Rekan Enda,
Kisah anda di bawah menunjukkan bahwa penjara dapat menjadi tempat seseorang 
untuk mengkristalkan jati dirinya. Penjara yang baik dapat menggugah nurani 
seseorang, untuk mulai memikirkan hal-halyang hakiki, dari yang fana, hal-hal 
fundamental dari superficial. Ada banyak pahlawan pergerakan kemerdekaan kita 
yang merasakan di penjara oleh pemerintah belanda, dan menjadi manusia yang 
kian kharismatik, tidak murahan.
Setiap orang mestinya atau idealnya melewati tahapan pengenalan jatidiri pada 
titik tertentu dalam hidupnya. Tanpa melewati tahapan itu, manusia hanya 
melewati masa tanpa makna, seperti halnya hewan yang hanya makan, tidur, 
bergerak tanpa visi dan makna yang jelas dalam hidupnya.
Kehidupan tentu menarik dari sudut pandang dikotomis i.e. orang yang matang vs 
tidak matang; penjahat vs pembaik; pengonar vs penertib; penegak vs pembengkok. 
Pada titik waktu tertentu seseorang menjadi penjahat or pengonar, pada titik 
waktu yang lain, dia menjadi pembaik dan penertib.
Mari kita lihat rekan2 boedeoet dulu dan sekarang: mereka yang pengonar udah 
menjadi pak haji dan mengasuh pesantren, membentuk manusia muda supaya mencapai 
jati dirinya segera dll.
Salam,
Iming Tesalonika
Advokat yang suka memprovokasi pikiran orang lain, khususnya rekan sejawat 
penegak hukum




To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Monday, September 1, 2008 6:41:28 PM
Subject: [alumni-sma1jkt-85] Malcom X: menjadi minoritas dalam minoritas

Pertama kali, aku dengar nama Malcom X adalah awal tahun 1990 di
Belanda. Yg aku tangkap saat itu, Malcom adalah figur yg penuh
kekerasan. Belakangan, ketika mulai tuaan, gue belajar Malcom X dalam
versi lebih lengkap. Figur ini jd menarik buatku. In fact, Malcom
menjadi salah satu model pahlawan gue.

Malcom X adalah tokoh Islam di Amerika Serikat. Bukan hanya tokoh
minoritas, tapi jg akhirnya jd tokoh minoritas dalam minoritas. Malcom
X dibunuh oleh salah pengikut organisasi Nation of Islam (NOI),
organisasi dimana dia sempat jd salah satu tokoh terkemuka.

Malcom X lahir sbg Malcom Little di Lansing, Michigan, tgl May 19,
1925. Salah satu dari 8 anak pendeta Baptis, ,Earl Little. Earl adalah
pengikut setia nasionalis hitam Marcus Garvey, a black nationalist.
Karena keikutsertaannya dalam politik, keluarga pendeta ini sering
menjadi sasaran teror organisasi rasial kulit putih. Umur 4 tahun,
rumah mereka dibakar. Waktu mau masuk SD, ayahnya, Pendeta Earl, mati
ditabrak; yg rumornya adalah perbuatan gerakan rasial Black Legion.

Malcom adalah anak yg super cerdas. Ia jg murid berusaha keras
menyenangkan guru, termasuk guru2 berkulit putihnya. Tapi, akhirnya
dia kecewa. Guru putihnya, tetap saja melihat dia sebagai org hitam yg
nasibnya tidak akan berbeda jauh dgn sesamanya. Ini membawa kekecewaan
berat. Diapun mulai hal2 kriminal; masuk ke penjara. Di penjara tsb
dia mulai diperkenalkan dgn Islam, dan tokoh Elijah Muhammad oleh
kakaknya.

Malcom ingin sekali berkomunikasi dgn Elijah, tapi sadar diri bhw
banyak hal yg dia rasa kurang dalam dirinya. Dia kemudian belajar
keras di penjara selama bertahun secara otodidak. Kerja keras ini
membuatnya akhirnya mempunyai kemampuan sebagai pembicara yg eloquent,
dan model prisioner, sehingga baru 6 tahun (dari 10 tahun masa
tahanan), ia dibebaskan.

Lepas penjara, Malcom X bergabung dgn NOI, organisasi militan Islam
untuk org berkulit hitam. Program "unggulan" Malcom ialah kebencian
terhadap kulit putih. Dalam singkat, dgn kemampuan bicara dan tulisnya
& organisasinya, Malcom menjadi salah satu tokoh terkemuka.

Akhir tahun 1950, Malcom menjadi kecewa dgn orang yg selama ini
dianggapnya sebagai ayahnya, Elijah; ternyata terlibat skandal. Dia
pun mulai ambil ancang2 untuk mengambil kekuasaan NOI. Ini membuka
front perang baru, setelah sebelumnya Malcom harus berususan dgn
banyak org putih, pemerintah. Malcom X akhirnya keluar dari gerakan
ini, dan haji ke Mekah. Perjalanan ibadah yg ternyata menjadi
perjalanan spiritualnya.

Banyak refleksi pribadi membuat Malcom X menyadari bhw tidak semua org
putih membenci orang hitam. Ia jg menyimpulkan bhw version of Islam
taught by the NOI was very different from world Islam, which is a
religion of many races. Ini membuat dia berubah menjadi manusia baru.


Malcom bukan lagi menjadi exclusivm, tapi inclusivism; ia tidak lagi
membenci manusia berkulit putih, atau beragama lain. Ia bukan lagi org
menyerukan kekerasan sebagai jalan, tetapi humanisme.

Dan, seperti di tulis dalam autobiografinya, Malcom mengatakan bhw
when he was a minister of the Nation of Islam, Malcolm believed HE
POSSESSED THE TRUTH (memiliki ke-benar-an). After his departure from
the Nation, he expressed his belief that he was simply in PURSUIT OF
THE TRUTH (mengejar kebenaran).

Perubahan ini harus dibayar mahal. Satu tahun berubah, Malcom mati
dibunuh oleh mereka yg mengklaim punya KEBENARAN. Dia mati pada usia
39 tahun.

His life journey can be compared with that of Gandhi, although the
circumstances were very different. They were both leaders who pursued
freedom in more than just political terms. Freedom, for Macolm, was a
quest to liberate oneself spiritually in order to achieve political
freedom


Salam,
ENda


------------------------------------

Yahoo! Groups Links




      

Kirim email ke