Rekan Harry Ponto, Pertanyaan rekan Harry di bawah dalam milis advokat beberapa hari lalu patut direnungkan kita bersama, yaitu ETIKA. Pertanyaan pengantar: 1. Apakah Etika itu ? 2. Apa beda etika dan aturan hukum ? 3. siapa yang berwenang menetapkan standar etika ? 4. siapa yang berwenang memelihara/menegakkan standar etika ? 5. Untuk apa standar etika diadakan ? 6. pada saat apa saja standar etika dikedepankan dari standar aturan hukum ? 7. bagaimana menetapkan bahwa seseorang melanggar etika ? Mengingat rekan Harry Ponto adalah ahli hukum, Advokat serta juga sekjen PERADI, tentu jawabannya bisa bermacam-macam tergantung dari kedudukannya yang dikedepankan dalam berdiskusi. Silahkan rekan Harry Ponto menjelaskan/menjawab tujuh pertanyaan diatas tersebut, untuk kemudian dapat ditanggapi oleh siapa saja yang berminat kepada upaya perbaikan tata interaksi dalam rangka membangun kerja sama yang baik bersama-sama. Salam, Iming Tesalonika Advokat yang senang berdiskusi dan membangun tata interaksi yang baik
----- Original Message ---- From: osmar sinurat <[EMAIL PROTECTED]> To: [EMAIL PROTECTED] Sent: Sunday, July 6, 2008 8:07:21 PM Subject: [Advokat-Indonesia] Re: Lawyer bule dan penegakan RIMBA hukum kita Dear pak Hary ponto,Iming n rekan kemal, Mencoba untuk berpartisipasi aja moga-moga ada manfaatnya. jelas salut buat bung Iming yang dapat mencairkan pengertian kebenaran ,profesi lawyer dan yang berprofesi broker sekalipun,hanya saja yang dapat saya petik sampai saat ini himbauannya adalah be agood lawyer in a big spectrum.go head rekan iming many people like ur article. Kebetulan ada pengalaman kerja sedikit dengan dunia bule ketika bekerja sebelum lawyer atau sebagai lawyer.kalau bung iming sedikit sinis mengkritisi orang yang bekerja di lawfirm yang isinya bule,memang benar alasan mas hary atas pengalaman apa yang dia dapatkan.hanya saja kalau saya melihat memang diberbagai sktor yang memiliki Indonesia ini bukanlah orang indonesia bagaimana dong mengatasinya.system hukum dan peradilan kita terlalu subyektif sehingga memperlemah diri sendiri,untuk apa pula kita terlalu mempertahankan continental law sementara yang lagi trend adalah anglosaxon law,kalau kita bepijak dengan strt poin yang sama paling tidak daya kompetitif akan teruji dan terpantau.saat ini corporate law banyak mengadopsi anglo saxon dan litigasi adannya begitu aja,maksudnya tingkat PN,PT kita boleh semangat tetapi di tingkat MA kalau mau sabar menunggu bisa jadi lawyer dan pihak yang berperkara sudah mati duluan baru ada hasil atau menjadi obyek dagang perkara. setuju bahwa bule juga banyak yang paranoid dan merasa hebat dengan standar dan pola yang mereka miliki,tapi coba lihat deh walaupun kita yang lebih kerja karas nyaman aja mereka kita gaji Us 300 dan mereka Us 10.000,dan kalau kita menminta pendapat mereka tentang hal itu mereka bilang itu system di negaramu.tetapi kalau mereka dengan gaji begitu royal ngefuck dan menikmati hidup,dan lawyer indo atau lokalnya memeng pantas tidak dapat penghargaan apapun,selamat berjuang d para pemerhati nasib bangsa. sincerely yours, Oscar sinurat --- On Fri, 7/4/08, Harry Ponto <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > From: Harry Ponto <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: [Advokat-Indonesia] Re: Lawyer bule dan penegakan RIMBA hukum kita > To: [EMAIL PROTECTED] > Date: Friday, July 4, 2008, 12:33 AM > Kalau melihat e-mail Rekan Kemal di bawah, tampaknya itu > dikirimkan secara > pribadi kepada Rekan Iming. Rekan Kemal tolong koreksi saya > kalau saya > salah. > Kalau benar e-mail Rekan Kemal dikirimkan secara pribadi > kepada Rekan Iming, > apakah boleh kalau jawaban Rekan Iming kemudian dilakukan > melalui milis > Advokat-Indonesia. > > Tolong pencerahan dari Rekan-rekan yang paham etika > ber-e-mail ria. > _____ > > From: [EMAIL PROTECTED] > [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of > iming tesalonika > Sent: Thursday, July 03, 2008 4:32 PM > To: Kemal Siregar > Cc: ad ad; akhi akhi; hu hu; ui ui; sma1 alumni85; sma1 > alumni; po po; > [EMAIL PROTECTED]; Advokat Indonesia > Subject: [Advokat-Indonesia] Lawyer bule dan penegakan > RIMBA hukum kita > > > > Rekan Kemal, > > Terimakasih untuk tanggapannya. Saya dan anda adalah sesama > almamater di > perguruan hidup Makarim & Taira S, dan saya bangga > dengan tempaan, tekanan > para senior kita termasuk para lawyer bule, yang sudah > menempatkan kita > sebagai lawyer tough. Dari Lawyer bule kita belajar: (i) > there is no free > lunch, (ii) you get what you contribute, (iii) you act like > a moron, client > run. > > > > Semua yang pernah berguru dari lawyer bule mengerti bahwa > kita harus belajar > banyak dalam hal tertib pikiran dan tertib penampilan, > supaya hasil riset > menjadi bermutu dan handal. dari lawyer bule kita mengerti > bahwa birokrat > kita kerjanya serampangan dan beresiko bagi negara, > usahawan dan stakeholder > lain (pantesan, negara kita gak pernah kaya!). Dari lawyer > bule, kita tahu > bahwa kerja smart dan keras adalah a must to survive in > this tough earth. > > > > Lawyer bule didambakan, dirindukan, dan sekaligus > disebelin, karena > terkadang mengambil porsi kerjaan kita, dan juga > dipolitisasi oleh FPI dan > kelompok marginal, karena dianggap menjajah bangsa kita, > padahal politisasi > bule juga dipakai untuk kepentingan pribadi sekelompok > orang yang mengaku > beragama, tapi sebenarnya cuma memanfaatkan agama untuk > survive cari sesuap > nasi in this tough earth. > > > > Makarim & Taira S memang didominasi oleh bule, bukan > dalam kerangka > jumlah/kuantitas, tapi dalam rangka mutu/kualitas sebagai > jagoan cari duit > (rainmakers). Lawfirm top di jakarta selalu menempatkan > bule either sebagai > marketing tool or quality controller untuk memecut fresh > gradute, supaya > tertib pikiran dan tertib penampilan. > > > > NKRI at the whole memang didominasi bule, bukan dalam > kerangka kuantitas > tapi kualitas. Coba lihat berapa sih orang bule saat ini > bekerja di > Indonesia (mempersempit lapangan kerja kita) (dikit banget > khan?). Akan > tetapi, coba kita tengok berbagai regulasi investasi > infrastruktur, semua > diarahkan oleh worldbank/ADB or G7 (mafia bule cing!!!), > supaya peran swasta > lebih lebar terbuka, supaya swasta bisa aktif bekerja sama > dengan > pemerintah, dalam menyediakan lapangan kerja, meningkatkan > kualitas hidup > orang INDON (bahasa umpatan orang malaysia, kalau lagi > mengumpat orang kita > yang bekerja kasar di perkebunan malaysia). > > > > Salam, > > > > Iming Tesalonika > > Advokat yang puas dengan status sebagai lulusan Makarim > & Taira S > > > > Mas Adi, > > Saya setuju banget bahwa profesi advokat di RIMBA penegakan > hukum (baca: > urusan dengan polisi, jaksa dan hakim semua level) adalah > tidak lebih tinggi > dari profesi broker perkara, dengan nilai brokerage-nya > berbanding lurus > dengan (i) tingkat kriminalitas dan dampak merugikan para > pihak, (ii) > tingkat kekayaan dari tersangka/terdakwa. Broker asuransi > adalah pihak yang > menghitung resiko dari calon pemegang asuransi, dan > kemudian mencarikan > padanan perusahaan asuransi/penanggung, yang mau mengambil > risk exposure > dari calon pemegang asuransi/tertanggung. > > Demikian juga, dengan advokat broker yang kongkow-kongkow > dengan > polisi/jaksa/hakim (selanjutnya dibaca : PJH) untuk > transaksi bisnis resiko > hukum/jabatan. PJH biasanya berdiskusi hukum dengan > advokat, tentang (i) > risk exposure dari kasus pidana/perdata, dan (ii) nilai > premium yang > sebanding dengan risk exposure dan pas dengan resiko > jabatannya, yaitu > apakah level Kombes cocok mendapatkan Rp 100jt dengan > imbalan menjebloskan > calon korban TSK ke dalam tahanan Polda. Tentunya risk > exposure dihitung > dari seberapa level edukasi/jaringan politik/tebal > kantung/nekad or not dari > calon korban TSK. > > Dengan demikian, sang Kombes akan mengukur apakah kasus ini > bakal melebar ke > Propam or koran sampah atau koran nasional, dan > memproyeksikan daftar dosa > sang kombes sebelumnya dengan arah kedudukan kombes 5 tahun > mendatang. > Kedudukan Kombes di masa datang ekuivalen dengan monetary > reward (goodwill) > dalam bentuk angpau dari sejumlah kasus besar yang > ditangani. > > > > Yang jelas, kasus yang terkait dengan PJH sangat dihindari > oleh lawyer > sudirman, karena risk exposure-nya uncontrolable, sementara > lawyer sudirman > sangat tahu menghitung resiko usaha/hukum, jadi bisa > menakar dan mengukur > dengan sepadan. singkatnya, kasus PJH sangat menarik buat > lawyer kelas ruko, > karena lawyer ruko gak bisa memilih kasus ok or not, dari > ukuran risk > exposure. > > Yang jelas, (i) penegakan hukum sulit diharapkan dari > lawyer sudirman.(ii) > perbaikan perilaku PJH tidak bisa mengandalkan pada profesi > keadvokatan, > khususnya selama paradigma peradi masih seperti iye--iye > waeeeeee3. > > Salam, > > > > Iming > > Advokat yang sedang belajar menakar resiko hukum/usaha > dalam rangka menjadi > entrepreneur. > > ----- Original Message ---- > From: Kemal Siregar <[EMAIL PROTECTED]> > To: [EMAIL PROTECTED] > Sent: Wednesday, July 2, 2008 11:02:29 AM > Subject: [Advokat-Indonesia] Re: Gara-gara Peradi Memble > aje??? > > Iming, > > > > Gua perlu memberikan tanggapan atas tulisan loe yang saya > beri warna merah. > > Menurut gua, karena loe dan gua sama-2 pernah kerja disana > kita sama-2 tahu > tidak benar pernyataan loe kalau Makarim & Taira S? > khan isinya juga > didominasi oleh lawyer bule ? > > > > Janganlah loe membesar-2kan sesuatu yang tidak benar karena > ini hanya akan > mengurangi nilai loe. Setau gua saat ini jumlah expats > disana hanya 3-4 > orang dan lainnya adalah orang Indonesia. > > > > Sebagai kawan gua mengingatkan loe agar selalu membuat > pendapat-2 loe secara > lebih fokus dan jangan memancing pendapat dari rekan-2 > advokat yang membuat > mereka jadi panas dan akibatnya pembahasan menjadi bola > liar. > > > > > > Salam, > > Kemal > > > > > > > > From: [EMAIL PROTECTED] > [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of > [EMAIL PROTECTED] > Sent: Tuesday, July 01, 2008 12:30 AM > To: [EMAIL PROTECTED] > Subject: [Advokat-Indonesia] Re: Gara-gara Peradi Memble > aje??? > > > > Ga usah terlalu berharap kalau orgnisasi advokat masih > banyak seperti ini, > orgnisasi advkt yg ada harus membubarkan diri mellui munas > sesui AD nya, > buat organisasi advk yg kredibel dan legitimate. > Geli kalo advkt terlalu diagungkan seperti hal yg bersih. > Padahal kita ini > tukang suap, tukang lobby, tukang tipu (karena kadang > ditipu klien juga) > karena kondisinya memang demikian. malu deh. Semua pakai > uang. Cuman cita2x > doang. Yg penting kita harus NGACA dulu. He he he. . . > Percaya deh, kalo kita main lurus ga nyuap ga kasih duit, > klien pasti > dipersulit, ditahan kalau P21 , ujungnya nego. Kalo ngga > mau nyuap klien > tetap dipersulit maka klien ganti pengacara yg jago lobby. > Pusing juga. > > Sent from my BlackBerry wireless device from XL > GPRS/EDGE/3G network > > _____ > > From: winner jhonshon <[EMAIL PROTECTED]> > Date: Tue, 1 Jul 2008 04:09:07 -0700 (PDT) > To: <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: [Advokat-Indonesia] Re: Gara-gara Peradi Memble > aje??? > > > betul Mr. James. Kita harus mendalami dulu permasalahannya, > baru bicara. > kalo dosen saya ngomong sih, kita musti berjalan secara het > juridisch > denken. apa artinya itu ya? > mengenai kehormatan advokat, nampaknya setelah kita punya > hobi bertengkar > dan tidak bisa menunjukkan keluhuran budi, apa iya masih > ada? > winner. > > --- On Tue, 7/1/08, James Purba, The Lawyer > <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > From: James Purba, The Lawyer <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: [Advokat-Indonesia] Re: Gara-gara Peradi Memble > aje??? > To: [EMAIL PROTECTED] > Date: Tuesday, July 1, 2008, 2:50 PM > > Banyak kalangan tersentak kaget oleh putusan Dewan > Kehormatan PERADI > terhadap lawyer senior Todung Mulya Lubis alias TML... > tetapi mungkin sangat > sedikit yang mau mengkaji apa sebenarnya kesalahan TML > sehingga di putus > demikian oleh Dewan Kehormatan PERADI........ Kenapa orang > lebih senang > mempermaalahkan vonis nya dari pada mengkaji APA PERBUATAN > sang terdakwa & > kenapa sampai muncul vonis terhadap TML? Kenapa yang > didiskusikan bukan > soal materi perkaranya lalu di bahas berdasarkan aturan > Kode Etik yang ada > oleh pihak-pihak yang suka memberi komentar di milis ini?? > Atau karena yang > memberi komentar sebenarnya tidak tahu apa dan bagaimana > permasalahannya?? > wakakakkakssssssssssss ngreeeeeee skaleeee kalau sampai > begitu ya... asbun > aja dong... Padahal kita para lawyers (advokat) mengaku > sebagai penyandang > profesi yang mulia.... mana itu kemuliaanmu? > > > > > > > > > > ----- Original Message ----- > > From: Wulan <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Bandung > > > To: [EMAIL PROTECTED] > > Sent: Tuesday, July 01, 2008 10:40 AM > > Subject: [Advokat-Indonesia] Balasan: [Advokat-Indonesia] > Di dalam rutan/LP > adalah gudang pungli: Gara-gara Peradi Memble aje??? > > > > bukan hanya Todung yg dibuat keok peradi, lelyana juga lagi > dilaporin ke > peradi...hebat...mau dihabisin kale....., partner lainnya > juga mau > dibantai....kejam sekejam laskar ya ???? > > > > iming tesalonika <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Rekan Sidjie Wae, > > Saya udah berkali-kali berkata di milis ini bahwa birokrat > kita, khususnya > dalam penegakan hukum, mulai polisi, jaksa, rutan, hingga > pengadilan, ini > sangat entre-preneurial dalam mencari bisnis tambahan, > selain gaji utamanya, > TAPI SANGAT MELANGGAR HUKUM, ETIKA, AGAMA APAPUN. Why ? > Karena negara kita > kurang bisa memberdayakan kreativitas warganya dalam bisnis > riil, i.e. > property, pasar modal, perbankan, produk-produk bermerk, > sehingga > kreativitas yang berkembang adalah SEMANGAT ENTREPRENEURIAL > MENGAKALI > KONSUMEN, MASYARAKAT YANG BERHADAPAN DENGAN MASALAH HUKUM. > > > > Coba perhatikan, apa saja produk yang anda konsumsi > sehari-hari. Adakah 10 % > saja dari sekian produk yang anda konsumsi tersebut bermerk > lokal ? nil > bukan. Itu artinya, pengusaha kita belum lah > entrepreneurial, apalagi > membendung banjirnya produk bermerk asing, mulai dari YSL, > Toshiba, Toyota, > Benz, Levis, sampai produk jasa hukum-pun orang kita (baca: > pejabat kita) > masih suka memakai merk Baker Mc Kenzie, Drew & Napier, > White & Case, Lee & > Lee, Allen & Gledhill. > > > > Lawyer top Kita kok gak bermerk ? lawfirm Lubis Santosa > Maulana ? khan baru > kemaren salah satunya dihantam/dipecat oleh Majelis yang > mengaku > Kehormatannya PERADI. > > > > Makarim & Taira S? khan isinya juga didominasi oleh > lawyer bule ? lawfirms > lainnya ??? nil dech yaaa. > > > > Nach, dalam kisruh dunia hukum yang seperti ini, apakah > PARA PENGURUS Wadah > Tunggal Advokat kita (baca: PERADI) bisa duduk diam tenang > saja, menyaksikan > kisruh mengkisruh dunia penegakan hukum ? > > > > Mengapa banyak di antara kita senang duduk diam tenang saja > menikmati status > quo, menyaksikan rakyat kelaparan, sejumlah pihak > menyalahgunakan agama > untuk kepentingan pribadi, pengusaha tertentu membabat > hutan dan membagi > hasilnya dengan aparat YANG SANGAT ENTREPRENEURIAL DALAM > MENGHASILKAN UANG > SAKU TAMBAHAN ? > > > > Bukankah, hal-hal itu semakin menjauhkan kita dari tujuan > bersama, MENCAPAI > MASYARAKAT ADIL DAN MAKMUR ? Atau kita semua tidak percaya > dan tidak beriman > dan tidak haqul yakin bahwa BERSAMA-SAMA kita bisa makmur? > > Salam, > > > > Iming Tesalonika > > Advokat yang tidak suka melihat penegak hukum menjadi > entrepreneur yang > melanggar hukum, etika, dan agama apapun. > > > > ----- Original Message ---- > From: han djie lin linda <[EMAIL PROTECTED]> > To: [EMAIL PROTECTED]; advokat group millist > <[EMAIL PROTECTED]> > Sent: Monday, June 30, 2008 11:48:44 AM > Subject: [Advokat-Indonesia] Di dalam rutan/LP adalah > gudang pungli > > Saya baru tahu dan benar adanya bahwa di dalam RUTAN/LP > yang berada di bawah > naungan Dept Hukum dan HAM itu gudangnya pungli. Mungkin > benar juga yang > dibilang cak Rus bahwa "bagaimana mungkin mau baik > kalau yang berkompeten > dengan hukum saja tidak mau dibenahi, tidak mau mengakui > kebobrokan > dll....". > > > > Untuk masuk ke Rutan: > > 1. meninggalkan KTP di pintu pertama > > 2. meninggalkan HP di pintu kedua atau bayar maka HP bisa > masuk. Di sini > banyak ditemukan slogan-slogan "terimakasih jika Anda > tidak memberi uang, > berarti Anda membantu memberantas PUNGLI", "Anda > ramah kami senang", he he > he, eman-eman banyak tulisan begitu, pakai biaya, tetapi > gak bermanfaat. > > 3. diperiksa untuk masuk gedung induk: apa bungkusannya, > bawa HP atau sajam > dll. > > 4. Antre untuk masuk gedung induk. > > 5. Di dalam gedung induk, kita di ruang tunggu, maka di > ruang yang > menghubungkan dengan area tahanan ada pintu jeruji yang > dijaga 3 orang: 1 > orang jaga mic sambil pengumpul uang, 1 orang yang buka > tutup gembok, dan 1 > orang yang bawa tongkat untuk menghardik tahanan yang mau > keluar (maksudnya > bayar dulu keluar Rp 2.000 masuk lagi rp 2.000) untuk > ketemu penengok atau > sekedar beli makanan di warung situ. > > > > Berarti bila setiap hari ada penengok, maka sekian kali > orang x Rp 4.000. > Herannya penjaga-penjaga pintu tadi tidak malu-malu lagi lo > di depan > pengunjung. > > > > Nah kalau orang yang ditahan memang apa adanya, gak punya > duit, tetapi ada > yang nengok bagaimana ya? > > > > Padahal yang jaga pintu tadi campuran ada polisi juga tuh. > apa dong > alasannya? > > den Sidjiewae > > > > > _____ > > > Dapatkan alamat Email baru Anda! > <http://sg.rd.yahoo.com/id/mail/domainchoice/mail/signature/*http:/mail.prom > otions.yahoo.com/newdomains/id/> > Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil > orang lain > > > > > > </html > > > > > --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ Anda menerima pesan ini karena berlangganan ke Grup "Advokat-Indonesia" Google Groups. Untuk memposting ke grup ini, kirimkan email ke [EMAIL PROTECTED] Untuk keluar dari grup ini, kirim email ke [EMAIL PROTECTED] Untuk pilihan lain, kunjungi grup ini di http://groups.google.com/group/Advokat-Indonesia?hl=id -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

