UNDANGAN

 

Biro Seni Drama Dewan Kesenian Kota Mojokerto mengundang
kehadiran Bapak/Ibu/Saudar/I pada

 

Hari        : Selasa

Tanggal  : 5 Agustus
2008 

Tempat   : Sekretariat
Dewan Kesenian Kota
Mojokerto Jl Gajah Mada 149

Pukul      : 19.00 WIB

Acara      : 

-Baca cerpen Apa Kabar, Malam ? karya Indra Tranggono oleh M
Misbahk

-Monolog oleh Rony Yunarto

-Sarasehan

 

Terbuka untuk umum dan gratis.

Informasi:

M Misbakh, Biro seni drama Dewan Kesenian Kota Mojokerto 

0811 340 83 11

 

Terima kasih.

 

 

Apa Kabar, Malam ?

Cerpen Indra Tranggono

Dimuat di Jawa Pos, 13 Juli 2008  

SEORANG Perempuan menulis sajak dalam benak dengan tinta
hitam malam. Seluruh pori-porinya mengembang. Peluhnya sangat deras menjelma
ribuan kata, ribuan kalimat yang mengalir dari telaga kenangan. Kadang
Perempuan itu cemas, kadang Perempuan itu gemas pada Malam, sehingga ia tak
pernah lelah untuk menikamkan runcing-runcing kata, pisau-pisau kalimat ke
lambung Malam.



Apa kabar, Malam? Kuharap kamu bukan malam yang dulu, yang datang bersama 
derap-derap
sepatu dan mengambil paksa Ayah untuk diperam dalam drum berisi adonan semen
dan batu hingga darahnya membeku.



Malam terdiam. Ditatapnya wajah perempuan itu. Suasana pun terasa canggung. 



Untuk apa kamu datang ke liang persembunyianku? Biarkan aku sedikit tenang di
sini, bisa mendengarkan suara degup jantungku yang teratur merambati kesunyian;
bukan lagi degup jantung seorang Perempuan pelarian yang kelelahan menangkis
desingan maut. Sungguh, ini kemewahan bagiku.



Kau tahu, Malam, bertahun-tahun aku mengendap-endap dari kota
ke kota, sejak
kerusuhan berdarah itu pecah. Rumah, ranjang, boneka kesayangan, sepeda kecil,
album keluarga, buku-buku, bunga-bunga di taman atau apa saja yang pernah
kumiliki, telah punah. Dan, satu-satunya yang berhak kumiliki hanyalah
kenangan. Begitu juga dengan mesin ketik Ayah yang selalu bersuara kicau
gelatik. Juga mesin jahit Ibu, yang selalu bergemuruh membangunkan aku dari
tidur untuk mandi, sarapan, dan berangkat sekolah. Apakah sejumput kenangan itu
juga akan kau ambil? Kenapa kamu diam?



Perempuan itu mencoba menebak-nebak jawaban yang akan diucapkan Malam. Mungkin
Malam ingin menjelaskan semua hal, tentang tahun-tahun lama, tentang banyak
kepala yang dipenggal.



Tapi Malam tetap diam. Air matanya menitik menjadi gerimis rintik.



Perempuan itu ingin meninju atau menampar wajah Malam yang baginya mencoba
menyuap dirinya dengan sekeping iba. ''Dukaku terlalu dalam, Malam. Tangismu
sangat tidak cukup menghiburku,'' Perempuan itu meniupkan kalimat menyengat.
Dia berharap Malam menjadi tersinggung dan marah, hingga semua ucapan tumpah.
Dia sangat menunggu, Malam bergairah mengutuknya dengan sumpah serapah. Dia
terus memancing Malam untuk marah. Bukankah justru musuhlah yang paling jujur
menilai diri kita, pikir Perempuan itu.



Ia sangat menunggu kutuk kata dari mulut Malam. Ia menunggu kata-kata busuk
tentang Ayahnya, tentang Ibunya, tentang para saudaranya keluar atau sumpah
serapah lainnya. Ia berharap dari balik kata-kata kasar itu Malam bisa lebih
jujur memberikan alasan kenapa Ayahnya dicor dalam drum. 



Kenapa pada tahun yang sangat kelam itu kamu begitu beringas, Malam? Kamu
membawa senapan dan bayonet. Dan orang-orang yang kami cintai itu kamu ambil
paksa, kamu rajam dengan timah panas dan kamu tikam dengan bayonet berkilat.
Kenapa kamu biarkan anggota pasukanmu menjarah harta benda kami, memperkosa
saudara-saudara kami. Kamu ingat adikku, Zuan? Dia masih terus menangis sampai
kini, sejak pasukanmu menciptakan neraka di rongga dadanya. Bahkan ia belum
pernah menstruasi ketika kehormatannya lepas dari genggaman. Kenapa kamu
membiarkan? Kenapa kamu diam? Kenapa?



Mungkin kamu sedang menyusun alasan bahwa waktu itu negara sedang kalut, api
sangat gampang tersulut, pedang dan parang begitu mudah terhunus,
senapan-senapan begitu ringan menyalak. Dan tangan-tangan begitu mudah
menumpahkan darah. Atau, mungkin kamu juga akan menjelaskan bahwa kebencian
telah ditabur di setiap rongga dada dan tumbuh menjadi belukar prasangka. 



Waktu itu aku hanya bisa berdebar dan gemetar melihat maut berkelebat tangkas
memunguti nyawa demi nyawa. Aku pun tak kuasa menahan jerit sukmaku melihat
mayat-mayat mengambang di sungai darah, mayat-mayat bergelimpangan di
jalan-jalan, parit-parit, got-got, lorong-lorong di bawah bentangan spanduk yang
mengepal, dengan kalimat yang sangat beringas. Dan entah tangan siapa yang
tiba-tiba menarikku dari kepungan orang-orang bertopeng. Tangan itu membawaku
terbang. Kulit tangan itu sangat halus serupa beludru. Mungkin tangan malaikat.




''Apakah hanya karena ras yang berbeda, Ayah, Ibu, dan saudara-saudaraku harus
binasa? Atau karena sebab yang tak mungkin diungkap? Atau kami hanyalah pihak
yang sengaja dikorbankan atas nama kepentingan yang tidak mungkin dijelaskan?''
Perempuan itu meradang.



Malam terdiam. Sedikit gemetar. Ia mencium aroma tubuh Perempuan serupa harum
tanah sehabis hujan. Sedap. Menimbulkan debar. Sungguh, wajah Perempuan itu
sangat mempesona, meskipun tidak bisa disebut jelita, batin Malam. Komposisi
antara mata, alis tebal, hidung, pipi, bibir, dan dagu bukan komposisi yang
sempurna, tapi manis. Urat-urat kesedihan yang bersilangan di wajahnya memang
sedikit mengganggu kemanisannya, namun ia tetap mempesona.



Malam, kenapa kamu diam?



Malam tergeragap. Kesuntukannya menikmati keindahan wajah Perempuan itu pun
buyar. Dengan tergopoh-gopoh ia mencoba memunguti kristal-kristal kekagumannya
atas wajah Perempuan itu. Langsung memasukkan dalam saku di balik jaket
hitamnya.



Dada Malam terasa bergemuruh. Perempuan manis, kenapa kamu menjadikan aku
sebagai tertuduh? Kata-kata itu nyaris meluncur dari mulut Malam. Tapi, Malam
cepat-cepat menahan gerak lidahnya, hingga suaranya langsung tercekat.



''Coba kamu ulangi, Malam...,'' ujar Perempuan itu, lembut.



Malam kembali terdiam, setelah susah payah ia menguasai diri. Pada momen itu
sesungguhnya ia ingin menjelaskan bahwa dirinya tak lebih dari kesunyian yang
begitu rapuh dilabrak segala hal yang tanpa terduga menabrak dan melabrak.
''Perempuan, betapa mataku, hatiku sangat pedih menyaksikan semua peristiwa
itu. Bahkan hingga kini aku pun tidak ingin mengingatnya kembali. Kenangan itu
terlalu hitam, terlalu kelam, lebih kelam dari wajah dan sosokku,'' batin
Malam.



Aku sendiri tak pernah paham, mendadak orang-orang liar itu muncul dari belukar
sambil memamerkan taring-taring dan teriakan yang melengking-lengking. Aku bisa
mendengar degup jantung mereka, debur ombak darah di nadinya yang sangat kasar
dan terpantul pada tatapan mata nanar. Aku hanya mengenal seragam mereka serupa
tumpang-tindih warna daun-daun hutan, tapi tak tahu persis siapa mereka. Aku
hanya mengenal bahasa mereka, tapi tidak tahu asalnya. Bahasa mereka sulit
diartikan, lebih mirip kumpulan bunyi tanpa nada dan langgam. Sangat kaku,
keras, dan tidak menarik. Tidak ada kalimat di sana. Hanya kata. Hanya 
perintah. Selebihnya
hanya amarah.



Malam seperti mendengar isak tangis, namun ternyata suara hujan riwis.
Perempuan itu tetap duduk di sana,
di atas batu, di bawah tempias cahaya bulan yang bergegas tenggelam di balik
awan. Pelan-pelan Perempuan itu melepas kain yang disambut kesiur angin yang
lalu menerbangkannya entah ke mana. Perempuan itu menjelma patung putih pualam.
Malam pun terpejam. Jantungnya berdegup kencang. Tapi ia tetap menyelinap di
balik tabir gelap, seolah tak pernah melihat tubuh Perempuan yang begitu
memikat.



Pelan-pelan, bahkan sangat pelan perempuan itu menggerakkan tubuhnya.
Gerakannya serupa tarian angin, lembut, mengalir. Tubuhnya terus bergerak.
Kadang melingkar. Kadang berputar. Kadang melintas bidang kiri dan kanan. Di
dalam anyaman gerak, menyembul sayup-sayup suara tembang indah, meski terdengar
parau dan serak. Malam kesulitan mengartikan kata-kata dalam tembang. Yang ia
dengar hanyalah rangkaian bunyi yang terasa menyayat. Tembang itu terus
menggema, menerobos udara, meluncur bersama angin ke berbagai arah.
Dinding-dinding kesunyian yang diterobosnya pun retak dan terbelah-belah.



Malam tahu persis, sudah puluhan tahun Perempuan itu bersahabat dengan angin.
Mungkin bukan hanya bersahabat. Mungkin juga hubungan kasih. Barangkali
Perempuan itu hanya percaya kepada angin, yang tidak pernah berdusta tentang
segala hal-ihwal. Atau, mungkin juga Perempuan itu menganggap hanya anginlah
yang masih mau memeluknya, membasuh segala lukanya dan memahami berbagai
perasaannya. Dalam ribuan malam mereka saling cakap, saling dekap. 



Tubuh Perempuan itu terus bergerak. Angin menyambutnya dengan tiupan yang
membelit tubuh Perempuan itu. Keduanya membentuk komposisi serupa dua sosok
yang berpilin. Saling mengelayut, saling menjalin. Saling berpeluk. Saling
berpagut. Perempuan itu begitu bergairah. Hasratnya berbuncah-buncah. 



Malam tak mampu menyembunyikan risau, gemuruh hatinya terus mendesau. Kenapa
Perempuan itu hanya mau menari dengan angin, dan tidak dengan aku?Malam pun
mencoba meredakan kecemburuannya, mencoba menghibur dirinya. Mungkin Perempuan
itu ingin menggedor langit agar segala sungkawanya didengar, atau
setidak-tidaknya agar telinga langit menjadi makin lebar. 



Tapi mengapa Perempuan itu menganggapku sebagai sesuatu yang terkutuk? Risau
Malam makin mendesau. Ia tak mampu menahan kejengkelannya sehingga terus
mengubah dirinya menjadi gelap pekat nyaris segala hal tak terlihat. Ia ingin
menghukum Perempuan itu agar tak mampu melihat apa saja. Tapi Perempuan itu
terus menari. Angin terus mengikutinya dalam segala irama.



''Apa kabar, Malam...?'' desah suara Perempuan itu, ''kenapa kamu selalu diam.
Selalu bungkam..''



Malam terperanjat. Dadanya berdesir.



''Kenapa kamu hanya diam, ketika semua milikku lepas dari genggaman? Kenapa
kamu selalu memberi aku mimpi buruk?'' Perempuan itu mendesis.



Perempuan itu terus menari, dengan lantunan tembang menyayat dan terdengar
makin lamat. Perempuan itu hanya berharap, Malam mau mencatat seluruh lukanya
yang terpahat dalam sukmanya. *** 

 

 




      

Kirim email ke