----- Original Message ----- 
From: NYOTO DWI BUDIONO 
To: Afen Sinata ; Anita Nurani ; Enny Lindawati ; Hery Siong ; Ivanny Triswanti 
Candra ; Iwan Halim ; Kadijono Witarki ; Lions Clubs Indonesia D307B ; 
Sianawati Gunawan ; [email protected] ; [email protected] ; Wenny 
Lestijowati ; Yongky GMS ; Yudhi Halim 
Sent: Wednesday, May 06, 2009 11:30 PM
Subject: [lci-d307b] Fw: Jalan Kaki Jinakan 9 Jenis Penyakit




Jalan Kaki Jinakan 9 Jenis Penyakit ! 
STUDI dalam beberapa tahun terakhir semakin mengukuhkan bahwa berjalan 
tergopoh-gopoh dan bukan jalan santai memang memberi banyak manfaat bagi 
kesehatan kita. Inilah sembilan manfaat yang dapat diperoleh dari aktivitas 
jalan kaki.


(1). Serangan Jantung. 
Pertama-tama tentu menekan risiko serangan jantung. Kita tahu otot jantung 
membutuhkan aliran darah lebih deras (dari pembuluh koroner yang memberinya 
makan) agar bugar dan berfungsi normal memompakan darah tanpa henti. Untuk itu, 
otot jantung membutuhkan aliran darah yang lebih deras dan lancar. Berjalan 
kaki tergopoh-gopoh memperderas aliran darah ke dalam koroner jantung. Dengan 
demikian kecukupan oksigen otot jantung terpenuhi dan otot jantung terjaga 
untuk bisa tetap cukup berdegup.
Bukan hanya itu. Kelenturan pembuluh darah arteri tubuh yang terlatih menguncup 
dan mengembang akan terbantu oleh mengejangnya otot-otot tubuh yang berada di 
sekitar dinding pembuluh darah sewaktu melakukan kegiatan berjalan kaki 
tergopoh-gopoh itu. Hasil akhirnya, tekanan darah cenderung menjadi lebih 
rendah, perlengketan antarsel darah yang bisa berakibat gumpalan bekuan darah 
penyumbat pembuluh juga akan berkurang.
Lebih dari itu, kolesterol baik (HDL) yang bekerja sebagai spons penyerap 
kolesterol jahat (LDL) akan meningkat dengan berjalan kaki tergopoh-gopoh. 
Tidak banyak cara di luar obat yang dapat meningkatkan kadar HDL selain dengan 
bergerak badan. Berjalan kaki tergopoh-gopoh tercatat mampu menurunkan risiko 
serangan jantung menjadi tinggal separuhnya.
(2). Stroke. 
Kendati manfaat berjalan kaki tergopoh-gopoh terhadap stroke pengaruhnya belum 
senyata terhadap serangan jantung koroner, beberapa studi menunjukkan hasil 
yang menggembirakan. Tengok saja bukti alami nenek-moyang kita yang lebih 
banyak melakukan kegiatan berjalan kaki setiap hari, kasus stroke zaman dulu 
tidak sebanyak sekarang. Salah satu studi terhadap 70 ribu perawat (Harvard 
School of Public Health) yang dalam bekerja tercatat melakukan kegiatan 
berjalan kaki sebanyak 20 jam dalam seminggu, risiko mereka terserang stroke 
menurun duapertiga.
(3). Berat badan stabil. 
Ternyata dengan membiasakan berjalan kaki rutin, laju metabolisme tubuh 
ditingkatkan. Selain sejumlah kalori terbuang oleh aktivitas berjalan kaki, 
kelebihan kalori yang mungkin ada akan terbakar oleh meningkatnya metabolisme 
tubuh, sehingga kenaikan berat badan tidak terjadi.
(4). Menurunkan berat badan. 
Ya, selain berat badan dipertahankan stabil, mereka yang mulai kelebihan berat 
badan, bisa diturunkan dengan melakukan kegiatan berjalan kaki tergopoh-gopoh 
itu secara rutin. Kelebihan gajih di bawah kulit akan dibakar bila rajin 
melakukan kegiatan berjalan kaki cukup laju paling kurang satu jam.
(5). Mencegah kencing manis. 
Ya, dengan membiasakan berjalan kaki melaju sekitar 6 km per jam, waktu tempuh 
sekitar 50 menit, ternyata dapat menunda atau mencegah berkembangnya diabetes 
Tipe 2, khususnya pada mereka yang bertubuh gemuk (National Institute of 
Diabetes and Gigesive & Kidney Diseases).
Sebagaimana kita tahu bahwa kasus diabetes yang bisa diatasi tanpa perlu minum 
obat, bisa dilakukan dengan memilih gerak badan rutin berkala. Selama gula 
darah bisa terkontrol hanya dengan cara bergerak badan (brisk walking), obat 
tidak diperlukan. Itu berarti bahwa berjalan kaki tergopoh-gopoh sama 
manfaatnya dengan obat antidiabetes.
(6). Mencegah osteoporosis. 
Betul. Dengan gerak badan dan berjalan kaki cepat, bukan saja otot-otot badan 
yang diperkokoh, melainkan tulang-belulang juga. Untuk metabolisme kalsium, 
bergerak badan diperlukan juga, selain butuh paparan cahaya matahari pagi. Tak 
cukup ekstra kalsium dan vitamin D saja untuk mencegah atau memperlambat proses 
osteoporosis. Tubuh juga membutuhkan gerak badan dan memerlukan waktu paling 
kurang 15 menit terpapar matahari pagi agar terbebas dari ancaman osteoporosis. 
Mereka yang melakukan gerak badan sejak muda, dan cukup mengonsumsi kalsium, 
sampai usia 70 tahun diperkirakan masih bisa terbebas dari ancaman pengeroposan 
tulang.
(7). Meredakan encok lutut. 
Lebih sepertiga orang usia lanjut di Amerika mengalami encok lutut 
(osteoarthiris) . Dengan membiasakan diri berjalan kaki cepat atau memilih 
berjalan di dalam kolam renang, keluhan nyeri encok lutut bisa mereda. Untuk 
mereka yang mengidap encok lutut, kegiatan berjalan kaki perlu dilakukan 
berselang-seling, tidak setiap hari. Tujuannya untuk memberi kesempatan kepada 
sendi untuk memulihkan diri. Satu hal yang perlu diingat bagi pengidap encok 
tungkai atau kaki: jangan keliru memilih sepatu olahraga. Kita tahu, dengan 
semakin bertambahnya usia, ruang sendi semakin sempit, lapisan rawan sendi kian 
menipis, dan cairan ruang sendi sudah susut. Kondisi sendi yang sudah seperti 
itu perlu dijaga dan dilindungi agar tidak mengalami goncangan yang berat oleh 
beban bobot tubuh, terlebih pada yang gemuk.
Bila bantalan (sol) sepatu olahraganya kurang empuk, sepatu gagal berperan 
sebagai peredam goncangan (shock absorber). Itu berarti sendi tetap mengalami 
beban goncangan berat selama berjalan, apalagi bila berlari atau melompat. Hal 
ini yang memperburuk kondisi sendi, lalu mencetuskan serangan nyeri sendi atau 
menimbulkan penyakit sendi pada mereka yang berisiko terkena gangguan sendi.
Munculnya nyeri sendi sehabis melakukan kegiatan berjalan kaki, bisa jadi 
lantaran keliru memilih jenis sepatu olahraga. Sepatu bermerek menentukan 
kualitas bantalannya, selain kesesuaian anatomi kaki.
Kebiasaan berjalan kaki tanpa alas kaki, bahkan di dalam rumah sekalipun, bisa 
memperburuk kondisi sendi-sendi tungkai dan kaki, akibat beban dan goncangan 
yang harus dipikul oleh sendi.
(8) Depresi. 
Ternyata bergerak badan dengan berjalan kaki cepat juga membantu pasien dengan 
status depresi. Berjalan kaki tergopoh-gopoh bisa menggantikan obat 
antidepresan yang harus diminum rutin. Studi ihwal terbebas dari depresi dengan 
berjalan kaki sudah dikerjakan lebih 10 tahun.
(9). Kanker juga dapat dibatalkan muncul bila kita rajin berjalan kaki, 
setidaknya jenis kanker usus besar (colorectal carcinoma). 
Kita tahu, bergerak badan ikut melancarkan peristaltik usus, sehingga buang air 
besar lebih tertib. Kanker usus dicetuskan pula oleh tertahannya tinja lebih 
lama di saluran pencernaan. Studi lain juga menyebutkan peran berjalan kaki 
terhadap kemungkinan penurunan risiko terkena kanker payudara. 
  
Semoga bermanfaat.



Kirim email ke