Terimakasih Mas Sulis. Regards,
A. Zen Umar Purba ________________________________ From: [email protected] To: [email protected] Cc: hu hu ; peradi peradi ; akhi akhi Sent: Wed May 20 01:02:35 2009 Subject: [AKHI] Re: [Advokat-Indonesia] neolib = istilah para oposan politik! Neoliberalisme dan Restorasi Kelas Kapitalis (ringkasan singkat singkat) Penulis: David Harvey Istilah neoliberalisme biasanya diartikan dengan deregulasi, privatisasi, liberalisasi. Kebijakan-kebijakan yang berdasarkan formula neoliberal itu lalu bisa kita tandai dengan dihapuskannya monopoli dan proteksi, seperti dibubarkannya BPPC, monopoli Bulog atas beberapa bahan pangan pokok, atau proyek mobil Timor. Yang ramai dibicarakan adalah privatisasi BUMN-BUMN. Dan tentu saja diperetelinya subsidi-subsidi seperti BBM, pendidikan, kesehatan, dsb. Bersedekapnya michael camdesuss, ketua IMF, di depan Soeharto yang membungkuk untuk menandatangani LoI, kerap dianggap sebagai peristiwa yang menandai diterapkannya kebijakan neoliberal di negeri ini. Tapi, kebijakan-kebijakan neoliberal tersebut sebenarnya sudah mulai diterapkan sejak tahun 1980an, meskipun dengan cara bertahap dan dengan kadar yang ringan. Krisis moneter pada akhir 1990an menjadi peluang untuk mencekokan obat neoliberal tersebut dengan dosis tinggi. Tapi, apakah neoliberalisme itu sekedar formula ekonomi yang digunakan untuk mengatasi krisis? Bagaimana kebijakan-kebijakan neoliberalisme bisa dianut oleh lembaga-lembaga internasional seperti IMF, WTO, dan Bank Dunia dan menjadi wacana dominan yang mencapai skala global? Mengapa meski kebijakan neoliberal telah terbukti di banyak tempat hanya mendatangkan malapetaka tetap dipakai dan “dianjurkan” oleh lembaga-lembaga internasional itu? Buku Neoliberalisme dan Restorasi Kelas Kapitalis ini menelusuri sejak awal bagaimana gagasan-gagasan neoliberal terbentuk dan disebarkan para pemikir dan pendukungnya. Berkat perjuangan hegemonik yang gigih, kaum neolib ternyata berhasil menjadikan gagasan mereka yang semula dianggap remeh, kalau tidak bahan tertawaan, menjadi wacana dominan. Memanfaatkan nilai-nilai dasar kemanusiaan seperti kebebasan dan kemerdekaan individu sebagai kredo mereka, ditunjang dengan propaganda masif melalui media, lembaga-lembaga think-tank, dan kampus wacana neoliberal mampu menghegemoni kesadaran massa. Perjuangan hegemonik itu menjadi kian efektif dengan berlarutnya krisis akumulasi kapital pada akhir tahun 1970an. Tingginya inflasi dan pengangguran menimbulkan keresahan di mana-mana. Kebijakan keynesian atau sosial demokrat sudah tak mampu lagi mengatasi krisis tersebut. Dengan ketidakmampuan kaum kiri memberi tawaran alternatif yang lebih baik, solusi yang berikan kaum neoliberal menjadi lebih menyakinkan. Apalagi,—berkat pengaturan secara diam-diam para banker Swedia—dua pemikir neoliberal Hayek dan Friedman berhasil meraih nobel ekonomi sehingga reputasi neoliberalisme kian mencorong.. Selain strategi hegemoni, kaum neolib juga menggunakan kekerasan sebagai cara untuk memaksakan agenda neoliberal. Mereka akan menggulingkan rejim-rejim demokratis yang tidak tunduk dengan keinginan mereka, lalu menggantinya dengan pemimpin boneka, tak peduli otoriter atau tidak yang penting penurut. Sedangkan untuk negara-negara berkembang yang sedang dilanda krisis dan terperangkap hutang seperti Indonesia atau Mexico, melalui IMF mereka lebih mudah memaksakan kebijakan-kebijakan neolib. Pendek kata, dari pengamatan Harvey, diterapkannya kebijakan-kebijakan neoliberalisme di negara-negara berkembang selalu melibatkan aliansi antara AS, lembaga-lembaga internasional, dan elite-elite lokal. Para pendukung neoliberalisme sangat yakin bahwa hanya sistem neoliberal-lah yang mampu mewujudkan kesejahteraan bagi umat manusia. Neoliberalisme bukanlah sistem yang semata mengurusi perkara ekonomi. Neoliberalisme merupakan sistem ekonomi-politik yang mengajukan bahwa kesejahteraan umat manusia paling baik dicapai dengan memberi kebebasan dan keahlian entrepreneur individu di dalam suatu kerangka kelembagaan yang dicirikan dengan hak kepemilikan pribadi yang kuat, pasar bebas, dan perdagangan bebas. Suatu penerapan kebijakan neoliberal mengandung akibat negara yang bersangkutan harus mengorganisasi strukturnya. Peran negara itu menjadi sekedar pencipta dan penjaga kondisi-kondisi itu. Misalnya, negara harus menjamin kualitas dan integritas uang. Negara juga harus membentuk angkatan bersenjata, polisi, fungsi-fungsi dan struktur legal untuk mengamankan kepemilikan pribadi dan menjamin berfungsinya pasar. Istilah good governance adalah nama lain model pemerintahan ala neoliberal itu. Good governance dianggap tidak hanya mampu mencegah dan memberantas korupsi, tapi juga mendorong pelayanan negara yang lebih baik. Pelayanan-pelayanan sosial dipangkas. Selain untuk mengurangi beban keuangan negara, birokrasi dapat dirampingkan sehingga bekerja lebih efesien. Iklim investasi yang kondusif menjadi lebih terwujud. Dengan demikian, negara yang bersangkutan akan mempunyai daya saing yang lebih tinggi pada tingkat global. Di samping itu, penghapusan pelayanan-pelayanan sosial yang selama ini membentuk sifat manja mengakibatkan individu-individu menjadi terpacu untuk mandiri dan meningkatkan kapasitasnya. Apalagi, pasar tenaga kerja yang fleksibel membuat mereka dapat mudah berpindah-pindah pekerjaan yang paling sesuai dengan kemampuan dan keinginan mereka. Namun, dengan brilian Harvey menunjukkan bahwa secara teoritis cita-cita mulia kaum neolib itu mustahil tercapai. Dalam teori maupun praktik terdapat banyak kontradiksi. Malahan setelah melakukan pembongkaran teoritis dan menelaah praktek-praktek neoliberalisme yang tidak sama di berbagai belahan dunia, Harvey sampai kesimpulan bahwa gigihnya usaha untuk memaksakan kebijakan-kebijakan neoliberal di mana-mana tak lebih karena dengan cara itulah elite-elite penguasa dan kelas kapitalis dapat kembali melakukan akumulasi modal, yang sempat stagnan bahkan mulai merosot pada tahun 1970an. Dengan kebijakan itu mereka juga mampu melumpuhkan gerakan-gerakan buruh yang pada masa itu mulai mengancam eksistensi mereka. Buku ini tidak hanya menguraikan apa dan bagaimana neoliberalisme. Harvey memaparkan gejala-gejala yang mengindikasikan kemungkinan berakhirnya neoliberalisme. Beberapa kemungkinan skenario solusi berikut kemuskilannya ia ungkap. Menariknya, ia melihat adanya peluang untuk melakukan perlawanan. Menurutnya, ada suatu payung bersama untuk menaungi berbagai macam gerakan untuk melakukan suatu gerakan bersama. Dan dari titik tolak yang sama itu, sistem alternatif apa yang musti dibangun bisa diajukan. Dapatkan: [email protected] <mailto:[email protected]> atau versi aslinya silahkan baca http://www.princeton.edu/~sf/workshops/neoliberalism/classrestore.pdf <http://www.princeton.edu/%7Esf/workshops/neoliberalism/classrestore.pdf> Kind regards, Sulistiono Kertawacana http://sulistionokertawacana.blogspot.com/ <http://sulistionokertawacana.blogspot.com/> iming tesalonika wrote: Kang Imam, Saya juga gak tahu dari mana istilah neolib ini. Tapi , karena banyak dibicarakan saat menjelang pemilu dan pembicaraannya menyangkut politik, saya sepakat dengan anda bahwa neo liberalisme adalah istilah sindiran atau makian terhadap para pemegang kebijakan yang dekat dengan ADB or World Bank. Saat ini, para konseptor di bappenas or Menko Perekonomian, semuanya dekat dengan kebijakan ADB or World bank. Maklum, hanya dua bank itu dan bank jepang yang saat ini memiliki komitmen pendanaan murah bagi penyelenggaraan publik NKRI. Dan, tentu saja, para bank skala dunia tersebut memiliki agenda bisnis bagi kepentingan negara-negara pengusungnya. Mengapa para bank itu dekat dengan bappenas? Tentu karena para pemikir bappenas banyak lulusan dari negara USA dimana kebijakan ekonomi dunia banyak digulirkan, bukan dari negara antah berantah i.e. negara di timurtengah, negara di eropa timur atau negara antartika. Mengapa pemerintah kita tidak bisa bikin bank sendiri, atau pinjam uang dari bank di timur tengah atau eropa timur ? Kembali masalahnya adalah, kebijakan ekonomi dunia dikelola oleh negara yang maju (USA dan negara2 liberal lainnya) yang sudah mencatat sejarah keberhasilan ekonomi sejak perang dunia II. Mengapa istilah neo liberal di gulirkan, saat menjelang pemilu? hal ini dikarenakan para politisi kita semua tahu bahwa (i) rakyat kita masih sederhana pikirannya dan masih trauma dengan penjajahan or kolonialisme lama yang diplintir menjadi kolonialisme gaya baru berbentuk neo liberalisme. (ii) siapapun pemegang kebijakan pemerintahan tatkala berhasil mengelola negara, pasti harus berurusan dan bergantung dengan kebijakan negara maju yang liberal, (iii) para pihak oposisi harus mengungkit masalah neo liberalisme, apalagi kalau penguasa kedapatan salah bikin kebijakan ekonomi yang mensejahterakan rakyat, SUPAYA PIHAK OPOSISI BISA KEBAGIAN JATAH KEKUASAAN, menggantikan penguasa yang naik daun atau turun daun. Kesimpulan: istilah neolib adalah istilah yang diangkat oleh para oposan, supaya pemegang kekuasaan jatuh atau setidaknya mau berbagi kekuasaan dengan para oposan. Salam diskusi, Iming Tesalonika Advokat yang menyukai adanya kompetisi pasar terkendali ----- Original Message ---- From: imam rasyidi <[email protected]> <mailto:[email protected]> To: sma1'85 sma1 <[email protected]> <mailto:[email protected]> Sent: Monday, May 18, 2009 11:21:03 AM Subject: [alumni-sma1jkt-85] neolib Neolib Saya nggak paham benar maksud neolib ini. Saya udah tanya ke kawan seorang ekonom ttg apa definisi neolib atau neoliberal ini. Ternyata kawan ekonom ini juga nggak terlalu paham. Dia bilang sptnya itu definisi politik dan bukannya definisi ekonomi atau mungkin lebih tepatnya definisi yg dibuat oleh para politisi kali ya. Salah satu keyakinan utama yg dituduhkan kepada org yg disebutkan sebagai neolib ini saya duga2 mungkin adanya keyakinan akan teori pembangunan yg disebut sebagai trickle down effect yaitu suatu teori yg kira2(sy bukan ekonom tapi masih sedikit ingat ttg hal ini) mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi pada akhirnya akan menetes ke masyarakat bawah. Yg kontra dgn teori ini mengatakan bahwa masyarakat hanya mendapat sisa terakhir dr pertumbuhah ekonomi dan bukan elemen utama dr pertumbuhan itu sendiri. Dari sini maka mungkin timbul yg disebut sebagai ekonomi kerakyatan dimana rakyat yg akan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian maka krn sektor pertanian dan UKM merupakan tempat masyarakat kebanyakan berada, dibuatlah rencana utk menjadikan sektor ini utk maju dgn pesat. Seperti ilmu2 yg lainnya (kecuali mungkin ilmu kudu), ilmu ekonomi dibangun dr landasan teori dan empiris maka ekonomi kerakyatan mesti dilihat secara teoritis dan empiris. Ini sebenarnya bukan tugas sy yg kerja sehari-harinya sebagai pemborong rumah tapi rasanya tangan gatal utk ikut berpendapat dan rasanya juga masih ada sedikit sisa kejayaan dulu sebagai dosen dan peneliti di almamater tercinta. Saya tergerak menulis ini krn sebutan neolib ini menjadi stigma yg mengaburkan persoalan yg sebenarnya. Berdebatlah dgn sehat tanpa berusaha memfitnah dan membunuh karakter org. Secara teoritis rasanya saya nggak ingat ada yg namanya ekonomi kerakyatan ini. Secara empiris, negara mana yg mau dicontoh dgn ekonomi kerakyatan ini? Apakah China, India, Vietnam atau negara mana? Negara2 itu justru malah saat ini lebih liberal dr sebelumnya. Walaupun mesti diakui bahwa mereka memanage liberalisasinya dgn baik. Dan yg lebih penting adalah aparatur di negara2 itu lebih baik kualitasnya drpd negara kita yg ranking korupsinya jauh di bawah China. Saya paham para politisi ingin berebut mensejahterakan rakyat, ini prasangka baiknya. Prasangka buruknya adalah, para politisi ingin menjual idenya ke masyarakat dengan segala macam cara bahkan dengan cara yg tdk jelas logikanya sekalipun.Tentu saja pemerintah tidak boleh diam dgn kondisi masyarakat yg masih jauh dr sejahtera. Tapi berargumentasi dgn logika yg menyesatkan bukanlah solusinya. Pemerintah saat ini yg didukung oleh para neolib itu (menurut mereka yg tidak suka lho, bukan menurut saya) memang belum optimal dalam membuat kebijakan yg mensejahterakan rakyat tapi mereka telah membuat kebijakan BLT, menyehatkan perekonomian dr beban subsidi yg dapat menenggelamkan APBN, memberantas korupsi yg memiskinkan masyarakat banyak, menstabilkan politik sehingga pembangunan ekonomi dpt lebih kondusif. Saya merasa sasaran tembak dr para politisi ini thd pemerintah sekarang salah arah. Yg harus ditekan dr pemerintahan sekarang dan pemerintahan selanjutnya tetap pemberantasan korupsi dan penegakan hukum yg konsisten, penyediaan pendidikan, kebutuhan dasar dan pembangunan infrastruktur. Dengan cara ini masyarakat luas akan mudah utk bergerak mobilitas sosial ekonominya. Org spt saya yg berasal dr keluarga sederhana bisa menaikkan taraf hidup keluarganya dgn melalui pendidikan yg terjangkau. Dan ekonomi yg berkurang korupsinya akan menyebabkan iklim bisnis yg efisien sehingga bisnis berkembang dgn sehat dan mampu bersaing di pasar dunia sehingga akhirnya mensejahterakan masyarakat. Elemen yg lain dr sebutan neolib ini mungkin adalah ketundukan dr yg disebut para neolib terhadap pemerintah asing (Barat) dan pasar dan investor asing (Barat). Mungkin memang ada org2 yg tunduk dgn org asing terutama org2 yg bekerja pada perusahaan asing. (He he he ..... Saya pernah bekerja di perusahaan asing dan saya merasa etika bisnis di perusahaan asing seringkali malah lebih baik dr perusahaan lokal). Tapi sungguh naif menuduh org2 tertentu merupakan org yg takluk dgn kepentingan asing. Kalau dilihat dr proporsi utang luar negeri Indonesia terhadap total hutang, menurut kawan ekonom saya, jelas ada penurunan. Artinya secara prosentase hutang luar negeri negara Indonesia makin menurun dibanding hutang dalam negeri. Berarti kalaupun disebut didikte maka negara Indonesia lebih banyak didikte oleh investor dalam mata uang rupiah. Di sisi lain prosentase hutang Indonesia terhadap PDB menurun dan menurut teman saya ini, Indonesia termasuk negara yg kadar hutangnya relatif rendah dibandingkan PDBnya. Di pihak lain coba lihat dr para capres dan cawapres yg maju, adakah yg tdk pernah terlibat dgn masalah asing2 ini. Semuanya pernah duduk di pemerintahan yg mesti berurusan dgn lembaga donor asing. Bahkan capres yg tdk bisa majupun ada yg pernah jadi pejabat dan akhirnya mesti berurusan dgn asing tsb. Selain itu harap diingat bahkan USA saat ini bahkan banyak berutang ke China. Negara China banyak membeli surat2 berharga yg diterbitkan pemerintah Amerika karena kelebihan USD yg mereka miliki dari hasil ekspor mereka ke negara2 Barat. Bahkan saat ini China mulai membeli surat berharga dari perusahaan2 besar yg menjadi perusahaan publik di Amerika. Jadi sekali lagi inipun mengaburkan persoalan sebenarnya. Saya percaya persoalan yg terbesar bangsa ini hadapi adalah bagaimana mengelola diri sendiri dan tdk mudah mencari kambing hitam. Memang jelas negara lain selalu ingin menekan negara kita, tapi kalau cuma bisa menyalahkan org lain atas nasib kita maka negara ini tidak akan banyak terjadi perubahan. Sebagai warga negara kita wajib sedikit berkontribusi dgn memilih pemimpin yg benar2 adil, jujur, cerdas, dan memberikan teladan yg baik. Imam Rasyidi PT Rumah Idaman Indonesia Kontraktor (Rancang Bangun) Rumah Jl Bunga Mayang II No.21, Bintaro Jakarta Selatan 12330 Phone: 021- 98 250 258 & 7388 2263 Mobile: 0816 997 922, 021-7072 7840 Fax: 021-7342449 www.rii-kontraktor.com <http://www.rii-kontraktor.com> Akses email lebih cepat. Yahoo! menyarankan Anda meng-upgrade browser ke Internet Explorer 8 baru yang dioptimalkan untuk Yahoo! Dapatkan di sini! http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer <http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer> ------------------------------------ Yahoo! Groups Links ------------------------------------ Yahoo! Groups Links --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ Mailing List para praktisi dan peminat hukum. Mailing List ini TIDAK TERKAIT sama sekali dengan Kongres Advokat Indonesia (KAI). Anda menerima pesan ini karena berlangganan ke Grup "Advokat-Indonesia" Google Groups. Untuk memposting ke grup ini, kirimkan email ke [email protected] <mailto:[email protected]> Untuk keluar dari grup ini, kirim email ke [email protected] <mailto:[email protected]> Untuk pilihan lain, kunjungi grup ini di http://groups.google.com/group/Advokat-Indonesia?hl=id <http://groups.google.com/group/Advokat-Indonesia?hl=id> -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

