wah rekan Iming sudah kenal pewayangan sekarang ya, coba tanya juga siapa sih guru Arjuna itu? dan dalam keadaan apa dan bagaimana gurunya itu digugu dan selalu ditiru, dan bagaimana kalau kita omong-omong pewayangan, rasanya yang diwejang itu kebayakan pemimpin, bukannya sekarang pemimpin itu, ada yang naik panggung karena kudeta tetapi karena entah pakai ilmu apa lama-lama kebayakan rakyatnya banyak seneng lantaran bisa makan dengan mudah, walau keadaan negara untuk jangka panjang dan lain-lain tidak dipikirkan. Maksud saya sih perlu juga dikasih tahu dan bagaimana sikap dan tanduk dari para rakyat yang seharusnya diperbuat dan sampai batas yang bagaimana musti bersabar atau menerima keadaan untuk dan demi pemimpin?, ngajar sedikit orang lebih mudah dari ngajar banyak orang?????!.
----- Original Message ----- From: iming tesalonika To: po po Cc: [EMAIL PROTECTED] ; ad ad ; ad ad ; akhi akhi Sent: Wednesday, May 21, 2008 2:35 PM Subject: [PERADI] Hasta brata HASTA BRATA for everyone Acap kali, saat memberikan konsultasi kepada banyak pengusaha muda, kebanyakan dari mereka punya satu penyakit yang gejala-nya hampir sama. Kebanyakan dari mereka, mulai berusaha dengan modal kecil, dan otomatis hanya dikerjakan sendiri, atau paling banter cuma nambah satu asisten. Lalu perusahaan tumbuh sangat cepat, dan pegawai bertambah cukup banyak. Timbulah masalah. Politik kantor muncul beragam. Intrik saling bersenggolan. Dan pribadi-pribadi tertentu mulai menampakan ego. Kalau tidak kuat, maka kepemimpinan sang pengusaha terancam dikudeta. Maka pertanyaan yang muncul, "apa sih resep kepemimpinan yang sederhana tapi manjur ?" Begitu kebanyakan dari mereka bertanya kepada saya. Sebenarnya gaya memimpin datang dari pengalaman sehari- hari. Sesuatu yang selalu bertambah. Terakumulasi. Hanya saja apa yang bertambah itu harus menjadi yang membuat orang bertambah bijak. Mirip proses menabung. Sedihnya, banyak pemimpin terkadang teledor dalam proses ini. Sehingga ia gagal bertambah bijak. Beberapa hari yang lalu, saya bertemu dengan seorang Bankir senior. Beliau bercerita tentang HASTA BRATA. Sebuah wejangan kuno dari perwayangan. Konon menurut cerita, ketika Raja Rama meninggal, tersebar kabar, bahwa mahkota beliau yang memiliki 8 permata telah hilang. Semua orang jadi sibuk mencari. Termasuk Arjuna. Dan dalam pencarian yang sia-sia, akhirnya Arjuna memberanikan dirinya bertanya kepada gurunya, agar diberikan wangsit untuk kemana mencarinya. Sang guru lalu tertawa, dan menjelaskan bahwa 8 permata itu cuma simbol belaka. 8 permata itu disebut HASTA BRATA, yaitu hasta = delapan dan brata = langkah . HASTA BRATA, merupakan 8 langkah bagaimana seorang pemimpin harus bertindak. HASTA BRATA terdiri dari 8 simbol alam yang menyiratkan 8 prinsip kepemimpinan: 1. Surya atau matahari. Matahari adalah sumber kehidupan di bumi. Seorang pemimpin harus menjadi titik api yang sama. Dialah sumber inspirasi, semangat dan motivasi bagi para pengikutnya. Sang pemimpin juga harus selalu adil. Seperti matahari yang menerangi semua orang tidak peduli kaya atau miskin. Semuanya diperlakukan adil dan sama rata, tanpa diskriminasi. 2. Chandra atau bulan. Seorang pemimpin yang diteladani, justru disaat krisis dan masa-masa sulit harus bisa menjadi bulan. Yaitu pemimpin yang mampu memberikan pencerahan di kala gelap, memberi petunjuk dan arah untuk keluar dari kemelut, memberi solusi pada setiap permasalahan dan bila perlu menjadi orang yang mendamaikan konflik. 3. Kartika atau bintang. Bintang adalah simbol yang maha kuasa dan maha pencipta. Dari-Nya-lah kita semua berawal dan kepada Dia pula kita berpulang. Seorang pemimpin harus tahu dimana dia berdiri, dan tidak boleh merasa ditinggikan dan setara dengan Tuhan. Walaupun demekian, ia harus tetap menjadi bintang teladan dan panutan. 4. Bumi. Ini adalah simbol kesabaran dan kesuburan. Bumi menawarkan kesejahteraan bagi seluruh mahkluk hidup yang ada di atasnya. Hanya mereka-mereka yang sabar akan bertahan hingga akhir. Biarlah orang lain memperlihatkan sifat-sifat jahat mereka. Tetapi seorang pemimpin yang selalu sabar akan mampu menghadapi segala tantangan apapun juga bentuknya. Seorang pemimpin yang membumi, selalu tegas, konsisten, tak tergoyahkan tetapi tetap sederhana. 5. Geni atau api. Api adalah simbol hati-hati, dan penuh perhitungan. Seorang pemimpin harus tegas, dan tidak boleh plin- plan. Hal ini bisa dicapai kalau beliau secara teliti, hati-hati dan penuh perhitungan, mengkalkulasi setiap keputusan yang diambil. Sehingga keputusan itu akan tampil mantap dan bijaksana. 6. Banyu atau air. Tanpa air yang murni dan bersih, tanaman tidak akan tumbuh subur. Seorang pemimpin yang bijak harus bisa menjadi air, memberikan inspirasi kepada semua orang yang ia pimpin dan memperjuangkan semua aspirasi pengikut dan pendukungnya. 7. Maruto atau angin. Inilah simbol demokrasi. Seorang pemipin harus mampu menembus semua celah tatanan masyarakat. Bagaikan angin, ia mampu berhembus kemana saja, dan bergaul dengan siapa saja. Mulai dari pengemis, hingga pangeran. Mau merendahkan diri dimana saja dan kepada siapa saja. Belajar dari mereka dan menyebarkan ilmu kemana- mana. 8. Samudra atau laut lepas. Semua sumber air dan sungai akan berakhir di samudra luas. Artinya seorang pemimpin yang menganut HASTA BRATA, harus menjadi muara bagi semua pengikut dan pemimpinnya. Mengayomi mereka semua dan satu kesatuan. Disinilah samudra juga menjadi simbol kreatifitas dari seorang pemimpin dalam memberdayakan semua pengikutnya. Hanya dengan pemberdayaan yang pas, mereka akan menjadi ombak yang perkasa.

