FYI dari milist tetangga, semoga bermanfaat
Note: forwarded message attached.


salam, 

nano


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/alumni-ubv/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 
--- Begin Message ---
---------------------------- Original Message ----------------------------
Subject: [Geodesi&Geomatika] Saling Tumpuk di Bawah Celebes
From:    "Mipi Ananta Kusuma" <[EMAIL PROTECTED]>
Date:    Mon, July 31, 2006 6:01 pm
To:      [EMAIL PROTECTED]
--------------------------------------------------------------------------

Ibu Dina ada di Majalah Berita Mingguan Tempo.
Dince, Kapan Survei ke Sulawesi-Palu lagi?

Mipi

HYPERLINK
"http://www.tempointeraktif.com/hg/mbmtempo/arsip/2006/07/31/ILT/"http:/
/www.tempointeraktif.com/hg/mbmtempo/arsip/2006/07/31/ILT/

Ilmu dan Teknologi



Saling Tumpuk di Bawah Celebes

Ada wilayah seluas 300 kilometer persegi mengapung di atas tumbukan tiga
lempeng di dekat Sulawesi. Itulah pabrik gempa dan tsunami di sana.
SEORANG lelaki nun di desa terpencil di Kabupaten Bone Bola-ngo,
Gorontalo, menaruh harap-an pada dua buah tenda. Itu hanya tenda
plastik, bukan tenda mewah seperti yang dipakai para pendaki gunung.
Dengan bekal tenda murahan itu ia setengah berlari menapaki Gunung
Malahu. Lelaki itu berebut mencari kapling tenda, bersaing dengan
ratusan tetangganya yang menyerbu ke gunung itu.
Aswin Ahmad, lelaki itu, seperti halnya penduduk Desa Huangobotu
lainnya, berlari dengan bayangan ketakutan di kepalanya. Ia juga
memboyong anak dan istrinya. ”Kami mendengar informasi tsunami bakal
datang hingga 28 Juli,” ujarnya.
Tsunami, sebuah kata yang ampuh untuk memobilisasi—juga
menakuti—penduduk saat ini. Hanya dalam tempo singkat, Gunung Malahu
berubah jadi bak bumi perkemahan pramuka. Puluh-an tenda plastik
warna-warni berjejal-an di lereng-lereng sempit.
Dua hari sebelum Aswin mengungsi, daerah itu memang digedor gempa
berkekuatan 6,6 skala Richter. Pusat gempanya ada di laut Teluk Tomini,
sekitar 150 kilometer dari Luwuk Banggai atau sekitar 90 kilometer dari
Gorontalo—ini dua daerah yang rawan gempa dan tsunami. Karena itu,
banyak warga di sepanjang pesisir teluk itu mengungsi ke dataran tinggi.

Gempa beberapa detik itu juga membikin gonjang-ganjing Sulawesi Tengah.
Ribuan warga yang tinggal di pesisir Teluk Palu berlarian menuju daerah
pegunungan. Termasuk Rustam, warga Kelurahan Benawa, Kabupaten Donggala.
Dia membawa istri dan tiga anaknya mengungsi ke lereng Gunung Donggala.
”Saya menerima pesan singkat lewat ponsel soal ancaman tsunami,”
katanya.
Siapa yang tak takut tsunami? Pe-sisir selatan Pulau Jawa baru saja
dihantam gelombang maut itu. Padahal, ba-nyak war-ga di sana tak hanya
merasakan gem-pa kecil. Pertengahan Maret 2006, Pulau Buru, Maluku, yang
cuma ”berjarak” beberapa jam dari Gorontalo, di-sapu tsunami setelah
gempa berkekuatan 6,7 skala Richter datang. Sebanyak 241 rumah hancur,
tiga orang meninggal.
Ancaman seperti itulah yang terus berputar di kepala Aswin, Rustam, dan
orang-orang di pesisir Sulawesi. Apalagi, sejarah mencatat tsunami
pernah terjadi di wilayah ini. Dari catatan Badan Meteorologi dan
Geofisika, Gorontalo pernah ditampar gelombang laut pada 1939 ketika
gempa berkekuatan 8,56 skala Richter mengguncang provinsi ini. Bencana
serupa pernah terjadi di Kota Luwuk, Sulawesi Tengah, beberapa tahun
lalu.
Sulawesi atau Celebes dan Kepulauan Maluku memang unik. Pulau ini
terbentuk karena pergerakan tiga lempeng bumi. Sekitar 30 juta tahun
silam, Sulawesi masih tercerai-berai—sebagian menempel di Kalimantan dan
Jawa. Baru setelah 1 juta tahun lalu, pulau ini terbentuk. Saat itu
Papua masih me-nempel di Australia (lihat infografik). Karena pergerakan
lempeng bumi itu, para ahli menemukan wilayah itu kini berada di titik
pertemuan tiga lempeng benua, yakni lempeng Eurasia di bagian barat,
lempeng India-Australia di selatan, dan lempeng Filipina di utara.
Dari penelitian geodinamika, menurut Dina Angraeni Sarsito, geolog
Institut Teknologi Bandung, diketahui daerah di sekitar tumbukan tiga
lempeng itu remuk. Tak ayal lagi, pulau-pulau di atasnya, seperti
Sulawesi, Maluku, dan Halmahera, ikut menjadi carut-marut oleh sesar
atau patahan kulit bumi. Wilayah itu, kata Dina, terfragmentasi seperti
remah-remah, dan tiap blok kecil itu bergerak saling melepaskan diri
akibat jepitan dan hunjaman tiga lempeng yang mengelilinginya.
Keadaan ini menjelaskan mengapa daerah timur Indonesia menjadi tempat
paling rawan bencana gempa bumi sekaligus tsunami. ”Daerah ini
super-berantakan,” kata Dina, yang menjadi peneliti geodinamika dari
Jurusan Geodesi, Institut Teknologi Bandung.
Cecep Subarya, Kepala Bidang Geodinamika Pusat Geodesi dan Geodina-mika
Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal),
men-jelaskan tumpang-tindihnya lempenglempeng bumi di sana membuat
wilayah di atasnya seperti mengapung, yang dikenal dengan nama buoyant
atau shear zone. Wilayah ini luasnya 300 kilometer persegi, membentang
dari daerah kepala burung Papua, Halmahera, Laut Banda, hingga Sulawesi.
”Zona pecahan semacam ini paling luas di dunia,” kata sang doktor itu.
Menurut Cecep, yang ahli geodesi, di Sulawesi sendiri terdapat beberapa
patahan. Misalnya patahan Palu, yang letaknya di bawah Kota Palu. Lalu
patahan Matano, yang melewati daerah Soroako. Ada juga patahan Mayu,
yang memanjang dari Sulawesi sampai Pulau Halmahera.
Karena tingginya ancaman gempa dan tsunami di Sulawesi, Bakosurtanal dan
ITB sudah memasang beberapa alat global positioning system (GPS) yang
secara terus-menerus mengirimkan si-nyal posisi. Menurut Dina, rekaman
data pemindai posisi mencatat bahwa sesar (patahan) Palu-Koro merupakan
tipe yang bergerak saling geser (slip fault). Kecepatan saling geser dua
lempeng itu mencapai 3,8 sentimeter per tahun.
Dina mendapati bahwa sesar itu me-ngunci gerakan saling geser yang
terjadi pada pertemuan patahan itu, dan sesar itu ternyata masih aktif.
”Diduga- sedang menimbun kekuatan untuk ter-lepas dalam (bentuk gempa)
satu waktu yang tidak bisa diperkirakan,” kata-nya. Itulah yang
menakutkan Aswin. Masalahnya, sampai kapan Aswin bisa menaruh harapan di
tenda plastiknya?
Untung Widyanto, Ahmad Fikri, Verrianto Madjowa (Gorontalo), Darlis
Muhamad(Palu)
Mencari Lindu yang Asli
PULUHAN lelaki berdasi di Jalan Sudirman, Jakarta, tiba-tiba berlarian
menuruni gedung jangkung. Gara-garanya cuma sebuah pesan pendek yang
menjalar melalui ponsel. Pesan singkat itu mengabarkan: Badan
Meteorologi dan Geofisika Jepang memberitahukan ”rencana” datangnya
gempa 8 skala Richter dan tsunami ke Kota Jakarta.
Para pejabat buru-buru memberi klarifikasi atas pesan palsu itu. Kini,
Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) membangun jaringan untuk
menyebarluaskan informasi soal ancaman tsunami dan di mana lokasi lindu
atau gempa. ”Agar warga cepat melakukan evakuasi dan upaya memberi
pertolongan,” kata Kepala Bidang Gempa Bumi BMG, Suharjono.
Agar tak termakan isu gempa palsu, ada baiknya melakukan hal di bawah
ini:
1.      Jangan pernah percaya pada pesan pendek atau surat elektronik
yang mengatakan gempa bakal datang pukul 14.00 atau semacamnya. Pesan
itu pasti bohong. Badan meteorologi mana pun di dunia belum bisa
meramalkan kehadiran gempa dengan menyebutkan jam kejadian.
2.      Percayai sumber resmi. BMG selalu mengirimkan info gempa lewat
pesan pendek kepada pejabat tinggi yang memiliki jaringan untuk
menggerakkan aparatnya. Misalnya presiden, wakil presiden, dan Menteri
Dalam Negeri. Lalu kepada gubernur, bupati, dan administrasi pelabuhan.
3.      Cek juga media elektronik dengan reputasi baik, seperti televisi
atau radio pemerintah. Selama ini informasi bencana baru ditampilkan di
televisi lewat running text. Kelak, kata Suharjono, media harus
menghentikan acaranya dan langsung menyiarkan informasi dari BMG.
4.      Perhatikan sirene. Di pantai-pantai tertentu kini sudah dipasang
sirene gempa, seperti di pesisir Sumatera Barat.
5.      BMG menyampaikan informasi lewat website milik publik yang
terkenal atau banyak dikunjungi. ”BMG juga menghimpun alamat e-mail
individu,” kata Suharjono. Orang yang mendaftarkan e-mail-nya di website
www.bmg.go.id akan mendapat info instan soal gempa dari BMG.

Untung Widiyanto


-- 
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.1.394 / Virus Database: 268.10.5/403 - Release Date:
28/07/2006

Ibu Dina ada di Majalah Berita Mingguan Tempo.

Dince, Kapan Survei ke Sulawesi-Palu lagi?

 

Mipi

 

http://www.tempointeraktif.com/hg/mbmtempo/arsip/2006/07/31/ILT/

 

Ilmu dan Teknologi

 

Saling Tumpuk di Bawah Celebes

Ada wilayah seluas 300 kilometer persegi mengapung di atas tumbukan tiga lempeng di dekat Sulawesi. Itulah pabrik gempa dan tsunami di sana.

SEORANG lelaki nun di desa terpencil di Kabupaten Bone Bola-ngo, Gorontalo, menaruh harap-an pada dua buah tenda. Itu hanya tenda plastik, bukan tenda mewah seperti yang dipakai para pendaki gunung. Dengan bekal tenda murahan itu ia setengah berlari menapaki Gunung Malahu. Lelaki itu berebut mencari kapling tenda, bersaing dengan ratusan tetangganya yang menyerbu ke gunung itu.

Aswin Ahmad, lelaki itu, seperti halnya penduduk Desa Huangobotu lainnya, berlari dengan bayangan ketakutan di kepalanya. Ia juga memboyong anak dan istrinya. ”Kami mendengar informasi tsunami bakal datang hingga 28 Juli,” ujarnya.

Tsunami, sebuah kata yang ampuh untuk memobilisasi—juga menakuti—penduduk saat ini. Hanya dalam tempo singkat, Gunung Malahu berubah jadi bak bumi perkemahan pramuka. Puluh-an tenda plastik warna-warni berjejal-an di lereng-lereng sempit.

Dua hari sebelum Aswin mengungsi, daerah itu memang digedor gempa berkekuatan 6,6 skala Richter. Pusat gempanya ada di laut Teluk Tomini, sekitar 150 kilometer dari Luwuk Banggai atau sekitar 90 kilometer dari Gorontalo—ini dua daerah yang rawan gempa dan tsunami. Karena itu, banyak warga di sepanjang pesisir teluk itu mengungsi ke dataran tinggi.

Gempa beberapa detik itu juga membikin gonjang-ganjing Sulawesi Tengah. Ribuan warga yang tinggal di pesisir Teluk Palu berlarian menuju daerah pegunungan. Termasuk Rustam, warga Kelurahan Benawa, Kabupaten Donggala. Dia membawa istri dan tiga anaknya mengungsi ke lereng Gunung Donggala. ”Saya menerima pesan singkat lewat ponsel soal ancaman tsunami,” katanya.

Siapa yang tak takut tsunami? Pe-sisir selatan Pulau Jawa baru saja dihantam gelombang maut itu. Padahal, ba-nyak war-ga di sana tak hanya merasakan gem-pa kecil. Pertengahan Maret 2006, Pulau Buru, Maluku, yang cuma ”berjarak” beberapa jam dari Gorontalo, di-sapu tsunami setelah gempa berkekuatan 6,7 skala Richter datang. Sebanyak 241 rumah hancur, tiga orang meninggal.

Ancaman seperti itulah yang terus berputar di kepala Aswin, Rustam, dan orang-orang di pesisir Sulawesi. Apalagi, sejarah mencatat tsunami pernah terjadi di wilayah ini. Dari catatan Badan Meteorologi dan Geofisika, Gorontalo pernah ditampar gelombang laut pada 1939 ketika gempa berkekuatan 8,56 skala Richter mengguncang provinsi ini. Bencana serupa pernah terjadi di Kota Luwuk, Sulawesi Tengah, beberapa tahun lalu.

Sulawesi atau Celebes dan Kepulauan Maluku memang unik. Pulau ini terbentuk karena pergerakan tiga lempeng bumi. Sekitar 30 juta tahun silam, Sulawesi masih tercerai-berai—sebagian menempel di Kalimantan dan Jawa. Baru setelah 1 juta tahun lalu, pulau ini terbentuk. Saat itu Papua masih me-nempel di Australia (lihat infografik). Karena pergerakan lempeng bumi itu, para ahli menemukan wilayah itu kini berada di titik pertemuan tiga lempeng benua, yakni lempeng Eurasia di bagian barat, lempeng India-Australia di selatan, dan lempeng Filipina di utara.

Dari penelitian geodinamika, menurut Dina Angraeni Sarsito, geolog Institut Teknologi Bandung, diketahui daerah di sekitar tumbukan tiga lempeng itu remuk. Tak ayal lagi, pulau-pulau di atasnya, seperti Sulawesi, Maluku, dan Halmahera, ikut menjadi carut-marut oleh sesar atau patahan kulit bumi. Wilayah itu, kata Dina, terfragmentasi seperti remah-remah, dan tiap blok kecil itu bergerak saling melepaskan diri akibat jepitan dan hunjaman tiga lempeng yang mengelilinginya.

Keadaan ini menjelaskan mengapa daerah timur Indonesia menjadi tempat paling rawan bencana gempa bumi sekaligus tsunami. ”Daerah ini super-berantakan,” kata Dina, yang menjadi peneliti geodinamika dari Jurusan Geodesi, Institut Teknologi Bandung.

Cecep Subarya, Kepala Bidang Geodinamika Pusat Geodesi dan Geodina-mika Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal), men-jelaskan tumpang-tindihnya lempenglempeng bumi di sana membuat wilayah di atasnya seperti mengapung, yang dikenal dengan nama buoyant atau shear zone. Wilayah ini luasnya 300 kilometer persegi, membentang dari daerah kepala burung Papua, Halmahera, Laut Banda, hingga Sulawesi. ”Zona pecahan semacam ini paling luas di dunia,” kata sang doktor itu.

Menurut Cecep, yang ahli geodesi, di Sulawesi sendiri terdapat beberapa patahan. Misalnya patahan Palu, yang letaknya di bawah Kota Palu. Lalu patahan Matano, yang melewati daerah Soroako. Ada juga patahan Mayu, yang memanjang dari Sulawesi sampai Pulau Halmahera.

Karena tingginya ancaman gempa dan tsunami di Sulawesi, Bakosurtanal dan ITB sudah memasang beberapa alat global positioning system (GPS) yang secara terus-menerus mengirimkan si-nyal posisi. Menurut Dina, rekaman data pemindai posisi mencatat bahwa sesar (patahan) Palu-Koro merupakan tipe yang bergerak saling geser (slip fault). Kecepatan saling geser dua lempeng itu mencapai 3,8 sentimeter per tahun.

Dina mendapati bahwa sesar itu me-ngunci gerakan saling geser yang terjadi pada pertemuan patahan itu, dan sesar itu ternyata masih aktif. ”Diduga- sedang menimbun kekuatan untuk ter-lepas dalam (bentuk gempa) satu waktu yang tidak bisa diperkirakan,” kata-nya. Itulah yang menakutkan Aswin. Masalahnya, sampai kapan Aswin bisa menaruh harapan di tenda plastiknya?

Untung Widyanto, Ahmad Fikri, Verrianto Madjowa (Gorontalo), Darlis Muhamad(Palu)

Mencari Lindu yang Asli

PULUHAN lelaki berdasi di Jalan Sudirman, Jakarta, tiba-tiba berlarian menuruni gedung jangkung. Gara-garanya cuma sebuah pesan pendek yang menjalar melalui ponsel. Pesan singkat itu mengabarkan: Badan Meteorologi dan Geofisika Jepang memberitahukan ”rencana” datangnya gempa 8 skala Richter dan tsunami ke Kota Jakarta.

Para pejabat buru-buru memberi klarifikasi atas pesan palsu itu. Kini, Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) membangun jaringan untuk menyebarluaskan informasi soal ancaman tsunami dan di mana lokasi lindu atau gempa. ”Agar warga cepat melakukan evakuasi dan upaya memberi pertolongan,” kata Kepala Bidang Gempa Bumi BMG, Suharjono.

Agar tak termakan isu gempa palsu, ada baiknya melakukan hal di bawah ini:

1.      Jangan pernah percaya pada pesan pendek atau surat elektronik yang mengatakan gempa bakal datang pukul 14.00 atau semacamnya. Pesan itu pasti bohong. Badan meteorologi mana pun di dunia belum bisa meramalkan kehadiran gempa dengan menyebutkan jam kejadian.

2.      Percayai sumber resmi. BMG selalu mengirimkan info gempa lewat pesan pendek kepada pejabat tinggi yang memiliki jaringan untuk menggerakkan aparatnya. Misalnya presiden, wakil presiden, dan Menteri Dalam Negeri. Lalu kepada gubernur, bupati, dan administrasi pelabuhan.

3.      Cek juga media elektronik dengan reputasi baik, seperti televisi atau radio pemerintah. Selama ini informasi bencana baru ditampilkan di televisi lewat running text. Kelak, kata Suharjono, media harus menghentikan acaranya dan langsung menyiarkan informasi dari BMG.

4.      Perhatikan sirene. Di pantai-pantai tertentu kini sudah dipasang sirene gempa, seperti di pesisir Sumatera Barat.

5.      BMG menyampaikan informasi lewat website milik publik yang terkenal atau banyak dikunjungi. ”BMG juga menghimpun alamat e-mail individu,” kata Suharjono. Orang yang mendaftarkan e-mail-nya di website www.bmg.go.id akan mendapat info instan soal gempa dari BMG.

 

Untung Widiyanto

 


--
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.1.394 / Virus Database: 268.10.5/403 - Release Date: 28/07/2006

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

--- End Message ---

Kirim email ke