Dunia objektif muncul dari pikiran itu sendiri

-Buddha

Ide menulis artikel ini muncul saat saya berbincang dengan rekan saya, 
Ariesandi Setyono, saat mengevaluasi mekanisme pikiran. Kami 
mengevaluasi pengalaman hidup kami berdasarkan berbagai buku positif 
yang telah kami baca. Diskusi berjalan seru, sangat inspiring dan mind 
challenging.

Jujur saya akui bahwa tidak mudah untuk bisa benar-benar menjadi seorang 
pengamat atas belief system dan proses pikiran kami. Kami harus 
melepaskan keterikatan dan kemelekatan terhadap berbagai informasi dan 
konsep yang telah kami terima selama ini, yang kami yakini sebagai hal 
yang benar. Bill Gould, mentor kami selalu berpesan, "You have to 
challenge everything, including your own belief system or assumptions. 
That's the key to quantum leap in personal growth and consciousness 
expansion".

Salah satu topik yang kita bahas dengan intens adalah mengapa berpikir 
positif justru semakin memperburuk kinerja seseorang. Topik ini menjadi 
materi yang menarik untuk didiskusikan karena kami sendiri telah 
mengalami efek negatip dari "berpikir" positif.

Benar. Anda tidak salah baca. Kami mengalami efek negatip dari 
"berpikir" positif. Namun tolong jangan protes dulu. Saya menempatkan 
kata berpikir dalam tanda kutip. Apa maksudnya?

Sering kali kita merasa yakin, diyakinkan, atau asal percaya bahwa kita 
harus berpikir positif. Menurut berbagai buku dan motivator atau trainer 
berpikir positif baik bagi diri kita. Yang jarang diungkapkan adalah 
bahwa berpikir positif itu harus benar-benar tulus dan holistik.

Yang saya maksudkan dengan holistik adalah baik pikiran sadar maupun 
bawah sadar keduanya saling setuju, sinkron, kongruen dalam berpikir 
positif.

Ambil contoh orang yang menetapkan suatu target penjualan. Misalnya 
target bulan ini adalah 50% lebih tinggi dari bulan sebelumnya. Pikiran 
sadar kita "percaya", lebih tepatnya dipaksa untuk percaya, bahwa kita 
mampu mencapai target ini. Kita melakukan afirmasi setiap hari, menempel 
kata-kata positif di berbagai tempat, dan melakukan visualisasi. Apa 
yang terjadi?

Ternyata ada bagian dari diri kita yang menolak hal ini karena kenaikan 
target dianggap terlalu tinggi sehingga dirasa tidak mungkin bisa 
dicapai. Akibatnya kita tidak berhasil mencapai target ini. Namun kita 
tetap "percaya" dan "positive thinking" bahwa kita dapat mencapai apapun 
asal kita yakin. Bukankah ini yang diajarkan di hampir semua buku 
positif dan berbagai seminar motivasi?

Lalu apa yang kita lakukan? Kata orang, "Kegagalan adalah sukses yang 
tertunda", "Tidak penting berapa kali kita jatuh yang penting adalah 
kita bangkit setiap kali kita jatuh", "Tidak ada namanya kegagalan, yang 
ada adalah hasil yang tidak kita inginkan", dan masih banyak

lagi kata-kata mutiara berkenaan dengan kegagalan. So....? Keep 
trying..... pokoke maju tak gentar, pantang menyerah.

Setelah dua bulan, tiga bulan, empat bulan, dan kita masih belum 
berhasil mencapai goal kita maka kita mulai merasa nggak enak. Tapi kita 
tetap berusaha berpikir positif. Why? Karena memang begitulah yang kita 
baca di buku-buku positif.

Lalu, mengapa "berpikir" positif justru akan sangat berbahaya bagi diri 
kita? Pada kasus di atas, yang terjadi sebenarnya adalah kita, secara 
tidak sadar, telah mengedukasi pikiran bawah sadar bahwa kita sebenarnya 
memang tidak kompeten alias gagal. Lho, kok bisa begitu ? Lha, buktinya 
kita sudah berkali-kali tidak berhasil mencapai target. Pikiran sadar 
kita dapat kita paksa untuk berpikir positif. Namun pikiran bawah sadar 
kita tidak bisa kita bohongi. Setiap kali kita gagal mencapai goal maka 
pikiran bawah sadar diedukasi dengan suatu pelajaran negatip, "Ternyata 
memang saya nggak bisa mencapai goal ini". Dengan mengalami kegagalan 
beruntun maka efek repetisi terjadi (ingat prinsip pemrograman pikiran). 
Dan kita, secara bawah sadar, semakin percaya bahwa kita memang tidak 
mampu.

Kalau anda tidak percaya apa yang saya jelaskan coba anda rasakan 
perasaan anda saat saya berkata, "Set Goal". Bagaimana perasaan anda 
saat anda melakukan Goal Setting. Apakah yang muncul perasaan positif 
atau negatip?

Dari pengalaman saya, kata "goal setting" ternyata mempunyai konotasi 
negatip. Mengapa ? Karena kata ini mengingatkan kita akan kegagalan 
kita. Banyak kawan saya yang secara jujur berkata, "Sekarang kalau saya 
diminta set goal maka perasaan saya langsung menolak. Ada perasaan nggak 
enak di hati saya. Nggak tahu kenapa bisa seperti ini".

Sebenarnya jawabannya sederhana. Goal karena terlalu sering tidak 
berhasil dicapai akhirnya mempunyai konotasi negatip. Kita secara bawah 
sadar menghubungkan/meng-anchor kata goal setting dengan perasaan gagal. 
Jadi setiap kali kita mendengar kata "goal setting" maka yang muncul 
adalah memori atau pengalaman kita saat gagal (berkali-kali) dalam 
mencapai goal kita.

Jadi, semakin seseorang berusaha untuk positif maka semakin negatip ia 
jadinya. Mengapa bisa begini? Karena memori manusia bersifat holographic 
sehingga mempunyai kemampuan/sifat cross referenced. Artinya, tidak ada 
memori yang berdiri sendiri. Semuanya saling terkait. Saat kita berusaha 
positif maka pada saat yang sama pula kita mengaktifkan memori negatip, 
di bawah sadar. Semakin kita berusaha positif maka semakin kuat efek 
negatip. Hal ini jarang disadari dan dimengerti orang.

Seorang kawan yang bergerak di bidang marketing, satu minggu setelah 
menerapkan konsep keselarasan pikiran positif (sadar dan bawah sadar) 
mampu meningkatkan penghasilan 3 (tiga) kali lipat dibandingkan 
sebelumnya. Dan yang lebih hebat lagi ia tidak usah kerja keras untuk 
mencapai hal ini. Kesannya adalah semua sudah ada yang mengatur.

Satu hal yang perlu anda ketahui yaitu kawan saya ini adalah orang yang 
selalu berusaha berpikir positif, telah membaca sangat banyak buku 
positif, menghadiri berbagai seminar di dalam negeri dan di luar negeri. 
Ia malah telah bertemu dengan dua orang top. Seorang di bidang motivasi 
dan seorang lagi adalah penulis buku keberhasilan finansial yang sangat 
terkenal. Sudah tentu ia membayar sangat mahal untuk bisa menghadiri 
seminar-seminar ini. Apalagi seminarnya dilakukan di Singapore.

Namun apa yang terjadi? Semakin ia berusaha positif maka semakin dalam 
ia terperosok ke dalam perangkap berpikir negatip. Kawan saya ini protes 
keras saat pertama kali mendengar tentang "Bahaya Berpikir Positif". 
Baginya statement ini nggak masuk akal. Namun setelah berdiskusi cukup 
panjang kawan saya akhirnya bisa memahami maksud saya.

Lalu bagaimana cara berpikir positif yang benar-benar positif? Ya itu 
tadi. Pikiran sadar dan bawah sadar harus selaras. Yang harus menjadi 
landasan pijak adalah apa yang ada di pikiran bawah sadar. Jadi, untuk 
benar-benar mampu berpikir positif yang positif maka pikiran

positif itu harus berawal di pikiran bawah sadar. Bila ini berhasil kita 
lakukan maka efeknya akan sangat luar biasa. Kita akan dapat dengan 
sangat mudah mencapai target yang kita inginkan.

Anda pasti bertanya, "Ok, kalau begitu bagaimana caranya?" Ada banyak 
cara untuk bisa menyelaraskan pikiran sadar dan bawah sadar, untuk bisa 
membuatnya kongruen. Kita bisa menggunakan NLP, Hypnotherapy (ada sangat 
banyak teknik), SMC, Visualisasi, Mind Reprogramming dengan bantuan 
guided imagery, menggunakan musik/audio dengan muatan

frekwensi khusus, atau teknik lainnya. Akan sangat panjang dan teknis 
bila saya jelaskan dalam artikel ini.

Sumber: Bahaya “Berpikir� Positif oleh Adi W. Gunawan, lebih dikenal 
sebagai Re-Educator and Mind Navigator, adalah pembicara publik dan 
trainer yang telah berbicara di berbagai kota besar di dalam dan luar 
negeri. Ia telah menulis best seller Born to be a Genius, Genius 
Learning Strategy, Manage Your Mind for Success, Apakah IQ Anak Bisa 
Ditingkatkan ?, dan Hypnosis – The Art of Subcsoncsious Communication.



--------------------sajogja mailing list------------------------
Gabung : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Visit : www.alumniamikom.org, groups.yahoo.com/group/amikomjogja, 
---------------------------------------------------------------- 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/amikomjogja/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/amikomjogja/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke