On Wednesday 23 May 2007 11:38, wadi wijaya wrote:

> Saya cuman heran, sekali lagi saya tulis di milis ini, kenapa kebanyakan
> ada yg suka berat sebelah, ngunggulin linux dibanding windows, padahal
> keunggulan yg ditulisnya sebenarnya gak mengungkap semua fakta yg ada,
> sekalin itu pilihan windows ataw linux kan terserah si tiap-tiap pemilik,
> kenapa gak dijelaskan dua-duanya ?

Saya pikir, FOSS (salah satu produknya adalah Linux) lebih layak mendapatkan 
dukungan dari komunitas dibandingkan produk proprietary (salah satunya produk 
Microsoft) karena banyak alasan. Seperti misalnya, untuk apa kita promosikan 
windows yang notabene produk adalah orang lain? Justru mereka-lah yang wajib 
memberikan penjelasan untuk kita (konsumen). Selama ini justru mereka tidak 
melakukan itu, namun cenderung memanfaatkan perdebatan konsumen hanya untuk 
kepentingan mereka. Konsumen yang tanpa sadar memberikan pembelaan ataupun 
mempertahankan, sebenarnya telah dimanfaatkan dan memberi keuntungan kepada 
pihak proprietary tanpa mendapatkan imbal balik apapun :)

Open Source perlu mendapatkan dukungan, karena Open Source sebenarnya bukan 
produk, melainkan gerakan komunitas. Siapa komunitas itu? Ya antara lain kita 
sendiri. Produk Open Source yang terbesar adalah PENGETAHUAN yang TERBUKA dan 
BEBAS. Dengan pengetahuan itulah maka komunitas dapat memproduksi berbagai 
turunan diantaranya aplikasi, salah satunya yang sangat popoler adalah OS 
LINUX dan berbagai produk FOSS lainnya.

Pihak pendukung Open Source selama ini terus memberikan berbagai macam solusi 
yang membebaskan kita (komunitas) dari belenggu ketergantungan, bukan hanya 
terhadap aplikasi namun juga berbagai produk lain (misalnya buku, multimedia) 
yang masih menganut model proprietary. Memang prinsip & filosofi kemerdekaan 
ini tidaklah mudah untuk dipahami, sehingga sering argumentasi pihak Open 
Source & FOSS disalahpahami oleh para pengguna proprietary yang sudah sangat 
nyaman & karenanya resisten terhadap paradigma baru seperti FOSS yang masih 
dianggap ANEH.

Memang proprietary berhasil membawa pengguna pada kemapanan dan kenyamanan 
sehingga mereka sulit untuk berubah, bahkan menjadi penentang yang sangat 
kuat (tentu pihak proprietary sangat senang situasi ini karena diuntungkan). 
Padahal sebenarnya, proprietary tidak pernah benar-benar memberikan solusi, 
karena yang mereka sebut sebagai solusi bagi konsumen itu tidak lebih dari 
upaya meningkatkan keuntungan mereka sendiri, dengan kata lain konsumennya 
harus membayar mahal dan lebih mahal serta semakin mahal lagi dari waktu ke 
waktu, menciptakan ketergantungan dan pendeknya menghisap darah konsumen. 
Sampai pada suatu titik konsumen merasa dirinya tidak punya alternatif lagi 
(artinya, kemerdekaannya untuk memilih telah sepenuhnya terampas).

Tak ada bedanya dengan miras dan narkoba. Hanya efek kenyamanan semu yang 
diberikan, namun pada dasarnya terus-menerus merugikan dan menghilangkan 
kemerdekaan konsumennya. Lepas dari dominasi dan ketergantungan itu tentu 
sangat berat, tetapi jelas tidak dapat dibantah bahwa kalau kita inginkan 
kemerdekaan, perjuangan itu harus dilakukan. Terlalu banyak alasan, argumen 
yang bisa ajukan untuk menjawab pertanyaan: kenapa kita harus bebas? :)

Misalnya dalam bidang aplikasi, apakah FOSS dapat memberikan semua jawabannya? 
Tentu saja tidak. Karena filosofi FOSS sangatlah berbeda dengan proprietary. 
Pihak proprietary tahu betul kalau kita (konsumen) kecanduan, bahkan sebelum 
kita meminta, mereka sudah memikirkan untuk menyediakan berbagai hal baru dan 
sehingga membuat kita semakin tertarik meskipun sebenarnya belum tentu bahkan 
tidak membutuhkannya. Apalagi kalau kita memintanya, dengan senang hati akan 
dibuatkan dan tentunya untuk itu harus membayar lebih mahal.

Contohnya, tingkat kebutuhan pengguna komputer sebenarnya dari tahun ke tahun 
relatif tetap. Aplikasi utamanya selain operating system, kebanyakan adalah 
office suites dan internet. Umumnya, komputer lama dengan platform OS Windows 
95, sudah sangat mencukupi kebutuhan ini. Lantas, mengapa sekarang kita harus 
setiap saat dipaksa beralih ke yang lebih baru? Misalnya beralih ke Vista dan 
sebentar lagi XP akan di-discontinue sebagaimana win 95, win 98, win me dsb. 
yang akibatnya juga akan memaksa kita untuk upgrade komputer PIII ke PIV yang 
paling powerful, yang artinya kita harus merogoh kocek lebih dalam lagi?

Padahal sebenarnya beban kerja dan tingkat kebutuhan tetap serta peralihan ke 
versi aplikasi yang lebih baru (termasuk investasi hardware baru yang sesuai) 
tidaklah meningkatkan kinerja secara efisien (kalau tidak dibilang tak ada).

Ini sangat berbeda dengan FOSS. Kalau kita memutuskan untuk berada di pihak 
ini, maka pertama kali harus kita lakukan adalah MENGUBAH MINDSET, karena 
tidak akan ada yang akan memanjakan kita di sini. Kita justru diajak keluar 
dari kuadran yang aman dan nyaman itu (yang membelenggu diri pikiran, tidak 
kebebasan memilih dsb.). Justru kita akan diajak untuk kreatif, turut jadi 
pejuang (setidaknya untuk diri sendiri) bahkan harus memberi pada orang lain 
dan tentu saja ikut menikmati segala pengalaman ketidaknyamanan (yang akan 
justru mendewasakan dan menguatkan kita) agar dapat menolak setiap dominasi, 
bujuk rayu dan perampasan uang anda dengan berbagai kamuflasenya.

Di dalam dunia FOSS, kita adalah bagian dari komunitas. Ketika kita tak dapat 
solusi dari apa yang sudah ada, maka kita bisa menciptakan solusi itu sendiri 
serta bila perlu membangun komunitas, khusus untuk memberikan solusi tsb. tak 
ada vendor yang mendikte kita, tak ada EULA yang mebatasi kita & untuk semua 
itu kebanyakan kita tidak perlu mengeluarkan uang sebanyak bila kita memakai 
proprietary. Dalam kacamata makro, dengan memilih FOSS sebenarnya kita sudah 
ikut menyelamatkan bangsa dan negara ini. Setidaknya dari segi DEVISA.

FOSS, pada dasarnya memang tidak memaksa, tapi mereka (para aktivis) memang 
sering sengaja menyinggung dan menyentil pengguna proprietary dengan harapan 
timbul penasaran yang akan memancing kita keluar dari kuadran kenyamanan itu 
sehingga perlahan kita mau mencoba memahami dan belajar meskipun itu awalnya 
justru karena terdorong oleh kegeraman terhadap pihak FOSS yang nampak sangat 
sok pinter, sok tahu, sok hebat dsb. yang berbeda jauh dengan tampang pemasar 
proprietary yang sangat bermuka manis, santun, bersahabat dsb. (namun palsu).

Jadi, percayalah, kalau anda sudah mencoba masuk dunia FOSS, maka semua yang 
sedang saya coba jelaskan ini tidak anda perlukan lagi. Karena anda sendiri, 
akan langsung memahami dan meyakininya. Kalau tidak, bagaimana mungkin FOSS 
ini sekarang disebut oleh para pengamat sebagai fenomena terbesar abad 21? 
Setara dengan revolusi jaringan yang kita sebut INTERNET ini. Apa yang sudah 
dilakukan oleh raksasa Microsoft misalnya, tidak ada apa-apanya dibanding 
gerakan FOSS ini.

So, argumentasi semacam ini akan selalu ada dan mendapatkan tempat lebih baik 
di milis ini dibanding para pembela proprietary. Bukan karena arogansi dari 
pengendali milis, namun karena secara alami penghuni milis ini semakin dekat 
kepada paradigma FOSS, terutama setelah kampanye Be Legal dilakukan AWARI :) 

Karena terus menerus terbukti bahwa FOSS memberikan solusi nyata sedangkan di 
lain pihak proprietary tak pernah mampu memberikan jawaban selain dari bayar 
bayar dan lagi-lagi bayar :( Terbukti pula dalam setiap kejadian proprietary 
tidak mampu memberikan jaminan dan tidak mampu menepati janji, sedangkan para 
pendukung FOSS justru terus memberi semangat, setidaknya ber-empati terhadap 
komunitas warnetters. Dalam setiap musibah, aktivis FOSS-lah yang akhirnya 
bahu-membahu mencoba membela dan memberikan solusi kepada warnetters.

Jadi, mengapa masih berprasangka? Cobalah membuka mata dan membuka hati :)

> what is your intention ? 

Ini yang patut dipertanyakan pada setiap warnetters. Saya melihat ada suatu 
pergeseran mentalitas dan motivasi saat ini. Dulu, orang membuka warnet itu 
memiliki idealisme turut menyebarkan Internet (penetrasi) untuk memintarkan 
lingkungannya, memberi kesempatan orang untuk mengakses informasi (digital 
divide, affordability dan accessability), sebagai sarana pembelajaran dan 
peningkatan pergaulan sosial global dsb. baru setelah itu bicara bisnisnya. 
Sehingga, dulu warnetters mudah saja diajak bekerjasama dengan para aktivis 
dalam konteks sosial kemasyarakatan. Misalnya memberikan pelatihan bagi 
pelajar, anak kurang mampu, memfasilitasi kelompok masyarakat (misalnya 
petani, pedagang, UKM, mengembangkan potensi2 daerah).

*) Catatan: Kebetulan idealisme semacam ini sangat dekat dengan semangat FOSS

Berbeda dengan tipe kebanyakan warnetters sekarang ini, sudah sangat kental 
nuansa bisnis-nya. Sebagai akibatnya semangat sosialnya luntur, jangankan 
untuk bersosialisasi, bergaul, bekerjasama, menjaga kerukunan agar mendapat 
kemajuan bersama dengan berorganisasi (melalui asosiasi setempat), apalagi 
melakukan aktivitas sosial kepada lingkungan sekelilingnya. Warnet sekarang 
sangat tertutup, semau gue, saling menyerang demi persaingan bahkan cenderung 
arogan kepada semua pihak, karena orientasinya hanya semata mencari untung.

Bahkan, kita sekarang sering mendengar sampai terjadi saling baku hantam fisik 
antar pemilik/pengelola warnet yang saling bersaing. Kalau dimasa lalu saling 
menjatuhkan jaringan pesaing, menyebar virus, trojan, menyusupkan perusak dan 
perang harga, termasuk menyebarkan isu, fitnah. Ini masih sering terjadi, apa 
tidak memprihatinkan? Karena justru seharusnya, di tengah berbagai tantangan 
yang semakin keras (persaingan dengan bisnis sejenis RT/RW Net, ISP & Speedy 
juga pendidikan - Kampus Net/WAN Kota/Jardiknas dlsb.), razia ijin usaha dan 
masalah perpajakan, razia pornografi & perjudian, razia HAKI dsb. seharusnya 
kan warnetters ini bersatu padu untuk mengintensifkan dialog dengan penguasa, 
serta bekerjasama dengan sesama agar diperoleh solusi fair sehingga semuanya 
dapat hidup bersama, maju bersama, menguntungkan semua dalam suasana tertib.
 
Dan kecenderungan PRO PASAR (minjam istilah anda) yang sangat profit oriented 
itu semakin terlihat jelas pada jenis warnet game center/game online. Tentu, 
sebagai akibatnya, sinisme terhadap warnet jenis ini juga tinggi. Ini wajar, 
karena itu tadi, komunitas warnetters awalnya lebih kental nuansa sosialnya, 
bukan bisnisnya. Meskipun sebenarnya, nuansa bisnis adalah hal yang sah saja.

Nah, yang ingin saya sampaikan sebenarnya adalah, sudah saatnya warnetters ini 
menerapkan balancing. Sebab, bagaimanapun juga apa yang terjadi saat ini bukan 
kesalahan siapa-siapa. Bukan salah Pemda, bukan salah Polisi, bukan salah ISP 
ataupun salah masyarakat luas. Ini murni kesalahan warnetters itu sendiri.

Karena melulu hanya memikirkan keuntungan, maka melupakan perencanaan bisnis 
yang benar - diantaranya menggunakan aplikasi yang LEGAL, yang tentu saja ini 
sangat terkait dengan CAPEX yang akan dibelanjakan. Kebanyakan warnetters kan 
sebenarnya sudah TAHU namun SENGAJA MENGABAIKAN?! Ketika ditindak, pura-pura 
tidak tahu. Ini yang terjadi. Hal semacam itu tidak patut dilakukan apalagi 
sebenarnya hampir setiap saat media memberitakan, bahkan aparat pun melakukan 
sosialisasi sejak jauh hari. Meskipun memang patut dipertanyakan, mengapa sih 
kok WARNET yang dijadikan sasaran? Mengapa bukan aparat sendiri, atau pemda, 
atau berbagai macam perusahaan yang jauh lebih besar dari warnet.

Sebenarnya, jawaban dari semua itu berpulang kepada warnetters itu sendiri. 
Dulu, ketika warnetters masih menonjolkan misi sosialnya, maka aparat juga 
memberikan toleransi. Karena mereka juga tahu bahwa warnet dibutuhkan oleh 
masyarakat, pelajar, mahasiswa yang diantaranya juga anak-anak mereka juga.

Akan tetapi kini, ketika warnet lebih banyak menyediakan games, berbagai hal 
(content) yang kurang bermanfaat bagi misi mencerdaskan kehidupan bangsa dan 
lebih menonjol unsur MENCARI KEUNTUNGAN, apalagi aparat juga melihat anaknya 
ternyata tidak lagi mencari pengetahuan bermanfaat ketika di warnet tapi dia 
justru terlibat judi bola, kecanduan games, demen nonton bokep, maka hancur 
image warnet sebagai media diseminasi pengetahuan menjadi kriminal. Sehingga 
warnet menjadi OBYEK yang bisa menjadi CONTOH penindakan dan penegakan hukum 
dengan RESIKO MINIMAL. Mengapa demikian? Karena warnet dianggap lemah, tidak 
bersatu, bahkan saling sikut sehingga gampang disikat, diperas, diintimidasi 
serta relatif tidak menimbulkan dampak sosial (selain karyawan yang nganggur) 
karena PEMILIK MODAL selama ini sudah dianggap keterlaluan dalam mencari dan 
mendapatkan KEUNTUNGAN tanpa kepedulian sosial.

Dulu, ketika ada warnet di-razia, banyak yang membela. Lingkungan sekitarnya 
yang berhutang budi (karena banyak mendapatkan kesempatan mengakses informasi 
dan memintarkan anak-anak disekitarnya), dianggap membuka lapangan kerja dan 
mempunya komunitas yang kompak memberikan dukungan. Sekarang, tidak seperti 
itu lagi. Ketika ada warnet di-razia, setelah itu justru aparat mendapatkan 
berbagai macam laporan dari masyarakat dan lingkungan sekitar. Seperti yang 
saat ini sedang terjadi di Malang, ada laporan pornografi dan pornoaksi dan 
judi (bukankah sudah jadi rahasia umum bahwa aktivitas game center banyak di 
manfaatkan untuk berjudi sesama pemain?), bahkan sampai transaksi narkoba & 
pelacuran. Alangkah menyedihkan. Bukankah ini berarti warnet sudah tak lagi 
mendapat tempat di masyarakat bahkan dimusuhi oleh lingkungannya?

Kini, ketika ada warnet tutup akibat razia, pejabat RT?RW justru bersyukur! 
Karena tidak ada lagi yang berisik saat waktu orang beristirahat. Tak ada 
lagi yang cuek dengan aktivitasnya saat adzan berkumandang atau ketika jam 
anak sekolah berlangsung. Banyak sekali kecenderungan semacam ini. Saya pun 
bukan sekali dua kali mendapat laporan, keluhan, aduan kepada AWARI. Jadi, 
bukankah semua ini kembali lagi kepada sikap kita sebagai warnetters?

Nampaknya, semua ini memang peringatan Tuhan untuk kita semua supaya jangan 
menjadi orang yang SOMBONG dan meremehkan nilai-nilai sosial hukum, moral & 
agama. Semoga, setelah ini ada gerakan yang nyata untuk melakukan perbaikan. 
Terutama dalam hal ETIKA BISNIS dan CODE OF CONDUCT WARNET.

-- 
Regards,

Pataka


Official Web Site : http://www.awari.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/asosiasi-warnet/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/asosiasi-warnet/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke