Ha ................. ha ........................ ha ........................, 
sidin munyak sudah.-

To: [email protected]; [email protected]
From: [email protected]
Date: Thu, 11 Feb 2010 17:16:45 +0700
Subject: RE: x-sempaka: Trs: {diskusi}Renungan: Maafkan Aku, Anakku !










        





















Benar juga Ron-Ron,renungan yg bagus,tapi andaikan 
aku............bisakah?????????????????
Tapi bukan hanya peristiwa ini saja sobat,mungkin 
pada hal-hal lain bisa terjadi,sebagai contoh..........diriku sebagai pejabat 
(entah pejabat apa saja deh) satu waktu ada keluhan atau kritikan atau lainnya 
yang membuat diriku merasa tersinggung,terhina atau merasa dipojokan,lalu aku 
berkata wah...itu perbuatan anakbuahku atau oknum,lalu aku marahi dia tanpa 
mengetahui latar belakangnya sebab bawahan tsb melakukan hal 
tersebut.........atau juga bertanya lagi karena geramnya.......tapi setelah 
tahu 
biasanya karena aku pejabat ah masa bodoh,pokoknya aku bisa 
lampiaskan.........ah terus nya sambung sendiri 
deh



From: [email protected] 
[mailto:[email protected]] On Behalf Of Roni 
Sohendra
Sent: 11 Februari 2010 15:28
To: alumni 
sempaka
Subject: x-sempaka: Trs: {diskusi}Renungan: Maafkan Aku, 
Anakku !








----- Pesan Diteruskan ----
Dari: Joice Karyadi 
<[email protected]>
Kepada: Milis Diskusi Katolik 
<[email protected]>
Terkirim: Kam, 11 Februari, 2010 
13:23:08
Judul: 
{diskusi}Renungan: Maafkan Aku, Anakku !





Dari milis 
sebelah…..
 
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Renungan:  Sebuah kesaksian
Empat tahun yang 
lalu, kecelakaan telah merenggut orang yang kukasihi, sering aku 
bertanya-tanya, 
bagaimana keadaan istri saya sekarang di alam surgawi, baik-baik sajakah? Dia 
pasti sangat sedih karena sudah meninggalkan sorang suami yang tidak mampu 
mengurus rumah dan seorang anak yang masih begitu kecil. Begitulah yang 
kurasakan, karena selama ini saya merasa bahwa saya telah gagal, tidak bisa 
memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani anak saya, dan gagal untuk menjadi ayah 
dan ibu untuk anak saya.

Pada suatu hari, ada urusan penting di tempat 
kerja, aku harus segera berangkat ke kantor, anak saya masih tertidur. Ohhh... 
aku harus menyediakan makan untuknya.

Karena masih ada sisa nasi, jadi 
aku menggoreng telur untuk dia makan. Setelah memberitahu anak saya yang masih 
mengantuk, kemudian aku bergegas berangkat ke tempat kerja.

Peran ganda 
yang kujalani, membuat energiku benar-benar terkuras. Suatu hari ketika aku 
pulang kerja aku merasa sangat lelah, setelah bekerja sepanjang hari. Hanya 
sekilas aku memeluk dan mencium anakku, saya langsung masuk ke kamar tidur, dan 
melewatkan makan malam. Namun, ketika aku merebahkan badan ke tempat tidur 
dengan maksud untuk tidur sejenak menghilangkan kepenatan, tiba-tiba saya 
merasa 
ada sesuatu yang pecah dan tumpah seperti cairan hangat! Aku membuka selimut 
dan..... di sanalah sumber 'masalah'nya ... sebuah mangkuk yang pecah dengan 
mie 
instan yang berantakan di seprai dan selimut!

Oh...Tuhan! Aku begitu 
marah, aku mengambil gantungan pakaian, dan langsung menghujani anak saya yang 
sedang gembira bermain dengan mainannya, dengan pukulan-pukulan! Dia hanya 
menangis, sedikitpun tidak meminta belas kasihan, dia hanya memberi penjelasan 
singkat:

"Dad, tadi aku merasa lapar dan tidak ada lagi sisa nasi. 
Tapi Daddy belum pulang, jadi aku ingin memasak mie instan. Aku 
ingat, Daddy pernah mengatakan untuk tidak menyentuh atau menggunakan 
kompor gas tanpa ada orang dewasa di sekitar, maka aku menyalakan mesin air 
minum ini dan menggunakan air panas untuk memasak mie. Satu untuk Daddy dan 
yang satu lagi untuk saya .. Karena aku takut mie'nya akan menjadi dingin, jadi 
aku menyimpannya di bawah selimut supaya tetap hangat sampai Daddy pulang. 
Tapi aku lupa untuk mengingatkan daddy karena aku sedang bermain dengan 
mainan saya ... Saya minta maaf Dad ... "

Seketika, air mata mulai 
mengalir di pipiku ... tetapi, saya tidak ingin anak saya melihat ayahnya 
menangis maka aku berlari ke kamar mandi dan menangis dengan menyalakan shower 
di kamar mandi untuk menutupi suara tangis saya.. Setelah beberapa lama, aku 
hampiri anak saya, memeluknya dengan erat dan memberikan obat kepadanya atas 
luka bekas pukulan dipantatnya, lalu aku membujuknya untuk tidur. Kemudian aku 
membersihkan kotoran tumpahan mie di tempat tidur.

Ketika semuanya sudah 
selesai dan lewat tengah malam, aku melewati kamar anakku, dan melihat anakku 
masih menangis, bukan karena rasa sakit di pantatnya, tapi karena dia sedang 
melihat foto mommy yang dikasihinya.

Satu tahun berlalu sejak kejadian 
itu, saya mencoba, dalam periode ini, untuk memusatkan perhatian dengan 
memberinya kasih sayang seorang ayah dan juga kasih sayang seorang ibu, serta 
memperhatikan semua kebutuhannya. Tanpa terasa, anakku sudah berumur tujuh 
tahun, dan akan lulus dari Taman Kanak-kanak. Untungnya, insiden yang terjadi 
tidak meninggalkan kenangan buruk di masa kecilnya dan dia sudah tumbuh dewasa 
dengan bahagia.

Namun... belum lama, aku sudah memukul anakku lagi, saya 
benar-benar menyesal....

Guru Taman Kanak-kanaknya memanggilku dan 
memberitahukan bahwa anak saya absen dari sekolah. Aku pulang kerumah lebih 
awal 
dari kantor, aku berharap dia bisa menjelaskan. Tapi ia tidak ada dirumah, aku 
pergi mencari di sekitar rumah kami, memangil-manggil namanya dan akhirnya 
menemukan dirinya di sebuah toko alat tulis, sedang bermain komputer game 
dengan 
gembira. Aku marah, membawanya pulang dan menghujaninya dengan pukulan-pukulan. 
Dia diam saja lalu mengatakan, "Aku minta maaf, dad".

Selang beberapa 
lama aku selidiki, ternyata ia absen dari acara "pertunjukan bakat" yang 
diadakan oleh sekolah, karena yg diundang adalah siswa dengan ibunya. Dan 
itulah 
alasan ketidakhadirannya karena ia tidak punya ibu.......

Beberapa hari 
setelah penghukuman dengan pukulan rotan, anakku pulang ke rumah memberitahu 
saya, bahwa disekolahnya mulai diajarkan cara membaca dan menulis. Sejak saat 
itu, anakku lebih banyak mengurung diri di kamarnya untuk berlatih menulis, 
yang 
saya yakin, jika istri saya masih ada dan melihatnya ia akan merasa bangga, 
tentu saja dia membuat saya bangga juga!

Waktu berlalu dengan begitu 
cepat, satu tahun telah lewat. Saat ini musim dingin, dan hari Natal telah 
tiba. 
Semangat Natal ada dimana-mana juga di hati setiap orang yg lalu lalang... 
Lagu-lagu Natal terdengar diseluruh pelosok jalan .... tapi astaga, anakku 
membuat masalah lagi. Ketika aku sedang menyelasaikan pekerjaan di hari-hari 
terakhir kerja, tiba-tiba kantor pos menelpon. Karena pengiriman surat sedang 
mengalami puncaknya, tukang pos juga sedang sibuk-sibuknya, suasana hati mereka 
pun jadi kurang bagus.

Mereka menelpon saya dengan marah-marah, untuk 
memberitahu bahwa anak saya telah mengirim beberapa surat tanpa alamat. 
Walaupun 
saya sudah berjanji untuk tidak pernah memukul anak saya lagi, tetapi saya 
tidak 
bisa menahan diri untuk tidak memukulnya lagi, karena saya merasa bahwa anak 
ini 
sudah benar-benar keterlaluan. Tapi sekali lagi, seperti sebelumnya, dia 
meminta 
maaf : "Maaf, Dad". Tidak ada tambahan satu kata pun untuk menjelaskan 
alasannya 
melakukan itu.

Setelah itu saya pergi ke kantor pos untuk mengambil 
surat-surat tanpa alamat tersebut lalu pulang. Sesampai di rumah, dengan marah 
saya mendorong anak saya ke sudut mempertanyakan kepadanya, perbuatan konyol 
apalagi ini? Apa yang ada dikepalanya?

Jawabannya, di tengah 
isak-tangisnya, adalah : "Surat-surat itu untuk mommy......".

Tiba-tiba 
mataku berkaca-kaca. ..... tapi aku mencoba mengendalikan emosi dan terus 
bertanya kepadanya: "Tapi kenapa kamu memposkan begitu banyak surat-surat, pada 
waktu yg sama?"

Jawaban anakku itu : "Aku telah menulis surat buat mommy 
untuk waktu yang lama, tapi setiap kali aku mau menjangkau kotak pos itu, 
terlalu tinggi bagiku, sehingga aku tidak dapat memposkan surat-suratku. Tapi 
baru-baru ini, ketika aku kembali ke kotak pos, aku bisa mencapai kotak itu dan 
aku mengirimkannya sekaligus".

Setelah mendengar penjelasannya ini, aku 
kehilangan kata-kata, aku bingung, tidak tahu apa yang harus aku lakukan, dan 
apa yang harus aku katakan ....

Aku bilang pada anakku, "Nak, mommy sudah 
berada di surga, jadi untuk selanjutnya, jika kamu hendak menuliskan sesuatu 
untuk mommy, cukup dengan membakar surat tersebut maka surat akan sampai kepada 
mommy. Setelah mendengar hal ini, anakku jadi lebih tenang, dan segera setelah 
itu, ia bisa tidur dengan nyenyak. Saya berjanji akan membakar surat-surat atas 
namanya, jadi saya membawa surat-surat tersebut ke luar, tapi.... saya jadi 
penasaran untuk tidak membuka surat tersebut sebelum mereka berubah menjadi 
abu.

Dan salah satu dari isi surat-suratnya membuat hati saya 
hancur......

'Mommy sayang',

Saya sangat merindukanmu! Hari ini, 
ada sebuah acara 'Pertunjukan Bakat' di sekolah, dan mengundang semua ibu untuk 
hadir di pertunjukan tersebut. Tapi kamu tidak ada, jadi saya tidak ingin 
menghadirinya juga. Aku tidak memberitahu daddy tentang hal ini karena aku 
takut daddy akan mulai menangis dan merindukanmu lagi.

Saat itu 
untuk menyembunyikan kesedihan, aku duduk di depan komputer dan mulai bermain 
game di salah satu toko. daddy keliling-keliling mencari saya, setelah 
menemukanku daddy marah, dan aku hanya bisa diam, daddy memukul aku, 
tetapi aku tidak menceritakan alasan yang sebenarnya.

Mommy, setiap hari 
saya melihat daddy merindukanmu, setiap kali dia teringat padamu, ia begitu 
sedih dan sering bersembunyi dan menangis di kamarnya.. Saya pikir kita berdua 
amat sangat merindukanmu. Terlalu berat untuk kita berdua, saya rasa. Tapi mom, 
aku mulai melupakan wajahmu. Bisakah mommy muncul dalam mimpiku sehingga saya 
dapat melihat wajahmu dan ingat padamu? Temanku bilang jika kau tertidur dengan 
foto orang yang kamu rindukan, maka kamu akan melihat orang tersebut dalam 
mimpimu. Tapi mommy, mengapa engkau tak pernah muncul?

Setelah membaca 
surat itu, tangisku tidak bisa berhenti karena saya tidak pernah bisa 
menggantikan kesenjangan yang tak dapat digantikan semenjak ditinggalkan oleh 
istri saya ....

Untuk para suami, yang telah dianugerahi seorang istri 
yang baik, yang penuh kasih terhadap anak-anakmu selalu berterima-kasihlah 
setiap hari padanya. Dia telah rela menghabiskan sisa umurnya untuk menemani 
hidupmu, membantumu, mendukungmu, memanjakanmu dan selalu setia menunggumu, 
menjaga dan menyayangi dirimu dan anak-anakmu.

Hargailah keberadaannya, 
kasihilah dan cintailah dia sepanjang hidupmu dengan segala kekurangan dan 
kelebihannya, karena apabila engkau telah kehilangan dia, tidak ada emas 
permata, intan berlian yg bisa menggantikan posisinya
 
No name

__ 




Coba Yahoo! Mail baru yang LEBIH CEPAT. Rasakan bedanya sekarang! 









    
    






                                          
_________________________________________________________________
New Windows 7: Find the right PC for you. Learn more.
http://windows.microsoft.com/shop

Kirim email ke