Rekan2,
Mestinya tersangka dan tertahan di polda metro tidak bisa disejajarkan begitu 
saja dengan ex presiden, cucu pendiri NU, yang namanya tertera menjadi nama 
jalan utama di jalan strategi jakarta.
Perbandingan antara keduanya mestinya adalah hanya dalam rangka lelucon belaka, 
dan dalam rangka keterbukaan ekspresi, dan bukan untuk diamini bahwa gus dur 
adalah manusia yang lebih rendah dari rizieq.
Buku yang dibaca Gus Dur jauh lebih banyak dari Rizieq, dan sumbangan pikiran 
Gus Dur jauh lebih bermutu dari Rizieq. GUS DUR TIDAK BOLEH DAN TIDAK BISA 
DISEJAJARKAN APALAGI DIVERSUSKAN DENGAN CALON TERPIDANA KEKERASAN RIZIEQ.
Ingat, dengan alasan apapun cara kekerasan dengan alasan apapun (cara FPI) 
menunjukkan bahwa pemimpinnya tidak lebih baik dari bangsa arab jaman jahiliah. 
dan, cara FPI berhasil menunjukkan ke dunia bahwa (i) negara NKRI tidak lebih 
baik dari dinasti suku-suku arab jaman jahiliah, yang suka perang antar suku 
ribuan tahun lalu, (ii) sebagian bangsa Indonesia di jaman modern dan abad 
informasi ini tidak lebih baik dari manusia di timur tengah 2000 tahun lalu. 
Jadi, sebagian bangsa Indonesia belum berevolusi wajar mengikuti perkembangan 
jaman (masih dekat dengan manusia purba, bangsa primitif yang suka kekerasan 
dan tahyul serta mistik...red). 
Negara sekular dan modern (US, UK) telah berhasil mensistematiskan 
pengalokasian kewenangan upaya paksa (baca: kekerasan) supaya hanya boleh ada 
pada pihak berwajib tertentu, sebagaimana diatur dalam UU yang sah, serta 
proses politik yang sah. Kita (pemimpin RI) belajar dan sudah meniru 
banyak dalam tata cara pengalokasian kewenangan menggunakan kekerasan (upaya 
paksa) untuk hanya ada pada pihak tertentu saja (polisi..red), dan itupun 
polisi akan dituntut pertanggungjawabannya secara terbuka dan akuntabel.
Bahwa polisi masih doyan sogokan, dan lebih suka disebut sebagai pihak 
berwenang (hanya bekerja kalau buah dari tindakan kewenangannya menghasilkan 
duit) dari pihak berwajib (ada tidak ada duit, wajib kerja melayani 
masyarakat), itu adalah masalah paradigma bangsa tradisional yang sedang 
belajar menjadi bangsa modern yang sadar hukum.

Salam NKRI,
Iming Tesalonika
Advokat yang senang dengan paradigma baru dan tertib pikiran penegak hukum 

----- Original Message ----
From: Agus Herry Sugihantoro <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, June 10, 2008 5:20:02 PM
Subject: [alumni-sma1jkt-85] FW: HABIB RIZIEQ VS GUS DUR


Bedanya Habib Riziq dg Gus dur.... 


      

Kirim email ke