Hello Tega, Friday, July 29, 2005, 1:13:22 AM, you wrote:
TRT> Seharusnya migrasi ke linux berdasarkan satu keputusan bisnis dan TRT> non bisnis dimana para pemilik, pengelola dan karyawan warnetnya TRT> memang benar benar siap untuk mengadopsi linux tsb. terus, siapa yang suruh menyiapkan? bagaimana pernah siap kalau untuk memulai saja nggak mau? nggak berani? jangan buka warnet kalo enggak mau menghadapi konsekuensi. anda yang harus lakukan, jangan berharap pada yang lain, seperti menunggu wahyu dari sorga. lakukan analisa bisnis, audit software. bikin perencanaan. datang ke isp minta grace period karena akan ada proses migrasi. siapkan modal investasi baru dst. pilihan lain, diam, nunggu di-sweeping dan mati. sad but true. this is real life, real pain. not a dream or fairy tale. nobody gets live happily ever after! TRT> Perlu proses dan perlu waktu dan apa jadinya kalau warnet TRT> berbondong bondong migrasi ke linux tapi masyarakatnya masih TRT> doyan Microsoft ? dari segi bisnis berarti Warnet yang nekat TRT> migrasi ke linux hampir dapat dipastikan tidak Customer Oriented.. market itu harus di-create. harus di-edukasi, harus melakukan inovasi untuk memperoleh penetrasi. semua industri melakukan itu, mulai dari sabun batangan kemudian berubah ke sabun cair. ada proses dan effort yang dilakukan oleh industri consumer goods untuk merubah preferensi konsumennya. warnet demikian juga. jaman masih windows 3.1, perlu juga effort untuk memperkenalkan windows 95. ditarik lebih ke belakang, ada effort yang juga cukup besar untuk migrasi dari DOS ke windows. sama saja. intinya, anda harus lakukan itu kalo bener2 ingin solusi. tak ada solusi hanya dengan duduk manis berpangku tangan. anda harus bangkit, ikut nimbrung. TRT> Seharusnya jasa yang diberikan adalah jasa yang bisa dinikmati TRT> oleh masyarakat.. Ini bukan berarti saya anti linux.. saya justru TRT> ingin masyarkat bebas dari belenggu penjajahan Micrososft. ambivalen. saya mendukung linux, saya ingin masyarakat bebas. tapi anda sendiri nggak mau pakai pinguin? lha, orang yang ngerti aja gak mau nimbrung, bagaimana bisa menteladani masyarakat/konsumennya? saya kemaren, kasih materi di TOT IGOS awari di gunadarma. saya datang bawa notebook dengan os dan software platform windows. ada tuh yang nyindir, wah, temanya open source, tapi pematerinya sendiri gak pake. saya cuma tersenyum kecut, karena yang sindiran itu bener. meskipun beliau tidak tahu bahwa notebook saya ini inventaris kantor, gak boleh diapa2in ;-) saya sadar sepenuhnya, tidak boleh membela diri, karena pada tataran idea, keteladanan, sudah jelas salah. mestinya, saya usaha cari notebook pinjeman yang bisa menampilkan linux di acara tsb. seperti ayam dan telor. warnet menunggu konsumennya. lha konsumennya kalo nggak ada yang melakukan stimulasi, selamanya ya nggak berubah. salah satu agen stimulator, ya warnet. maka, warnet-lah yang harus berperan sebagai agen perubahan. memberi teladan dan edukasi. TRT> Tapi Real World nya sangat berbeda sekali. Tugas pakar nih spt TRT> kang ono dll memikirkan gimana agar masyarakat kita bisa lepas TRT> nih dari zaman kegelapan .... bayangken, orang2 seperti onno yang cuman segelintir, harus mendidik jutaan manusia indonesia. kelarnya kapan? TRT> Jika masyarakatnya tidak ingin berubah.. pasti warnet yg migrasi TRT> ke linux akan kembali lagi ke Microsoft karena harus menyerah TRT> pada kondisi pasar yang ada.. itu pasti... hukum demand dan TRT> supply .... wah, enak ya pengusaha warnet. giliran susah, pakar yang harus kerja. giliran senang, pasar sudah ada, bisnis tinggal jalan. semua juga mau kalo bisnis segampang itu. banyak maunya, gak mau capeknya. create market, edukasi, sosialisasi adalah tugas pebisnis itu sendiri, di lingkungannya bukan tugas siapa2. asosiasi, pakar, komplementer aja kalau ada mereka, proses itu bisa lebih cepat. kalo gak ada, kerjakan sendiri. jangan salahkan siapa2. gerakan itu harus dari industrinya. apa yang sudah anda lakukan untuk pasar anda? TRT> Sebaiknya harus ada solusi penengah agar keinginan untuk be legal TRT> bisa dipenuhi, tapi usaha juga bisa jalan terus, dan demand dari TRT> pasar bisa dipenuhi. solusinya satu. anda harus berani, nggak ada yang lain. pesimis saja, nggak akan menyelesaikan masalah. email seperti ini anda kirimkan 1 juta kali, kondisinya tetap tidak akan berubah. tapi kalau anda mau melakukan sesuatu, one step ahead, pasti akan ada hasilnya. sekarang TRT> Lagi pula masyarakat kita lebih suka yg gampang aja dari pada TRT> harus pusing mikirin yg sulit sulit. masyarakat yang mana? saya belum pernah ketemu orang/pengguna linux yang pada akhirnya bener2 berkata: SULIT DAN GAK BISA. kecuali yang pada dasarnya MALAS. apalagi end user. pada prinsipnya mereka enggak peduli mau pake apa, yang penting tujuan mereka terpenuhi. orang ke warnet, adalah untuk mendapatkan informasi dari internet. ya gak peduli mau pake jendela, apel, pinguin, yang penting informasinya dapat. saya berulangkali bilang, ini masalah kebiasaan saja. tentu ada pengorbanan karena memang pada dasarnya merubah kebiasaan itu berat. sehingga harus ada "bantuan", di situlah peran operator, peran manajer warnet untuk menciptakan model2 dan cara2 memberikan "bantuan" tsb. kreatif, inovatif, pikirkan. TRT> Cobal deh cari yang bisa linux...jumlahnya masih dikit banget.. TRT> apalagi kalau mau cari yg pakar linux.. langka banget dan harus TRT> dilindungi tuh dari kepunahan... anda bicara begitu mungkin karena nggak terjun di lingkungan open source. gimana dibilang sedikit, nyaris punah? bahkan sebagian besar sistem di internet yang anda pakai ini berjalan di platform open source! banyak sekali pengguna dan pakar open source di sekitar anda. mungkin anda saja yang nggak tahu. TRT> terang aja namanya Pegawai Ngeri... Pasti Seru dan pasti rame menyalahkan aparat bukanlah solusi, apalagi ketika diri kita sendiri ternyata tidak lebih baik dari si aparat yang di-maki. TRT> ... Mudah mudahan Awari bisa menyediakan Pengacara yang bisa TRT> membantu mendampingi rekan rekan yang nanti akan berhadapan dgn TRT> team sweeping. minta pengacara? apakah sudah memberikan kontribusi kepada awari? apa sudah mendaftar sebagai anggota? apakah sudah berinisiatif membentuk korwil awari daerah? apakah sudah merencanakan program2 ke depan baik jangka pendek, jangka panjang? apakah sudah membuat mekanisme? kita di awari, bukanlah superbody, superman dan superwomen. kita cuma manusia biasa2 aja. ketika warnet menuntut segala macam, banyak mau, tetapi nyatanya, yang memberikan kontribusi hanya segelintir saja. dan organisasi ini dibiarkan sekarat bertahun2. siapa yang peduli? apa itu bukan ironi? -- Best regards, Pataka mailto:[EMAIL PROTECTED] Official Web Site : http://www.awari.or.id Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/asosiasi-warnet/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

