[ http://www.msuyanto.com ] Jenis semut dan kutu daun
tertentu memiliki hubungan yang disebut simbiosis.
Dalam simbiosis, binatang berbeda jenisnya saling
membantu. Kutu daun merupakan serangga kecil yang
bergerak lamban, hidup pada tumbuh-tumbuhan dan
memakan nektar


ektar itu dihisap dari batang pohon dengan mulutnya
yang tajam dan panjang. Sewaktu dicerna, nektar
berubah menjadi bahan manis yang disebut embun madu.
Bahan ini kemudian dikeluarkan oleh kutu melalui organ
yang disebut kornikula. Embun madu ini makanan
kegemaran semut merah, yang memakan sebanyak yang
dapat dihasilkan oleh kutu daun itu. Dengan memelihara
ternak kutu daun, semut memiliki cadangan yang selalu
siap sedia.

Untuk melindungi cadangan embun madunya, semut sangat
memperhatikan kutu daun miliknya. Misalnya, semut
memindahkan kutu itu ke tempat yang banyak nektarnya,
dan apabila wilayah pencarian makanan itu menjadi
terlalu padat, semut akan memindahkan kutu itu ke
wilayah yang lebih longgar. Semut juga menyerang
setiap serangga yang mencoba memakan kutu daun itu,
sekalipun si penyerang mungkin jauh lebih besar
daripada semut itu sendiri.

Ilmuwan belum memperoleh kepastian kapan atau
bagaimana hubungan istimewa ini dimulai. Akan tetapi,
dengan ditemukannya semut serta kutu daun yang telah
menjadi fosil bersama-sama, terbukti bahwa dua jenis
serangga ini telah saling membantu sekurang-kurangnya
sejak 30 juta tahun yang lampau. Kisah semut dan kutu
daun tersebut, menurut Stephen R Covey, disebut
efektivitas, yang merupakan keseimbangan antara
produksi dan kemampuan produksi.

Produksi merupakan hasil yang dinginkan, yaitu embun
madu. Sedangkan kemampuan produksi adalah kemampuan
atau aset yang menghasilkan embun madu, yaitu kutu
daun. Semut berusaha untuk memelihara dan menjaga kutu
daun sebaik-baik, agar kutu daun tersebut tetap
menghasilkan embut madu. Semut melakukan tindakan yang
efektif.

Dalam bisnis, sering kita mencari keuntungan atau
hasil jangka pendek dengan merusak kemampuan produksi
atau aset fisik, misalnya mobil, komputer, telepon,
fax, bahkan tubuh kita atau lingkungan kita. Kita
jarang memelihara atau merawat mobil, komputer,
telepon dan fax. Setelah aset tersebut rusak, maka
kita baru sadar bahwa aset tersebut merupakan aset
kunci. Biaya untuk memperbaiki aset tersebut jauh
lebih mahal daripada memelihara aset tersebut secara
rutin. Maka kita telah melakukan hal yang tidak
efektif.

Kita juga sering berbicara tentang pelayanan
pelanggan. Kita sering mengabaikan orang yang
berurusan dengan pelanggan, yaitu karyawan. Sehingga
kita baru sadar setelah sedikit demi sedikit pelanggan
meninggalkan kita. Kepercayaan dan loyalitasnya kepada
kita hilang. Biasanya justru kita menyalahkan
karyawan. Itulah tindakan yang tidak efektif. Kalau
kita ingin karyawan kita memperlakukan pelanggan
dengan baik, maka kita juga harus memperlakukan
karyawan seperti pelanggan kita.

''Anda dapat membeli tangan seseorang, tetapi tidak
pernah dapat membeli hatinya. Hatinya adalah tempat
berada antusiasmenya, loyalitasnya. Anda dapat membeli
punggungnya, tetapi tidak dapat membeli otaknya.
Itulah tempat kreativitasnya, kecerdasannya, akalnya,
'' kata Stephen R Covey.

Untuk bertidak efektif ternyata kita harus belajar
kepada semut dan kutu daun. n
(M Suyanto) 
Baca Artikel Lainnya di
http://www.suyanto.com



__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


--------------------sajogja mailing list------------------------
Gabung : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Visit : www.alumniamikom.org, groups.yahoo.com/group/amikomjogja, 
---------------------------------------------------------------- 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/amikomjogja/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke