasia umum. Ada bukti secara tidak langsung menuju ke arah sana. Kita 
punya pengalaman soal cacar.

Bagaimana latar belakang WHO meminta Indonesia mengirimkan virus? 
Virus itu diminta untuk diagnosis, untuk mengetahui, misalnya, bahwa ternyata 
virus itu masih bersifat hewan ke manusia, bukan manusia ke manusia. Itu buat 
diriset dan dipublikasikan barangkali. Tapi bukan untuk dibuat jadi vaksin. Dia 
(WHO) tidak pernah ngomong selama 60 tahun ini bahwa itu dipakai untuk membuat 
vaksin dari virus orang-orang dari negara berkembang.

Apa kekhawatiran Anda?
Yang membuat vaksin itu adalah pabrik-pabrik di negara kaya. Kalau di negara 
miskin ada yang sakit, negara kaya malah panen virus dan membuat vaksin. Ya, 
lama-lama ingin memanen terus. Perdagangan vaksin itu mencapai ratusan milyar 
dolar. Yang miskin sakit terus, yang kaya makin kaya. Pada 26 Desember 2006, 
saya menyetop pengiriman virus flu burung karena mereka tidak fair.

Lantas, bagaimana mekanisme seharusnya?
Adil. Artinya, yang mengirim virus punya hak atas virus, kendati virus itu 
sudah direkayasa menjadi seed virus. Seed virus adalah virus yang telah 
dipisahkan atau dimurnikan. Juga virus yang bisa diubah-ubah, apakah mau 
dilemahkan, diganaskan, atau diubah sifatnya.

Maksud Anda, yang adil bagaimana?
Kalau mengirim virus, saya punya hak berapa atas seed virus. Saya punya hak 
berapa kalau dibuat vaksin. Lalu transparan, seed virus itu akan dikemakan.

Manfaatnya apa?
Kalau terjadi pandemi atau kejadian luar biasa di negara miskin, negara miskin 
tidak makin miskin karena membeli vaksin. Negara itu akan mendapat bagian 
keuntungan dari vaksin.

Upaya apa yang Anda lakukan untuk itu?
WHO mengakui bahwa mekanisme selama ini tidak adil dan tidak transparan. Mereka 
harus membuat sistem yang adil dan transparan. WHO juga harus membuat tim kerja 
kecil yang melibatkan Indonesia untuk membuat mekanisme itu. Sekarang dalam 
proses. Satu lagi dengan material transfer agreement (MTA). Menurut MTA, kalau 
virus itu keluar dari negara ini dan dipakai, yang memakai harus mengajukan 
izin kepada negara yang mengirimkan.

Mengapa setelah setahun, Indonesia mengirimkan lagi virusnya?
Karena sudah ada deal dengan WHO dan Amerika Serikat. Saya menunggu kejujuran 
mereka. Kalau ternyata mereka melanggar, kami tidak akan mengirimkan lagi 
virusnya.

Langkah lain Anda?
Laboratorium yang ada di sini akan dibesarkan. Kami berani begitu karena 
menang. Kami akan membuat laboratorium flu burung. Ada dua laboratorium, salah 
satunya di Lembaga Eijkman.

Bagaimana soal Askeskin?
Saya buat mekanisme baru. Kalau itu saya buat, dan saya kemudian untung, orang 
boleh curiga. Tapi mekanisme itu tak menguntungkan saya. Saya cuma ingin 
menyelamatkan program Askes yang saya galakkan pada saat saya jadi menteri baru 
tiga hari. Juga menyelamatkan uang negara agar betul-betul untuk si miskin.

Ada apa dengan PT Askes?
Selama ini, uang negara dititipkan ke Askes. Tapi terjadi mismanajemen yang 
kebangetan dari Askes, sehingga terjadi penggelembungan Rp 1,17 trilyun. Mulai 
kepesertaan hingga klaim tagihan rumah sakit. Saya sudah mengirim laporan ke 
BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan) sebelum berkomentar. Jadi, 
saya tidak ngawur.

Banyak persoalan yang Anda hadapi di masa mendatang. Salah satunya, pasar bebas 
AFTA.
Pemerintah memang membuka rumah sakit asing. Tadinya boleh 100% dimiliki asing. 
Namun, setelah saya berdiskusi dengan Menteri Perdagangan Mari E. Pangestu, 
akhirnya 65%: 35%. Demikian juga untuk perusahaan-perusahaan obat. Kalau kita 
tidak bisa mengendalikan, itu berbahaya.

Kenapa tidak melonggarkan aturan promosi untuk rumah sakit lokal?
Rumah sakit asing pun tidak boleh berpromosi. Hanya saja, orang kita gampang 
terpengaruh. Menganggap yang dari asing itu yang terbaik. Padahal, di situlah 
kita akan kehilangan jati diri.

Bagaimana pula dengan obat rakyat?
Banyak yang salah tangkap. Dikiranya obat yang harus melalui resep dokter, 
padahal itu obat OTC (obat bebas). Obat itu masih jalan. Obat itu bertujuan 
agar obat-obatan generik dan generik bermerek turun harganya. Ternyata benar. 
Sejak Indonesia merdeka sampai sekarang, baru bisa sekali ini diturunkan. 
Selama ini, harga obat terus naik.

Tapi, mengapa banyak obat yang hilang dari pasaran?
Saya sekarang punya pegangan dua peraturan presiden (perpres). Yaitu Perpres 
Nomor 94 dan 95 Tahun 2007. Di situ, orang di daerah bisa membeli langsung ke 
pabrik. Nggak usah melalui distributor pun boleh. Dihalalkan. Tapi dengan izin, 
dan yang menentukan itu Menkes. Menkes punya hak sesuatu bila obat hilang di 
pasaran.

[Laporan Khusus I, Gatra Nomor 17 Beredar Kamis, 6 Maret 2008] 
http://gatra.com/artikel.php?id=113011


      
____________________________________________________________________________________
Looking for last minute shopping deals?  
Find them fast with Yahoo! Search.  
http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping

Kirim email ke